Sementara ibu mertua saya membantu selingkuhan suami saya mencoba sepasang sepatu hak tinggi senilai Rp21.000.000

Telepon genggam Ethan berdering tanpa henti di tangan kanannya, menciptakan getaran kecil yang terlihat jelas di udara toko yang dingin dan penuh aroma parfum mewah tersebut. Ia mendengus kesal, menatap layar ponselnya dengan alis bertaut tajam, lalu menekan tombol abaikan sebelum memasukkannya kembali ke saku jasnya dengan gerakan kasar. Nyonya Victoria, yang sejak tadi berdiri tegak seperti seorang ratu yang kehilangan singgasananya, berdehem pelan untuk menutupi rasa malu yang mulai merambat di lehernya yang dihiasi kalung mutiara besar. Kasir toko memandang mereka bertiga dengan tatapan curiga yang disembunyikan di balik senyum profesional, sementara perempuan muda di sebelah Ethan—yang belakangan saya ketahui bernama Bella, seorang mahasiswi tingkat akhir dengan cita-cita menjadi selebgram—mulai menarik-narik lengan mantel Ethan dengan gelisah.

Saya melangkah maju perlahan dari balik pilar marmer putih, sengaja membiarkan bunyi hak sepatu saya berketukan tegas di atas lantai mengilap. Suara itu cukup untuk menarik perhatian mereka. Ethan mendongak, matanya membelalak lebar saat melihat saya berdiri kurang dari lima meter darinya, mengenakan setelan blazer hitam rancangan desainer lokal yang memancarkan aura otoritas mutlak. Wajahnya yang tadinya memerah karena panik seketika berubah pucat pasi, seperti seseorang yang baru saja melihat hantu di siang bolong. Nyonya Victoria menoleh dengan gerakan kaku, rahangnya mengeras, mencoba mempertahankan ekspresi meremehkan yang selama bertahun-tahun selalu ia gunakan untuk mengecilkan keberadaan saya di dalam keluarga besar Kusuma.

Maya, sayang sekali, kau tidak memberi tahu kami kalau kau mau berbelanja di sini, kata Nyonya Victoria, mencoba menyelamatkan situasi dengan nada suara yang dibuat-buat setenang mungkin, meskipun jemarinya yang mengenakan cincin berlian tampak gemetar. Kami hanya sedang mencarikan hadiah kecil untuk relasi bisnis Ethan. Sangat tidak sopan mengabaikan telepon suamimu di tempat umum seperti itu.

Saya berhenti tepat di depan mereka, menatap lurus ke arah mata ibu mertua saya tanpa sedikit pun rasa gentar. Relasi bisnis yang sangat muda dan membutuhkan sepatu seharga dua puluh satu juta rupiah, Nyonya Kusuma? tanya saya dengan suara tenang, begitu jernih hingga terdengar jelas oleh para pramuniaga di sekitar kami. Menarik sekali cara keluarga ini mengartikan investasi korporat.

Bella mendengus, mengangkat dagunya dengan angkuh untuk menutupi rasa salahnya. Kau tidak perlu bersikap kasar, Mbak. Ethan bilang kehidupan pernikahan kalian sudah berakhir sejak lama. Kau hanya tidak mau menandatangani surat cerai karena takut kehilangan status sosial sebagai nyonya besar di SCBD, ucapnya dengan nada manja yang dibuat-buat, mencoba mencuri simpati dari Ethan.

Saya tertawa kecil, sebuah tawa pendek yang dingin tanpa kehangatan sedikit pun. Status sosial? Bella, manisku, penthouse di SCBD tempat kalian biasa menghabiskan akhir pekan bersama dibeli menggunakan uang dividen perusahaan saya. Mobil Lexus yang diparkir Ethan di basement bawah adalah aset atas nama saya. Bahkan gaji bulanan yang ia gunakan untuk membelikanmu kopi setiap pagi berasal dari rekening korporat yang baru saja saya bekukan lima belas menit lalu.

Ethan melangkah maju, wajahnya memerah padam antara malu dan amarah yang meluap-luap. Maya, hentikan sandiwara murahan ini sekarang juga, desisnya dengan suara tertahan, berusaha menjaga agar tidak menjadi tontonan publik yang lebih besar. Jangan mempermalukan keluargaku di depan umum. Kartu itu hanya mengalami gangguan sistem, kan? Cepat selesaikan ini dan bayar pesanannya, atau kau akan tahu akibatnya di rumah.

Di rumah yang mana, Ethan? tanya saya, menatapnya dengan tatapan penuh rasa kasihan yang menyayat hati. Rumah di SCBD yang kuncinya sudah saya nonaktifkan sejak belasan menit yang lalu? Atau rumah masa kecilmu di Pondok Indah yang sudah digadaikan ibumu untuk menutupi hutang judi saudaramu tahun lalu, yang bunganya selama ini diam-diam saya bayar agar kalian tidak terusir?

Suasana di dalam butik mendadak sunyi seketika. Nyonya Victoria terkesiap, tangannya menutup mulutnya yang setengah terbuka. Rahasia kelam keluarga Kusuma yang selama ini dijaga rapat-rapat di balik dinding kemewahan palsu akhirnya terbongkar begitu saja di tengah pusat perbelanjaan paling bergengsi di Jakarta. Selama ini, mereka hidup dalam ilusi kebangsawanan, sementara saya adalah fondasi tak terlihat yang menopang seluruh kebohongan itu. Mereka mengira saya adalah gadis desa penurut yang bisa diatur sesuka hati setelah dibawa masuk ke lingkaran sosial mereka, melupakan fakta sederhana bahwa singa tidak pernah peduli dengan opini sekumpulan domba berbulu serigala.

Kartu hitam itu tidak rusak, Ethan, lanjut saya sambil merapikan manset jas saya. Kartu itu sudah diblokir secara permanen. Begitu pula dengan aksesmu ke seluruh fasilitas perusahaan, mobil, dan apartemen. Kau bebas memilih, mau membawa perempuan ini pergi sekarang dengan sisa uang tunai di dompetmu yang mungkin tidak cukup untuk membayar taksi online ke Depok, atau tetap di sini dan memohon agar saya tidak melaporkan penggelapan dana operasional yang selama ini kau lakukan di belakangku.

Bella membelalakkan matanya, menatap Ethan dengan pandangan ngeri yang tiba-tiba berubah drastis. Kau bilang kau kaya raya? Kau bilang keluargamu memiliki separuh gedung di kawasan bisnis ini? teriaknya histeris, melepaskan sepatu stiletto merah dari kakinya dan melemparkannya begitu saja ke lantai marmer. Sialan! Aku tidak membuang waktuku untuk pria bangkrut!

Bella berbalik dan berlari meninggalkan toko dengan air mata berhamburan, meninggalkan Nyonya Victoria dan Ethan dalam keheningan yang menghancurkan harga diri mereka berkeping-keping. Nyonya besar itu terduduk lemas di sofa velvet merah muda, kekuatannya seolah lenyap seketika, menyadari bahwa seluruh kekuasaan sosial yang ia banggakan selama ini ternyata hanya berdiri di atas pasir hisap milik perempuan yang selalu ia rendahkan.

Ethan menatap saya dengan tatapan kosong, hancur, dan untuk pertama kalinya, benar-benar menyadari siapa yang memegang kendali atas hidupnya. Namun, saya tidak lagi merasa iba. Saya berbalik meninggalkan mereka berdua di dalam butik mewah itu, melangkah keluar menuju matahari sore Jakarta yang menyengat, siap menyongsong babak baru kehidupan di mana mahkota di kepala saya tidak lagi membutuhkan seorang suami untuk bersinar.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang