Nadine menerjang ke arah saya begitu cepat hingga bahunya hampir menghantam meja.
Tangannya menggapai ponsel yang masih tersambung dengan Bu Maya.
Saya mundur refleks.
Ponsel itu lolos dari jangkauannya, tetapi Nadine kehilangan keseimbangan dan menabrak sudut meja. Tasnya jatuh terbuka. Lipstik, dompet, kunci mobil, dan beberapa lembar kertas berhamburan di lantai.
Satu lembar berhenti tepat di depan kaki saya.

Saya membungkuk dan mengambilnya.
Nadine langsung pucat.
“Jangan sentuh itu.”
Saya membaca bagian atas dokumen tersebut.
Surat persetujuan pengajuan fasilitas kredit.
Nama pemohon tercantum sebagai Arga Pratama.
Nama saya.
Di bagian bawah ada tanda tangan yang sekilas sangat mirip tanda tangan saya.
Hanya sekilas.
Karena saya tahu persis saya tidak pernah menandatangani dokumen itu.
“Nadine,” kata saya pelan. “Apa ini?”
Dia tidak menjawab.
Dari speaker terdengar suara Bu Maya.
“Arga, jangan biarkan dia membawa dokumen apa pun. Saya sedang menuju rumahmu bersama tim legal.”
Nadine menatap ponsel saya.
Kemudian menatap ibu.
Sesuatu berubah di wajahnya. Kepanikan yang tadi muncul perlahan digantikan kemarahan.
“Kalian memang dari awal tidak pernah menganggap saya keluarga.”
Saya hampir tidak percaya.
“Setelah semua yang baru saja saya dengar, itu yang mau kamu katakan?”
“Dua tahun, Arga.”
Suaranya meninggi.
“Dua tahun saya bersama kamu. Dua tahun saya ikut acara perusahaan, menemani kamu bertemu klien, mengurus rumah ini, mengurus pernikahan kita. Tapi apa yang saya punya?”
“Hubungan kita bukan transaksi.”
“Mudah untuk kamu bilang begitu karena kamu punya semuanya.”
Ibu tiba-tiba berkata pelan, “Karena itu kamu mau mengambil milik Arga?”
Nadine menoleh tajam.
“Bu, jangan ikut campur.”
Saya berdiri di antara mereka.
“Cukup.”
Nadine terdiam.
“Keluar dari rumah saya.”
Dia tertawa pendek.
“Kamu pikir masalah selesai kalau saya keluar?”
“Tidak.”
Saya mengangkat dokumen pinjaman itu.
“Sekarang masalahnya baru dimulai.”
Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, saya melihat Nadine benar-benar takut.
Empat puluh menit kemudian Bu Maya datang bersama dua staf legal dan seorang auditor bernama Dimas. Saya sudah meminta petugas keamanan kompleks berjaga di depan rumah. Nadine belum pergi. Entah karena merasa masih bisa menjelaskan semuanya atau karena sadar keluar membawa barang-barangnya justru akan membuat keadaan semakin buruk.
Kami duduk di ruang keluarga yang masih berantakan.
Ibu sudah saya bawa ke kamar dan diperiksa dokter keluarga yang datang setelah saya telepon. Tekanan darahnya meningkat, tetapi untungnya tidak ada cedera serius.
Bu Maya meletakkan laptop di meja.
“Arga, saya ingin kamu melihat ini.”
Di layar terlihat tabel transaksi.
Tiga minggu sebelumnya, ada permintaan perubahan data kontak untuk salah satu akun investasi saya.
Ditolak.
Dua minggu sebelumnya, ada percobaan aktivasi akses digital dari perangkat baru.
Ditolak.
Lalu lima hari lalu, sebuah pengajuan kredit senilai empat koma delapan miliar masuk menggunakan salinan KTP, NPWP, tanda tangan digital, dan dokumen pendukung atas nama saya.
“Bagaimana dia mendapatkan semua itu?” tanya saya.
Dimas menjawab, “Kemungkinan dari dokumen yang tersimpan di rumah atau email.”
Saya menatap Nadine.
Dia langsung berkata, “Jangan lihat saya.”
Bu Maya memutar laptop.
“Permohonan kredit menggunakan apartemen Kemang sebagai aset pendukung.”
“Itu belum atas nama Nadine.”
“Benar. Dan itu sebabnya sistem internal menandainya.”
Bu Maya membuka dokumen lain.
“Tapi ada sesuatu yang lebih menarik.”
Dia menampilkan nama sebuah perusahaan.
PT Nawasena Prima Konsultan.
Saya tidak mengenalnya.
“Perusahaan apa itu?”
“Didirikan delapan bulan lalu.”
“Pemiliknya?”
Bu Maya menatap Nadine.
“Adik laki-laki Nadine, Revan.”
Nadine langsung berdiri.
“Jangan bawa keluarga saya!”
Saya menatapnya.
“Duduk.”
“Aku tidak mau!”
“Duduk, Nadine.”
Nada suara saya membuatnya berhenti.
Bu Maya melanjutkan.
“Dana pinjaman empat koma delapan miliar itu rencananya tidak masuk ke rekening pribadi Arga. Instruksi pencairannya diarahkan ke rekening perusahaan tersebut.”
Saya merasa seperti baru menemukan pintu di rumah saya sendiri yang selama ini tidak pernah saya sadari keberadaannya.
“Kenapa?”
Dimas membuka beberapa catatan.
“Perusahaan Revan memiliki utang usaha cukup besar. Ada dua gugatan pembayaran dari vendor. Kalau kredit ini cair, sebagian besar uang kemungkinan digunakan menutup kewajiban tersebut.”
Saya menatap Nadine.
“Jadi ini semua untuk adikmu?”
Nadine mengatupkan rahang.
“Revan sedang kesulitan.”
“Dan solusinya mencuri identitas saya?”
“Saya tidak mencuri!”
“Lalu apa namanya?”
“Saya cuma meminjam.”
Ruangan mendadak sunyi.
Bahkan Nadine sendiri tampak menyadari kesalahannya.
Saya tertawa kecil karena tidak percaya.
“Empat koma delapan miliar?”
“Kamu punya puluhan kali lipat dari itu!”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Tidak ada lagi topeng.
Tidak ada lagi Nadine yang lembut, perhatian, dan selalu berkata uang tidak penting baginya.
Yang duduk di depan saya adalah seseorang yang menganggap kekayaan saya sebagai sesuatu yang otomatis menjadi haknya.
“Kamu tidak akan merasakan kehilangan,” katanya.
Saya menatapnya cukup lama.
“Jadi karena saya punya lebih banyak, kamu berhak mengambil?”
Nadine mulai menangis.
Entah sungguhan atau tidak, saya sudah tidak mampu membedakannya.
“Revan bisa dipenjara kalau utangnya tidak dibayar.”
“Dan kamu memilih membuat saya menanggung akibatnya?”
“Aku akan mengembalikannya setelah menikah.”
Saya menggeleng.
“Setelah menikah?”
Tiba-tiba semua kepingan mulai tersusun.
Rumah.
Apartemen.
Saham.
Rekening bersama.
Keinginannya mengirim ibu ke panti lansia.
Bukan sekadar karena dia tidak menyukai ibu.
Ibu adalah satu-satunya orang di rumah yang bisa melihat apa yang dilakukan Nadine saat saya bekerja.
Saya menoleh kepada Bu Maya.
“CCTV.”
Dimas membuka laptop kedua.
“Kami sudah mengambil cadangan cloud.”
Rekaman pertama berasal dari dua belas hari lalu.
Nadine masuk ke ruang kerja saya ketika saya sedang berada di kantor.
Dia membuka laci.
Memotret dokumen.
Rekaman kedua memperlihatkan dia membawa laptop saya ke ruang keluarga.
Rekaman ketiga membuat saya membeku.
Ibu berdiri di depan pintu ruang kerja.
Nadine keluar sambil membawa map.
Mereka berbicara.
Tidak ada suara karena kamera hanya merekam gambar.
Namun dari gerakan tubuh terlihat jelas ibu mempertanyakan apa yang dibawa Nadine.
Nadine kemudian mengembalikan map tersebut.
Jadi ibu sudah mencurigainya.
Saya bangkit dan menuju kamar ibu.
Beliau sedang duduk di tepi ranjang.
“Ibu sudah tahu?”
Ibu tidak menjawab.
“Sebelum hari ini, Ibu sudah tahu Nadine mengambil dokumen saya?”
Matanya berkaca-kaca.
“Ibu tidak tahu dia mengambil apa.”
“Kenapa tidak bilang?”
Ibu menunduk.
“Karena kamu bahagia.”
Kalimat sederhana itu jauh lebih menyakitkan daripada semua dokumen di meja.
“Ibu lihat kamu setelah ayah meninggal. Bertahun-tahun kamu cuma kerja. Pulang malam. Makan sendiri. Kemudian Nadine datang dan kamu mulai tertawa lagi.”
Saya duduk di sampingnya.
“Ibu takut kalau Ibu bicara, kamu pikir Ibu tidak suka calon istrimu.”
“Ibu seharusnya bilang.”
“Ibu tahu.”
Saya menggenggam tangannya.
“Maaf.”
Ibu justru mengusap tangan saya.
“Jangan minta maaf karena mempercayai orang.”
Saya menatapnya.
Beliau tersenyum lemah.
“Yang salah bukan orang yang percaya. Yang salah orang yang memakai kepercayaan itu untuk mencuri.”
Saya hampir menangis.
Namun ternyata kejutan terbesar belum datang.
Ketika kami kembali ke ruang keluarga, Bu Maya sedang membuka sebuah laporan baru.
“Arga, ada sesuatu yang perlu kamu ketahui.”
Nadine tampak semakin gelisah.
Bu Maya menatap ibu.
“Bu Ratih, apakah saya boleh menjelaskannya?”
Ibu mengangguk.
Saya mengerutkan kening.
“Menjelaskan apa?”
Bu Maya membuka halaman rekening bank.
Saldo yang muncul membuat saya mengira saya salah membaca.
Tiga puluh dua miliar tujuh ratus juta rupiah.
Nama pemilik rekening itu adalah Ratih Pratama.
Saya menatap ibu.
“Ibu?”
Beliau menarik napas panjang.
Bu Maya menjelaskan.
Sebelum meninggal, ayah ternyata menjual kepemilikan minoritasnya di sebuah perusahaan pergudangan. Uangnya tidak pernah dimasukkan ke perusahaan utama kami.
Ayah menaruhnya dalam rekening investasi atas nama ibu.
Selama bertahun-tahun dana tersebut berkembang.
Saya sama sekali tidak mengetahuinya.
“Ayahmu sengaja merahasiakannya,” kata ibu.
“Kenapa?”
“Untuk melihat siapa yang datang ke hidupmu karena kamu dan siapa yang datang karena apa yang kamu punya.”
Nadine yang sejak tadi diam mendadak menatap layar.
Matanya membesar.
Dan saat itulah saya melihat sesuatu yang membuat perut saya mual.
Bukan rasa bersalah.
Bukan ketakutan.
Keserakahan.
“Tiga puluh dua miliar?” bisiknya.
Bu Maya menutup laptop.
“Dan sekarang kita sampai pada bagian yang menarik.”
Dia mengeluarkan sebuah dokumen.
“Tiga minggu lalu ada upaya menambahkan penerima manfaat baru pada rekening tersebut.”
Saya berdiri.
“Siapa?”
Bu Maya tidak menjawab langsung.
Dia memutar dokumen ke arah saya.
Nama yang tertulis di sana bukan Nadine.
Bukan Revan.
Nama itu adalah PT Nawasena Prima Konsultan.
Perusahaan adiknya.
Saya menatap Nadine.
Dia sudah tidak tertawa.
“Bagaimana kamu tahu rekening ibu?”
Nadine menggeleng cepat.
“Aku tidak tahu.”
“Jangan bohong lagi.”
“Aku benar-benar tidak tahu!”
Anehnya, untuk pertama kalinya malam itu saya merasa dia mungkin mengatakan kebenaran.
Bu Maya juga terlihat tenang.
“Memang bukan Nadine yang mengajukan perubahan.”
Semua orang terdiam.
“Lalu siapa?”
Bu Maya membuka data autentikasi.
Permintaan perubahan dilakukan menggunakan akses seorang pegawai lama kantor keluarga kami.
Nama itu membuat saya seperti kehilangan udara.
Bambang Pratama.
Adik kandung almarhum ayah saya.
Paman saya sendiri.
Dimas kemudian menemukan komunikasi antara Revan dan Paman Bambang selama hampir setahun.
Rupanya Nadine bukan dalang utama.
Dia memang mencoba memanfaatkan saya untuk menyelamatkan bisnis adiknya.
Namun Revan sudah lebih dulu bekerja sama dengan paman saya untuk mengincar rekening ibu dan aset keluarga.
Pernikahan kami adalah jalan masuk.
Setelah Nadine menjadi istri saya, mereka berharap akses terhadap dokumen keluarga menjadi jauh lebih mudah.
Nadine menatap layar dengan wajah kosong.
“Revan bilang dia cuma butuh pinjaman.”
Bu Maya menjawab dingin, “Adik Anda berencana mengambil jauh lebih banyak daripada itu.”
Malam itu polisi menerima laporan resmi.
Revan dan Paman Bambang kemudian diperiksa atas dugaan pemalsuan dokumen, percobaan akses ilegal, dan penipuan. Nadine juga harus menjalani pemeriksaan terkait pengajuan kredit atas nama saya.
Pernikahan dibatalkan.
Gedung kosong enam hari kemudian.
Bunga-bunga yang seharusnya menghiasi pelaminan saya minta dikirim ke beberapa rumah sakit dan panti lansia di Jakarta serta Bogor.
Ironisnya, termasuk panti yang dipilih Nadine untuk membuang ibu saya.
Tiga bulan setelah semuanya terjadi, saya duduk bersama ibu di teras rumah.
Bingkai foto pernikahan ibu dan ayah yang pecah sudah diperbaiki.
Saya bertanya sesuatu yang selama berminggu-minggu mengganggu pikiran saya.
“Kalau hari itu saya tidak pulang lebih cepat, apa Ibu benar-benar akan pergi ke panti?”
Ibu tersenyum.
“Mungkin.”
“Kenapa?”
“Karena Ibu tidak mau kamu merasa harus memilih.”
Saya menunduk.
Ibu lalu menunjuk foto ayah.
“Ayahmu pernah bilang, kekayaan paling berbahaya bukan uang yang bisa dicuri.”
Saya menatapnya.
“Lalu?”
“Kepercayaan.”
Ibu menggenggam tangan saya.
“Karena ketika uang dicuri, kita masih bisa mencarinya kembali. Tapi kalau seseorang mencuri kepercayaan kita, dia bisa membuat kita meragukan semua orang yang datang setelahnya.”
Saya mengingat Nadine.
Anehnya, saya tidak lagi merasa marah.
Hanya sedih.
Bukan karena kehilangan calon istri.
Tetapi karena perempuan yang saya cintai ternyata tidak pernah benar-benar ada.
Enam bulan kemudian, ibu membuat keputusan mengenai rekening rahasia peninggalan ayah.
Saya kira uang itu akan diwariskan kepada saya.
Ternyata tidak.
Sebagian besar dana digunakan mendirikan yayasan bantuan hukum dan tempat tinggal sementara bagi lansia yang mengalami kekerasan finansial dari keluarganya sendiri.
Ketika saya bertanya kenapa, ibu hanya tersenyum.
“Karena Ibu hampir menjadi salah satunya.”
Nama yayasan itu diambil dari nama ayah.
Dan di dinding ruang penerimaannya, ibu memasang satu kalimat sederhana.
Rumah bukan tempat seseorang memiliki paling banyak harta.
Rumah adalah tempat seseorang tidak perlu takut kehilangan martabatnya.
Saat membaca kalimat itu untuk pertama kali, saya akhirnya memahami sesuatu.
Penerbangan yang membawa saya pulang dua hari lebih cepat memang menghancurkan pernikahan saya.
Tetapi pagi itu tidak menghancurkan keluarga saya.
Justru menyelamatkannya.
