Suara kunci yang berputar itu terdengar seperti letusan senjata api di tengah keheningan rumah yang mencekam. Mateo melangkah masuk, napasnya sedikit terengah, seolah dia baru saja berlari dari kenyataan yang dia sendiri ciptakan. Namun, saat melihat kami berdua berdiri di ruang tamu, wajahnya berubah pucat pasi. Dia tidak menatapku; dia menatap Elena, mencari instruksi.
Elena bangkit dengan anggun, seolah-olah percakapan tentang kehancuran jiwa kami hanyalah obrolan santai mengenai cuaca. “Camila baru saja bertanya tentang rahasia kita,” ucap Elena tenang.
Mateo membeku. Dia melepaskan jasnya dengan gerakan kaku, matanya tetap tertuju pada ibunya. “Camila, masuklah ke kamar. Kita perlu bicara, tapi tidak sekarang.”

“Tidak,” jawabku tegas, suaraku tidak lagi gemetar. “Sekarang. Kamu bilang kamu mencintaiku saat kita menikah. Apakah itu juga bagian dari ‘pengubahan’ yang dia lakukan padamu?”
Mateo berjalan mendekat, mencoba meraih tanganku, namun aku mundur. Tatapan di matanya bukan lagi sekadar ketakutan; itu adalah keputusasaan seorang budak yang mencoba mencintai tuannya.
“Kau tidak mengerti, Camila,” bisik Mateo. “Ini bukan tentang cinta yang kau bayangkan. Ini tentang… warisan.”
Elena tertawa kecil, suara tawa yang kering dan tajam. “Biarkan aku yang menjelaskan, karena anakku selalu terlalu takut untuk menyebutkan kebenaran.”
Elena berjalan mengelilingi ruangan, jemarinya menyentuh bingkai foto leluhur mereka yang terpajang di dinding. “Keluarga ini dibangun di atas fondasi kehormatan, Camila. Tapi kehormatan membutuhkan pengorbanan. Mateo tidak ditakdirkan untuk menjadi orang biasa. Dia harus menjadi sempurna, tak tersentuh, dan terfokus hanya pada garis keturunan kami.”
Aku menatapnya dengan bingkai ketidakpercayaan. “Jadi kalian menggunakan aku sebagai… apa? Tameng? Kedok agar dunia luar melihat kalian sebagai keluarga normal?”
“Kau lebih dari itu,” potong Mateo, matanya berkaca-kaca. “Kau adalah kunci. Mereka mengatakan bahwa untuk menjaga darah ini tetap murni, aku tidak boleh mencintai siapa pun di luar lingkaran ini. Ibu… dia memastikan aku tidak pernah bisa merasakan gairah pada wanita lain.”
Duniaku runtuh. “Apa yang kau lakukan padanya, Elena?” tanyaku dengan suara hampir pecah.
Elena menatapku dengan mata yang dingin dan tanpa penyesalan. “Aku tidak memberinya obat. Aku memberinya obsesi. Aku mengisi pikirannya sejak dia kecil bahwa wanita lain adalah ancaman, bahwa sentuhan mereka adalah racun. Hanya sentuhanku yang aman, karena aku adalah satu-satunya yang memahaminya sejak dia lahir.”
Ternyata, itu bukan hubungan romantis seperti yang kutakutkan secara fisik—itu jauh lebih mengerikan. Itu adalah manipulasi psikologis tingkat tinggi yang menghancurkan kapasitas Mateo untuk menjalin koneksi manusiawi dengan orang lain. Mereka menciptakan monster yang ketergantungan pada ibunya, dan aku hanyalah sebuah dekorasi yang mereka beli untuk memoles citra publik mereka.
“Jadi pernikahan ini…” aku mulai menyadari kebenarannya, “kalian sengaja memilihku karena aku yatim piatu, tidak punya banyak keluarga yang bisa mencari tahu ke mana aku pergi jika sesuatu terjadi padaku?”
Mateo menunduk, tidak membantah. “Mereka bilang kau akan membuatku tampak seperti pria normal. Mereka bilang jika aku menikahi wanita yang tepat, desas-desus tentang kami akan hilang.”
Tiba-tiba, aku menyadari sesuatu. Ada detail kecil yang selama ini kulewatkan. Setiap malam, Mateo selalu meminum teh yang disiapkan Elena sebelum tidur. Setiap hari, dia selalu menelepon ibunya sebelum membuat keputusan besar. Itu bukan penghormatan. Itu adalah kendali.
“Kalian meracuninya,” bisikku. “Secara perlahan, kalian mematikan jiwanya.”
“Dia sudah mati sejak dia memilih untuk patuh!” teriak Elena tiba-tiba, suaranya yang tenang pecah menjadi histeris. “Jika dia tidak bisa menjadi milikku sepenuhnya, maka dia tidak akan pernah menjadi milik siapa pun!”
Mateo terhuyung, seolah kata-kata itu adalah pukulan fisik. Di saat itulah, aku melihat kesempatan. Selama tiga tahun, aku adalah wanita yang penakut, wanita yang menyalahkan dirinya sendiri karena suaminya dingin. Tapi malam itu, sesuatu dalam diriku berubah.
Aku tidak menangis lagi. Aku berjalan menuju meja di mana Elena tadi menyulam, dan di sana, di bawah tumpukan kain, aku melihat jurnal Mateo. Selama ini dia selalu membawanya, dan aku tidak pernah berani membacanya karena menghargai privasinya.
Aku mengambilnya dengan cepat. Mateo mencoba merebutnya, tapi aku mundur ke pintu depan.
“Jangan mendekat!” teriakku. Aku membuka halaman acak. Itu bukan jurnal keluhan. Itu adalah catatan medis. Catatan tentang dosis, tentang pengawasan, tentang bagaimana Elena memantau setiap denyut nadi Mateo melalui gelang pintar yang selalu dia pakaikan pada Mateo sejak kecil.
“Ini bukan keluarga,” kataku, menatap mereka berdua yang kini terlihat seperti dua predator yang terpojok. “Ini adalah laboratorium.”
Aku tidak lari ke kamarku untuk berkemas. Aku lari keluar rumah, ke dalam hujan yang kini menderu lebih keras. Aku tidak butuh pakaian. Aku butuh keadilan. Aku menelepon polisi bukan sebagai istri yang curhat, tapi sebagai korban dari penyekapan dan manipulasi sistematis.
Namun, kejutan sebenarnya datang ketika polisi tiba. Saat mereka menggeledah rumah, mereka tidak hanya menemukan catatan medis. Mereka menemukan sebuah ruang bawah tanah yang tidak pernah kulihat. Di dalamnya, ada foto-foto puluhan wanita sebelum aku. Wanita yang “menghilang”.
Elena tidak hanya menghancurkan Mateo. Dia adalah kolektor. Setiap kali salah satu dari “istri” Mateo mulai curiga, mereka akan hilang—dianggap pergi meninggalkan suami atau mengalami kecelakaan. Mateo hanyalah boneka yang dipaksa menjadi umpan.
Saat polisi membawa Elena dan Mateo keluar dengan borgol, Mateo menatapku dari balik jendela mobil polisi. Dia tidak terlihat seperti korban lagi. Dia menatapku dengan tatapan kosong, bibirnya bergerak membentuk satu kata tanpa suara: “Terima kasih.”
Aku berdiri di trotoar, basah kuyup di bawah lampu jalan Guadalajara yang remang-remang. Aku menyadari bahwa kesetiaanku pada pernikahan ini adalah rantai yang hampir membunuhku.
Aku tidak hanya menyelamatkan diriku sendiri. Aku baru saja membuka pintu bagi semua wanita yang hilang itu untuk mendapatkan keadilan mereka. Elena mungkin telah menciptakan monster, tapi dia lupa satu hal: monster, pada akhirnya, akan selalu memangsa penciptanya sendiri.
Dan aku? Aku akan memulai hidup baru. Hidup di mana tidak ada lagi suara di balik pintu yang membuatku merasa tidak diinginkan, karena sekarang, aku adalah satu-satunya orang yang memiliki hak atas jiwaku sendiri.
