Aku tidak pernah menyangka bahwa kejutan terbesar dalam hidupku justru datang dari orang yang selama ini paling kupercaya. Selama hampir dua tahun, aku merekam setiap perjuangan tunanganku, menyusun potongan-potongan hidupnya menjadi sebuah film tentang cinta dan mimpi. Aku pikir aku sedang mengabadikan masa depan kami. Ternyata, tanpa kusadari, aku hanya sedang merekam seseorang yang perlahan-lahan meninggalkanku.
Sore itu, Reza pulang dari Surabaya dengan senyum lebar dan sebuah kotak beludru kecil di tangannya. Aku sedang membereskan berkas kelulusan ketika bel rumah berbunyi. Begitu membuka pintu, dia langsung memelukku erat.
“Kamu kangen aku, kan?” tanyanya sambil mencium keningku.
“Lumayan,” jawabku.
Dia melepaskan pelukannya dan menatapku curiga. “Lumayan? Biasanya kamu bilang kangen banget.”
Aku tersenyum tipis. “Mungkin aku sedang belajar menghemat kata-kata.”
Reza tertawa, menganggap ucapanku sebagai candaan. Dia kemudian mengeluarkan kotak beludru itu dari saku jaketnya.

“Aku punya sesuatu buat kamu.”
Jantungku berdegup lebih cepat, bukan karena bahagia, melainkan karena aku takut dugaanku benar. Reza membuka kotak itu. Sebuah cincin berlian kecil berkilau di dalamnya.
“Aku tahu akhir-akhir ini kita sibuk,” katanya lembut. “Aku juga tahu kamu kecewa karena aku tidak banyak membantu film kelulusanmu. Jadi, aku ingin kita segera menentukan tanggal pernikahan. Aku ingin kamu tahu bahwa aku serius dengan hubungan ini.”
Aku memandangi cincin itu. Desainnya terasa familier. Sangat familier.
“Cincin ini kamu beli di mana?”
Reza terdiam sepersekian detik sebelum menjawab, “Di toko dekat kantor klienku.”
“Sendiri?”
“Iya. Memangnya kenapa?”
Aku menggeleng. “Tidak apa-apa.”
Aku tidak ingin membuat keributan tanpa bukti. Selama bertahun-tahun, aku belajar bahwa kebenaran tidak selalu muncul ketika seseorang dituduh. Kadang-kadang, kebenaran justru datang ketika kita memberinya cukup ruang untuk berbicara sendiri.
Malam itu kami makan di restoran kecil yang dulu menjadi tempat kencan pertama kami. Reza bercerita tentang proyek barunya, tentang klien yang sulit, dan tentang rencana membuka studio desain sendiri. Aku mendengarkan tanpa menyela. Untuk pertama kalinya, aku menyadari betapa seringnya aku menjadi pendengar dalam hubungan kami, sementara kehidupanku sendiri hanya muncul sebagai cerita sampingan.
“Setelah menikah, kamu masih mau kerja di bidang film?” tanyanya tiba-tiba.
“Tentu.”
“Kalau penempatanmu jauh, bagaimana? Kamu tahu aku tidak bisa meninggalkan Jakarta begitu saja.”
Aku meletakkan sendok. “Kamu sudah tahu soal Makassar?”
Wajahnya berubah. “Kamu serius menerima pekerjaan itu?”
“Aku sudah menandatangani kontraknya.”
“Tanpa membicarakannya denganku?”
Aku menatapnya tenang. “Kamu juga tidak pernah membicarakan banyak hal denganku, Za.”
Dia menghela napas panjang. “Kamu berubah sejak beberapa hari terakhir. Apa karena aku menolak diwawancarai untuk film itu? Kalau itu masalahnya, aku sudah bilang aku bersedia sekarang.”
“Kenapa sekarang?”
“Karena aku ingin mendukungmu.”
“Dua tahun lalu aku meminta hal yang sama.”
Reza terdiam.
Aku melanjutkan, “Aku tidak pernah memaksamu menjadi seseorang yang bukan dirimu. Aku hanya ingin kamu hadir dalam sesuatu yang penting bagiku. Tapi setiap kali aku meminta sedikit ruang dalam hidupmu, kamu selalu membuatku merasa bersalah karena meminta terlalu banyak.”
“Itu tidak adil, Alia.”
“Mungkin. Tapi aku sudah terlalu lama mencoba memahami kamu sampai lupa memahami diriku sendiri.”
Reza mengusap wajahnya. Dia tampak marah sekaligus bingung, seolah-olah aku baru saja mengubah aturan permainan yang selama ini selalu menguntungkannya.
“Aku mencintaimu,” katanya akhirnya.
Aku percaya bahwa dia pernah mencintaiku. Justru itulah yang membuat semuanya terasa menyakitkan. Namun, mencintai seseorang tidak otomatis berarti kita mampu memperlakukannya dengan jujur.
Sebelum aku sempat menjawab, ponsel Reza bergetar di atas meja. Nama Keisha muncul di layar.
Dia segera membalik ponselnya.
Aku tidak mengatakan apa-apa.
“Klien,” katanya cepat.
“Silakan angkat.”
“Tidak penting.”
Ponselnya kembali bergetar. Kali ini sebuah pesan muncul di layar yang belum sempat terkunci sepenuhnya.
Aku hanya melihat beberapa kata sebelum dia meraihnya.
Jangan lupa besok. Aku sudah bilang kepada Mama bahwa kita akan datang bersama.
Reza memasukkan ponselnya ke saku.
Aku menatapnya. “Besok kamu ada acara?”
“Pertemuan bisnis.”
“Dengan Keisha?”
Raut wajahnya seketika berubah.
Selama beberapa detik, dia tidak menjawab. Lalu dia mengembuskan napas dan berkata, “Aku bisa jelaskan.”
Kalimat itu membuatku hampir tertawa. Bukan karena lucu, melainkan karena akhirnya dia menggunakan kata-kata yang selama ini selalu kuharapkan, tetapi tidak pernah benar-benar kudapatkan.
“Kalau begitu, jelaskan.”
Reza menunduk. “Aku dan Keisha dekat beberapa bulan terakhir.”
Aku merasa seolah-olah suara di restoran mendadak menjauh. Sendok beradu dengan piring, anak kecil menangis di meja sebelah, pelayan memanggil nomor pesanan. Dunia tetap berjalan, bahkan ketika sesuatu di dalam diriku mulai runtuh.
“Seberapa dekat?”
Dia tidak menjawab.
“Reza, aku tidak meminta kamu melindungiku dari kebenaran. Aku hanya ingin kamu berhenti membuatku menebak-nebak.”
Akhirnya dia berkata, “Kami berencana menikah.”
Aku menatap cincin di tangannya. “Sejak kapan?”
“Belum ada tanggal pasti.”
“Sejak kapan kamu merencanakan pernikahan dengannya?”
Dia menutup mata sejenak. “Tiga bulan lalu.”
Tiga bulan.
Aku mengingat semua hal yang terjadi selama waktu itu. Malam ketika dia membatalkan makan malam karena harus menyelesaikan proyek. Hari ketika aku demam dan dia hanya mengirim pesan singkat. Minggu ketika aku menunggu berjam-jam di kampus karena dia berjanji datang membantu mengambil gambar, tetapi akhirnya mengatakan ada urusan mendadak.
Aku pernah memaafkan semuanya karena kupikir cinta berarti memberikan ruang bagi seseorang untuk berjuang.
Ternyata, selama aku memberinya ruang, dia sedang membangun kehidupan bersama perempuan lain.
“Lalu cincin ini?” tanyaku.
Reza menatap kotak beludru yang tergeletak di meja. “Aku membelinya untukmu.”
“Benarkah?”
Dia tidak mampu menjawab.
Aku mengeluarkan ponsel, membuka tangkapan layar yang dikirim Nisa, lalu meletakkannya di hadapannya.
Wajah Reza memucat ketika melihat foto Keisha di depan toko perhiasan.
“Aku bisa menjelaskan soal itu,” katanya tergesa-gesa. “Aku membeli cincin yang sama untuk kalian karena aku belum yakin dengan keputusan yang harus kuambil. Aku tahu itu terdengar buruk, tapi aku tidak ingin kehilangan siapa pun.”
Aku memandangnya lama.
Selama ini aku mengira pengkhianatan adalah ketika seseorang memilih orang lain dan meninggalkan kita. Aku baru mengerti bahwa ada pengkhianatan yang jauh lebih kejam: ketika seseorang berusaha mempertahankan kita bukan karena cinta, melainkan karena dia tidak rela kehilangan kenyamanan yang kita berikan.
“Kamu tidak ingin kehilangan siapa pun,” kataku pelan. “Jadi kamu membiarkan kami berdua percaya bahwa kami satu-satunya.”
“Aku salah.”
“Ya.”
“Aku akan memperbaikinya.”
“Tidak semua hal harus diperbaiki, Za. Ada hal-hal yang harus diakhiri.”
Aku berdiri, membayar makan malam kami, lalu meninggalkan restoran sebelum dia sempat menyentuh tanganku.
Malam itu, aku pulang dan membuka laptop. Aku tidak lagi merasa perlu membenci Reza. Aku juga tidak ingin membuktikan bahwa dia orang jahat. Aku hanya ingin berhenti menjadikan kebohongannya sebagai pusat kehidupanku.
Tiga hari kemudian, aku menyerahkan dokumenter baruku kepada Pak Arman. Film itu berkisah tentang tiga perempuan yang meneruskan usaha keluarga setelah kehilangan suami mereka. Salah satunya adalah Bu Ratih, pemilik warung nasi di sebuah gang sempit di Jakarta Timur.
Dalam salah satu adegan, Bu Ratih sedang menutup warung setelah seharian bekerja. Kamera merekam tangannya yang kasar ketika menghitung uang hasil penjualan.
“Dulu saya pikir rumah itu tempat seseorang menunggu kita pulang,” katanya dalam wawancara. “Setelah suami saya meninggal, saya baru sadar rumah juga bisa berarti sesuatu yang kita bangun sendiri, supaya kita tetap punya tempat untuk pulang meskipun tidak ada yang menunggu.”
Aku hampir menghapus kalimat itu dari film karena terasa terlalu pribadi. Namun, akhirnya aku membiarkannya.
Saat pemutaran karya akhir dimulai, ruangan dipenuhi mahasiswa, dosen, dan keluarga. Aku duduk di barisan depan dengan tangan dingin. Untuk pertama kalinya, aku menayangkan film tanpa satu pun gambar Reza.
Setelah film selesai, ruangan hening selama beberapa detik sebelum tepuk tangan terdengar.
Pak Arman menghampiriku seusai acara. “Kamu kehilangan banyak waktu karena mengganti proyek di menit terakhir. Tapi hasilnya justru terasa lebih jujur.”
Aku tersenyum. “Mungkin karena kali ini saya tidak mencoba memaksa seseorang menjadi bagian dari cerita saya.”
Sore itu, saat keluar dari gedung kampus, aku melihat Reza berdiri di dekat gerbang. Dia membawa sebuah amplop cokelat.
“Aku tahu kamu mungkin tidak mau bicara denganku,” katanya, “tapi aku ingin memberikan ini.”
Di dalam amplop terdapat sebuah kartu memori.
“Aku menemukan beberapa rekamanmu di laptop lama,” lanjutnya. “Kupikir kamu mungkin masih membutuhkannya.”
Aku hampir menolak. Namun, rasa ingin tahuku mengalahkan keengganan. Malam itu, di kamar kos, aku membuka kartu memori tersebut.
Ada puluhan video yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Rekaman saat aku tertidur di perpustakaan. Saat aku tertawa bersama Nisa setelah presentasi yang gagal. Saat aku menangis diam-diam di halte karena ibuku masuk rumah sakit dan aku tidak ingin mengganggu Reza yang sedang bekerja.
Aku tertegun.
Semua video itu diambil dari sudut yang berbeda dari rekamanku sendiri. Tidak ada suara Reza, hanya gambar diriku.
Di antara berkas-berkas itu terdapat satu video dengan tanggal tiga bulan sebelumnya, pada malam ketika Reza membatalkan janji makan malam kami.
Aku menekan tombol putar.
Di layar, Reza duduk di ruang kerjanya, berbicara langsung ke kamera. Wajahnya tampak lelah, tetapi tidak menghindar.
“Alia, kalau suatu hari kamu melihat video ini, mungkin aku sudah cukup berani untuk mengatakan sesuatu yang seharusnya kusampaikan sejak lama.”
Dia terdiam cukup lama sebelum melanjutkan.
“Aku selalu bilang tidak suka direkam karena aku takut kamu melihat siapa aku sebenarnya. Kamu selalu melihat sisi terbaikku, bahkan ketika aku tidak pantas mendapatkannya. Aku membiarkanmu percaya bahwa kita sedang membangun masa depan bersama, padahal aku sendiri tidak pernah yakin bisa menjadi orang yang kamu butuhkan.”
Mataku mulai panas.
“Aku tahu kamu mengira aku tidak peduli dengan filmmu. Sebenarnya aku sering melihatmu mengedit sampai pagi. Aku melihat betapa bahagianya kamu ketika menemukan satu gambar yang tepat. Aku ingin mendukungmu, tetapi aku juga takut suatu hari kamu akan pergi dan menemukan kehidupan yang jauh lebih besar daripada kehidupan yang bisa kuberikan.”
Reza menunduk, mengusap wajahnya.
“Aku tidak mengatakan ini untuk membenarkan apa yang kulakukan dengan Keisha. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa kesalahanku bukan karena kamu kurang baik. Kesalahanku karena aku terlalu takut kehilanganmu sampai memilih berbohong daripada membiarkanmu membuat keputusan sendiri.”
Video itu berakhir tanpa salam perpisahan.
Aku duduk diam cukup lama. Untuk pertama kalinya, aku melihat Reza tanpa membencinya dan tanpa berusaha menyelamatkannya. Aku melihat seseorang yang memiliki ketakutan, kelemahan, dan penyesalan, tetapi tetap bertanggung jawab atas pilihan-pilihannya sendiri.
Keesokan harinya, aku mengirim pesan singkat kepadanya.
Aku sudah melihat videonya. Terima kasih karena akhirnya berkata jujur. Semoga kamu belajar menjadi berani sebelum melibatkan orang lain dalam ketakutanmu.
Dia membalas beberapa menit kemudian.
Aku harap kamu bahagia di Makassar.
Aku membaca pesan itu, lalu menyimpan ponsel.
Tiga minggu kemudian, aku meninggalkan Jakarta dengan sebuah koper, kamera, dan tiket sekali jalan menuju pekerjaan pertamaku sebagai videografer dokumenter. Nisa mengantarku ke bandara sambil membawa sekotak roti.
“Jadi, kamu benar-benar tidak akan membuat film tentang Reza lagi?” tanyanya.
Aku menggeleng. “Tidak.”
“Padahal sekarang kamu punya banyak bahan.”
Aku tertawa kecil. “Aku tidak perlu mengubah semua luka menjadi tontonan.”
Ketika pesawat mulai bergerak meninggalkan landasan, aku membuka laptop untuk memeriksa proyek pertamaku di Makassar. Sebuah folder baru muncul di layar, bernama RUMAH.
Aku terdiam, lalu tersenyum.
Kali ini, folder itu tidak berisi rekaman Reza, janji-janji yang tak ditepati, atau gambar-gambar yang berusaha kususun agar tampak seperti cinta. Isinya adalah rekaman para perempuan yang kutemui, suara ombak dari pesisir Makassar, wajah-wajah asing yang perlahan menjadi akrab, dan potongan-potongan kehidupan yang belum kukenal.
Aku akhirnya mengerti bahwa selama dua tahun aku sibuk merekam seseorang karena takut kehilangan cerita kami. Aku lupa bahwa hidupku sendiri juga layak direkam.
Aku menekan tombol rekam pada kamera kecil di tanganku. Untuk pertama kalinya, aku mengarahkan lensa ke wajahku sendiri.
“Halo,” kataku sambil tersenyum canggung. “Namaku Alia. Ini hari pertama dari kehidupan yang belum pernah kuceritakan kepada siapa pun.”
Aku tidak tahu apakah kisah baruku akan berakhir bahagia. Aku juga tidak tahu apakah suatu hari nanti aku akan jatuh cinta lagi.
Namun, ketika pesawat menembus awan dan matahari menyinari jendela, aku menyadari satu hal yang sederhana.
Selama ini aku mengira rumah adalah seseorang yang memilih untuk tinggal bersamaku.
Ternyata rumah adalah diriku sendiri, tempat yang tidak seharusnya kutinggalkan hanya demi membuat orang lain merasa nyaman.
Dan kali ini, aku berjanji tidak akan menghapusnya lagi.
