Saya memberikan segalanya dan sangat memercayai istri saya yang menggunakan kursi roda

Langkah kaki saya terasa sangat berat, seolah setiap papan kayu di bawah kaki saya menolak untuk menopang berat tubuh yang menggigil karena terkejut. Saya memegang pegangan tangga dengan sangat erat hingga buku jari saya memutih. Setiap napas yang saya ambil terasa seperti tersedak.

Saya sampai di puncak tangga. Pintu kamar utama, yang selama tiga tahun ini terkunci rapat dan tertutup debu, sedikit terbuka. Cahaya matahari menerobos masuk dari celah tirai yang terbuka, menyinari debu-debu yang beterbangan di udara.

Dari dalam, saya mendengar suara. Bukan tangisan, bukan juga erangan sakit.

Itu adalah suara tawa. Renyah, jernih, dan penuh kebebasan.

Saya mengintip ke dalam melalui celah pintu yang sempit. Jantung saya seolah berhenti berdetak.

Istri saya, wanita yang setiap malam saya bantu pindahkan ke tempat tidur, wanita yang saya mandikan dengan tangan saya sendiri, kini berdiri tegak di depan cermin besar di ruang ganti. Dia tidak menggunakan kursi roda. Dia sedang memutar tubuhnya dengan anggun, mengenakan gaun sutra yang saya kira sudah lama ia buang karena dianggap “tidak cocok untuk orang yang duduk sepanjang hari.”

Di depannya, seorang pria berdiri — pria yang sangat saya kenal. Itu adalah pria yang sering saya temui di klub golf di Makati, rekan bisnis yang sering saya undang untuk makan malam di rumah kami. Mereka berdua tampak begitu mesra, berbagi segelas anggur dengan tangan yang saling bertautan.

“Apakah dia mencurigaimu lagi?” tanya pria itu dengan nada mengejek.

Istri saya tertawa lepas, sebuah suara yang belum pernah saya dengar selama tiga tahun terakhir. “Dia? Pria itu begitu bodoh. Dia begitu dibutakan oleh rasa bersalah dan cinta fanatiknya sendiri sehingga dia akan memercayai apa pun yang aku katakan. Aku hanya perlu menangis sedikit, memutar mata, dan dia akan langsung bersujud meminta maaf.”

Dunia saya hancur berkeping-keping.

“Lagipula,” lanjut istri saya sambil menyisir rambutnya dengan gerakan yang luwes, “rekening banknya sudah hampir kosong. Aku hanya perlu menunggu sebentar lagi sampai properti di Alabang ini bisa dipindahtangankan atas namaku. Setelah itu, kita bisa meninggalkan negara ini, meninggalkan semua akting menyedihkan ini.”

Saya merasakan kemarahan yang begitu hebat hingga pandangan saya sempat memudar menjadi gelap. Namun, saya tidak meledak. Saya tidak mendobrak pintu.

Dalam kesunyian yang mematikan, saya perlahan mengeluarkan ponsel dari saku dan merekam percakapan mereka. Saya merekam tawa mereka, rencana mereka, dan yang paling penting — bukti nyata dia berdiri dengan kedua kakinya sendiri.

Saya tidak bergerak selama sepuluh menit penuh. Saya membiarkan mereka menyelesaikan percakapan, membiarkan mereka mengungkapkan setiap detail pengkhianatan yang mereka rancang. Saya menyadari bahwa selama ini, cinta saya bukan hanya dikhianati; itu telah dijadikan senjata untuk menghancurkan hidup saya sendiri.

Saya mundur perlahan, tanpa menimbulkan suara sedikit pun.

Saat saya menuruni tangga, setiap anak tangga yang saya injak terasa seperti penegasan. Saya tidak lagi merasa sedih. Rasa sakit itu telah menguap, digantikan oleh ketenangan yang dingin dan tajam seperti silet.

Saya keluar dari rumah itu, masuk ke dalam mobil, dan tidak langsung pergi. Saya menelepon pengacara saya.

“Siapkan semua dokumen pembatalan akses rekening, pelacakan aset, dan gugatan cerai dengan bukti pendukung,” kata saya dengan suara yang datar, namun tegas. “Dan cari Mang Tomas. Temukan dia. Saya harus meminta maaf padanya, dan saya ingin dia menjadi saksi kunci atas apa yang baru saja saya saksikan.”

Saat saya memacu mobil keluar dari gerbang, saya menoleh sekali lagi ke jendela lantai dua rumah itu. Saya tidak lagi melihat istri saya yang rapuh yang membutuhkan perlindungan. Saya melihat seorang penipu yang akan segera kehilangan segalanya — bukan karena kecelakaan, melainkan karena keserakahannya sendiri.

Tiga tahun saya hidup dalam kebohongan. Sekarang, gilirannya untuk merasakan kehancuran yang nyata.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang