Selama 39 hari masa pemulihan setelah melahirkan, istriku terus-menerus mendengar suara gesekan dari bawah ranjang bayi. Saat kantong kain berlumuran darah itu akhirnya terbuka, aku baru mengetahui rahasia Ibu—dan alasan mengapa ia mengunci pintu ketika tubuh bayi kami mulai membiru.

Suara klik dari kunci pintu yang diputar dari luar terdengar begitu nyaring di telingaku, seolah menjadi penanda bahwa malam ini tidak akan ada jalan keluar yang mudah. Pak Teodoro berdiri tepat di balik bayangan pintu kamar yang setengah terbuka, sementara ibuku berdiri di hadapanku dengan pisau kecil yang masih tergenggam erat di tangannya. Tatapan mata ibu sudah berubah total, bukan lagi sorot mata seorang ibu yang lelah mengurus cucu, melainkan tatapan dingin dari seseorang yang dikendalikan oleh keyakinan kuno yang sesat. Andrea semakin merapatkan pelukannya pada Nathaniel, bayi kami yang wajahnya kini tampak semakin pucat dengan napas yang mulai tersengal-sengal.

Tanpa berpikir panjang, aku langsung menerjang ke arah meja sudut, menyambar vas kaca hiasan rumah lalu menghantamkannya ke lantai hingga pecah berkeping-keping untuk dijadikan senjata pertahanan. Suara pecahan kaca itu membuat Pak Teodoro melangkah masuk, sementara ibu mencoba meraih tanganku dengan teriakan histeris yang memanggil nama-nama leluhur kami. Aku tidak peduli lagi pada drama atau ancaman bunuh diri yang dilontarkan ibu, karena flashdisk di genggamanku kini terasa begitu panas dan menjadi satu-satunya petunjuk untuk mengungkap kebenaran di balik kematian ayahku dan ancaman nyata yang sedang mengincar nyawa anakku.

Aku merogoh saku celanaku, mengeluarkan laptop kerja lamaku yang masih menyala di atas meja belajar, lalu menancapkan flashdisk pemberian adikku itu dengan tangan yang bergetar hebat. Di layar monitor yang memantulkan cahaya suram kamar tidur, sebuah folder tersembunyi langsung terbuka. Isinya adalah beberapa rekaman suara berdurasi panjang dan satu video berkualitas buruk yang diambil secara diam-diam menggunakan kamera ponsel jadul. Aku mengeklik berkas video pertama, dan seketika suara napas berat seorang laki-laki paruh baya memenuhi ruangan kamar yang mendadak hening. Itu suara Ayah. Dalam video tersebut, Ayah tampak terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit tua di kampung, dengan selang oksigen yang melintang di hidungnya.

Di sampingnya, ibu berdiri sambil memegang mangkuk berisi ramuan hitam pekat yang berbau persis seperti bau anyir di bawah ranjang bayi kami saat ini. Ayah terus menggelengkan kepala, menolak meminum cairan tersebut, sementara ibu membisikkan kalimat-kalimat kutukan yang menyebut bahwa garis keturunan keluarga kami harus dibersihkan melalui tumbal darah demi mengembalikan kejayaan dan harta keluarga yang habis karena judi serta utang piutang. Adik perempuanku, Maya, yang merekam video itu dari celah pintu kamar, terdengar terisak pelan sambil membisikkan peringatan bahwa ayah sebenarnya bukan meninggal karena serangan stroke seperti yang selama ini dikatakan ibu, melainkan karena racun perlahan yang dicekokkan setiap hari selama masa-masa kritisnya di rumah.

Seketika darahku mendidih dan seluruh amarah yang selama ini tertahan meledak menjadi satu. Aku menoleh tajam ke arah ibu yang kini tampak gemetar ketakutan melihat rahasianya terpampang nyata di layar laptop. Pak Teodoro yang berdiri di ambang pintu mencoba maju untuk mencabut kabel laptop, tetapi aku langsung menyambar pecahan vas kaca yang besar dan mengarahkannya tepat ke depan wajah dukun kampung tersebut.

Pak Teodoro mendengus pelan, mulutnya komat-kamit merapalkan sesuatu dalam bahasa daerah yang tidak kumengerti, sementara tangan kirinya perlahan merogoh selimut bayi yang dibawanya. Dari balik kain tersebut, ia mengeluarkan sebuah belati kecil berkarat yang ujungnya berlumuran cairan merah gelap. Ibu jatuh berlutut di lantai sambil menangis histeris, bukan karena merasa bersalah, melainkan karena rencana busuknya gagal total. Ia berteriak histeris mengatakan bahwa semua yang dilakukannya adalah demi kebaikan keluarga, agar kutukan tujuh turunan dari keluarga Andrea tidak menghancurkan sisa hidup kami. Mendengar hal itu, Andrea yang tadinya ketakutan mendadak bangkit berdiri dengan tatapan penuh amarah yang belum pernah kulihat sebelumnya. Ia menatap ibu tajam dan berkata dengan suara dingin bahwa satu-satunya kutukan di keluarga ini bukanlah darahnya, melainkan keserakahan dan kebejatan moral ibu sendiri yang tega membunuh suaminya sendiri demi harta warisan dan kini mencoba mencabut nyawa cucunya yang tidak berdosa.

Suasana di dalam kamar semakin mencekam ketika suara tangisan Nathaniel tiba-tiba berhenti total. Bayi kami tidak lagi bersuara. Tubuhnya yang mungil melunak di pelukan Andrea, dan kulitnya berubah menjadi biru keunguan yang sangat mengerikan. Andrea berteriak histeris memanggil nama anak kami sambil mengguncang-guncangkan tubuh kecil itu dengan putus asa. Pak Teodoro tertawa kecil, suara tawanya terdengar parau dan mengerikan seperti gesekan dahan pohon kering di tengah badai. Dukun itu melangkah mendekat, mengangkat tali merah yang tergantung tujuh gigi kecil, dan berbisik bahwa proses penyerahan nyawa sudah dimulai dan tidak ada seorang pun di dunia ini yang bisa menghentikannya sebelum hari keempat puluh genap. Tanpa berpikir dua kali, aku melompat menerjang Pak Teodoro sebelum ia sempat mendekati istri dan anakku. Kami berguling di lantai kamar yang sempit, saling berebut belati berkarat itu hingga tanganku tersayat dan berdarah. Di saat yang sama, Andrea tidak tinggal diam; ia memanfaatkan momen kekacauan tersebut untuk berlari menuju jendela kamar yang menghadap langsung ke jalan raya kampung kontrakan. Dengan sekuat tenaga, ia mendorong kaca nako jendela yang sudah berkarat hingga terbuka lebar, lalu berteriak sekuat tenaga meminta pertolongan kepada para tetangga yang mulai berkerumun di luar rumah.

Mendengar teriakan histeris Andrea dan suara gaduh dari dalam kamar, para tetangga akhirnya memutuskan untuk tidak tinggal diam lagi. Beberapa pemuda kampung yang tinggal di sebelah kontrakan kami langsung mendobrak pintu depan rumah dengan hantaman keras berkali-kali hingga kunci gembok yang dipasang ibu jebol berantakan. Pintu kamar terbuka lebar dengan paksa, menampakkan pemandangan yang membuat siapa saja bergidik ngeri: aku yang sedang bergulat dengan Pak Teodoro di lantai berlumuran darah, ibu yang terduduk lemas di sudut ruangan sambil meracau tidak jelas, dan Andrea yang menangis histeris mendekap bayi kami yang tampak tak bernyawa di dekat jendela terbuka. Para tetangga langsung meringsek masuk, menarik tubuh Pak Teodoro menjauh dariku dan mengamankannya ke ruang tamu, sementara beberapa ibu-ibu tetangga segera membantu Andrea memberikan pertolongan pertama pada bayi kami. Dengan panik, salah seorang tetangga yang bekerja sebagai mantri kesehatan menekan dada kecil Nathaniel dengan lembut sambil memberikan napas buatan, sementara aku merangkak mendekat dengan air mata yang tumpah deras membasahi pipiku, berdoa dalam hati agar keajaiban datang menyelamatkan buah hati kami sebelum terlambat.

Beberapa detik berlalu seperti berjam-jam lamanya di tengah kesunyian yang mencekam. Tiba-tiba, suara batuk kecil yang sangat lemah terdengar dari bibir mungil Nathaniel. Bayi kami menarik napas panjang, menangis melengking kencang yang menandakan bahwa nyawanya berhasil diselamatkan dari ambang kematian. Andrea langsung memeluk anak itu erat-erat sambil menangis penuh rasa syukur, sementara para tetangga yang tadinya sempat termakan oleh air mata palsu ibu kini menatap wanita tua itu dengan sorot mata penuh jijik dan kebencian.

Polisi sektor setempat yang dihubungi oleh ketua RT datang tidak lama kemudian, langsung mengamankan Pak Teodoro dan ibuku ke dalam mobil patroli di tengah cemoohan warga yang geram melihat kebejatan mereka. Di dalam kamar yang kini berantakan dan berbau anyir, aku memeluk istri dan anakku dengan erat, menyadari bahwa kantong kain berdarah di bawah ranjang bayi tadi bukan sekadar ritual mistis semata, melainkan bukti nyata dari sisi gelap manusia yang lebih mengerikan daripada hantu manapun di dunia ini. Hari-hari pemulihan setelah melahirkan yang seharusnya menjadi masa paling indah dalam hidup kami berubah menjadi mimpi buruk yang tidak akan pernah bisa kami lupakan, namun di ujung semua teror itu, kami berhasil bertahan hidup dan melangkah keluar dari rumah sial tersebut untuk memulai lembaran baru yang jauh dari bayang-bayang kelam masa lalu.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang