Sebuah gaun pengantin berwarna putih bersih, terhampar di tempat tidur

Sebuah gaun pengantin berwarna putih bersih, terhampar di tempat tidur. Di atasnya, ada selembar surat kecil dengan tulisan tangan istri saya, Maya, yang berbunyi: “Pakai ini dan datanglah ke alamat di bawah pukul lima sore. Tolong, jangan tanyakan apa pun.”

Kepala saya berputar. Gaun pengantin? Mengapa ada gaun pengantin di kasur kami, dan mengapa dia menyuruh saya memakainya? Apakah ini sebuah lelucon yang sakit? Atau apakah Maya sudah kehilangan akal sehatnya? Kemarahan yang membakar dada saya sejak semalam kini bercampur dengan rasa bingung yang luar biasa. Saya melihat ke sekeliling rumah; dia sudah pergi bekerja, meninggalkan keheningan yang mencekam.

Hari itu berlalu seperti siksaan. Setiap detik terasa seperti jarum yang menusuk kulit. Jam dinding berdetak lambat, sementara pikiran saya melompat ke skenario-skenario terburuk. Pukul empat sore, saya menatap gaun itu. Dengan perasaan campur aduk—marah, penasaran, dan terhina—saya memutuskan untuk tidak memakai gaun tersebut. Sebagai gantinya, saya memasukkannya ke dalam tas hitam, mengenakan setelan jas terbaik saya, dan melangkah keluar rumah menuju alamat yang tertera: sebuah gedung tua terbengkalai di pinggiran kota yang dulunya adalah sebuah sanatorium (rumah sakit jiwa kuno).

Saat saya tiba, langit sudah mulai meredup, digantikan oleh warna ungu keabu-abuan yang suram. Gedung itu tampak menyeramkan, dengan jendela-jendela pecah yang menyerupai mata-mata hitam yang mengawasi. Gerbang besinya berkarat, terbuka sedikit seolah mengundang saya masuk ke dalam perangkap.

Saya melangkah masuk dengan hati-hati. Suara langkah kaki saya menggema di lorong yang sepi. Bau obat-obatan yang menyengat dan kayu lapuk memenuhi udara. Di ujung lorong lantai satu, saya melihat seberkas cahaya remang-remang keluar dari sebuah ruangan besar yang dulunya mungkin merupakan aula utama.

Saya berjalan mendekat, menahan napas, dan mengintip melalui celah pintu yang terbuka sedikit.

Apa yang saya lihat di dalam membuat darah saya membeku.

Ruangan itu didekorasi seperti sebuah kapel pernikahan, namun dengan cara yang sangat aneh dan mengerikan. Ada lilin-lilin hitam yang menyala di sepanjang dinding, dan di tengah ruangan, ada sebuah altar darurat. Di depan altar tersebut, berdiri seorang pria tinggi tegap yang membelakangi saya. Dia mengenakan setelan jas pengantin pria. Dan di sampingnya, mengenakan gaun pengantin yang persis sama dengan yang ditinggalkan di rumah saya, adalah Maya.

Jantung saya berdegup kencang hingga rasanya mau copot. Air mata kemarahan mulai menggenang di mata saya. Jadi ini semua? Dia berselingkuh, dan dia mengundang saya ke sini hanya untuk menyaksikan pernikahannya dengan pria lain? Untuk mempermalukan saya di gedung terkutuk ini?

“Maya!” teriak saya sambil mendorong pintu hingga terbuka lebar, menghantam dinding dengan suara dentuman keras.

Suara saya menggema, memecah keheningan malam. Maya tersentak dan berbalik. Wajahnya pucat pasi, matanya membelalak penuh ketakutan—bukan ketakutan karena tertangkap basah, melainkan ketakutan yang murni, ketakutan yang biasa Anda lihat pada orang yang melihat ajal di depan mata.

“Rian? Mengapa… mengapa kamu tidak memakai gaun itu?” bisik Maya, suaranya bergetar hebat.

Pria di sampingnya perlahan berbalik. Saat cahaya lilin menerangi wajah pria itu, lutut saya lemas. Pria itu tidak memiliki wajah yang normal. Kulitnya pucat keperakan, matanya hitam legam tanpa bagian putih, dan senyumnya… senyumnya terlalu lebar, merobek sudut bibirnya hingga ke telinga. Dia mengenakan sepasang kaus kaki pria berwarna hitam yang sangat saya kenali.

“Dia tidak memakai persembahannya, Maya,” kata pria itu. Suaranya bukan suara manusia; itu adalah gema dari ratusan suara yang berbicara bersamaan, berat dan bergetar di udara. “Perjanjian kita gagal.”

“Tidak! Tolong jangan!” Maya bersujud di depan pria—atau makhluk—itu, menangis histeris. “Dia suamiku! Aku membawakannya untukmu seperti yang kau minta! Aku membawakannya gaun itu agar tubuhnya suci untuk kau rasuki!”

Logika saya lumpuh. Otak saya menolak untuk memproses apa yang sedang terjadi.

Maya menoleh ke arah saya dengan air mata yang terus mengalir. “Maafkan aku, Rian… maafkan aku! Tiga bulan lalu, saat aku bekerja shift malam sendirian di ruang otopsi bawah tanah rumah sakit, aku tidak sengaja membuka peti mati kuno yang dibawa dari situs penggalian. Makhluk ini… Iblis ini bangkit. Dia mengikat jiwaku. Dia mengancam akan membunuhmu dan seluruh keluarga kita jika aku tidak menuruti kemauannya!”

Maya terengah-engah, mencoba menghirup udara di antara tangisnya. “Kaus kaki hitam itu… itu adalah bagian dari pakaian korporal jasadnya yang hilang, yang dia paksa aku pakai agar dia bisa melacak setiap langkahku, memastikanku tidak kabur. Pesan semalam, ‘Turunlah, aku sudah di sini’, itu dari dia! Dia menungguku di tempat parkir rumah sakit, atau di bawah jendela rumah kita! Aku mengatakan ‘jangan sampai suamiku tahu’ karena aku ingin melindungimu, Rian! Aku ingin menukar jiwaku demi keselamatanmu!”

“Tapi dia menginginkanmu, Rian!” Maya menjerit. “Dia menginginkan tubuh seorang pria yang dicintai dengan tulus untuk menjadi wadah barunya di dunia ini! Gaun pengantin itu… itu adalah ritual pengikat agar kamu menjadi ‘pengantin’ wadahnya!”

Makhluk itu melangkah maju. Setiap langkahnya membuat lantai beton di bawahnya retak dan mengeluarkan asap hitam yang berbau busuk. Tatapan mata hitamnya mengunci mata saya, membuat saya tidak bisa bergerak sama sekali. Tubuh saya kaku, lumpuh oleh kekuatan gaun gaib yang tak kasat mata.

“Waktu habis,” bisik makhluk itu. “Karena ritual wadah pria gagal, aku akan mengambil apa yang ada.”

Makhluk itu mengulurkan tangannya yang berkuku panjang dan hitam, lalu mencengkeram leher Maya. Maya tidak berteriak. Dia hanya menatap saya dengan tatapan penuh cinta dan penyesalan yang mendalam. Dalam hitungan detik, kabut hitam pekat keluar dari mulut makhluk itu dan merangsek masuk ke dalam mulut Maya. Tubuh Maya kejang-kejang hebat, matanya berbalik hingga hanya menyisakan warna putih, sebelum akhirnya dia jatuh terkulai di lantai.

Makhluk di depan saya itu runtuh, berubah menjadi tumpukan abu hitam dalam sekejap.

“Maya!” Saya akhirnya bisa menggerakkan tubuh saya. Saya berlari ke arahnya, berlutut, dan mengangkat kepalanya. Dia tidak bernapas. Jantungnya berhenti. Saya menangis sejadi-jadinya, mendekap tubuhnya yang mulai mendingin di tengah kapel berdarah itu. Saya telah salah menuduhnya. Dia mengorbankan segalanya untuk saya, dan saya terlambat untuk menyelamatkannya.

Tiga hari berlalu sejak malam mengerikan itu. Polisi menemukan kami di gedung tua tersebut. Kematian Maya dinyatakan sebagai serangan jantung mendadak akibat syok berat, karena tidak ada tanda-tanda kekerasan fisik pada tubuhnya. Kasus ditutup.

Hari ini adalah hari pemakaman Maya. Rumah kami sepi, dipenuhi dengan karangan bunga duka cita. Saya duduk di tepi tempat tidur kami, menatap lantai dengan mata yang bengkak karena terus menangis. Penyesalan ini membakar jiwa saya dari dalam.

Tiba-tiba, saya merasakan hembusan angin dingin di dalam kamar yang tertutup rapat.

Pintu lemari pakaian kami perlahan terbuka sendiri dengan suara derit yang pelan. Di dalamnya, di antara gantungan baju yang kosong, saya melihat sesuatu yang aneh.

Ada sepasang kaus kaki hitam pria, terlipat rapi di lantai lemari.

Di samping kaus kaki itu, ada sebuah cermin kecil. Saat saya berjalan mendekat dan menatap cermin tersebut, saya tidak melihat bayangan diri saya sendiri.

Saya melihat Maya.

Dia berdiri di dalam cermin, mengenakan gaun pengantin putih yang indah. Wajahnya tidak lagi pucat, melainkan berseri-seri dengan senyuman yang sangat manis—senyuman yang dulu selalu saya rindukan. Dia melambaikan tangannya kepada saya, memberi isyarat agar saya mendekat.

Namun, saat saya melihat lebih dekat ke arah matanya di dalam cermin… mata itu tidak memiliki bagian putih. Semuanya hitam legam.

Dan dari balik bayangan Maya di dalam cermin, keluar suara ratusan gema yang berbisik langsung di dalam kepala saya, bukan di telinga saya:

“Terima kasih telah datang ke pernikahan kita, suamiku. Maya yang asli sudah mati di malam itu. Akulah yang sekarang berada di dalam tubuhnya yang kau kuburkan… dan aku meninggalkan sedikit dari diriku di dalam dirimu saat kita berpelukan semalam.”

Saya tersentak mundur, menyentuh dada saya. Jantung saya… tidak lagi berdetak. Namun saya masih bisa bernapas, masih bisa berpikir. Saya melihat ke bawah, ke arah kaki saya sendiri.

Tanpa saya sadari, sejak pagi tadi, saya sudah mengenakan sepasang kaus kaki hitam pria tersebut.

Saya melihat kembali ke cermin. Bayangan Maya telah hilang, digantikan oleh bayangan diri saya sendiri yang sedang tersenyum lebar—senyuman yang terlalu lebar, merobek sudut bibir saya hingga ke telinga. Saya tidak lagi memiliki kendali atas tubuh saya. Saya berbalik, berjalan menuju pintu keluar dengan langkah yang tegap, siap untuk menyambut para pelayat di luar dengan tubuh yang baru.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang