Di sana, duduk di kursi 1A dengan setelan jas mahal, adalah dia. Mateo.
Dia tampak lebih tua, dengan rambut yang dipotong jauh lebih rapi, tetapi bekas luka kecil di ujung alis kirinya—tanda dari kecelakaan masa kecil yang selalu ia ceritakan kepada Leo sebagai “lencana keberanian”—tidak bisa disangkal. Ia sedang menyesap wine, tertawa bersama seorang wanita cantik yang tampak sangat berkelas.
Darahku mendidih. Rasa sakit, pengkhianatan, dan kebingungan bercampur menjadi satu. Bagaimana mungkin? Aku melihat peti matinya diturunkan ke liang lahat. Aku menyimpan akta kematiannya di laci meja riasku sebagai dokumen paling berharga sekaligus paling menyakitkan.
Tanpa pikir panjang, aku menerobos masuk ke kabin Kelas Utama. Pramugari mencoba menghentikanku, tetapi amarah memberiku kekuatan untuk mendorong mereka.
“Mateo!” teriakku. Suaraku bergema di sepanjang lorong kabin yang sunyi.

Pria itu menoleh. Matanya melebar sesaat, kilatan kepanikan yang nyata terlihat di sana, namun detik berikutnya, tatapan itu berubah menjadi dingin, datar, dan benar-benar asing.
“Maaf, Nona? Anda salah orang,” ucapnya dengan aksen yang sedikit berbeda—lebih formal, lebih berwibawa.
“Jangan berani-berani membantahku!” Aku mendekat, mencengkeram kerah bajunya. “Aku istrimu! Leo ada di belakang sana, dia melihatmu!”
Wanita di sampingnya menatapku dengan jijik, sementara Mateo hanya menghela napas panjang, seolah aku adalah orang asing yang tidak waras. “Saya tidak tahu siapa Mateo yang Anda maksud. Nama saya Julian Vane. Saya pengusaha dari Singapura.”
IV. Jebakan Tak Terduga
Keamanan pesawat datang. Aku diseret kembali ke kursiku, dicap sebagai penumpang yang mengganggu. Leo menangis histeris, memanggil-manggil ayahnya, tetapi orang-orang di sekitar kami hanya menatap dengan iba, mengira aku mengalami gangguan mental.
Setelah mendarat, aku tidak langsung ke hotel. Aku menggunakan semua koneksiku sebagai perawat untuk melacak manifest penerbangan. Nama yang terdaftar memang Julian Vane. Namun, saat aku memindai paspornya secara diam-diam menggunakan kamera ponselku saat ia turun dari pesawat, aku berhasil mengambil foto wajahnya dengan resolusi tinggi.
Aku mengirim foto itu ke teman lamaku yang bekerja di departemen forensik kepolisian.
Tiga jam kemudian, jawabannya datang: Tidak ada kecocokan wajah dengan Mateo.
“Itu mustahil,” bisikku di kamar hotel yang temaram. “Leo melihatnya. Aku melihatnya.”
“Ma,” Leo menarik ujung bajuku. “Lihat ini.”
Leo menunjukkan gambar yang ia buat di tabletnya. Itu adalah sketsa wajah pria tadi, tapi dengan detail yang tidak aku perhatikan. Di bawah telinga pria itu, ada garis samar seperti bekas jahitan tipis yang hanya bisa dilihat oleh mata anak kecil yang jeli.
V. Kebenaran yang Lebih Kelam
Aku menyadari satu hal: Mateo tidak “hidup kembali”. Seseorang telah mencuri hidupnya. Atau lebih buruk lagi… Mateo memang sudah mati, dan pria ini adalah sesuatu yang lain.
Malam itu, kami diikuti. Di jalanan Tokyo yang ramai, seorang pria bertubuh besar dengan setelan gelap terus membayangi kami. Aku membawa Leo masuk ke sebuah gang sempit, bersembunyi di balik tumpukan kotak.
Pria itu lewat, tetapi ia berhenti tepat di depan tempat kami bersembunyi. Ia tidak mencari kami. Ia berbicara di ponsel.
“Target 09 sudah melihat wajah asli Subjek A. Prosedur pembersihan harus dipercepat. Jangan sisakan jejak. Proyek Double-Ganger tidak boleh terbongkar.”
Jantungku berhenti. Proyek Double-Ganger?
Tiba-tiba, sebuah tangan membekap mulutku dari belakang. Aku meronta, tetapi sebuah suara yang sangat kukenal membisikkan sesuatu ke telingaku—suara yang seharusnya sudah berada di bawah tanah selama tiga tahun.
“Jangan berteriak, Sayang. Mereka sedang mengawasimu.”
Itu Mateo. Mateo yang sebenarnya.
Ia menarikku ke kegelapan. Ia tampak kurus, kotor, dan mengenakan pakaian compang-camping. “Aku tidak pernah mati, tapi aku juga tidak hidup. Mereka menculikku tiga tahun lalu untuk eksperimen rekonstruksi wajah. Mereka mengambil identitasku, keluargaku, dan hidupku untuk menggantikanku sebagai pion dalam organisasi mereka.”
“Lalu siapa yang di pesawat?” tanyaku gemetar.
“Itu adalah kloning buatan, atau mungkin versi bedah plastik sempurna yang diprogram untuk menjadi aku,” jawabnya getir. “Mereka tidak hanya mencuri hidupku, mereka ingin menghapus keberadaanku sepenuhnya agar tidak ada yang curiga saat mereka mengambil alih aset dan pengaruhku.”
VI. Akhir dari Labirin
“Kita harus pergi,” kata Mateo. “Pria di pesawat itu… dia adalah ‘Mateo 2.0’. Jika dia tahu kau mengenali jati dirinya, dia akan mengejarmu sampai mati.”
Kami berlari ke stasiun kereta bawah tanah. Rencana kami adalah melarikan diri ke kedutaan. Namun, saat kami sampai di peron, Mateo berhenti. Ia menatap pantulan dirinya di kaca kereta yang melintas.
“Leo, pergilah bersama Mamamu,” katanya sambil menatap putra kami dengan penuh kasih sayang yang menyayat hati. “Aku tidak bisa pergi. Mereka memasang pelacak di dalam tubuhku. Jika aku mendekatimu, mereka akan meledakkan bom yang ditanam di jantungku.”
“Tidak! Mateo, jangan!” tangisku.
“Dengar,” Mateo menatapku tajam. “Di dalam jam tangan yang kuberikan pada ‘Mateo 2.0’ itu… ada chip data. Itu adalah bukti semua rahasia organisasi mereka. Aku mencurinya sebelum aku melarikan diri dari laboratorium mereka. Aku tidak bisa menggunakannya, tapi kau bisa.”
Dia mendorong kami masuk ke dalam gerbong yang pintunya mulai tertutup.
“Mateo!” teriak Leo.
Kereta mulai bergerak. Aku melihat Mateo berdiri di peron, bukan dengan air mata, tapi dengan senyum tenang. Tiba-tiba, seorang pria berpakaian gelap mendekatinya dari belakang. Tanpa ragu, Mateo menerjang pria itu, menyeretnya ke jalur rel tepat saat kereta ekspres lainnya melintas.
Ledakan kecil terjadi. Cahaya terang menelan segalanya.
VII. Twist Terakhir
Tiga bulan kemudian. Aku duduk di sebuah rumah aman di Swiss. Aku telah menyerahkan data dari jam tangan itu kepada pihak berwenang internasional. Organisasi itu hancur. “Mateo 2.0” ditangkap dan dipenjara.
Aku membuka kotak peninggalan Mateo yang dikirimkan melalui kurir rahasia setelah kejadian di Tokyo. Di dalamnya, ada sepucuk surat.
Sayang, jika kau membaca ini, berarti aku sudah tiada. Tapi ingat satu hal: aku adalah Mateo yang asli. Namun, jangan pernah mencari kebenaran tentang siapa yang sebenarnya membesarkan Leo selama tiga tahun ini.
Aku terpaku. Aku membalik lembaran kertas itu. Di baliknya tertulis sebuah kalimat yang membuat duniaku runtuh untuk kedua kalinya:
“Leo bukan anakku. Dia adalah subjek pertama dari Proyek Double-Ganger yang mereka tempatkan di rahimmu saat kau masih dalam perawatan rumah sakit lima tahun lalu. Mateo yang asli sudah mati sepuluh tahun yang lalu. Aku hanyalah tiruan pertama yang jatuh cinta padamu.”
Aku menoleh ke arah Leo yang sedang bermain di taman. Ia menatapku, tersenyum dengan senyum yang sangat manis, senyum yang sama persis dengan yang biasa Mateo berikan padaku sebelum “kecelakaan” itu.
Lalu, Leo memiringkan kepalanya dengan gerakan yang sangat mekanis, dan berbisik pelan, seolah berbicara pada seseorang di balik dinding, “Ma, dia sudah tahu rahasianya. Apa yang harus aku lakukan sekarang?”
Aku menyadari bahwa aku tidak pernah membesarkan seorang anak. Aku membesarkan “sesuatu” yang diprogram untuk mengawasiku, menunggu saat yang tepat untuk menjalankan misi terakhirnya.
Dan kini, dia sudah tidak perlu berpura-pura lagi.
