Saat hujan tipis membasahi trotoar Jakarta pada suatu pagi, seorang gadis bernama Alya berdiri cukup lama di depan gerbang Akademi Musik Nusantara. Tas kain lusuh menggantung di bahunya, sementara kedua tangannya memeluk sebuah kotak biola yang kayunya telah kusam dimakan usia. Pegangannya retak, salah satu pengaitnya diganti dengan tali sepatu, dan bagian dalamnya berbau kayu tua yang lembap.
Orang-orang yang berlalu-lalang tidak memperhatikannya. Namun bagi Alya, gerbang itu terasa seperti batas antara masa lalu yang penuh kekurangan dan masa depan yang selama ini hanya berani ia impikan.
Ia menarik napas panjang sebelum melangkah masuk.

Koridor akademi dipenuhi suara alat musik yang dimainkan dari berbagai ruangan. Denting piano, petikan gitar klasik, dan gesekan biola saling bersahutan. Hampir semua siswa mengenakan pakaian rapi dan membawa instrumen mahal yang berkilau.
Pandangan mereka perlahan beralih kepada Alya.
Seorang siswa laki-laki mengangkat alis ketika melihat kotak biolanya.
“Itu benar-benar masih bisa dimainkan?”
Temannya tertawa kecil.
“Mungkin itu barang antik. Cocoknya masuk museum, bukan ruang audisi.”
Beberapa orang ikut tersenyum sinis. Alya hanya menggenggam kotak biolanya semakin erat. Hatinya sakit, tetapi ia sudah terlalu sering menerima tatapan seperti itu sejak kecil.
Sejak ibunya meninggal dan ayahnya menghilang tanpa kabar, ia dibesarkan oleh Pak Hasan, seorang pembuat alat musik sederhana di pinggiran kota. Lelaki tua itu bukan musisi terkenal. Ia hanya memperbaiki gitar, kecapi, dan sesekali biola milik pelanggan.
Dari lelaki itulah Alya belajar mencintai musik.
Pak Hasan selalu berkata, “Instrumen tidak pernah memilih siapa yang memainkannya. Yang memilih adalah hati.”
Sebelum meninggal enam bulan lalu, Pak Hasan hanya meninggalkan satu warisan.
Biola tua itu.
Dan sebuah kalimat yang terus terngiang.
“Kalau suatu hari kamu bertemu seseorang yang mengenali suara biola ini, dengarkan apa pun yang dia katakan.”
Alya tidak pernah mengerti maksudnya.
Hari itu adalah hari audisi beasiswa. Kesempatan terakhir baginya untuk memperoleh pendidikan musik tanpa biaya.
Panitia memanggil peserta satu per satu.
Ketika namanya disebut, beberapa peserta saling melirik.
“Itu yang bawa biola rusak.”
“Paling lima menit juga selesai.”
Alya berjalan memasuki ruangan dengan kepala tegak meski lututnya bergetar.
Di dalam duduk tiga juri.
Salah satunya adalah Profesor Surya Pranata, musisi legendaris Indonesia yang sudah puluhan tahun tidak lagi tampil di panggung internasional. Rambutnya memutih, wajahnya tenang, tetapi sorot matanya tajam.
Ia hanya melirik sebentar ke arah biola Alya sebelum kembali melihat formulir.
“Silakan mulai.”
Alya membuka kotak biolanya perlahan.
Kayu biola itu memang penuh bekas goresan. Vernisnya memudar. Salah satu bagian sampingnya tampak pernah direkatkan.
Beberapa juri saling berpandangan.
Profesor Surya terlihat sedikit mengernyit.
“Instrumenmu cukup tua.”
Alya mengangguk pelan.
“Warisan dari kakek angkat saya.”
“Masih layak dimainkan?”
“Saya percaya masih.”
Profesor hanya mengangguk.
Alya mengangkat biola itu ke bahunya.
Ruangan menjadi sunyi.
Gesekan pertama terdengar sangat pelan.
Namun nada yang keluar membuat Profesor Surya tiba-tiba mengangkat kepalanya.
Nada kedua.
Nada ketiga.
Tangannya yang semula bersandar di meja perlahan mengepal.
Lagu yang dimainkan Alya bukan lagu populer.
Bukan pula karya klasik yang biasa digunakan untuk audisi.
Melodinya sederhana, lembut, dan terasa seperti lagu pengantar tidur.
Profesor Surya berdiri tanpa sadar.
Dua juri lain memandangnya heran.
Air mata mulai menggenang di sudut mata profesor itu.
Alya tidak menyadarinya. Ia hanya memainkan lagu yang diajarkan Pak Hasan sejak kecil.
Ketika lagu selesai, ruangan tetap hening.
Tidak ada seorang pun berbicara selama beberapa detik.
Profesor Surya akhirnya bertanya dengan suara bergetar.
“Siapa yang mengajarkan lagu itu?”
“Kakek saya.”
“Siapa nama beliau?”
“Pak Hasan.”
Profesor menggeleng perlahan.
“Bukan. Sebelum itu.”
Alya terdiam.
“Saya tidak tahu. Beliau hanya bilang lagu ini sudah ada bersama biola itu sejak lama.”
Profesor meminta izin mendekat.
Tangannya menyentuh bagian belakang biola.
Lalu ia membaliknya.
Di balik kayu yang sudah kusam, terdapat ukiran kecil yang hampir tidak terlihat.
Sebuah bunga melati.
Profesor langsung terduduk.
“Itu tidak mungkin…”
Dua juri lain mendekat.
“Ada apa, Prof?”
Profesor menutup matanya sesaat.
“Tiga puluh tahun lalu, saya membuat ukiran ini sendiri.”
Semua orang terdiam.
Profesor memandang Alya dengan mata yang penuh kenangan.
“Biola ini pernah menjadi milik putri saya.”
Ruangan terasa membeku.
Alya mengerutkan dahi.
“Saya tidak mengerti.”
Profesor menarik napas panjang.
“Dulu anak saya bernama Anindya. Ia menghilang saat masih berusia sembilan tahun ketika terjadi kecelakaan bus dalam perjalanan menuju kompetisi musik. Banyak korban ditemukan. Sebagian tidak pernah kembali. Yang tersisa dari dirinya hanya biola ini yang kemudian juga menghilang.”
Selama puluhan tahun ia mencari.
Tidak pernah berhasil.
Kini biola itu muncul kembali.
Di tangan seorang gadis yang bahkan tidak mengenalnya.
Profesor meminta seluruh panitia keluar sebentar.
Hanya mereka berdua yang tinggal.
“Aku tidak percaya kebetulan.”
Alya menggenggam erat biolanya.
“Saya benar-benar tidak tahu apa pun.”
Profesor tersenyum pahit.
“Aku percaya.”
Hari itu Alya tetap menyelesaikan audisinya.
Ketika hasil diumumkan sore harinya, semua peserta berkumpul di aula.
Nama pertama yang dipanggil sebagai penerima beasiswa penuh adalah Alya.
Seluruh ruangan terdiam.
Beberapa siswa yang tadi menertawakannya saling berpandangan.
Mereka tidak mengerti bagaimana gadis dengan biola tua itu bisa memperoleh nilai tertinggi.
Namun kejutan belum berakhir.
Profesor Surya mengumumkan bahwa mulai hari itu Alya akan menjadi murid bimbingan pribadinya.
Keputusan tersebut langsung memicu bisik-bisik di seluruh akademi.
Ada yang iri.
Ada yang marah.
Ada pula yang mulai menyebarkan rumor bahwa Alya hanya mendapat perlakuan istimewa karena biola tua itu.
Salah satu siswi terbaik akademi, Michelle, merasa harga dirinya terluka.
Selama lima tahun ia selalu menjadi murid favorit profesor.
Kini posisinya digantikan seseorang yang baru datang.
Michelle mulai memperhatikan Alya.
Ia menemukan sesuatu yang aneh.
Setiap selesai latihan, Alya selalu berbicara sendirian sambil memegang biola.
Suatu malam Michelle diam-diam mengikuti.
Yang sebenarnya terjadi membuatnya terpaku.
Alya tidak sedang berbicara kepada seseorang.
Ia sedang membacakan surat-surat lama milik Pak Hasan.
Surat yang belum pernah selesai dibaca.
Michelle mengambil kesempatan ketika Alya meninggalkan ruang latihan sebentar.
Ia membuka salah satu surat.
Isinya membuat napasnya tercekat.
“Jika suatu hari biola ini kembali kepada pemiliknya, katakan bahwa aku minta maaf karena tidak pernah mampu mengembalikan anak itu.”
Michelle buru-buru menutup surat tersebut.
Keesokan harinya ia menyerahkan surat itu kepada Profesor Surya.
Profesor membacanya berkali-kali.
Di bagian bawah terdapat alamat lama Pak Hasan.
Mereka segera menuju rumah kecil yang kini sudah kosong.
Tetangga sekitar masih mengingat lelaki tua itu.
Salah seorang tetua kampung berkata, “Pak Hasan pernah menemukan seorang anak perempuan kecil setelah banjir besar bertahun-tahun lalu. Anak itu mengalami demam tinggi dan kehilangan ingatan. Beberapa bulan kemudian keluarganya tidak pernah ditemukan.”
Profesor terdiam.
“Anak itu kemudian tinggal bersamanya?”
Tetua itu mengangguk.
“Tapi bukan Alya. Anak itu meninggal karena sakit beberapa tahun kemudian.”
Profesor menundukkan kepala.
Harapan yang sempat muncul kembali terasa runtuh.
Namun tetua itu melanjutkan.
“Sebelum meninggal, anak kecil itu selalu memainkan lagu yang sama dengan biola itu. Pak Hasan bilang lagu tersebut harus terus hidup. Karena itulah ia mengajarkannya kepada cucu angkatnya.”
Alya mendengarkan dengan mata berkaca-kaca.
Ternyata selama ini ia bukan bagian dari misteri itu.
Ia hanyalah orang yang dipercaya untuk menjaga kenangan seseorang.
Profesor Surya tersenyum untuk pertama kalinya dengan tulus.
“Mungkin aku memang tidak menemukan putriku.”
Ia memandang Alya.
“Tapi aku menemukan alasan untuk kembali mengajar.”
Hari-hari berikutnya berubah.
Michelle yang semula memusuhi Alya perlahan meminta maaf.
Ia menyadari bahwa bakat tidak pernah ditentukan oleh harga alat musik ataupun latar belakang keluarga.
Alya berlatih jauh lebih keras daripada siapa pun.
Ia datang paling pagi.
Pulang paling malam.
Tangannya sering lecet.
Bahu kirinya memerah karena gesekan biola.
Namun setiap kali ingin menyerah, ia selalu mengingat senyum Pak Hasan.
Setahun kemudian, Akademi Musik Nusantara mengadakan konser amal.
Profesor Surya meminta Alya tampil membawakan lagu yang sama.
Saat melodi itu mengalun, seluruh penonton terdiam.
Di barisan paling belakang, seorang perempuan paruh baya yang bekerja sebagai petugas kebersihan tiba-tiba menangis tersedu-sedu.
Ia berlari mendekati panggung sambil memegang liontin tua.
Dengan suara bergetar ia berkata kepada Profesor Surya, “Maaf… saya mengenal lagu itu.”
Seluruh ruangan membeku.
Perempuan itu mengaku pernah menjadi relawan setelah kecelakaan puluhan tahun silam. Ia menyelamatkan seorang anak perempuan yang terus menyanyikan melodi tersebut sebelum akhirnya anak itu dibawa oleh seseorang yang mengaku sebagai kerabat.
Namun relawan itu tidak pernah mengetahui identitas orang tersebut karena seluruh dokumen ikut hanyut dalam banjir susulan.
Ia selama ini memilih diam karena mengira anak itu telah ditemukan keluarganya.
Profesor Surya menggenggam liontin yang diserahkan perempuan itu.
Di dalamnya terdapat foto kecil seorang gadis tersenyum sambil memegang biola yang sama.
Ia menatap Alya dengan mata penuh harapan.
“Bertahun-tahun aku mencari jawaban. Hari ini aku akhirnya menemukan jejak baru.”
Alya tersenyum pelan.
Ia sadar, perjalanan mereka ternyata belum benar-benar selesai.
Kadang-kadang, musik tidak mengembalikan seseorang yang telah hilang.
Namun musik selalu mampu mengembalikan harapan yang nyaris mati.
