SEORANG kakek miskin yang datang membawa masakan ditolak masuk oleh tetangganya sendiri. Dengan kepala tertunduk dan tangan yang gemetar, ia terus berusaha menjelaskan bahwa selain makanan, ia juga membawa sepucuk surat yang sangat penting untuk keluarga itu. Namun Bu Norma menganggap semuanya hanya alasan agar bisa masuk ke rumah. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa surat yang terlihat usang itu berasal dari seseorang yang telah bertahun-tahun ia cari tanpa hasil. Dan ketika akhirnya matanya membaca nama yang tertera di bagian akhir surat, seluruh tubuhnya melemas. Penyesalan yang selama ini terkubur langsung pecah menjadi tangisan yang tak mampu lagi ia tahan.
Menjelang sore, langit Jakarta mulai berubah jingga ketika Pak Celso berhenti di depan sebuah rumah dua lantai yang tampak megah. Di tangan kirinya ada sebuah wadah kecil berisi semur ayam hangat, sementara tangan kanannya menggenggam surat yang sudah berkali-kali ia rapikan agar tidak kusut.
Usianya hampir tujuh puluh lima tahun. Punggungnya mulai membungkuk, napasnya pendek, dan langkahnya tertatih. Namun ia tetap datang karena sebuah janji.
Ia mengetuk pagar perlahan.

“Norma… Nak… aku membawa sedikit masakan.”
Beberapa detik kemudian pintu terbuka.
Bu Norma muncul dengan pakaian rapi, ponsel masih menempel di telinganya. Begitu melihat Pak Celso, wajahnya langsung berubah masam.
“Ada apa lagi, Pak Celso? Kami sedang sibuk.”
“Aku tidak mau merepotkan. Aku hanya ingin memberikan ini.”
Pak Celso mengangkat wadah makanan itu.
Norma melirik sekilas.
“Terima kasih, tapi tidak usah. Kami tidak menerima makanan dari luar.”
Pak Celso tersenyum tipis.
“Aku memasaknya sendiri. Dulu… seseorang bilang ini makanan favoritmu.”
Norma menghela napas panjang.
“Siapa?”
Pak Celso terdiam.
Di belakang Norma, adiknya, Riko, muncul sambil menyeringai.
“Paling-paling mau minta uang lagi.”
Beberapa anggota keluarga lain ikut memperhatikan.
“Ayah, suruh saja beliau pulang,” kata cucu Norma pelan.
Pak Celso menunduk.
“Aku tidak datang untuk meminta apa pun. Aku juga membawa surat.”
Norma mengernyit.
“Surat apa?”
“Seseorang menitipkannya kepadaku.”
“Kalau memang penting, titip saja di satpam.”
“Tidak bisa.”
“Kenapa?”
“Karena orang itu memintaku menyerahkannya langsung ke tanganmu.”
Norma mulai kehilangan kesabaran.
“Pak, saya benar-benar tidak punya waktu.”
Riko tertawa kecil.
“Sudahlah, Pak. Drama seperti ini sudah sering.”
Ucapan itu membuat Pak Celso terdiam cukup lama.
Ia memandang surat di tangannya.
Dalam hatinya muncul keraguan.
Mungkin memang lebih baik ia pulang.
Namun wajah seseorang tiba-tiba terlintas di benaknya.
Seorang pria kurus dengan tubuh penuh luka yang pernah menggenggam tangannya erat di ruang perawatan sebuah rumah sakit kecil di Surabaya, dua minggu sebelumnya.
“Kalau aku tidak sempat pulang… tolong cari adikku.”
Pria itu bernama Arman.
Pak Celso mengenalnya di bangsal rumah sakit.
Arman hidup sebatang kara, mengidap penyakit yang sudah terlambat ditangani.
Selama dirawat, hanya Pak Celso yang sering mengobrol dengannya.
Di malam terakhir sebelum meninggal, Arman menyerahkan sebuah amplop.
“Aku pernah menyakiti adikku. Bertahun-tahun aku malu untuk pulang. Tolong… kalau Bapak masih kuat… antarkan surat ini.”
Pak Celso bertanya alamatnya.
Arman menyebut nama lengkap adiknya.
Norma Wijaya.
Pak Celso langsung berjanji.
“Saya akan mengantarkannya.”
Arman tersenyum lega.
“Itu janji terakhirku.”
Pagi setelah Arman meninggal, Pak Celso menjual radio tua satu-satunya agar bisa membeli tiket kereta menuju Jakarta.
Ia bahkan memasak sendiri semur ayam karena Arman pernah bercerita sambil tertawa.
“Adikku paling suka semur ayam buatan Ibu.”
Pak Celso ingin memberikan sedikit kehangatan kepada keluarga yang telah lama kehilangan seorang anak.
Namun kenyataan ternyata jauh berbeda.
Norma sama sekali tidak memberinya kesempatan.
“Aku minta Bapak pergi sekarang.”
Pak Celso mengangguk pelan.
“Baik.”
Ia membalikkan badan.
Baru beberapa langkah berjalan, tubuhnya tiba-tiba limbung.
Wadah makanan jatuh ke tanah.
Kuah semur tumpah.
Surat yang terselip ikut terlempar keluar.
Angin sore meniup amplop itu hingga berhenti tepat di depan kaki Norma.
Norma hendak membuangnya.
Namun matanya menangkap sesuatu.
Di sudut amplop tertulis tulisan tangan yang sangat dikenalnya.
Untuk adikku, Norma.
Jantungnya langsung berdegup keras.
Tulisan itu…
Tulisan tangan kakaknya.
Tangannya mulai gemetar.
“Pak… tunggu!”
Pak Celso sudah terduduk lemas di pinggir jalan.
Norma memungut amplop itu.
Air matanya langsung menetes bahkan sebelum surat dibuka.
Dengan tangan bergetar ia membuka lipatan kertas yang mulai menguning.
“Norma.
Kalau surat ini sampai kepadamu, mungkin aku sudah tidak ada.
Maaf karena menghilang selama dua puluh tiga tahun.
Aku malu pulang setelah gagal dalam hidup.
Aku malu karena sudah mengambil uang tabungan keluarga.
Aku pikir kalau suatu hari aku sukses, aku akan kembali.
Ternyata waktu berjalan lebih cepat daripada penyesalanku.
Setiap ulang tahunmu aku selalu ingat.
Setiap Lebaran aku menangis sendirian.
Aku ingin pulang berkali-kali, tapi rasa malu selalu lebih besar daripada keberanianku.
Aku dengar Ibu meninggal sambil terus menunggu kepulanganku.
Sejak hari itu aku tahu aku tidak pantas meminta maaf.
Kalau kamu membaca surat ini, berarti Tuhan masih memberiku kesempatan terakhir untuk mengatakan satu hal.
Maafkan Kakak.
Rumah yang dulu kutinggalkan adalah tempat yang paling kurindukan.”
Tangan Norma mulai bergetar semakin hebat.
Ia membaca bagian terakhir.
“Tolong jangan salahkan Pak Celso.
Beliau bahkan menjual barang berharganya agar bisa mengantarkan surat ini.
Beliau bukan keluargaku.
Beliau hanya orang baik yang tidak tega melihat orang mati membawa penyesalan.”
Norma langsung menjatuhkan surat itu.
Tangisnya pecah.
Selama bertahun-tahun ia membenci kakaknya.
Ia mengira Arman sengaja meninggalkan keluarga.
Ia bahkan pernah berkata di depan makam ibunya.
“Kalau Kak Arman pulang sekarang pun, aku tidak akan memaafkannya.”
Kini ia tahu kenyataannya.
Arman terus hidup dalam rasa bersalah sampai akhir hayat.
Norma berlari menghampiri Pak Celso.
“Pak… maafkan saya.”
Pak Celso tersenyum lemah.
“Sudah kubilang… aku hanya ingin menyerahkan surat.”
Norma berlutut di hadapan lelaki tua itu.
Tangannya menggenggam tangan Pak Celso yang dingin.
“Kenapa Bapak tidak bilang dari awal?”
“Aku sudah mencoba.”
Norma menunduk.
Ia teringat semua ucapannya.
Tatapan merendahkan.
Kecurigaan.
Pengusiran.
Semuanya terasa seperti tamparan untuk dirinya sendiri.
Riko yang sejak tadi diam ikut mendekat.
Wajahnya berubah pucat setelah membaca isi surat.
Ia perlahan memungut wadah makanan yang sudah pecah.
Semur ayam bercampur tanah.
Riko tidak sanggup berkata apa-apa.
Malam itu Pak Celso akhirnya dipersilakan masuk.
Norma membersihkan luka kecil di tangannya.
Ia memasakkan teh hangat.
Untuk pertama kalinya sejak suaminya meninggal, rumah itu dipenuhi keheningan yang berbeda.
Bukan karena kesombongan.
Melainkan karena rasa bersalah.
Pak Celso kemudian menyerahkan sebuah kantong kain kecil.
“Ada satu lagi.”
Norma membukanya.
Di dalamnya terdapat jam tangan tua yang sudah berhenti berdetak.
“Itu milik Arman.”
Norma langsung memeluk jam itu sambil menangis.
“Dia selalu memakainya sejak Ayah memberikannya saat lulus sekolah.”
Pak Celso mengangguk.
“Dia memintaku mengembalikannya.”
Beberapa hari kemudian, Norma mencari tahu kehidupan Pak Celso.
Barulah ia mengetahui bahwa lelaki tua itu hidup sendirian di rumah kontrakan sempit.
Setiap hari ia bekerja membersihkan masjid agar bisa makan.
Bahkan biaya perjalanan mengantarkan surat berasal dari hasil menjual radio tua peninggalan istrinya.
Norma menangis lagi.
Ia merasa tidak akan pernah bisa membayar semua kebaikan itu.
Sejak hari itu hidup Pak Celso berubah.
Bukan karena ia meminta bantuan.
Tetapi karena keluarga Norma memutuskan menganggapnya sebagai keluarga sendiri.
Setiap akhir pekan mereka makan bersama.
Anak-anak memanggilnya Kakek Celso.
Tidak ada lagi pagar yang tertutup untuknya.
Di ruang tamu rumah Norma, surat terakhir Arman kini dibingkai rapi.
Bukan untuk mengingat kesalahan.
Melainkan untuk mengingat bahwa manusia sering kali terlalu cepat menilai seseorang dari pakaian lusuh, wajah lelah, atau langkah yang tertatih.
Padahal terkadang, orang yang datang dengan penampilan paling sederhana justru sedang membawa sesuatu yang nilainya jauh lebih besar daripada harta apa pun: kesempatan terakhir untuk memperbaiki sebuah penyesalan yang hampir terlambat.
