SEORANG PEMUDA YANG SEDANG MELUKIS DI DINDING BALAI KOTA BERDIRI DI BAWAH TERIK MATAHARI DENGAN TENANG, MENGGENGGAM KUAS LAMA DAN KALENG-KALENG CAT YANG HAMPIR HABIS.

Di bawah terik matahari siang yang membakar halaman Balai Kota Surakarta, seorang pemuda berdiri sendirian menghadap tembok beton yang kusam. Bajunya penuh noda cat berwarna biru, putih, dan cokelat. Sepasang sepatu kanvasnya sudah robek di bagian depan. Di sampingnya hanya ada beberapa kaleng cat bekas yang isinya tinggal sedikit, selembar kain lusuh, dan sebuah buku sketsa yang sudut-sudutnya mulai menguning.

Namanya Arga.

Sejak pagi buta ia melukis tanpa banyak bicara. Setiap sapuan kuasnya begitu hati-hati, seolah setiap warna memiliki makna yang tidak boleh salah ditempatkan. Sedikit demi sedikit, dinding abu-abu itu berubah menjadi pemandangan sebuah desa nelayan. Seorang perempuan tua sedang memeluk anak laki-laki kecil di tepi sungai, sementara matahari pagi memantulkan cahaya ke permukaan air.

Beberapa orang yang lewat mulai berhenti.

“Bagus juga,” bisik seorang ibu.

“Tapi siapa yang suruh dia melukis di sini?”

Belum sempat ada yang menjawab, suara keras memecah kerumunan.

“Hei! Berhenti!”

Tiga petugas Satpol PP berjalan cepat menghampiri Arga, diikuti beberapa pegawai Balai Kota.

“Siapa yang kasih izin?”

Arga menoleh perlahan.

“Saya…”

“Mana surat izinnya?”

Arga terdiam.

Seorang pria berjas yang baru keluar dari gedung ikut mendekat. Ia adalah Rendra, anggota dewan yang dikenal tegas sekaligus sangat menjaga citra pemerintah daerah.

“Wah, sekarang siapa saja merasa boleh mencorat-coret fasilitas negara?” katanya sambil tersenyum sinis.

“Saya tidak mencoret, Pak. Saya sedang membuat mural.”

“Mural? Tanpa izin tetap saja pelanggaran.”

Kerumunan mulai bertambah.

Ada yang mengeluarkan ponsel dan merekam.

Seorang pegawai tertawa kecil melihat pakaian Arga.

“Lihat bajunya. Pantas saja.”

Yang lain ikut berkomentar.

“Paling cari sensasi.”

“Besok-besok semua orang bisa seenaknya melukis.”

Arga hanya menunduk.

Ia sudah terbiasa dipandang rendah sejak kecil. Menjadi anak yatim yang dibesarkan oleh nenek membuatnya memahami bahwa kemiskinan sering kali lebih dulu dihakimi daripada didengarkan.

Petugas mengambil kuas dari tangannya.

“Cukup.”

Arga menggenggam buku sketsanya erat-erat.

“Tolong, Pak… tinggal sedikit lagi.”

“Tidak ada sedikit lagi.”

Rendra menunjuk dinding.

“Bersihkan semua ini.”

Tatapan Arga jatuh ke mural yang belum selesai.

Matanya mulai berkaca-kaca, tetapi ia tidak menangis.

Ia hanya menarik napas panjang.

“Lukisan ini bukan untuk saya.”

“Lalu untuk siapa?”

Arga menatap dinding itu beberapa detik sebelum menjawab lirih.

“Untuk seseorang yang selama ini tidak pernah mendapatkan kesempatan menjelaskan kebenaran.”

Kalimat itu membuat beberapa orang saling berpandangan, tetapi Rendra mengangkat bahu.

“Omong kosong.”

Petugas mulai menyiapkan alat untuk mengecat ulang dinding.

Saat itulah seorang perempuan paruh baya berlari dari arah jalan.

“Tunggu!”

Semua menoleh.

Perempuan itu membawa map tua yang sudah kusam.

“Jangan dihapus dulu.”

Rendra mengernyit.

“Ibu siapa?”

“Saya Sinta… dulu bekerja di kantor arsip kota.”

Ia membuka map itu dengan tangan gemetar.

“Dua minggu lalu saya menerima surat dari almarhum Pak Hadi.”

Nama itu membuat beberapa pegawai saling berpandangan.

Pak Hadi adalah mantan wali kota yang dikenal sangat jujur, tetapi meninggal belasan tahun lalu.

“Surat ini baru boleh dibuka setelah seseorang melukis gambar yang ada di dalam sketsa.”

Semua semakin bingung.

Sinta mengeluarkan sebuah foto lama.

Foto itu memperlihatkan komposisi yang sama persis dengan mural Arga.

Perempuan tua.

Anak kecil.

Perahu tua.

Kerumunan mendadak sunyi.

“Bagaimana mungkin?” bisik seseorang.

Arga mengeluarkan buku sketsanya.

Halaman pertama memperlihatkan gambar yang identik.

“Nenek saya yang membuat sketsa ini.”

Sinta memandang Arga lama sekali.

“Siapa nama nenekmu?”

“Bu Ratmi.”

Wajah Sinta langsung pucat.

“Ratmi…”

Ia menutup mulutnya.

“Ya Tuhan…”

Puluhan tahun lalu Ratmi adalah pelukis sukarelawan yang membantu membuat dokumentasi visual setelah banjir besar menghancurkan sebuah kampung nelayan. Saat itu ia menjadi saksi sebuah peristiwa yang tidak pernah tercatat dalam laporan resmi.

Rendra mulai terlihat gelisah.

“Apa hubungannya dengan ini?”

Sinta membuka surat yang sudah menguning.

Tulisan tangan Pak Hadi masih terlihat jelas.

“Jika suatu hari mural ini selesai dibuat, berarti orang yang menyimpan kebenaran telah datang.”

Semua orang terdiam.

Arga melanjutkan.

“Nenek saya selalu bilang bahwa gambar ini bukan sekadar lukisan.”

“Lalu apa?”

“Ini adalah ingatan.”

Ia menunjuk perempuan tua dalam mural.

“Itu adalah Ibu Lastri.”

Kemudian menunjuk anak kecil.

“Anaknya bernama Bima.”

Beberapa warga lanjut usia yang berdiri di belakang langsung membelalakkan mata.

“Saya ingat mereka…”

“Dulu mereka tinggal dekat pelabuhan.”

Sinta mengangguk pelan.

“Benar.”

Arga mengambil napas panjang.

“Ketika banjir besar terjadi dua puluh tahun lalu, banyak orang mengira Bima hanyut karena ibunya terlambat menyelamatkannya.”

Kerumunan mulai berbisik.

“Itu memang cerita yang kami dengar.”

“Ternyata bukan?”

Arga menggeleng.

“Nenek saya melihat semuanya.”

Ia membuka halaman terakhir buku sketsanya.

Di sana terdapat gambar seorang pria menggendong anak kecil menuju mobil dinas.

“Bima sebenarnya berhasil diselamatkan.”

Semua membeku.

“Lalu kenapa ibunya tetap dituduh lalai?”

Arga memandang Rendra.

Karena lelaki yang membawa anak itu memilih menyembunyikan kebenaran.

Wajah Rendra perlahan kehilangan warna.

“Apa maksudmu?”

“Dulu ayah Bapak adalah pejabat kecamatan.”

Kerumunan langsung memandang Rendra.

“Saat banjir, beliau menyelamatkan satu anak. Tapi karena kekacauan administrasi dan tekanan politik, identitas anak itu dipalsukan agar dianggap sebagai anak korban yang ditemukan tanpa keluarga.”

Sinta menambahkan pelan.

“Ibu Lastri terus mencari putranya selama bertahun-tahun.”

“Kenapa tidak diberi tahu?”

“Karena jika kebenaran terbongkar, banyak pejabat saat itu harus bertanggung jawab atas kelalaian mereka.”

Suasana menjadi semakin sunyi.

Rendra mundur selangkah.

“Itu… itu tidak mungkin.”

Arga mengeluarkan sebuah kalung kayu kecil.

“Nenek saya menitipkan ini.”

Kalung itu sama persis dengan yang tergambar di mural.

Sinta menangis.

“Itu milik Bima.”

Seorang pria berusia sekitar tiga puluh tahun yang sejak tadi berdiri di belakang mendadak gemetar.

Namanya Bagas.

Ia adalah sopir pribadi Rendra.

Tangannya perlahan menyentuh lehernya.

Di balik kerah bajunya tergantung kalung kayu yang sama.

“Ayah angkat saya bilang kalung ini ditemukan bersama saya waktu kecil…”

Semua mata tertuju kepadanya.

Bagas menatap mural, lalu menatap kalungnya sendiri.

Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.

“Saya… saya tidak pernah tahu siapa orang tua kandung saya.”

Sinta menangis semakin keras.

“Ya Tuhan… kamu Bima.”

Tangis pecah di tengah halaman Balai Kota.

Bagas memeluk perempuan tua itu tanpa sanggup berkata-kata.

Rendra terduduk lemas.

Ia baru teringat cerita ayahnya bertahun-tahun lalu yang selalu diakhiri dengan kalimat, “Ada satu keputusan yang akan menghantui keluarga kita.”

Selama ini ia mengira itu hanya penyesalan biasa.

Ternyata luka yang ditinggalkan jauh lebih besar.

Dengan langkah pelan, Rendra mendekati Arga.

Semua orang menahan napas.

Ia memandang mural itu beberapa saat, lalu menatap pemuda yang sejak pagi dihina di depan banyak orang.

Tanpa sepatah kata pun, Rendra berlutut.

“Saya minta maaf.”

Suasana hening.

“Saya menilai seseorang dari pakaiannya.”

Air matanya menetes.

“Saya menjaga nama keluarga saya, tetapi lupa menjaga kemanusiaan.”

Arga menggeleng pelan.

“Saya tidak datang untuk mempermalukan siapa pun.”

“Lalu kenapa kamu tetap melukis?”

Arga tersenyum tipis.

“Karena kalau sebuah kebenaran terus disembunyikan, luka itu akan diwariskan kepada orang yang tidak bersalah.”

Beberapa hari kemudian, Balai Kota memutuskan tidak menghapus mural tersebut.

Sebaliknya, mereka memasang sebuah plakat kecil di bawahnya.

Di sana tertulis:

“Setiap kota memiliki sejarah. Sebagian tertulis dalam arsip. Sebagian lagi hidup dalam ingatan orang-orang yang berani berkata jujur.”

Peresmian mural itu dihadiri ratusan warga.

Tidak ada pidato panjang.

Tidak ada seremoni mewah.

Yang paling menyentuh justru ketika Bagas, yang akhirnya mengetahui identitas keluarganya, meletakkan setangkai bunga di bawah lukisan perempuan tua yang selama puluhan tahun mencarinya tanpa pernah menyerah.

Arga berdiri agak jauh, memandangi hasil karyanya.

Seorang anak kecil menghampirinya.

“Kak, nanti kalau aku besar boleh jadi pelukis?”

Arga tersenyum hangat.

“Boleh.”

“Kalau orang-orang mengejek?”

“Teruslah melukis.”

“Kenapa?”

Arga memandang mural yang kini diterangi cahaya matahari sore.

“Karena kadang-kadang, satu gambar mampu mengatakan kebenaran yang tidak pernah sanggup diucapkan oleh ribuan kata.”

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang