Selama tiga bulan terakhir, setiap malam saat aku tidur di samping suamiku, aku selalu mencium bau aneh yang sangat busuk…

Selama tiga bulan terakhir, setiap malam saat aku tidur di samping suamiku, aku selalu mencium bau busuk yang perlahan berubah menjadi mimpi buruk. Bau itu bukan sekadar aroma tak sedap. Ada sesuatu yang lembap, asam, dan menusuk, seolah-olah berasal dari sesuatu yang membusuk sangat lama. Aku mengganti seprai berkali-kali, mencuci semua selimut dengan air panas, menyemprotkan parfum mahal ke seluruh kamar, bahkan membeli pembersih kasur khusus. Namun setiap malam, saat Miguel kembali berbaring di sisinya, bau itu muncul lagi.

Yang lebih aneh, setiap kali aku mencoba mengangkat atau membersihkan bagian kasur tempat Miguel tidur, dia langsung berubah menjadi orang yang sama sekali tidak kukenal.

“Sudah kubilang jangan sentuh bagian itu!” bentaknya suatu malam.

Aku terpaku.

Selama delapan tahun menikah, Miguel hampir tidak pernah meninggikan suara kepadaku. Tapi malam itu matanya dipenuhi kemarahan yang membuatku bergidik.

Sejak saat itu, firasat buruk terus menghantuiku.

Kami tinggal di sebuah rumah sederhana di Jakarta Selatan. Miguel bekerja sebagai manajer penjualan sebuah perusahaan distribusi elektronik dan sering bepergian ke berbagai kota. Aku sendiri bekerja dari rumah sebagai penerjemah lepas. Kehidupan kami terlihat biasa saja. Tidak mewah, tetapi cukup nyaman.

Setidaknya begitulah yang selama ini kupikirkan.

Ketika Miguel mengatakan harus menghadiri rapat tiga hari di Surabaya, sesuatu di dalam diriku akhirnya menyerah pada rasa penasaran.

Begitu mobil taksi yang membawanya menghilang di ujung jalan, aku berdiri lama di depan pintu.

Rumah terasa sunyi.

Aku menoleh ke arah kamar.

Tatapanku jatuh pada kasur itu.

Tanpa berpikir lebih lama, aku mengambil cutter dari laci dapur.

Tanganku gemetar saat membuat sayatan pertama.

Begitu lapisan kain terbuka, bau busuk itu langsung menyergap wajahku jauh lebih kuat daripada sebelumnya. Aku mundur sambil batuk-batuk, air mataku mengalir karena perih.

Aku memotong lebih dalam.

Di balik busa kasur, tersembunyi sebuah kantong plastik hitam besar yang dibungkus beberapa lapis lakban.

Jantungku berdetak begitu keras hingga telingaku berdenging.

Dengan tangan bergetar aku membuka ikatan plastik itu.

Yang kulihat bukan mayat, bukan potongan tubuh, bukan pula bangkai hewan.

Melainkan puluhan amplop tebal berisi uang tunai.

Di bawahnya terdapat beberapa paspor.

Bukan satu.

Enam paspor.

Semuanya memakai foto Miguel.

Tetapi nama yang tercetak berbeda-beda.

Miguel Hernandez.

Michael Tan.

Arif Nugraha.

Daniel Wijaya.

Beberapa kartu identitas asing juga terselip di antaranya.

Aku membeku.

Lalu kutemukan sebuah telepon genggam lama yang sudah dimatikan.

Ketika kuhidupkan, ternyata tidak memakai kata sandi.

Isi pesannya membuat darahku membeku.

“Target Jakarta sudah percaya.”

“Pastikan istri tidak mengetahui lokasi penyimpanan.”

“Pengiriman berikutnya bulan depan.”

Aku terus menggulir layar.

Ada puluhan foto perempuan.

Setiap foto memperlihatkan Miguel bersama wanita berbeda.

Di setiap foto mereka tampak seperti pasangan suami istri.

Tanggalnya tersebar selama lebih dari sepuluh tahun.

Aku merasa seluruh ruangan berputar.

Apakah selama ini aku hanyalah salah satu dari mereka?

Aku memeriksa galeri lebih jauh.

Di sana ada foto rumah-rumah berbeda.

Anak-anak.

Pesta ulang tahun.

Liburan.

Semua bersama Miguel.

Namun perempuan di sampingnya selalu berganti.

Air mataku jatuh tanpa kusadari.

Delapan tahun hidup bersama seorang pria yang ternyata bahkan mungkin bukan bernama Miguel.

Aku hampir menutup ponsel itu ketika sebuah pesan baru masuk.

“Pastikan barang dipindahkan malam ini. Polisi mulai menyelidiki.”

Nomor itu tidak kusimpan.

Tanganku langsung dingin.

Aku segera memotret semua isi kantong itu menggunakan ponselku sendiri.

Belum sempat kuselesaikan, suara mobil berhenti di depan rumah.

Aku melihat jam.

Mustahil.

Miguel seharusnya sudah berada di Surabaya.

Langkah kaki tergesa terdengar mendekati pintu.

Aku panik.

Semua barang belum sempat kukembalikan.

Aku buru-buru memasukkan semuanya ke dalam lemari pakaian dan menutup pintunya.

Beberapa detik kemudian pintu depan terbuka.

“Ana?”

Suara Miguel terdengar tenang.

Aku menarik napas panjang sebelum keluar kamar.

“Kamu… bukannya sudah berangkat?”

Miguel tersenyum.

“Rapatnya dibatalkan.”

Tatapannya langsung menuju kamar tidur.

Lalu kembali menatapku.

“Kamu sedang apa?”

Aku memaksakan senyum.

“Bersih-bersih.”

Dia berjalan melewatiku menuju kamar.

Jantungku seperti berhenti.

Begitu melihat kasur yang robek, wajahnya berubah pucat.

Dia menoleh perlahan.

“Kamu membuka kasur?”

Aku tidak menjawab.

Dia mendekat beberapa langkah.

“Mana isinya?”

Nada suaranya berubah sangat dingin.

Aku mundur.

“Miguel… siapa sebenarnya kamu?”

Beberapa detik berlalu tanpa suara.

Lalu sesuatu yang sama sekali tidak kuduga terjadi.

Miguel justru terduduk di lantai.

Wajahnya dipenuhi kelelahan.

“Aku berharap hari ini tidak pernah datang.”

Aku menatapnya bingung.

Dia mengusap wajahnya dengan kedua tangan.

“Semua yang kamu lihat memang benar.”

Air mataku mengalir.

“Jadi kau memang menipuku?”

Dia menggeleng.

“Tidak sesederhana itu.”

Aku tertawa pahit.

“Tidak sesederhana? Ada enam paspor! Ada perempuan lain! Ada uang yang kau sembunyikan di kasur!”

Miguel menunduk cukup lama.

“Aku bekerja menyamar.”

Aku terpaku.

“Apa?”

“Aku anggota unit investigasi khusus.”

Aku hampir tertawa karena terdengar begitu mustahil.

Melihat reaksiku, Miguel mengambil dompetnya.

Dari balik lapisan tersembunyi ia mengeluarkan kartu identitas resmi yang belum pernah kulihat.

Lalu sebuah lencana.

Aku masih tidak percaya.

Dia mengambil ponselnya dan melakukan panggilan video.

Beberapa detik kemudian muncul seorang pria berseragam.

“Ana, saya Komisaris Budi Santoso. Saya minta maaf karena selama bertahun-tahun Anda tidak pernah diberi tahu. Identitas Miguel memang dirahasiakan.”

Aku hanya bisa menatap layar.

Miguel menjelaskan dengan suara pelan.

Selama sebelas tahun terakhir ia menyusup ke jaringan pencucian uang dan penipuan internasional yang memakai identitas ganda.

Untuk menjaga penyamarannya, ia harus memiliki beberapa identitas palsu yang benar-benar hidup.

Foto bersama perempuan-perempuan itu ternyata bagian dari operasi.

Sebagian besar adalah agen lain.

Sebagian lagi korban yang harus ia dekati demi memperoleh bukti.

“Kenapa uang itu disimpan di rumah kita?”

“Itu uang barang bukti.”

“Lalu kenapa disembunyikan di kasur?”

“Karena beberapa anggota jaringan berhasil mengetahui lokasi penyimpanan resmi polisi. Mereka tidak akan pernah menyangka barang bukti berada di rumah seorang agen.”

Aku masih belum mampu menerima semuanya.

“Kenapa kau tidak pernah memberitahuku?”

Miguel memejamkan mata.

“Karena kalau kau tahu, hidupmu akan jauh lebih berbahaya.”

Belum sempat aku menjawab, suara kaca pecah terdengar dari ruang tamu.

Miguel langsung berdiri.

“Waktunya habis.”

Beberapa pria bertopeng menerobos masuk.

Miguel mendorongku berlindung di balik dinding.

“Ana! Jangan keluar apa pun yang terjadi!”

Rumah kami berubah menjadi kekacauan.

Suara tembakan terdengar bertubi-tubi dari luar.

Ternyata polisi sudah mengepung rumah sejak Miguel menyadari seseorang membuntutinya dalam perjalanan pulang.

Selama hampir lima belas menit aku hanya bisa berjongkok sambil menangis.

Ketika semuanya akhirnya sunyi, aku keluar perlahan.

Beberapa anggota polisi memenuhi halaman.

Empat pelaku berhasil ditangkap.

Satu orang terluka.

Miguel duduk di teras dengan lengan diperban.

Melihatku, ia tersenyum lemah.

“Maaf.”

Aku langsung memeluknya.

Untuk pertama kalinya setelah delapan tahun, aku menyadari betapa berat hidup yang diam-diam ia jalani.

Beberapa bulan kemudian, operasi itu resmi diumumkan ke publik.

Jaringan kriminal yang telah beroperasi di beberapa negara Asia Tenggara berhasil dibongkar.

Puluhan miliar rupiah hasil pencucian uang disita.

Miguel mendapat penghargaan negara.

Namun setelah semua selesai, ia mengajukan pengunduran diri.

Suatu sore kami membeli kasur baru.

Saat pegawai toko bertanya apakah kami ingin model dengan ruang penyimpanan di dalamnya, Miguel dan aku saling berpandangan.

Kami tertawa bersamaan.

“Tidak,” jawab Miguel sambil menggenggam tanganku. “Mulai sekarang tidak ada lagi rahasia yang disimpan di bawah tempat kami beristirahat.”

Aku menatap wajahnya yang diterpa cahaya matahari sore.

Aku sadar bahwa bau busuk yang selama berbulan-bulan menghancurkan ketenanganku ternyata bukan sekadar aroma dari sebuah kasur.

Bau itu adalah pertanda bahwa kebohongan, sebaik apa pun disembunyikan, pada akhirnya akan selalu menemukan jalan keluar.

Dan sejak hari itu, kami berjanji bahwa rumah kecil kami di Jakarta tidak akan pernah lagi menjadi tempat menyimpan rahasia yang lebih besar daripada kepercayaan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang