Sebulan sebelum hari pernikahan saya, saya akhirnya memahami satu hal yang selama ini tidak ingin saya akui: terkadang orang yang paling kita perjuangkan justru menjadi orang yang paling tega menghancurkan hati kita.
Malam itu, setelah menelepon Profesor Ahmad dan menerima tawaran untuk bergabung dalam proyek penelitian pertanian di daerah terpencil, saya memandang ibu yang sedang duduk diam di sofa apartemen Rian.
Wajahnya terlihat lelah.

Bukan hanya karena perjalanan panjang selama 24 jam dari desa menuju Jakarta.
Namun karena penghinaan yang baru saja dia terima dari seseorang yang dulu pernah dia anggap seperti anak sendiri.
Ibu tidak menangis.
Itulah yang membuat hati saya semakin sakit.
Sejak kecil, saya mengenal ibu sebagai perempuan yang selalu kuat. Dia bisa bekerja di sawah sejak matahari belum muncul, mengangkat hasil panen, memasak untuk banyak orang, bahkan membantu tetangga tanpa pernah mengeluh.
Tetapi sore itu, untuk pertama kalinya saya melihat bahu ibu terlihat begitu kecil.
“Ibu, kenapa Ibu diam saja?” tanya saya pelan.
Ibu tersenyum tipis.
“Rian mungkin sedang banyak pikiran, Nak. Jangan bertengkar gara-gara Ibu.”
Kalimat itu membuat dada saya sesak.
Bahkan setelah diperlakukan buruk, ibu masih memikirkan perasaan orang lain.
Sementara orang yang dia bela justru tidak merasa bersalah sedikit pun.
Rian berdiri tidak jauh dari kami.
Dia masih dengan wajah tenangnya.
Seolah tidak terjadi apa-apa.
“Rina, kamu terlalu membesar-besarkan masalah,” katanya.
Saya menatapnya tidak percaya.
“Membesar-besarkan? Kamu membiarkan ibu saya berdiri di luar selama tiga jam, Rian.”
“Saya sudah bilang, saya sedang sibuk.”
“Sibuk minum teh dengan Nadia?”
Wajah Rian berubah sedikit.
Namun hanya sebentar.
“Kamu mulai lagi?”
Saya tertawa kecil, tapi bukan karena lucu.
Melainkan karena saya baru sadar betapa lama saya mencoba menutup mata.
“Selama ini saya selalu percaya alasanmu.”
Saya menunjuk dua cangkir teh di meja.
“Saat saya sakit dan butuh kamu, kamu bilang sedang membantu Nadia. Saat ulang tahun hubungan kita, kamu bilang ada urusan penelitian Nadia. Sekarang ibu saya datang jauh-jauh untuk berobat, dan lagi-lagi Nadia lebih penting?”
Rian menghela napas panjang.
“Kamu cemburu tidak pada tempatnya.”
Kalimat itu terasa seperti tamparan.
Bukan karena kasar.
Tapi karena saya akhirnya melihat kenyataan.
Dia tidak merasa bersalah.
Dia merasa saya yang salah karena mempertanyakan sikapnya.
Ibu perlahan berdiri.
“Nak, jangan bertengkar. Ibu bisa pulang saja.”
Saya segera memegang tangannya.
“Tidak, Bu. Ibu tidak perlu pulang.”
Saya menatap Rian.
“Yang harus pergi bukan Ibu.”
Malam itu saya membawa ibu keluar dari apartemen Rian.
Kami menginap di hotel kecil dekat rumah sakit tempat ibu akan menjalani pemeriksaan.
Sepanjang perjalanan, ibu hanya diam sambil melihat lampu-lampu Jakarta dari jendela mobil.
“Rina…”
“Iya, Bu?”
“Apakah Rian benar-benar orang yang baik?”
Pertanyaan itu membuat saya terdiam.
Karena selama ini saya selalu menjawab iya.
Tapi malam itu, saya tidak sanggup mengucapkannya.
Keesokan paginya, saya menemani ibu menjalani pemeriksaan.
Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa kondisi saraf tulang belakang ibu cukup serius.
Dokter mengatakan ibu membutuhkan terapi panjang dan kemungkinan operasi dalam beberapa bulan ke depan.
Saya menggenggam tangan ibu ketika mendengar kabar itu.
“Maafkan Rina, Bu.”
Ibu langsung menggeleng.
“Kenapa minta maaf?”
“Karena selama ini Rina terlalu sibuk mengejar kehidupan di Jakarta sampai lupa melihat orang yang selalu mendukung Rina.”
Ibu tersenyum.
“Kamu bukan anak yang buruk, Rina. Kamu hanya terlalu percaya pada orang yang salah.”
Kalimat itu terus terngiang di kepala saya.
Tiga hari kemudian, saya kembali ke apartemen Rian untuk mengambil barang-barang saya.
Saya sudah memutuskan.
Pernikahan yang tinggal satu bulan lagi tidak akan pernah terjadi.
Namun saat saya masuk ke apartemen, saya menemukan sesuatu yang membuat langkah saya berhenti.
Di atas meja kerja Rian terdapat sebuah map cokelat.
Awalnya saya tidak berniat membukanya.
Tetapi ketika melihat nama saya tertulis di bagian depan, tangan saya langsung gemetar.
Di dalamnya ada salinan rekening, beberapa dokumen rumah sakit, dan sebuah surat.
Surat itu berasal dari sebuah yayasan pendidikan di desa kami.
Saya mulai membaca perlahan.
“Rian Pratama menerima bantuan pendidikan penuh dari keluarga Ibu Sari sejak sekolah menengah hingga pendidikan kedokteran.”
Saya membeku.
Ibu.
Ibu saya.
Dialah yang membayar sebagian besar biaya pendidikan Rian setelah ayah Rian meninggal.
Saya tahu ibu pernah membantu keluarga Rian.
Tetapi saya tidak pernah tahu sebesar itu.
Saya membalik halaman berikutnya.
Ada sebuah laporan keuangan.
Ternyata selama bertahun-tahun, Rian diam-diam membayar kembali uang tersebut kepada ibu melalui rekening yayasan.
Saya bingung.
Jika dia sebenarnya masih berterima kasih kepada ibu, mengapa dia memperlakukannya seperti orang asing?
Saat itu terdengar suara pintu terbuka.
Rian masuk.
Dia terkejut melihat saya memegang dokumen tersebut.
“Kamu membuka itu?”
Saya menatapnya.
“Apa maksud semua ini?”
Rian diam lama.
Untuk pertama kalinya saya melihat wajahnya tidak percaya diri.
“Saya tidak ingin kamu tahu.”
“Kenapa?”
Dia duduk perlahan.
“Karena saya malu.”
Saya mengernyitkan dahi.
“Malu?”
Rian menunduk.
“Saya tidak pernah melupakan apa yang ibu kamu lakukan untuk saya, Rina.”
“Saya bisa lihat dari dokumen ini.”
“Tapi justru karena itu saya semakin merasa kecil.”
Saya diam mendengarkan.
Rian melanjutkan.
“Ketika saya menjadi dokter, saya ingin membuktikan bahwa saya bisa berdiri sendiri. Saya tidak ingin dikenal sebagai anak desa yang berhasil karena bantuan orang lain.”
Saya menatapnya.
“Tapi itu bukan alasan kamu memperlakukan ibu saya seperti itu.”
Air muka Rian berubah.
“Saya tahu.”
Untuk pertama kalinya, suaranya terdengar menyesal.
“Saya salah.”
Namun permintaan maaf itu datang terlambat.
“Kenapa kamu mengusir ibu saya hari itu?”
Rian menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Nadia datang karena saya sedang menghadapi masalah besar.”
Saya terdiam.
“Masalah apa?”
“Nadia mengetahui bahwa rumah sakit tempat saya bekerja sedang melakukan audit besar. Ada kesalahan dalam laporan penelitian yang bisa membuat karier saya hancur.”
Saya mengerutkan kening.
“Lalu?”
“Nadia bukan datang untuk hal seperti yang kamu pikirkan.”
Saya diam.
Rian menarik napas.
“Dia datang membawa bukti bahwa seseorang di rumah sakit mencoba menjatuhkan saya.”
Saya masih tidak tahu harus percaya atau tidak.
“Tapi kamu tetap membiarkan ibu saya di luar.”
Rian menunduk.
“Saya panik. Saya takut semua masalah datang bersamaan. Saya melihat nama ibu kamu menelepon, dan saya memilih mengabaikannya.”
Dia mengusap matanya.
“Saya berpikir ibu kamu pasti akan mengerti.”
Kalimat itu membuat saya sakit.
Karena itulah masalah sebenarnya.
Rian merasa ibu saya akan selalu memaafkannya.
Dia merasa kebaikan ibu adalah sesuatu yang bisa dia gunakan kapan saja.
Saya mengambil tas saya.
“Saya memaafkan kamu.”
Rian menatap saya dengan harapan.
“Tapi saya tidak bisa menikah dengan seseorang yang baru menghargai keluarga saya setelah hampir kehilangan saya.”
Wajahnya berubah.
“Rina…”
“Saya butuh pergi.”
Sebulan kemudian, saya benar-benar meninggalkan Jakarta.
Saya bergabung dengan tim penelitian Profesor Ahmad di sebuah desa terpencil di Jawa Tengah.
Anehnya, saya merasa lebih tenang.
Saya kembali melihat sawah.
Kembali mendengar suara burung pagi.
Dan kembali merasakan hidup yang selama ini saya tinggalkan demi mengejar sesuatu yang ternyata tidak membuat saya bahagia.
Ibu menjalani terapi secara rutin.
Kondisinya perlahan membaik.
Sementara tentang Rian, saya mendengar kabar bahwa dia mengundurkan diri dari jabatan besarnya di rumah sakit untuk merawat pasien di daerah pedesaan selama beberapa waktu.
Awalnya saya mengira dia hanya mencari cara untuk mendapatkan saya kembali.
Namun beberapa bulan kemudian, saya menerima sebuah surat.
Bukan pesan.
Bukan telepon.
Surat tulisan tangan.
“Rina, saya akhirnya memahami sesuatu. Orang yang paling berjasa dalam hidup saya bukan orang yang membuat saya terlihat sukses, tetapi orang yang tetap membantu saya ketika saya tidak punya apa-apa.”
“Saya tidak meminta kamu kembali. Saya hanya ingin mengatakan terima kasih kepada ibu kamu, karena telah mengajarkan saya arti keluarga.”
Saya membaca surat itu sambil tersenyum kecil.
Beberapa luka memang tidak bisa kembali seperti semula.
Namun terkadang, kehilangan seseorang adalah cara terbaik bagi seseorang untuk belajar menghargai.
Setahun kemudian, saat saya sedang memimpin penelitian pertanian di desa, seorang pasien datang ke klinik kecil tempat ibu melakukan terapi.
Dia adalah seorang dokter muda yang membantu masyarakat desa tanpa meminta bayaran.
Ketika saya melihat namanya di kartu identitas, saya terdiam.
Rian Pratama.
Dia melihat saya.
Kami sama-sama diam beberapa detik.
Lalu dia tersenyum.
Bukan senyum seorang dokter sukses.
Bukan senyum seseorang yang ingin membuktikan sesuatu.
Tetapi senyum seorang pria yang akhirnya menemukan dirinya sendiri.
Dan saat itu saya sadar, terkadang cinta bukan tentang mempertahankan seseorang sampai akhir.
Kadang cinta adalah melepaskan seseorang agar dia belajar menjadi manusia yang lebih baik.
Karena orang yang benar-benar berubah bukan orang yang takut kehilangan kita.
Melainkan orang yang akhirnya memahami nilai kita, bahkan ketika kita sudah tidak lagi berada di sisinya.
