“Saya memiliki golongan darah AB Negatif, Dok,” potong saya cepat. Sebuah kebetulan yang aneh, pikir saya. Golongan darah itu sangat langka, hanya dimiliki oleh segelintir orang di dunia—termasuk saya. “Ambil darah saya sebanyak yang dibutuhkan.”
Dokter itu mengangguk lega dan segera mempersiapkan prosedur transfusi darurat. Selama proses pengambilan darah, pikiran saya berkecamuk. Saya menatap Clara yang duduk bersandar di dinding koridor rumah sakit, penampilannya begitu kontras dengan kemewahan ruang VIP ini. Pakaiannya yang basah kuyup kini telah diganti dengan gaun rumah sakit yang sederhana. Dia terus menunduk, menyembunyikan wajahnya yang sembap, menghindari tatapan saya seolah saya adalah malaikat maut yang siap mencabut nyawanya.
Setelah transfusi selesai, saya melangkah mendekatinya. Aura intimidasi saya memenuhi koridor yang sunyi.
“Delapan tahun lalu kamu membuangku demi pria kaya, Clara,” desis saya, berdiri tepat di hadapannya. “Lalu di mana pria itu sekarang? Mengapa kamu berakhir mengemis di lumpur seperti ini?”

Clara mendongak. Air mata baru kembali mengalir di pipinya yang tirus. “Dia… tidak pernah ada, Gabriel,” bisiknya parau.
“Jangan berbohong lagi!” bentak saya, membuat beberapa perawat yang lewat menoleh ketakutan. “Surat itu ditulis dengan tanganmu sendiri!”
“Aku terpaksa!” jerit Clara tertahan, suaranya sarat akan kepedihan yang teramat sangat. “Ibumu, Doña Martina… dia yang merencanakan semuanya. Delapan tahun lalu, dia menculik ibuku yang sedang sakit keras. Dia mengancam akan menghentikan semua pengobatannya dan membiarkannya mati jika aku tidak pergi darimu. Dia mendiktekan setiap kata dalam surat itu, Gabriel! Dia ingin kamu membenciku agar kamu bersedia menikahi Valerie, pilihan klan Imperial!”
Jantung saya berdegup kencang. “Tidak mungkin… Ibu tidak akan sekejam itu.”
“Tanya padanya!” tangis Clara pecah. “Aku pergi dalam keadaan mengandung, Gabriel. Aku tidak punya uang, tidak punya siapa-siapa. Aku membesarkan putra kita sendirian di pinggiran kota…”
Putra kita.
Kata-kata itu menghantam saya seperti hantaman gada besi. “Apa katamu? Putra… kita?”
Sebelum Clara sempat menjawab, pintu ruang perawatan terbuka. Dokter bedah keluar dengan ekspresi wajah yang sangat aneh—campuran antara kebingungan dan kecemasan yang mendalam. Di tangannya, dia memegang selembar dokumen hasil analisis darah cepat yang baru saja keluar dari laboratorium pasca-transfusi.
“Don Gabriel,” suara dokter itu bergetar. “Ada sesuatu yang sangat janggal dari hasil pencocokan genetik dan profil darah anak ini. Kami melakukan tes cepat antigen untuk memastikan kompatibilitas transfusi…”
“Langsung ke intinya, Dokter!” gertak saya, kecemasan mulai menggerogoti akal sehat saya.
“Anak ini, Toby… dia memiliki kecocokan DNA sebesar 99,9% dengan Anda. Dia adalah putra kandung Anda,” ujar dokter itu.
Saya terpaku. Di satu sisi, kebenaran tentang kekejaman ibu saya dan keberadaan putra kandung saya bersama Clara mulai terkuak. Namun, ekspresi dokter itu tidak menunjukkan kebahagiaan. Dia justru tampak ketakutan.
“Lalu kenapa Anda terlihat seperti melihat hantu?” tanya saya, mencengkeram kerah bajunya.
Dokter itu menelan ludah dengan susah payah. “Don Gabriel… struktur genetik dan kerusakan organ dalam yang dialami Toby sangat spesifik. Ini bukan penyakit biasa. Ini adalah akibat dari paparan zat kimia beracun dosis rendah secara konstan selama bertahun-tahun. Dan… pola kerusakan genetik ini…” Dokter itu ragu-ragu sejenak sebelum melanjutkan dengan suara nyaris berbisik, “…sama persis dengan hasil autopsi mendiang istri Anda, Valerie, tiga tahun lalu.”
Dunia saya seketika runtuh. Seluruh sendi saya terasa lolos.
Tiga tahun lalu, Valerie dinyatakan meninggal karena tenggelam dalam kecelakaan kapal pesiar. Namun, hasil autopsi yang dikunci rapat oleh keluarga Imperial sebenarnya menyatakan ada kegagalan organ misterius sebelum dia jatuh ke air. Saya selalu mengira itu adalah serangan jantung mendadak.
“Apa maksudmu?” suara saya bergetar hebat.
“Mendiang istri Anda, Valerie, tidak meninggal karena kecelakaan murni, Don Gabriel. Dia diracun dengan zat yang sama yang kini perlahan-lahan membunuh putra Anda, Toby. Dan zat ini… hanya diproduksi oleh anak perusahaan farmasi milik keluarga Imperial. Seseorang di dalam lingkaran dalam Anda telah meracuni Valerie, dan kini… mencoba melenyapkan Toby.”
Sebuah ingatan mengerikan melintas di benak saya.
Toby dan Leo—putra saya bersama Valerie—berusia sama, tujuh tahun. Leo lahir hanya beberapa bulan setelah Toby lahir. Selama ini, Doña Martina, ibu saya, adalah orang yang mengontrol seluruh asupan makanan, pengasuh, dan obat-obatan di kediaman Imperial. Dia juga yang bersikeras membawa Leo ke luar negeri untuk “terapi khusus” setiap kali anak itu tampak lemas.
Mengapa Valerie harus mati? Dan mengapa Toby, anak yang disembunyikan Clara di pinggiran kota, bisa terkena racun yang sama?
“Clara…” saya berbalik perlahan, menatap wanita itu dengan pandangan ngeri. “Bagaimana Toby bisa terkena racun itu? Siapa yang menemuimu?”
Clara memeluk lututnya, tubuhnya berguncang hebat karena ketakutan. “S-setiap bulan… ada seorang wanita tua yang mengirimkan susu formula khusus melalui kurir misterius. Dia bilang… jika aku tidak memberikan susu itu pada Toby, dia akan menyewa orang untuk membunuh kami berdua. Aku tidak tahu kalau itu racun, Gabriel! Dia bilang itu adalah suplemen agar Toby tetap hidup! Aku terlalu miskin untuk membeli susu formula biasa…”
Wanita tua itu. Ibu saya, Doña Martina.
Seketika itu juga, rahasia mengerikan keluarga Imperial terkuak dengan sangat kejam. Ibu saya bukan hanya memisahkan saya dengan Clara demi status sosial. Dia adalah dalang di balik kematian Valerie karena Valerie mulai mengendus penggelapan dana besar-besaran yang dilakukan ibu saya di perusahaan. Dan kini, ibu saya berusaha melenyapkan Toby—waris sah pertama saya yang berdarah murni—agar seluruh warisan Imperial jatuh sepenuhnya ke tangan Leo, yang selama ini berada di bawah kendali mutlaknya. Atau lebih buruk lagi… apakah Leo benar-benar anak kandung saya? Ataukah Leo juga merupakan bagian dari pion permainan catur ibu saya yang berdarah dingin?
Amarah yang selama delapan tahun ini saya tujukan kepada Clara menguap begitu saja, digantikan oleh rasa bersalah yang luar biasa dan kebencian yang membakar terhadap darah saya sendiri.
Saya berlutut di depan Clara, di atas lantai rumah sakit yang dingin. Saya meraih tangannya yang kasar dan gemetar, lalu mengecupnya dengan air mata yang akhirnya menetes.
“Maafkan aku, Clara… Maafkan aku,” bisik saya dengan suara pecah. “Aku bersumpah demi nyawaku, aku akan menyelamatkan putra kita. Dan siapa pun yang telah menyentuh kalian… akan membayar setiap tetes air mata ini dengan kehancuran mereka.”
Malam itu, di bawah temaram lampu rumah sakit, sang duda miliarder yang selama ini dikenal tak memiliki hati, akhirnya lahir kembali. Bukan lagi sebagai pengusaha yang haus kekuasaan, melainkan sebagai seorang ayah yang siap mendeklarasikan perang terhadap keluarganya sendiri.
