Bayang-Bayang di Balik Pintu
Ketakutan itu, Saudara Kuya, bukanlah monster yang berteriak. Ia adalah rayap yang memakan kayu pondasi rumah tangga kami secara diam-diam. Semakin aku melihatnya, semakin aku merasa dia adalah sebuah karya seni yang dipajang di galeri umum, sementara aku hanyalah penjaga pintu yang merasa tidak layak memegang kunci aksesnya.
Pria itu—mari kita sebut dia ‘X’—bukanlah orang asing. Dia adalah rekan bisnis yang pernah bertandang ke rumah kami dua minggu lalu. Tatapan matanya saat menatap istriku, Siska, bukanlah tatapan biasa. Itu adalah tatapan seorang kolektor yang menemukan barang langka. Aku melihatnya lewat pantulan cermin saat Siska menyuguhkan teh. X tidak melihat teh itu. Dia melihat leher Siska, cara Siska tersenyum, dan bagaimana suaranya yang lembut mengisi ruangan.

Setelah malam itu, aku mulai berubah. Bukan menjadi suami yang lebih baik secara romantis, melainkan menjadi “protektif” dengan cara yang obsesif. Aku mulai memantau ponselnya, bukan untuk mencari bukti perselingkuhan—karena aku tahu Siska setia—tapi untuk mencari jejak pria itu.
Dan aku menemukannya. Di sebuah aplikasi pesan tersembunyi yang baru kuinstal di ponselnya (dengan alasan “sinkronisasi data” yang kubuat-buat), aku melihat pesan-pesan singkat. X tidak agresif. Dia hanya mengirimkan kutipan puisi, lagu-lagu sedih, dan pertanyaan tentang, “Apakah kamu benar-benar bahagia di sana?”
Siska tidak membalas, tapi dia membaca. Dan itulah yang menghancurkan hatiku. Dia membacanya. Dia tidak memblokirnya. Itu cukup untuk memicu kecemasanku mencapai puncak.
Langkah Nekat yang Kusebut “Investasi Cinta”
Malam itu, dinginnya udara tidak sedingin logikaku yang mulai membusuk. Aku menatap Siska yang sedang mematikan lampu ruang tamu. Dia sangat cantik, namun keindahannya terasa seperti ancaman bagiku. Aku merasa jika aku tidak segera melakukan sesuatu yang permanen, dia akan ditarik ke dunia yang lebih gemerlap, ke tempat di mana X berada.
Aku tidak ingin Siska pergi. Aku tidak ingin dia merasakan “petualangan” baru dengan pria lain. Aku ingin mengikatnya. Bukan dengan janji, tapi dengan tanggung jawab yang tidak bisa dia tinggalkan.
“Sayang,” kataku malam itu, suaraku sedikit bergetar. “Bagaimana kalau kita punya anak?”
Siska tertegun. Kami sudah menikah dua tahun, namun sepakat untuk menunda karena aku selalu beralasan soal karier. Dia menoleh, matanya berbinar. Ada setitik harapan yang belum pernah kulihat sebelumnya. “Kamu serius? Kamu kan selalu bilang kita belum siap?”
Aku mendekapnya, menyembunyikan wajahku di bahunya agar dia tidak melihat tatapanku yang kosong. “Aku takut… aku takut kita terlalu lama menunggu dan kehilangan momen terbaik kita. Aku ingin ada bagian darimu dan diriku yang tumbuh di rumah ini.”
Itu adalah kebohongan paling manis yang pernah kuucapkan. Aku tidak menginginkan anak demi kebahagiaan kami. Aku menginginkannya sebagai “rantai”. Aku tahu, jika dia hamil, perhatiannya akan teralih sepenuhnya pada janin. Dia tidak akan punya energi untuk memikirkan pria lain. Dia akan terikat di rumah ini, bersamaku, dalam ketergantungan yang diciptakan oleh kehidupan yang tumbuh di dalam rahimnya.
Aku menghamilinya. Dan itu terjadi lebih cepat dari yang kubayangkan.
Kebahagiaan yang Ternyata Labirin
Tiga bulan pertama kehamilan Siska adalah masa yang paling kulihat sebagai “kemenangan”. Siska berhenti bekerja. Dia lebih banyak di rumah, tubuhnya mulai berubah, dan dunianya menyusut menjadi empat dinding rumah kami. Aku merasa aman. X tidak lagi terdengar kabarnya.
Namun, sesuatu yang tidak kuduga terjadi. Siska berubah. Bukan menjadi istri yang penurut atau terikat padaku seperti yang kubayangkan. Dia justru menemukan kekuatannya. Dia mulai menulis blog tentang kehamilan, dia terhubung dengan komunitas ibu-ibu, dan yang paling mengejutkan—dia menjadi lebih mandiri secara emosional.
Suatu sore, aku pulang dan mendapati pintu kamar terkunci. Dari dalam, aku mendengar suara Siska tertawa. Bukan tawa yang biasa kudengar saat menonton TV, tapi tawa yang renyah, tawa yang penuh dengan kehidupan.
Aku mendobrak pintu dengan alasan panik. Siska sedang melakukan video call. Bukan dengan X, melainkan dengan seorang wanita—seorang konselor pernikahan yang terkenal.
“Kamu kenapa?” tanyanya tenang, matanya menatapku dengan tajam, bukan lagi dengan tatapan memuja seperti dulu. “Aku hanya sedang berkonsultasi tentang bagaimana menghadapi perubahan hormon dan juga… bagaimana cara mengakhiri pernikahan yang tidak sehat.”
Duniaku runtuh.
“Apa maksudmu?” tanyaku, suaraku mencicit.
Siska meletakkan ponselnya. Dia menatap perutnya yang mulai membuncit, lalu menatapku. “Kamu pikir aku tidak tahu? Kamu pikir aku bodoh? Aku tahu alasanmu tiba-tiba ingin punya anak. Aku tahu kamu merasa tidak aman. Aku tahu kamu memantau ponselku.”
Aku terdiam. Lidahku kelu.
“Aku membiarkan X mengirim pesan itu bukan karena aku menyukainya,” lanjut Siska. “Aku membiarkannya karena aku ingin melihat reaksimu. Aku ingin tahu apakah suamiku adalah pria yang cukup percaya diri untuk memercayaiku, atau pria pengecut yang akan mengikatku dengan cara manipulatif.”
Plot Twist yang Menampar
Siska berdiri, berjalan mendekatiku dengan susah payah karena perutnya. Dia memegang dadaku. “Aku mencintaimu dulu, sangat mencintaimu. Tapi caramu menjadikanku ‘milikmu’ dengan cara memaksa biologis adalah bentuk ketidakmampuanmu mencintai dirimu sendiri. Kamu tidak mencintaiku; kamu hanya takut kehilangan barang berhargamu.”
“Aku melakukan ini untuk kita!” teriakku.
“Tidak,” jawabnya dingin. “Kamu melakukan ini untuk egomu.”
Namun, di situlah bagian yang paling tidak terduga terjadi. Siska tersenyum, senyum yang paling mengerikan yang pernah kulihat.
“Kamu berhasil, Sayang. Aku memang terikat. Aku tidak akan pergi sekarang, demi anak ini. Tapi, kamu harus tahu satu hal…” dia mendekatkan mulutnya ke telingaku, berbisik pelan, “Pria yang mengirimiku pesan itu, si X yang kamu takuti setengah mati? Dia bukan pengejarmu. Dia adalah adik kandungku yang baru pulang dari luar negeri dan ingin memberi kejutan bahwa dia tahu kamu selama ini menyelingkuhiku dengan sekretarismu di kantor.”
Darahku serasa membeku.
“Dia tidak mengejarku,” Siska melanjutkan sambil berbalik pergi meninggalkan kamar. “Dia sedang mengumpulkan bukti perselingkuhanmu, dan dia mengirim pesan-pesan ‘puitis’ itu padaku untuk memberitahuku bahwa dia sedang ‘memburu’ bukti yang tepat agar aku bisa menceraikanmu dengan hak asuh anak penuh.”
Aku jatuh terduduk di lantai kamar yang dingin. Anak yang kuharapkan menjadi rantai untuk mengikat Siska agar dia tidak meninggalkanku, justru menjadi senjata pamungkas yang digunakan Siska dan saudaranya untuk menghancurkan hidupku.
Ternyata, aku bukan sedang memenangkan pertarungan melawan pria lain. Aku sedang membangun penjara, dan tanpa kusadari, aku sendiri yang mengunci pintu selnya dari dalam, membuang kuncinya, dan menyerahkannya kepada wanita yang baru saja kuhancurkan hatinya.
Sekarang, setiap malam aku menatapnya tidur. Bukan lagi karena ketakutan kehilangan dia, tapi karena ketakutan akan hari esok, di mana aku harus bangun dan menghadapi kenyataan bahwa aku hanyalah pion dalam permainan yang sudah diatur sejak awal.
Pertanyaan untukmu, Kuya Mid: Apakah menurutmu tindakan Siska—menggunakan anak sebagai alat untuk membalas dendam—adalah bentuk keadilan yang setimpal, ataukah dia sebenarnya tidak jauh lebih baik daripada pria yang dia sebut “manipulatif” itu?
