Pukul tujuh lewat dua puluh lima menit, lobi Astera Grand sudah dipenuhi orang-orang yang wajahnya terasa akrab sekaligus asing bagiku.
Aku berdiri beberapa meter dari pintu masuk, masih di dalam mobil, memandangi gedung hotel melalui kaca gelap.
Kirana duduk di sampingku sambil mengecek ponselnya.
“Pengumuman Arunika tinggal tiga puluh lima menit,” katanya. “Kamu yakin mau turun sekarang?”
Aku mengangguk.

Gaun hitam yang kupakai sederhana, tanpa kilau berlebihan. Rambutku dibiarkan jatuh lurus sampai punggung. Riasanku tipis, hanya cukup untuk mempertegas wajah tanpa membuatku merasa seperti sedang mengenakan topeng.
Aku tidak ingin datang sebagai seseorang yang sedang menyamar.
Aku ingin datang sebagai diriku sendiri.
Kirana menatapku sebentar.
“Kalau ada yang keterlaluan, telepon aku.”
“Aku tahu.”
“Dan jangan lupa, pukul delapan kamu harus naik ke lantai tiga puluh dua.”
Aku tersenyum tipis.
“Tenang. Aku tidak akan terlambat untuk hidup baruku.”
Pintu mobil dibuka.
Aku turun.
Udara malam Jakarta terasa hangat setelah hujan sore. Lampu hotel memantul di lantai marmer yang masih sedikit basah.
Tidak ada yang mengenaliku.
Beberapa teman seangkatan berdiri di dekat pintu sambil berbincang. Aku mengenali wajah-wajah mereka meskipun tubuh dan gaya mereka telah berubah.
Aku berjalan melewati mereka.
Salah satu perempuan bahkan tersenyum sopan kepadaku, mengira aku tamu hotel biasa.
Aku membalas senyumnya.
Lift membawaku ke lantai tiga.
Ketika pintu terbuka, suara tawa langsung terdengar.
Aku belum melangkah keluar ketika mendengar suara Keisya.
“Jam tujuh tiga puluh kurang dua menit. Kayaknya seratus juta kita aman.”
Disusul tawa beberapa orang.
“Gue bilang juga apa. Mana mungkin dia berani datang.”
“Setelah lihat video kemarin, mungkin dia langsung diet darurat.”
“Apa mungkin dia sekarang lagi cari lift barang?”
Aku berdiri di dalam lift selama satu detik lebih lama.
Lalu pintunya terbuka sepenuhnya.
Aku melangkah keluar.
Orang pertama yang melihatku adalah seorang laki-laki bernama Galang.
Dia sedang memegang gelas ketika tatapannya berhenti di wajahku.
Tangannya ikut berhenti.
Seorang perempuan di sebelahnya bertanya, “Kenapa?”
Galang tidak menjawab.
Pandangan orang-orang perlahan mengikuti arah matanya.
Suara ruangan mulai mengecil.
Aku berjalan menuju meja registrasi.
Hak sepatuku terdengar pelan di lantai marmer.
Tak.
Tak.
Tak.
Aku masih bisa melihat wajah mereka satu per satu.
Orang-orang yang kemarin mengirim emoji babi.
Orang-orang yang bertanya apakah kursi hotel cukup kuat.
Orang-orang yang tertawa ketika seragam lamaku difoto bersama timbangan.
Sekarang tidak seorang pun tertawa.
Keisya berdiri di dekat backdrop reuni.
Wajahnya membeku.
Di sebelahnya, Rendra sedang berbicara dengan seorang perempuan bergaun biru yang mungkin pacarnya.
Ketika melihatku, mulutnya sedikit terbuka.
Aku berhenti di depan meja.
“Nama?”
Petugas reuni bertanya tanpa melihat ke atas.
“Nayara Pradipta.”
Tangannya berhenti menulis.
Dia mengangkat kepala.
Ekspresinya berubah.
“Nayara?”
Aku tersenyum.
“Iya.”
Seseorang di belakangku berbisik.
“Gila.”
Aku mengambil kartu nama reuni dan berjalan masuk.
Keisya akhirnya bergerak.
Dia berjalan cepat menghampiriku.
“Nayara?”
Nada suaranya terdengar seperti sedang meminta konfirmasi bahwa bumi masih bulat.
Aku menatapnya.
“Halo, Keisya.”
Matanya bergerak dari wajahku turun ke tubuhku, lalu naik lagi.
“Kamu…”
Dia tidak mampu menyelesaikan kalimatnya.
Aku membantu.
“Aku datang tepat waktu.”
Beberapa orang tertawa kecil, tapi kali ini bukan kepadaku.
Aku mengeluarkan ponsel.
“Taruhannya masih berlaku, kan?”
Wajah Keisya berubah.
“Ya ampun, Nay. Masa hal begitu dibawa serius?”
Aku menatapnya.
“Kemarin kamu bilang jangan sampai aku menganggapnya bercanda.”
Ruangan kembali sunyi.
Galang menahan senyum.
Keisya mengangkat dagu.
“Aku cuma kaget.”
“Kaget karena apa?”
Dia menatap tubuhku lagi.
“Kamu berubah.”
“Aku memang berubah.”
Aku tersenyum tipis.
“Tapi sepertinya tidak semua orang berhasil melakukan hal yang sama.”
Wajah Keisya langsung menegang.
Rendra akhirnya menghampiri kami.
Dia tampak jauh lebih gugup daripada yang kubayangkan.
“Nayara.”
Aku menoleh.
“Rendra.”
Dia tersenyum canggung.
“Wow. Aku benar-benar nggak nyangka.”
Pacarnya berdiri di sampingnya. Perempuan itu cantik, berambut pendek, dengan postur atletis.
Rendra menatapku terlalu lama.
“Aku hampir nggak mengenalimu.”
Aku mengangguk.
“Bagus.”
Dia tertawa gugup.
“Bukan begitu maksudku.”
Keisya menyela.
“Rendra, bukannya tadi kamu bilang kalau Nayara datang kamu bakal peluk dia?”
Beberapa orang langsung bersorak.
Rendra sempat melirik pacarnya.
Namun mungkin karena terlalu banyak orang melihat, egonya menang.
Dia membuka tangan.
“Ya, anggap saja permintaan maaf.”
Aku mundur satu langkah.
“Tidak perlu.”
Tangannya membeku.
Tawa kecil terdengar dari belakang.
Aku melanjutkan.
“Permintaan maaf tidak membutuhkan sentuhan.”
Wajahnya memerah.
Pacarnya justru menatapku dengan ekspresi tertarik.
Keisya lalu bertepuk tangan.
“Oke, oke. Jangan tegang. Kita kan reuni.”
Dia menunjuk ke sudut ruangan.
Dan di sanalah aku melihatnya.
Seragam SMA lamaku.
Digantung di atas manekin.
Kertas bertuliskan Si gendut dilarang makan masih menempel di punggung.
Di depannya ada timbangan digital.
Beberapa detik aku hanya diam.
Jantungku berdetak keras.
Bukan karena malu.
Tetapi karena tiba-tiba aku seperti kembali berusia tujuh belas tahun.
Bau toilet sekolah.
Suara pintu dikunci.
Tawa dari luar.
Air dingin yang disiramkan ke seragamku.
Suara Keisya berteriak angka sembilan puluh sembilan melalui pengeras suara mainan.
Napas kecil keluar dari mulutku.
Keisya memperhatikan reaksiku dan tersenyum.
Mungkin dia mengira akhirnya menemukan tombol yang tepat untuk menghancurkanku.
“Nostalgia,” katanya.
Aku menatapnya.
“Kenapa kamu masih menyimpan seragamku?”
Keisya tersenyum kaku.
“Lucu aja.”
“Selama bertahun-tahun?”
Dia tidak menjawab.
Aku berjalan menuju manekin.
Semua orang mengikuti dari belakang.
Aku menyentuh seragam itu.
Kainnya terasa kasar di ujung jari.
Aneh.
Benda yang dulu membuatku ingin menghilang dari dunia sekarang terlihat sangat kecil di hadapanku.
Bukan ukurannya.
Kekuasaannya.
Aku mengambil kertas dari punggung seragam.
Si gendut dilarang makan.
Aku membacanya sekali.
Lalu kulipat menjadi dua.
Kemudian empat.
Dan kumasukkan ke tempat sampah.
Keisya tertawa kecil.
“Jangan sensitif, Nay. Itu cuma kenangan SMA.”
Aku menatapnya.
“Kalau memang cuma kenangan, kenapa kamu mengunggah videonya kemarin?”
Dia terdiam.
Aku melanjutkan.
“Kenapa kamu meneleponku pagi tadi hanya untuk bilang bahwa satu-satunya fungsi yang kupunya di sekolah adalah menjadi bahan lelucon?”
Wajah Keisya berubah total.
Beberapa kepala menoleh kepadanya.
“Apa?”
“Dia bilang begitu?”
Keisya langsung menjawab.
“Nayara, jangan ngarang.”
Aku mengambil ponsel.
“Aku tidak perlu mengarang.”
Aku menekan layar.
Suara Keisya keluar dari speaker.
Jelas.
“Dulu kalau kamu nggak segemuk itu, siapa juga yang mau memperhatikanmu? Setidaknya karena jadi bahan lelucon, kamu punya fungsi di kelas.”
Tidak ada yang tertawa.
Keisya memucat.
Dia mencoba merebut ponselku.
Aku menjauh.
“Matikan itu.”
“Kenapa?”
“Kamu merekam tanpa izin!”
“Aku merekam percakapan yang dilakukan kepadaku sendiri.”
Beberapa orang mulai berbisik.
Keisya menatap sekeliling dan sepertinya baru sadar bahwa situasinya telah berbalik.
“Kalian jangan sok suci,” katanya tiba-tiba. “Kalian semua dulu juga ikut ketawa.”
Ruangan kembali diam.
Kali ini wajah beberapa orang berubah.
Itu benar.
Keisya bukan satu-satunya.
Dia mungkin pemimpin, tetapi mereka adalah penonton yang memberinya panggung.
Aku menatap mereka.
“Aku tidak datang untuk mencari siapa yang paling bersalah.”
Suara ruangan benar-benar hening.
“Aku datang karena kemarin kalian mengunggah kembali video seorang anak tujuh belas tahun yang sedang dipermalukan dan menganggapnya hiburan.”
Aku menarik napas.
“Dan ternyata, setelah bertahun-tahun, beberapa dari kalian masih menganggap itu lucu.”
Seorang perempuan bernama Salsa menunduk.
“Maaf, Nay.”
Aku mengenalnya.
Dulu dia pernah meminjam catatanku sebelum ujian, lalu dua jam kemudian ikut tertawa ketika Keisya menyembunyikan tas makanku.
“Aku benar-benar minta maaf.”
Yang lain mulai mengikuti.
Ada yang tulus.
Ada yang hanya takut terlihat buruk.
Aku tidak mencoba membedakan.
Rendra maju.
“Aku juga.”
Aku melihatnya.
Dia menelan ludah.
“Soal surat dulu… dan aku menjegal kamu…”
Pacarnya menoleh tajam.
“Kamu menjegal dia?”
Rendra terdiam.
Aku tersenyum tipis.
“Dulu kita masih kecil, kan?”
Dia langsung pucat karena mendengar kalimatnya sendiri kembali kepadanya.
“Ternyata mudah sekali mengatakan itu kalau kita bukan orang yang harus membawa lukanya sampai dewasa.”
Pacarnya mundur dari sisinya.
Rendra berbisik, “Nay…”
Ponsel di tanganku bergetar.
19.58.
Dua menit.
Aku mengambil tas.
Keisya mendadak tertawa keras.
“Tunggu.”
Semua menoleh.
Dia sudah kehilangan ekspresi manisnya.
“Kamu datang ke sini cuma buat pamer karena sekarang kurus?”
Aku berhenti.
Keisya menunjukku.
“Jangan sok menang hanya karena tubuhmu berubah.”
Aku memandangnya beberapa detik.
“Justru kamu yang masih belum mengerti.”
Aku mendekat.
“Aku tidak menang karena sekarang kurus.”
Wajahnya menegang.
“Aku menang ketika berhenti percaya bahwa angka di timbangan menentukan apakah aku layak dihormati.”
Tidak ada yang berbicara.
“Itu sebabnya kalau malam ini berat badanku masih sembilan puluh sembilan kilogram sekalipun, semua yang kalian lakukan tetap salah.”
Keisya tidak memiliki jawaban.
Pintu lift di belakang kami terbuka.
Seorang staf hotel keluar.
“Nona Nayara Pradipta?”
Aku menoleh.
“Iya.”
“Kami dari lantai tiga puluh dua. Tim Arunika sudah menunggu.”
Ruangan menjadi sunyi lagi.
Seseorang berbisik.
“Arunika?”
Petugas itu mengangguk sopan.
“Acara penyambutan artis baru akan dimulai dua menit lagi.”
Keisya memucat.
“Artis baru?”
Aku masuk ke lift.
Sebelum pintu tertutup, suara notifikasi terdengar hampir bersamaan dari puluhan ponsel.
Pukul delapan tepat.
Seseorang membuka Instagram.
Lalu terdengar teriakan.
“Gila!”
“Nayara!”
Aku bisa melihat layar dari dalam lift.
Foto promosiku memenuhi halaman resmi Arunika Entertainment.
Selamat datang, Nayara Pradipta.
Pemeran utama proyek drama terbaru Arunika Studios.
Wajah Keisya benar-benar kehilangan warna.
Aku tahu kenapa.
Salah satu proyek yang minggu lalu dia audisi adalah drama yang sama.
Lift mulai tertutup.
Namun sebelum celahnya hilang, Keisya berlari.
“Tunggu!”
Tangannya menahan pintu.
“Nayara.”
Untuk pertama kalinya malam itu, suaranya terdengar kecil.
“Aku juga sedang coba masuk industri.”
Aku tidak menjawab.
“Kalau nanti ada audisi atau apa… mungkin kamu bisa bantu rekomendasi?”
Aku menatapnya.
Ironis sekali.
Beberapa jam lalu dia menyuruhku mengenakan pakaian longgar agar kursi hotel tidak rusak.
Sekarang dia meminta bantuan.
Aku tidak marah.
Entah kenapa, justru terasa sangat tenang.
“Aku tidak akan menghalangi kariermu.”
Matanya langsung berbinar.
“Tapi aku juga tidak akan menggunakan namaku untuk membantumu.”
Senyumnya hilang.
“Kamu harus mendapatkannya dengan kemampuanmu sendiri.”
Aku menatapnya lurus.
“Seperti aku.”
Tangannya perlahan turun.
Pintu lift tertutup.
Ketika sampai di lantai tiga puluh dua, Kirana sudah menunggu.
“Bagaimana reuni?”
Aku berjalan keluar.
“Lebih singkat dari yang kukira.”
Dia tersenyum.
“Dan taruhan?”
Aku melihat notifikasi.
Transfer dari rekening penampung taruhan sudah masuk.
Rp80 juta.
Kirana tertawa.
“Lumayan.”
Aku memandang angka itu sebentar.
Kemudian membuka aplikasi perbankan.
Aku mengetik nominal yang sama.
Rp80.000.000.
Tujuan transfernya adalah sebuah yayasan yang menyediakan pendampingan psikologis dan program pencegahan perundungan untuk remaja.
Kirana menatapku.
“Kamu menyumbangkan semuanya?”
Aku menekan konfirmasi.
“Iya.”
“Kenapa?”
Aku memasukkan ponsel ke tas.
“Karena aku tidak ingin mendapat keuntungan dari versi diriku yang dulu sedang menderita.”
Di ujung koridor, pintu ballroom terbuka.
Lampu kamera menyala.
Nama dan fotoku terpampang besar di layar.
Kirana berjalan di sampingku.
Tepat sebelum kami masuk, ponselku bergetar sekali lagi.
Sebuah pesan dari nomor yang tidak kusimpan.
Aku membukanya.
Ternyata pacar Rendra.
Namanya Alina.
Terima kasih karena kamu datang malam ini.
Aku baru tahu siapa dia sebenarnya.
Lalu satu pesan lagi.
Dan untuk apa pun nilainya, kamu benar. Orang tidak berubah hanya karena umur mereka bertambah. Mereka berubah ketika berani mengakui siapa diri mereka sebelumnya.
Aku membaca kalimat itu dua kali.
Kemudian layar kumatikan.
Di balik pintu ballroom, ratusan orang menunggu.
Kamera.
Produser.
Wartawan.
Sutradara.
Orang-orang yang tidak mengenalku sebagai gadis hampir seratus kilogram.
Tetapi tiba-tiba aku sadar, aku juga tidak ingin menghapus gadis itu.
Karena dia yang bertahan ketika aku belum tahu caranya melawan.
Dia yang pulang sambil menangis tetapi tetap kembali ke sekolah keesokan harinya.
Dia yang berkali-kali dipermalukan tetapi tetap memiliki keberanian untuk bermimpi.
Selama bertahun-tahun aku mengira aku harus berubah menjadi orang lain agar bisa meninggalkan masa lalu.
Ternyata tidak.
Aku hanya perlu berhenti malu terhadap orang yang dulu pernah menjadi diriku.
Kirana membuka pintu.
Sorot lampu menyambut wajahku.
Seseorang memanggil namaku.
Aku melangkah masuk.
Kali ini aku tidak menunduk.
Dan untuk pertama kalinya, ketika teringat gadis tujuh belas tahun yang berdiri sendirian di toilet sekolah dengan seragam basah dan selembar kertas di punggungnya, aku tidak merasa kasihan kepadanya.
Aku merasa bangga.
Karena ternyata, dialah yang membawaku sampai ke sini.
