Di bawah terik matahari yang seolah membakar langit Desa San Isidro, tak ada lagi suara gemericik air yang biasa mengalun dari parit-parit sawah. Tanah retak seperti kulit yang terluka, daun-daun mengering sebelum sempat gugur, dan wajah-wajah penduduk dipenuhi kelelahan. Ironisnya, beberapa bulan sebelumnya mereka masih bertengkar demi uang miliaran rupiah. Kini mereka rela menukar semua uang itu hanya dengan seteguk air.
Di tengah keputusasaan itu, Bu Vina yang berjalan sempoyongan sambil membawa dua jeriken kosong tiba-tiba berhenti. Matanya membelalak.

Di kejauhan, tepat di lahan milik Pak Karding, tampak sepetak tanah yang masih hijau. Pohon-pohon mangga berdiri tegak dengan daun yang rimbun. Pohon-pohon narra tetap kokoh menaungi tanah di bawahnya. Yang paling mengejutkan, sebuah aliran air kecil masih mengalir pelan di sela-sela batu.
“Air…” bisiknya hampir tak percaya.
Ia berlari sekuat tenaga meski napasnya tersengal. Semakin dekat, suara gemericik itu semakin jelas.
Benar.
Mata air itu belum kering.
Pak Karding sedang duduk di bawah pohon narra sambil mengisi ember dari pancuran bambu yang dibuatnya sendiri. Ketika melihat Bu Vina datang dengan wajah pucat, ia tidak menunjukkan sedikit pun rasa dendam.
“Kau haus, Vina?”
Bu Vina tidak mampu menjawab. Air matanya mengalir lebih deras daripada mata air di depannya.
Pak Karding mengambil sebuah gayung.
“Minumlah dulu.”
Tanpa berpikir panjang, Bu Vina meminum air itu. Airnya dingin, jernih, dan terasa seperti kehidupan yang kembali mengalir ke dalam tubuhnya.
Tak lama kemudian, kabar itu menyebar ke seluruh desa.
Puluhan warga berbondong-bondong datang membawa ember, galon, hingga panci. Wajah-wajah yang dulu penuh kemarahan kini berubah menjadi penuh harap sekaligus malu.
Pak Gorio berdiri paling belakang.
Dialah orang yang dulu paling keras menghina Pak Karding.
Ia menundukkan kepala.
“Karding…”
Pak Karding menoleh sambil tersenyum tipis.
“Aku datang bukan untuk bertengkar.”
Suara Pak Gorio bergetar.
“Aku datang… untuk meminta maaf.”
Pak Karding hanya mengangguk.
“Air ini bukan milikku.”
Semua orang saling berpandangan.
“Lalu milik siapa?”
“Milik Tuhan. Aku hanya menjaganya.”
Tak ada yang mampu membalas.
Hari itu, Pak Karding membiarkan seluruh warga mengambil air secukupnya.
Namun ia memberi satu syarat.
“Jangan ada yang serakah. Ambil sesuai kebutuhan. Kalau kalian mengambil berlebihan, mata air ini tidak akan sanggup memenuhi semua orang.”
Anehnya, tak seorang pun membantah.
Beberapa pemuda desa secara sukarela membuat antrean.
Para ibu membantu membagikan air kepada lansia.
Anak-anak yang dulu mengejek Pak Karding kini membantu mengangkat ember miliknya.
Suasana desa yang selama berbulan-bulan dipenuhi kebencian perlahan berubah menjadi gotong royong.
Beberapa hari kemudian, pemerintah kabupaten datang setelah mendengar kabar bahwa hanya satu sumber air di seluruh wilayah yang masih bertahan.
Mereka membawa ahli geologi.
Setelah melakukan penelitian, hasilnya membuat semua orang terkejut.
Seorang ahli menjelaskan di depan balai desa.
“Mata air ini masih hidup karena kawasan di atasnya masih memiliki tutupan pohon besar. Akar pohon narra dan mangga tua menyimpan cadangan air hujan selama bertahun-tahun. Selain itu, tanah di sini tidak pernah dipadatkan atau ditutup beton sehingga air masih dapat meresap ke dalam bumi.”
Ia berhenti sejenak.
“Kalau kawasan ini sudah berubah menjadi perumahan seperti rencana dulu, kemungkinan besar mata air ini sudah lama hilang.”
Semua kepala tertunduk.
Ucapan Pak Karding ternyata bukan takhayul.
Ia hanya memahami alam lebih baik daripada orang lain.
Tak lama setelah itu, berita mengenai desa tersebut menjadi viral.
Banyak media datang meliput.
Pak Karding diwawancarai berkali-kali.
Namun setiap kali ditanya mengapa ia menolak uang miliaran rupiah, jawabannya selalu sama.
“Kalau uang habis, kita masih bisa bekerja lagi. Tapi kalau sumber kehidupan hilang, apa yang akan kita wariskan kepada anak cucu?”
Video itu menyebar ke seluruh negeri.
Banyak orang memujinya.
Namun ada juga yang tidak senang.
Developer yang dulu gagal membeli tanah itu kembali datang.
Kali ini mereka menawarkan harga yang jauh lebih tinggi.
Direktur perusahaan datang sendiri.
“Pak Karding, kami bersedia membayar tiga kali lipat dari penawaran sebelumnya. Kami bahkan akan membangun taman buatan agar lingkungan tetap hijau.”
Pak Karding tersenyum.
“Taman buatan tidak bisa menggantikan mata air.”
Direktur itu mencoba meyakinkan.
“Kami memakai teknologi modern.”
Pak Karding menunjuk ke tanah.
“Teknologi terbaik sudah dibuat Tuhan sejak ribuan tahun lalu. Kita saja yang sering merusaknya.”
Direktur itu terdiam.
Karena tidak berhasil membujuk Pak Karding, perusahaan mulai mendekati warga desa.
Beberapa orang yang dulu pernah menjual lahannya mulai tergoda lagi.
Mereka berpikir, sekarang harga tanah pasti lebih mahal.
Suatu malam, beberapa perwakilan warga berkumpul diam-diam.
“Kalau Pak Karding saja yang tidak mau menjual, kita bisa mendesak pemerintah mencabut haknya.”
“Tapi mata air itu?”
“Kita bisa buat sumur bor.”
Percakapan mereka terdengar oleh Deni, seorang pemuda desa yang dulu pernah ikut mengejek Pak Karding.
Deni merasa bersalah.
Ia segera mendatangi rumah Pak Karding malam itu juga.
Pak Karding mendengarkan semuanya tanpa marah.
Esok paginya, ia justru mengundang seluruh warga berkumpul di bawah pohon narra.
Tanpa meninggikan suara, ia berkata,
“Kalau kalian masih ingin menjual tanah ini, aku tidak akan melarang.”
Semua orang terkejut.
“Tapi sebelum mengambil keputusan, ikutlah denganku.”
Ia membawa mereka berjalan hampir satu kilometer menuju lereng kecil di belakang kebunnya.
Di sana terdapat puluhan bibit pohon yang baru tumbuh.
“Ini kutanam sejak sepuluh tahun lalu.”
“Kenapa tidak pernah bilang?” tanya Bu Vina.
Pak Karding tersenyum.
“Karena pohon tidak tumbuh lebih cepat hanya karena dipuji.”
Ia lalu menunjukkan bekas garis air di batang-batang pohon.
“Dulu saat banjir besar, daerah ini menahan longsor. Kalau pohon-pohon ini hilang, desa kita bukan hanya kekurangan air. Rumah-rumah di bawah sana juga akan tertimbun tanah.”
Para ahli yang ikut mendampingi pemerintah membenarkan perkataan itu.
Selama ini akar pepohonan itulah yang menjaga kestabilan lereng.
Barulah semua orang sadar.
Pak Karding bukan sekadar mempertahankan lahannya.
Ia sedang melindungi seluruh desa.
Beberapa hari kemudian, rapat desa kembali diadakan.
Kali ini suasananya berbeda.
Bu Vina berdiri paling depan.
Dengan suara lantang ia berkata,
“Dulu aku yang paling keras menghina Pak Karding. Hari ini aku yang pertama menolak kalau tanah ini dijual.”
Pak Gorio ikut mengangkat tangan.
“Saya juga.”
Satu per satu warga mengikuti.
Tak ada lagi yang mendukung rencana developer.
Keputusan itu bulat.
Lahan di sekitar mata air ditetapkan sebagai kawasan lindung desa.
Mereka mulai menanam ribuan bibit pohon baru.
Anak-anak sekolah dilibatkan.
Setiap keluarga mendapat tanggung jawab merawat beberapa pohon.
Pak Karding tidak pernah meminta namanya dijadikan pahlawan.
Ia tetap hidup sederhana di gubuk yang sama.
Setiap pagi ia masih menyapu halaman dan membersihkan aliran mata air.
Musim hujan akhirnya datang beberapa bulan kemudian.
Sawah kembali menghijau.
Sumur-sumur warga mulai terisi.
Namun tidak ada seorang pun yang melupakan pelajaran paling mahal yang pernah mereka alami.
Setahun kemudian, Pak Karding jatuh sakit.
Usianya memang sudah sangat lanjut.
Seluruh warga bergantian menjaganya.
Bu Vina memasakkan bubur.
Pak Gorio membersihkan halaman rumahnya.
Deni mengurus kebunnya setiap hari.
Suatu sore, Pak Karding memanggil kepala desa.
“Aku punya satu permintaan.”
“Apa itu, Pak?”
“Jangan pernah biarkan mata air ini dimiliki siapa pun.”
“Kami berjanji.”
Pak Karding mengangguk pelan.
Beberapa hari setelahnya, ia mengembuskan napas terakhir dengan tenang di bawah pohon narra yang selama puluhan tahun dijaganya.
Seluruh desa mengantarkannya ke peristirahatan terakhir.
Tak ada lagi yang menyebutnya serakah.
Tak ada lagi yang menganggapnya keras kepala.
Beberapa bulan kemudian, pemerintah menetapkan kawasan itu sebagai hutan lindung desa dan pusat edukasi lingkungan. Sebuah papan kayu sederhana dipasang di dekat mata air.
Di atasnya hanya tertulis satu kalimat yang berasal dari ucapan Pak Karding.
“Air bukan warisan dari nenek moyang kita. Air adalah titipan untuk anak cucu kita.”
Setiap kali anak-anak desa datang mengisi botol minum mereka di mata air itu, orang tua selalu menceritakan kisah seorang petani tua yang pernah dihina karena menolak uang miliaran rupiah.
Dan setiap kali cerita itu selesai, mereka selalu menyadari satu hal yang sama.
Ternyata orang yang dulu dianggap paling serakah adalah satu-satunya yang tidak pernah serakah sama sekali. Dialah yang memilih menjaga kehidupan ketika semua orang hanya melihat harga.
