Tanganku membeku di atas layar ponsel.
Selama beberapa detik aku bahkan lupa cara bernapas.
Di layar kecil itu, aku melihat sesuatu yang seharusnya tidak pernah kulihat. Sesuatu yang mungkin akan menghancurkan tiga keluarga sekaligus.
Arga.

Laki-laki yang selama hampir enam tahun menjadi tempatku pulang.
Laki-laki yang selama ini kukira hanya terlalu sibuk untuk membicarakan masa depan.
Dan Laras.
Perempuan yang besok pagi akan berjalan menuju altar bersama kakakku.
Aku terus merekam.
Aku tidak tahu kenapa aku masih menekan tombol itu. Mungkin karena sebagian kecil dari diriku masih berharap aku salah melihat. Mungkin karena aku membutuhkan bukti bahwa rasa sakit yang tiba-tiba menusuk dada ini bukan hanya imajinasi.
Di antara dua mobil itu, Arga masih memegang tangan Laras.
“Aku tidak pernah benar-benar meninggalkan kamu,” suara Arga terdengar pelan.
Laras menatapnya tajam.
“Tapi kamu memilih dia.”
Arga diam.
“Enam tahun, Arga,” lanjut Laras. “Enam tahun kamu bilang tunggu. Kamu bilang suatu hari nanti kamu akan menjelaskan semuanya. Kamu bilang kamu hanya butuh waktu.”
“Aku tahu.”
“Lalu apa yang terjadi? Kamu malah datang membawa Nadira.”
Nama itu keluar dari mulut Laras seperti sebuah hinaan.
Namaku.
Aku menahan napas.
Arga mengusap wajahnya frustrasi.
“Jangan bawa Nadira ke dalam masalah ini.”
Laras tertawa kecil.
“Kenapa? Karena dia tidak tahu?”
Kalimat itu membuat tubuhku terasa dingin.
Tidak tahu apa?
Aku memperbesar volume rekaman.
Arga menoleh ke arah lorong basement, seolah takut ada orang yang mendengar.
“Kita sudah membicarakan ini. Besok kamu menikah dengan Raka.”
“Aku tahu.”
“Dan aku akan tetap bersama Nadira.”
Laras tersenyum pahit.
“Bersama? Kamu bahkan tidak pernah mencintai dia.”
Jantungku berhenti sesaat.
Aku menggigit bibir agar tidak mengeluarkan suara.
Arga tidak langsung membantah.
Dan diamnya lebih menyakitkan daripada jawaban apa pun.
“Aku peduli sama Nadira,” katanya akhirnya.
“Peduli?”
Laras menggeleng.
“Kamu tahu apa yang paling menyakitkan? Bukan karena kamu memilih dia. Tapi karena kamu membuatku percaya bahwa kamu akan kembali.”
Arga mendekat.
“Laras…”
“Jangan panggil namaku seperti itu.”
Suara Laras bergetar.
“Besok aku akan menikah dengan Raka. Aku akan menjadi istri kakaknya Nadira. Aku akan masuk ke keluarga mereka. Dan kamu tahu apa yang paling gila?”
Dia menatap mata Arga.
“Aku masih mencintaimu.”
Tanganku semakin gemetar.
Aku ingin pergi.
Aku ingin berteriak.
Aku ingin melempar ponsel ini ke wajah mereka.
Tapi kakiku tidak bergerak.
Aku hanya berdiri di balik pilar, menjadi saksi hubungan yang selama ini tersembunyi di belakang hidupku sendiri.
Arga menunduk.
“Aku juga.”
Dua kata.
Hanya dua kata.
Tapi cukup untuk menghancurkan enam tahun kepercayaanku.
Aku menutup mulut dengan tangan.
Air mataku jatuh tanpa suara.
Selama ini aku selalu bertanya kenapa Arga tidak pernah mau menikah denganku.
Kenapa setiap kali aku membicarakan masa depan, dia terlihat seperti seseorang yang sedang mencari alasan.
Ternyata bukan karena dia belum siap.
Ternyata hatinya memang tidak pernah sepenuhnya bersamaku.
Aku mundur perlahan.
Satu langkah.
Dua langkah.
Namun tanpa sengaja kakiku menyentuh sebuah botol plastik kecil di lantai.
Suara benda itu berguling terdengar jelas.
Arga dan Laras langsung menoleh.
Aku membeku.
“Nadira?”
Wajah Arga berubah pucat.
Tidak ada lagi kebohongan di matanya.
Hanya ketakutan.
Aku keluar dari balik pilar dengan ponsel masih berada di tanganku.
“Jadi selama ini aku yang bodoh?”
Suaraku terdengar lebih tenang dari yang kurasakan.
Laras langsung melepaskan tangan Arga.
“Nadira, dengarkan dulu…”
Aku tertawa kecil.
“Dengarkan apa, Laras?”
Aku menatap perempuan yang beberapa jam lalu meminta gaun milikku.
Perempuan yang besok seharusnya menjadi kakak iparku.
“Bahwa kalian punya alasan?”
Laras membuka mulut, tapi tidak ada suara keluar.
Aku mengangkat ponselku.
“Aku sudah mendengar semuanya.”
Arga melangkah maju.
“Nadira, tunggu.”
“Jangan.”
Satu kata itu membuatnya berhenti.
Untuk pertama kalinya selama enam tahun, aku tidak takut kehilangan dia.
Karena saat itu aku sadar.
Aku sudah kehilangan dia jauh sebelum hari ini.
“Kamu tahu apa yang paling menyakitkan, Ga?”
Arga menatapku.
“Bukan karena kamu mencintai Laras.”
Matanya berkedip.
“Orang tidak bisa memilih siapa yang mereka cintai.”
Aku menarik napas.
“Tapi kamu memilih untuk menghancurkan hidupku sambil berpura-pura mencintaiku.”
“Nadira, aku bisa jelaskan.”
“Jelaskan?”
Aku tersenyum getir.
“Enam tahun, Arga. Kamu punya enam tahun untuk menjelaskan.”
Aku berbalik pergi.
“Nadira!”
Aku tidak berhenti.
Malam itu aku pulang ke rumah orang tuaku tanpa memberi tahu siapa pun.
Mama langsung tahu ada sesuatu yang salah ketika melihat wajahku.
“Nadira? Kamu kenapa?”
Aku ingin menjawab.
Aku ingin mengatakan bahwa calon suami kakakku dan pacarku telah mengkhianati kami.
Tapi kata-kata itu terasa terlalu berat.
Aku hanya berkata:
“Aku butuh istirahat, Ma.”
Aku masuk kamar dan mengunci pintu.
Malam itu aku tidak tidur.
Aku hanya duduk sambil melihat video yang kurekam berulang kali.
Setiap kali mendengar suara Arga mengatakan “aku juga”, dadaku kembali terasa hancur.
Pagi harinya adalah hari pernikahan Raka dan Laras.
Rumah kami penuh bunga.
Keluarga besar berdatangan.
Semua orang tersenyum.
Semua orang bahagia.
Hanya aku yang merasa seperti sedang berdiri di tengah panggung sandiwara.
Raka bahkan sempat masuk ke kamarku sebelum acara dimulai.
“Kamu kenapa? Dari tadi wajahmu pucat.”
Aku menatap kakakku.
Raka.
Laki-laki yang tidak tahu bahwa perempuan yang akan dinikahinya mencintai laki-laki lain.
Aku menggenggam ponselku.
Aku bisa menghancurkan semuanya dalam satu detik.
Aku bisa menunjukkan video itu.
Aku bisa membuat pernikahan ini batal.
Tapi aku melihat wajah Raka.
Dia terlihat bahagia.
Dia terlihat mencintai Laras.
Dan tiba-tiba aku bertanya pada diriku sendiri.
Apakah membalas sakit hati berarti membuat orang lain ikut hancur?
Aku menarik napas.
“Rak.”
“Iya?”
“Ada sesuatu yang harus kamu tahu.”
Sebelum aku sempat menunjukkan video, pintu kamar terbuka.
Arga berdiri di sana.
Wajahnya penuh penyesalan.
“Aku perlu bicara sama Nadira.”
Raka melihat kami bergantian.
“Ada apa?”
Tidak ada yang menjawab.
Arga menunduk.
“Aku sudah melakukan kesalahan besar.”
Aku menatapnya dingin.
“Baru sadar?”
Dia menghela napas.
“Aku dan Laras dulu pernah bersama.”
Raka langsung terdiam.
Wajahnya berubah.
“Tunggu.”
Arga melanjutkan.
“Hubungan kami berakhir karena keluarga Laras menolak aku. Mereka menganggap aku tidak punya masa depan.”
Aku tidak menyangka.
Untuk pertama kalinya aku mendengar cerita itu.
“Tapi setelah itu kamu bersama Nadira,” kata Raka pelan.
Arga mengangguk.
“Aku pikir aku bisa melupakan Laras.”
“Dan kamu gagal.”
Suara Raka terdengar tajam.
Arga tidak menyangkal.
“Aku salah.”
Ruangan menjadi sunyi.
Aku akhirnya mengeluarkan ponselku.
“Aku punya rekaman.”
Raka melihat layar.
Aku menyerahkan ponsel itu.
Beberapa menit kemudian, wajah kakakku berubah.
Tidak ada kemarahan yang meledak.
Tidak ada teriakan.
Justru ketenangan yang jauh lebih menakutkan.
Dia mematikan video.
“Laras tahu aku tidak tahu?”
Arga menunduk.
“Tidak.”
Raka tertawa kecil.
Tapi bukan tawa bahagia.
“Aku selalu pikir pengkhianatan adalah ketika seseorang pergi dengan orang lain.”
Dia menatap Arga.
“Ternyata lebih menyakitkan ketika seseorang tinggal, tapi hatinya sudah pergi.”
Aku tidak tahu apa yang terjadi setelah itu.
Pernikahan tetap berjalan.
Tapi bukan seperti yang direncanakan.
Raka membatalkan pernikahan satu jam sebelum acara dimulai.
Dia tidak mempermalukan Laras di depan semua tamu.
Dia hanya mengatakan bahwa ada kebenaran yang tidak bisa lagi mereka abaikan.
Laras pergi malam itu.
Arga juga.
Tiga bulan kemudian, aku bertemu Arga untuk terakhir kalinya.
Kami duduk di sebuah kafe kecil di Jakarta Selatan.
“Aku minta maaf,” katanya.
Aku melihat pria yang dulu sangat kucintai.
Aneh.
Dulu aku pikir jika kehilangan Arga, hidupku akan berakhir.
Ternyata tidak.
“Aku juga minta maaf.”
Arga terkejut.
“Untuk apa?”
“Karena aku terlalu lama mencintai seseorang yang tidak pernah benar-benar memilihku.”
Dia menunduk.
Aku tersenyum kecil.
“Aku harap suatu hari kamu menemukan orang yang benar-benar kamu cintai.”
“Dan kamu?”
Aku melihat keluar jendela.
“Aku juga.”
Beberapa bulan kemudian, aku menerima sebuah paket kecil tanpa nama pengirim.
Di dalamnya ada gaun mauve yang dulu kuberikan kepada Laras.
Bersama sebuah surat.
Tulisan tangan Raka.
“Nad, aku menemukan ini tersimpan di rumah Laras. Dia tidak pernah memakainya. Katanya gaun ini terlalu berharga karena mengingatkannya pada janji lama.”
Aku membaca kalimat terakhir.
“Aku ingin kamu memilikinya lagi. Bukan karena gaun ini penting. Tapi karena aku ingin kamu mengingat satu hal: seseorang yang tepat tidak akan meminta kamu mengecilkan dirimu agar orang lain terlihat lebih besar.”
Aku menatap gaun itu lama.
Dulu aku mengira gaun itu adalah simbol pengkhianatan.
Sekarang aku tahu.
Gaun itu adalah awal dari kebebasanku.
Karena terkadang, sesuatu yang membuat hati kita hancur bukanlah akhir dari hidup kita.
Kadang itu adalah cara hidup menunjukkan bahwa kita pantas mendapatkan sesuatu yang lebih jujur.
