SELINGKUHAN SUAMIKU TIDAK TAHU AKULAH PEMILIK RESOR MEWAH TEMPAT DIA MEMPERMALUKANKU — JADI SAAT DIA MENUNTUT “PELAYANAN VIP”, AKU MEMBERINYA “LAYANAN KHUSUS” YANG TAK AKAN PERNAH IA LUPAKAN

Valerie hanya menatap Nicole tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Sapu masih berada di tangannya. Tatapan wanita itu semakin sinis ketika melihatku tidak bergerak.

“Kamu tuli, ya?” bentaknya sambil melemparkan koper mahalnya tepat di depan kakiku. “Cepat angkat. Aku bayar mahal untuk menginap di sini.”

Gary ikut menoleh. Begitu melihatku, wajahnya sempat berubah pucat. Namun hanya sesaat. Ia segera memalingkan muka seolah-olah tidak mengenalku sama sekali.

Aku tersenyum tipis dalam hati.

Jadi, sejauh ini harga diriku memang tidak ada artinya dibanding perempuan itu.

Seorang resepsionis bernama Rina memperhatikanku dari balik meja. Ia mengenaliku sebagai pemilik resort, tetapi ia juga tahu aku sering datang menyamar untuk melakukan inspeksi. Saat mata kami bertemu, aku memberi isyarat kecil agar ia tetap diam.

“Maaf, Bu,” kataku dengan nada tenang kepada Nicole. “Silakan letakkan kopernya di troli. Petugas bellboy akan membantu.”

Nicole mendengus.

“Aku maunya kamu yang angkat.”

“Ada prosedur pelayanan di resort ini.”

“Jangan mengajariku soal prosedur!” bentaknya. “Kalau aku komplain ke manajer, kamu bisa langsung dipecat.”

Aku mengangguk pelan.

“Baik, Bu.”

Bellboy datang mengambil koper mereka. Nicole tersenyum puas karena merasa telah menang. Gary tetap diam. Bahkan ia sama sekali tidak berusaha membelaku.

Mereka kemudian menuju vila premium menghadap laut.

Aku berdiri cukup lama memandangi punggung mereka.

Rasa sakit di dadaku bukan karena perselingkuhan itu saja.

Melainkan karena laki-laki yang selama lima tahun kubantu membangun hidup, kini dengan santainya menggunakan uangku untuk membahagiakan wanita lain.

Aku berjalan menuju ruang kantor di lantai dua.

Begitu pintu tertutup, seluruh ekspresiku berubah.

“Rina.”

“Ya, Bu Valerie.”

“Panggil General Manager sekarang.”

Kurang dari lima menit kemudian, Arif, General Manager resort, datang dengan wajah bingung.

“Selamat sore, Bu.”

“Kamar berapa tamu bernama Gary Prasetyo?”

“Ocean Royal Villa nomor tiga.”

“Status pembayarannya?”

Arif membuka komputer.

“Mereka menggunakan kartu kredit atas nama Valerie Santoso.”

Ia mendadak terdiam.

“Bu… itu kartu milik Ibu sendiri.”

Aku mengangguk.

“Blokir transaksi itu sekarang juga.”

Arif langsung menghubungi bagian keuangan.

Beberapa menit kemudian pembayaran otomatis ditolak karena pemilik kartu melaporkan adanya transaksi mencurigakan.

Aku melanjutkan.

“Mulai sekarang, semua permintaan dari Villa Nomor Tiga harus dipenuhi.”

Arif tampak bingung.

“Semua, Bu?”

“Ya. Semua.”

“Tetapi…”

“Catat setiap permintaan mereka. Jangan pernah menolak.”

Arif akhirnya mengangguk.

“Mengerti.”

Malam itu Nicole mulai menunjukkan sifat aslinya.

Ia meminta dekorasi romantis lengkap dengan seribu kelopak mawar.

Dipenuhi.

Ia meminta makan malam pribadi di pantai.

Dipenuhi.

Ia meminta sampanye impor paling mahal.

Dipenuhi.

Ia meminta pijat pasangan selama tiga jam.

Dipenuhi.

Semuanya dicatat dengan rinci.

Setiap pelayanan memiliki harga.

Setiap biaya langsung dimasukkan ke tagihan kamar.

Gary sama sekali tidak menyadari nominalnya terus bertambah.

Keesokan paginya Nicole kembali berulah.

Ia datang ke restoran sambil mengenakan gaun putih yang mencolok.

Begitu melihatku sedang membantu menyusun bunga di lobi, ia kembali memanggil.

“Hei.”

Aku menoleh.

“Bersihkan kursi ini. Ada debu.”

Aku mengambil kain dan membersihkannya.

Ia tersenyum mengejek kepada Gary.

“Lihat? Orang-orang seperti ini memang harus disuruh.”

Gary hanya tertawa kecil.

Aku menahan napas panjang.

Saat itu seorang anak kecil berlari dan tanpa sengaja menabrak Nicole hingga jus jeruknya tumpah mengenai gaun putih mahalnya.

Nicole langsung menampar ibu anak tersebut.

Suasana restoran mendadak sunyi.

Sang ibu menangis.

“Maaf, Bu. Anak saya tidak sengaja.”

Nicole menunjuk wajahnya.

“Kamu tahu berapa harga gaun ini?”

Aku melangkah mendekat.

“Bu, kami akan membantu membersihkannya.”

Nicole justru mendorongku.

“Diam! Petugas rendahan sepertimu tidak usah ikut campur.”

Beberapa tamu mulai merekam kejadian itu.

Aku memperhatikan kamera CCTV di sudut ruangan.

Semuanya terekam jelas.

Siang harinya Nicole meminta bertemu manajer.

“Aku ingin karyawan perempuan yang menyebalkan itu dipecat hari ini juga.”

Arif datang menghampiri.

“Maaf, Bu. Apa masalahnya?”

“Ia tidak sopan.”

Arif melirikku sekilas.

“Saya akan menangani masalah ini.”

Nicole mengangguk puas.

“Aku tidak mau melihat wajahnya lagi.”

Setelah mereka pergi, Arif bertanya pelan.

“Apakah sekarang saatnya saya menjelaskan identitas Ibu?”

Aku menggeleng.

“Belum.”

Malam kedua menjadi puncaknya.

Nicole meminta makan malam eksklusif di dermaga pribadi.

Sebelum acara dimulai, ia kembali berteriak.

“Mana manajer? Pelayanan VIP di resort ini mengecewakan.”

Arif datang dengan sangat sopan.

“Ada yang bisa kami bantu, Bu?”

Nicole menunjukku yang sedang berdiri di dekat taman.

“Usir petugas itu dari hadapanku.”

Arif mengangguk.

“Baik.”

Ia berjalan ke arahku.

Nicole tersenyum puas.

Namun yang terjadi berikutnya membuat seluruh wajahnya membeku.

Arif berhenti di depanku.

Kemudian membungkukkan badan hampir sembilan puluh derajat.

“Selamat malam, Bu Valerie.”

Seluruh staf yang berada di sekitar langsung melakukan hal yang sama.

“Selamat malam, Bu Valerie.”

Suasana mendadak sunyi.

Gary memucat.

Nicole berkedip beberapa kali.

“Apa… apa maksudnya?”

Arif berbalik menghadap mereka.

“Dengan hormat kami perkenalkan, Ibu Valerie Santoso adalah pemilik tunggal The Grand Horizon Beach Resort.”

Seakan seluruh dunia berhenti berputar.

Gary mundur satu langkah.

“Tidak mungkin…”

Nicole tertawa gugup.

“Ini pasti bercanda.”

Aku melangkah perlahan menghampiri mereka.

“Tidak. Ini bukan lelucon.”

Gary menatapku dengan mata gemetar.

“Kenapa… kenapa kamu tidak pernah bilang?”

“Aku ingin dicintai apa adanya.”

Suara itu keluar begitu tenang, tetapi setiap kata terasa tajam.

“Sayangnya, yang kau cintai hanyalah uang.”

Nicole langsung mencoba mengubah sikap.

“Bu Valerie… saya tidak tahu…”

“Tentu saja tidak.”

Aku mengambil tablet dari tangan Arif.

“Laporan pelayanan VIP selama dua hari.”

Aku mulai membacanya.

“Royal Ocean Villa.”

“Dekorasi premium.”

“Makan malam privat.”

“Sampanye impor.”

“Chef pribadi.”

“Spa pasangan.”

“Layanan kapal pesiar.”

“Fotografer profesional.”

“Transportasi helikopter yang sudah dipesan untuk besok pagi.”

Wajah Gary berubah semakin pucat.

Total tagihan muncul di layar.

Rp847.500.000.

Nicole hampir terjatuh.

“Itu… itu tidak mungkin.”

Aku tersenyum tipis.

“Semua sesuai permintaan Anda.”

Gary langsung menunjukku.

“Valerie… kita suami istri.”

Aku menggeleng pelan.

“Benar. Tetapi kartu kredit yang kau curi sudah kublokir kemarin.”

“Berarti…”

“Ya. Seluruh tagihan sekarang menjadi tanggung jawab kalian berdua.”

Nicole panik.

“Kami tidak punya uang sebanyak itu.”

Aku menatap Arif.

“Silakan tampilkan rekaman CCTV.”

Layar besar di lobi langsung menyala.

Semua tamu menyaksikan video ketika Gary mengatakan dengan jelas bahwa ia mengambil kartu kredit istrinya tanpa izin.

Video berikutnya menunjukkan Nicole menghina staf, menampar seorang ibu, dan mendorongku.

Tidak ada yang bisa mereka bantah.

Beberapa tamu mulai bertepuk tangan.

Gary berlutut.

“Valerie… maafkan aku. Aku khilaf.”

Aku menatap laki-laki yang dulu begitu kucintai.

“Aku sudah memaafkanmu.”

Wajahnya sedikit berbinar.

“Tetapi memaafkan tidak berarti mempertahankanmu.”

Aku mengeluarkan sebuah map.

“Itu surat gugatan cerai.”

Gary memandangku tidak percaya.

“Kamu sudah menyiapkannya?”

“Sejak aku mendengar kau menyebutku bodoh.”

Air mata mulai mengalir di wajahnya.

Nicole mencoba kabur menuju pintu keluar.

Namun dua petugas keamanan telah berdiri di sana.

“Maaf, Bu. Berdasarkan laporan resmi, Anda belum menyelesaikan kewajiban pembayaran dan terdapat dugaan penggunaan fasilitas dengan metode pembayaran yang tidak sah.”

Nicole terduduk lemas.

Aku menghampiri ibu dan anak kecil yang sebelumnya ditampar.

“Apa Ibu bersedia menerima kompensasi dari pihak resort?”

Wanita itu mengangguk sambil menangis.

Aku menyerahkan voucher liburan keluarga selama tiga hari dan beasiswa pendidikan untuk putranya melalui program sosial resort.

Seluruh tamu kembali bertepuk tangan.

Beberapa bulan kemudian proses perceraianku selesai.

Gary kehilangan pekerjaannya karena kasus penyalahgunaan kartu kredit perusahaan yang kemudian ikut terungkap saat penyelidikan.

Nicole meninggalkannya setelah mengetahui ia tidak memiliki harta apa pun.

Aku memilih memperluas bisnis resort dan membangun yayasan pelatihan kerja bagi perempuan yang ingin mandiri.

Suatu sore, saat matahari tenggelam di tepi pantai Batam, aku berdiri memandang ombak yang perlahan menyapu pasir.

Arif datang menghampiri.

“Bu, mengapa Ibu masih sering melakukan inspeksi dengan pakaian sederhana?”

Aku tersenyum sambil mengambil sapu yang dulu dipakai saat pertama kali melihat pengkhianatan itu.

“Karena seseorang tidak pernah bisa menilai kualitas manusia dari pakaian yang dikenakannya.”

Di tempat yang sama, aku kehilangan seorang suami.

Namun di tempat itu pula, aku menemukan kembali harga diriku yang selama ini hampir hilang.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang