“Pak Rian,” ulang Hendra, kali ini dengan suara yang jauh lebih dingin. “Saya bertanya sekali lagi. Mengapa ada penarikan dana dari rekening ibu Anda setelah surat kuasa Anda dicabut?”
Rian tidak langsung menjawab.
Tangannya yang tadi mencengkeram map hitam perlahan turun ke samping tubuh.
“Itu pasti salah paham.”
“Penarikan pertama terjadi tiga hari setelah pencabutan kuasa,” kata Hendra. “Rp25 juta. Dua minggu kemudian Rp40 juta. Lalu ada transfer rutin dengan nilai berbeda-beda selama hampir sebelas bulan.”
Siti merasa dadanya sesak.
Ia tidak pernah tahu soal uang itu.
Selama mengenal Mbah Sumi, wanita tua tersebut hidup sangat sederhana. Pendingin udara di rumahnya rusak hampir dua tahun dan tidak pernah diperbaiki karena dianggap terlalu mahal. Kalau membeli buah, ia selalu memilih yang sedang diskon. Bahkan ketika Siti membawakan makanan, Mbah Sumi sering menyisakan setengah untuk dimakan keesokan harinya.
Siti sempat mengira Mbah Sumi benar-benar kesulitan secara finansial.
Itulah sebabnya ia membayar tagihan air diam-diam.
Rian akhirnya tersenyum tipis, tetapi senyum itu terlihat dipaksakan.
“Saya anaknya. Ibu sering meminta bantuan saya mengurus keuangannya.”
Hendra membalik satu dokumen.
“Tidak menurut surat ini.”
Ia kemudian membaca sebuah kalimat dari catatan Mbah Sumi.
“Mulai tanggal 8 Januari, saya tidak pernah lagi memberikan izin kepada Rian untuk mengambil atau memindahkan uang dari rekening saya.”
Rian mendadak menatap Siti.
“Ini semua pasti idenya.”
Siti membeku.
“Apa?”
“Kamu membuat ibu saya membenci saya.”
“Pak Rian,” potong Hendra.
Namun Rian sudah kehilangan kendali.
“Enam tahun kamu mondar-mandir di rumah ibu saya. Membelikan makanan, membayar tagihan, mengantar ke dokter. Kamu pasti tahu dia punya uang.”
Siti menahan napas sebelum menjawab.
“Kalau saya tahu Mbah Sumi punya uang, saya tidak akan membayar tagihan airnya selama enam tahun.”
Rian terdiam.
Kalimat sederhana itu menghantam lebih keras daripada tuduhan apa pun.
Hendra menatap dokumen lain.
“Pak Rian, menurut catatan ini, almarhumah menerima uang pensiun, hasil deposito, dan pendapatan sewa dari sebuah rumah kecil di Depok.”
Siti menoleh cepat.
Ia bahkan tidak tahu Mbah Sumi punya rumah lain.
“Tapi kenapa beliau selalu bilang harus berhemat?” tanyanya tanpa sadar.
Hendra tidak menjawab.
Justru Rian yang memalingkan wajah.
Saat itulah Siti memahami sesuatu yang membuat bulu kuduknya berdiri.
Mbah Sumi bukan tidak punya uang.
Mbah Sumi tidak punya akses bebas terhadap uangnya sendiri.
Siti membuka rantai pintu.
“Masuklah.”
Mereka bertiga duduk di ruang tamu kecil rumah Siti.
Hendra meletakkan seluruh isi amplop di meja.
Selain bukti transaksi, terdapat fotokopi buku tabungan, laporan mutasi, beberapa surat dari bank, dan sebuah buku catatan kecil bersampul hijau.
Di dalam buku itu, Mbah Sumi menuliskan tanggal, jumlah uang, dan keterangan singkat.
Beberapa baris membuat suasana ruangan terasa berat.
“Rian bilang perlu Rp30 juta untuk biaya sekolah Nanda.”
“Rian mengambil Rp15 juta. Katanya akan dikembalikan Jumat.”
“Rp50 juta keluar. Aku tidak merasa memberi izin.”
“Petugas bank menelepon. Katanya ada transfer melalui mobile banking. Aku tidak punya mobile banking.”
Siti menutup mulutnya.
Hendra terus membalik halaman.
Catatan-catatan itu berlangsung selama hampir empat tahun.
Nominalnya kecil di awal.
Lima juta.
Sepuluh juta.
Lalu puluhan juta.
Setelah itu muncul satu transfer sebesar Rp180 juta.
Rian berdiri mendadak.
“Cukup.”
Hendra mengangkat wajah.
“Saya rasa kita belum selesai.”
“Saya membayar banyak kebutuhan Ibu.”
“Kalau begitu Anda pasti punya bukti.”
Rian tidak menjawab.
Siti melihat keringat muncul di pelipisnya.
“Berapa totalnya?” tanyanya.
Hendra mengambil kalkulator dari ponsel.
Setelah beberapa saat, ia berkata, “Berdasarkan catatan yang berhasil dikumpulkan almarhumah, sekitar Rp786 juta.”
Siti tercekat.
Rian langsung membantah.
“Itu tidak mungkin.”
“Belum termasuk dua transaksi yang masih perlu diverifikasi.”

Hening.
Di luar rumah terdengar suara pedagang sayur lewat sambil membunyikan klakson kecil.
Suara biasa itu terasa aneh di tengah percakapan yang baru saja mengubah segala hal.
Siti teringat suatu sore tiga tahun lalu.
Saat itu Mbah Sumi duduk di teras sambil mengupas mangga muda.
Ia pernah bertanya kepada Siti dengan nada seperti bercanda.
“Kalau punya anak, apa kita harus selalu percaya kepadanya?”
Siti menjawab, “Kalau anaknya baik, mungkin iya.”
Mbah Sumi tertawa kecil.
“Kalau tidak baik?”
“Ya jangan kasih kesempatan untuk jadi lebih buruk.”
Saat itu Siti tidak memahami arti tatapan panjang wanita tua tersebut.
Sekarang ia mengerti.
“Kenapa Mbah Sumi tidak melapor?” tanya Siti.
Hendra membuka satu surat terakhir.
“Beliau hampir melakukannya.”
Rian menatap tajam.
“Apa?”
“Ini draft laporan pengaduan.”
Wajah Rian berubah.
Hendra menjelaskan bahwa sekitar delapan bulan sebelumnya, Mbah Sumi meminta bantuan seorang petugas bank untuk memeriksa rekeningnya. Dari sana diketahui bahwa sebagian transaksi dilakukan menggunakan akses perbankan digital yang dibuat saat Rian masih memegang surat kuasa.
Setelah surat kuasa dicabut, akses itu rupanya tidak segera dinonaktifkan sepenuhnya.
Mbah Sumi kemudian mengganti nomor telepon, memblokir akses lama, dan memindahkan sebagian besar dana ke rekening baru.
Ia juga berkonsultasi dengan notaris.
Namun ia belum melapor ke polisi.
“Kenapa?” Siti kembali bertanya.
Hendra melihat satu catatan kecil yang dijepit di dalam amplop.
“Karena beliau masih berharap anaknya datang meminta maaf.”
Rian menunduk.
Untuk pertama kalinya sejak datang, ekspresi marah di wajahnya retak.
Digantikan sesuatu yang sulit dibaca.
Malu.
Takut.
Atau mungkin penyesalan.
“Saya memang mengambil uang,” katanya akhirnya.
Siti menatapnya.
“Tapi bukan seperti yang kalian pikirkan.”
Hendra tidak menyela.
Rian duduk kembali.
Dua tahun lalu, bisnis distribusi alat elektronik miliknya mengalami kerugian besar. Ia meminjam uang dari beberapa pihak untuk menutup utang perusahaan. Awalnya ia meminta bantuan ibunya.
Mbah Sumi memberikan Rp100 juta.
Lalu Rp70 juta.
Kemudian Rp50 juta.
Namun kerugian terus membesar.
Ketika Mbah Sumi menolak memberikan lebih banyak, Rian mulai mengambil uang tanpa izin.
“Saya pikir cuma pinjam.”
“Pinjaman dilakukan dengan sepengetahuan pemilik uang,” kata Hendra datar.
Rian menutup wajah dengan kedua tangan.
“Saya panik.”
“Dan setelah bisnis Anda membaik?” tanya Siti.
Rian tidak menjawab.
Itulah jawaban paling jelas.
Ia tidak pernah mengembalikannya.
Lebih buruk lagi, ia terus mengambil.
Siti merasa marah, tetapi rasa marah itu bercampur dengan kesedihan yang aneh.
“Selama ini Mbah Sumi makan nasi dengan telur hampir tiap malam karena takut uangnya habis.”
Rian mengangkat kepala.
“Ibu selalu begitu sejak dulu.”
“Tidak.”
Suara Siti meninggi.
“Saya ada di samping beliau.”
Ia menunjuk kuitansi yang dibawa Rian.
“Beliau pernah menolak membeli obat yang tidak ditanggung BPJS karena harganya Rp320 ribu. Saya yang membelinya.”
Rian memalingkan wajah.
“Beliau tidak memperbaiki atap dapur yang bocor selama satu tahun karena katanya harus menabung.”
Siti menahan air mata.
“Dan sementara itu Anda mengambil puluhan juta dari rekening beliau?”
Rian terdiam.
Hendra kemudian membuka dokumen mengenai surat wasiat.
“Saya rasa sekarang kita perlu membahas alasan nama Bu Siti tercantum di sini.”
Siti langsung menggeleng.
“Saya tidak menginginkan apa pun.”
“Almarhumah tampaknya sudah memperkirakan Anda akan mengatakan itu.”
Hendra membaca isi surat wasiat.
Rumah di Tebet tidak diwariskan kepada Siti.
Tabungan utama juga tidak.
Sebagian besar aset tetap diberikan kepada cucu-cucu Mbah Sumi, termasuk anak Rian.
Namun ada satu bagian khusus.
Siti mendapat hak atas sebuah rekening senilai Rp72 juta.
Jumlah itu hampir sama dengan total tagihan air, biaya obat, makanan, transportasi rumah sakit, dan kebutuhan lain yang pernah dibayarnya selama enam tahun.
Siti terdiam lama.
“Beliau menghitung semuanya?”
“Rupanya begitu.”
Hendra menunjukkan buku kecil lain.
Mbah Sumi mencatat hampir setiap bantuan Siti.
“Januari, Siti bayar air.”
“April, Siti belikan obat.”
“November, dibawa ke dokter, dia tidak mau menerima uang bensin.”
Di halaman terakhir tertulis satu kalimat.
“Aku tahu dia menolong bukan karena uang. Justru karena itu uang ini harus kembali kepadanya.”
Air mata Siti akhirnya jatuh.
Selama bertahun-tahun ia mengira tindakannya tidak pernah diketahui.
Ternyata Mbah Sumi tahu hampir semuanya.
Ia hanya berpura-pura tidak tahu untuk menjaga perasaan Siti, sama seperti Siti diam-diam membantu untuk menjaga harga dirinya.
Rian memandang buku itu.
Bibirnya bergetar.
“Ibu mencatat bantuan orang lain, tapi mencatat semua kesalahan saya juga.”
Hendra memandangnya.
“Mungkin karena keduanya sama-sama penting baginya.”
Rian tertawa pendek, pahit.
“Jadi sekarang bagaimana? Saya akan dilaporkan?”
Hendra tidak langsung menjawab.
Ia mengambil satu amplop putih kecil yang sebelumnya terselip di antara dokumen.
Di bagian depan tertulis nama Rian.
Tangan Rian langsung gemetar ketika melihatnya.
“Itu untuk saya?”
Hendra menyerahkannya.
Rian membuka amplop dengan perlahan.
Di dalamnya hanya ada dua lembar kertas.
Ia membaca dalam diam.
Semakin lama, bahunya semakin turun.
Kemudian, tanpa peringatan, ia menangis.
Bukan tangisan keras.
Hanya air mata yang terus mengalir sementara ia menatap tulisan ibunya.
Siti tidak tahu apa isinya sampai Rian meletakkan surat itu di meja.
Tulisan Mbah Sumi memenuhi hampir satu halaman.
“Rian, Ibu tahu kamu mengambil uang Ibu. Ibu juga tahu pertama kali kamu melakukannya karena takut kehilangan rumah dan usahamu. Kalau waktu itu kamu datang dan berkata jujur, mungkin Ibu akan tetap membantu. Yang membuat Ibu sakit bukan uangnya. Yang membuat Ibu sakit adalah setelah itu kamu mulai melihat Ibu sebagai rekening, bukan sebagai ibu.”
Rian menutup mata.
Hendra melanjutkan membaca bagian bawah.
“Ibu tidak memasukkan laporan ini ke polisi selama Ibu hidup karena Ibu masih ingin memberi kamu satu kesempatan. Setelah Ibu meninggal, keputusan ada di tangan pengacara dan ahli waris lain. Kalau kamu mengembalikan uang yang kamu ambil kepada anak-anakmu dan mengakui semuanya, Ibu meminta mereka mempertimbangkan untuk tidak membawa perkara ini ke pengadilan. Bukan karena kamu benar, tetapi karena kebencian yang diwariskan lebih buruk daripada uang yang hilang.”
Ruang tamu Siti terasa sunyi.
Rian menunduk begitu lama hingga Siti tidak bisa melihat wajahnya.
Akhirnya ia berkata, “Saya datang ke sini karena mengira Bu Siti mengambil milik saya.”
Tidak ada yang menjawab.
“Ternyata selama ini yang mengambil justru saya.”
Beberapa minggu berikutnya menjadi masa yang sulit.
Rian harus menjual sebuah ruko kecil dan sebagian investasi miliknya untuk mengembalikan dana yang pernah diambil.
Prosesnya dilakukan melalui notaris dan disaksikan keluarga.
Uang itu kemudian dimasukkan ke rekening pendidikan atas nama dua anak Rian, sesuai keinginan Mbah Sumi.
Rian juga membuat pengakuan tertulis tentang transaksi yang dilakukannya.
Keluarga akhirnya memutuskan tidak melanjutkan perkara ke polisi setelah seluruh kewajiban dipenuhi.
Siti sendiri menolak menerima Rp72 juta.
Namun notaris memberi tahu bahwa penolakan itu justru membuat proses pembagian warisan lebih rumit.
Akhirnya Siti mengambil keputusan berbeda.
Ia menerima uang tersebut.
Lalu menggunakan sebagian besar dana untuk memperbaiki rumah Mbah Sumi.
Rumah itu ternyata diwariskan kepada kedua cucu Mbah Sumi, tetapi dengan satu syarat yang aneh.
Rumah tidak boleh dijual selama sepuluh tahun.
Satu ruang kecil di bagian depan harus digunakan untuk sesuatu yang bermanfaat bagi lingkungan.
Enam bulan kemudian, ruang itu berubah menjadi tempat belajar gratis bagi anak-anak di sekitar gang.
Ada rak buku.
Dua meja panjang.
Kipas angin baru.
Dan dispenser air minum.
Di dinding tergantung sebuah foto Mbah Sumi sedang tersenyum di depan bunga kertas kesayangannya.
Siti menamai tempat itu Rumah Sumi.
Suatu sore, ketika Siti sedang menyusun buku, sebuah mobil berhenti di depan pagar.
Rian turun membawa dua kardus.
Hubungan mereka tidak pernah benar-benar menjadi akrab.
Namun Rian mulai datang sebulan sekali.
Kadang membawa buku.
Kadang membayar biaya listrik.
Kadang hanya duduk membantu memperbaiki kursi.
Hari itu ia meletakkan dua kardus berisi alat tulis.
“Untuk anak-anak,” katanya.
Siti mengangguk.
Sebelum pulang, Rian berhenti di depan foto ibunya.
“Saya baru mengerti satu hal,” katanya.
Siti menoleh.
“Dulu saya pikir warisan adalah rumah, tanah, dan uang yang ditinggalkan orang tua.”
Ia tersenyum tipis.
“Ternyata kadang warisan terbesar justru rasa malu yang memaksa kita berubah.”
Siti tidak menjawab.
Ia hanya memandang bunga kertas di pagar biru yang kembali bermekaran.
Beberapa menit kemudian, seorang anak kecil berlari dari dalam Rumah Sumi sambil membawa selembar tagihan.
“Bu Siti, ini kertas apa?”
Siti menerimanya.
Tagihan air bulan itu.
Ia tersenyum kecil.
Enam tahun lalu, selembar tagihan air membawa Siti masuk diam-diam ke dalam kehidupan seorang nenek tua.
Kini tagihan serupa mengingatkannya bahwa kebaikan yang dilakukan tanpa saksi ternyata tidak pernah benar-benar hilang.
Siti melipat kertas itu dan memasukkannya ke tas.
Besok ia akan membayarnya.
Bukan lagi secara diam-diam.
Di bawah foto Mbah Sumi, telah dipasang sebuah kotak kecil dengan tulisan sederhana.
“Kalau hari ini kamu mampu membantu seseorang, lakukanlah. Jangan tunggu sampai dia harus meminta.”
Dan di sudut bawah tulisan itu, dengan huruf yang lebih kecil, terdapat satu kalimat yang disalin dari catatan terakhir Mbah Sumi.
“Uang bisa kembali. Waktu tidak. Jangan terlalu sibuk menghitung warisan sampai lupa menemani orang yang suatu hari akan meninggalkannya.”
