Liza sudah tidak ingat lagi berapa kali ia mencoba menjelaskan.
Yang ia sadari hanyalah dirinya berdiri di tengah ruang bermain, kepala tertunduk, tangan gemetar, sementara seluruh keluarga anak yang telah diasuhnya sejak bayi mengelilinginya dengan tatapan penuh tuduhan.
“Di mana anakku?” teriak Maureen, majikan perempuannya, sambil memeluk selimut kecil milik putranya, Enzo.

“Bu… saya tidak menculik Enzo,” jawab Liza dengan suara bergetar. “Tadi dia masih bermain di sini. Kami hanya menyusun balok…”
“Pembohong!” bentak Maureen sambil menunjuk wajahnya. “Kamu orang terakhir yang bersamanya!”
Carlo, suami Maureen, berdiri beberapa langkah di belakang istrinya. Wajahnya pucat, tetapi ia belum mampu mengatakan apa pun. Para asisten rumah tangga lain hanya saling berpandangan. Satpam rumah mulai menghubungi petugas keamanan kompleks.
Mainan berserakan memenuhi lantai. Sepatu kecil Enzo masih tergeletak di dekat perosotan mini. Semua terlihat normal, kecuali satu hal.
Anak itu menghilang.
Liza membiarkan air matanya jatuh.
Bukan karena ia takut dipenjara.
Melainkan karena perempuan yang selama tiga tahun memercayakan putranya kepadanya kini memandangnya seolah-olah ia seorang penjahat.
“Bu…” lirihnya. “Saya sayang Enzo. Saya tidak mungkin menyakitinya.”
“Jangan bicara soal sayang!” bentak Maureen. “Buatmu dia cuma sumber gaji.”
Kalimat itu menusuk jauh lebih dalam daripada semua tuduhan.
Liza masih mengingat malam-malam ketika Enzo demam tinggi sementara kedua orang tuanya sedang menghadiri pesta perusahaan. Ia yang mengompres dahi anak itu hingga subuh. Ia yang menggendongnya saat muntah. Ia yang mengajari Enzo menyebut kata “ibu”, meski anak itu justru lebih sering memanggilnya “Kak Liza” dengan penuh manja.
Namun hari ini, semua pengorbanan itu seolah tidak pernah ada.
Tak lama kemudian, dua polisi datang ke rumah mewah tersebut.
Salah seorang di antaranya menghampiri Liza.
“Kami hanya ingin meminta keterangan.”
Maureen langsung menyela.
“Tangkap saja dia! Dia pasti pelakunya!”
Liza mengangkat wajahnya perlahan.
“Sebelum Bapak membawa saya, tolong… periksa semua kamera CCTV dulu.”
Ruangan mendadak sunyi.
Carlo menoleh ke kepala keamanan.
“Semua kamera masih aktif?”
“Ya, Pak.”
“Putar sekarang.”
Mereka semua menuju ruang kontrol.
Jantung Liza berdegup semakin kencang.
Ia tidak takut pada rekaman itu.
Yang ia takutkan adalah jika ada bagian kamera yang rusak.
Layar pertama memperlihatkan ruang bermain dari sudut atas.
Enzo terlihat berlari kecil sambil tertawa.
Liza duduk di karpet menyusun balok bersamanya.
Beberapa menit kemudian, telepon rumah berbunyi.
Salah satu pembantu memanggil Liza ke dapur karena koki mengalami luka akibat pecahan gelas.
Liza terlihat berdiri.
Sebelum keluar ruangan, ia membungkuk.
“Enzo, jangan keluar ya. Kakak sebentar lagi balik.”
Anak itu mengangguk.
Rekaman terus berjalan.
Semua orang menahan napas.
Satu menit.
Dua menit.
Lalu sesuatu yang tak seorang pun duga muncul di layar.
Pintu kecil yang menghubungkan ruang bermain dengan taman belakang terbuka perlahan.
Seorang pria mengenakan seragam teknisi listrik masuk sambil membawa kotak peralatan.
Wajahnya tertutup masker dan topi.
Ia berjongkok di depan Enzo.
Anak itu tampak mengenalnya.
Bahkan tersenyum.
Pria itu mengeluarkan mobil-mobilan baru dari tasnya.
Enzo langsung berdiri dengan gembira.
Tak sampai tiga puluh detik kemudian, pria itu menggandeng tangan Enzo keluar melalui pintu belakang.
Seluruh ruangan membeku.
Maureen menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Carlo memucat.
“Itu… bukan Liza…”
Polisi segera meminta salinan rekaman.
“Pak, kami butuh semua kamera di halaman belakang.”
Rekaman berikutnya menunjukkan pria itu menaiki mobil van putih tanpa pelat depan yang jelas.
Namun sebelum mobil bergerak, wajahnya sempat menghadap kamera selama dua detik.
Cukup jelas.
Kepala keamanan langsung berkata pelan.
“Saya pernah lihat orang ini.”
“Di mana?”
“Dia pernah datang dua minggu lalu. Katanya mau memperbaiki jaringan internet.”
Carlo mengernyit.
“Tapi saya tidak pernah memanggil teknisi.”
Liza mulai mengingat sesuatu.
“Dua hari lalu saya juga melihat orang itu berdiri di luar gerbang. Dia melambaikan tangan ke Enzo.”
“Kenapa kamu tidak bilang?” tanya Carlo.
“Saya pikir dia hanya kurir.”
Polisi segera bergerak.
Rumah ditutup sementara sebagai lokasi penyelidikan.
Namun saat semua orang sibuk, Liza memperhatikan sesuatu yang lain.
Ia teringat satu kebiasaan Enzo.
Anak itu tidak pernah mau pergi dengan orang asing.
Bahkan kepada saudara jauh sekalipun, Enzo selalu bersembunyi di belakang Liza.
Lalu mengapa kali ini ia justru tersenyum dan ikut begitu saja?
Pertanyaan itu terus mengganggunya.
Malam itu, Liza tidak pulang.
Meski telah dibebaskan dari segala tuduhan, ia tetap memilih membantu mencari Enzo.
Maureen bahkan tidak sanggup menatap wajahnya.
Setiap kali mata mereka bertemu, perempuan itu langsung menangis.
Menjelang tengah malam, polisi menemukan mobil van putih tersebut di sebuah gudang kosong.
Tetapi Enzo sudah tidak ada.
Yang tertinggal hanya mobil-mobilan baru yang sama seperti di CCTV.
Harapan kembali runtuh.
Keesokan paginya, Liza meminta izin melihat kamar Enzo.
Awalnya Carlo heran.
“Apa yang ingin kamu cari?”
“Sesuatu yang mungkin tidak diperhatikan orang lain.”
Di dalam kamar, semuanya masih rapi.
Liza membuka laci kecil tempat Enzo biasa menyimpan gambar.
Di sana terdapat puluhan coretan krayon.
Salah satunya membuat napasnya tercekat.
Gambar seorang pria bertopi sedang memegang balon merah.
Di bawah gambar itu, dengan tulisan anak-anak, tertulis satu kalimat.
Om Biru.
Liza langsung teringat.
Sudah beberapa minggu terakhir Enzo sering menyebut nama itu.
“Kak Liza, Om Biru janji mau ajak aku lihat ikan.”
Saat itu ia mengira tokoh imajinasi.
Ia bahkan sempat tertawa mendengarnya.
Kini tubuhnya merinding.
Polisi segera menyelidiki nama tersebut.
Tak lama kemudian, sebuah fakta mengejutkan muncul.
Di dekat taman bermain kompleks memang sering terlihat seorang pria memakai topi biru yang menjual balon.
Namun identitasnya palsu.
Ia selalu berpindah-pindah lokasi.
Pencarian diperluas ke seluruh kota.
Dua hari berlalu tanpa hasil.
Maureen hampir kehilangan kewarasannya.
Ia tidak makan.
Tidak tidur.
Berkali-kali ia memandangi foto Enzo sambil menangis.
Suatu malam, ia mendatangi kamar sederhana tempat Liza menginap sementara di rumah itu.
Begitu pintu dibuka, Maureen langsung berlutut.
Liza terkejut.
“Bu, jangan begitu.”
Maureen menangis tersedu-sedu.
“Saya yang seharusnya minta maaf.”
“Saya sudah menghina kamu.”
“Saya bilang kamu pengkhianat.”
“Saya bahkan ingin memenjarakan kamu.”
“Sementara kamu… masih ikut mencari anak saya.”
Liza ikut menangis.
“Kalau saya jadi seorang ibu, mungkin saya juga akan panik.”
“Tapi saya tetap tidak akan berhenti mencari Enzo.”
Maureen memeluknya erat.
Untuk pertama kalinya sejak Liza bekerja di rumah itu, mereka berpelukan bukan sebagai majikan dan pengasuh.
Melainkan sebagai dua perempuan yang sama-sama mencintai seorang anak.
Hari ketiga, sebuah telepon masuk ke kantor polisi.
Seorang nelayan menemukan seorang anak kecil sedang duduk sendirian di sebuah musala dekat pelabuhan.
Liza adalah orang pertama yang berlari begitu melihat Enzo.
Anak itu langsung memeluk lehernya sambil menangis.
“Kak Liza…”
Semua orang ikut menangis.
Namun misteri belum selesai.
Saat diinterogasi secara perlahan oleh psikolog anak, Enzo mengatakan sesuatu yang membuat seluruh ruangan kembali sunyi.
“Aku ikut Om Biru karena Om bilang Mama lagi nangis.”
“Om bilang Kak Liza suruh aku ikut.”
Semua orang saling berpandangan.
Liza membeku.
“Aku tidak pernah bilang begitu.”
Enzo mengangguk polos.
“Om tahu semua tentang aku.”
“Om tahu aku suka dinosaurus.”
“Om tahu Mama sering pulang malam.”
“Om tahu Kak Liza nyanyi lagu sebelum aku tidur.”
Polisi langsung menyadari sesuatu.
Pelaku bukan sekadar penculik.
Ia telah mengamati keluarga itu selama berbulan-bulan.
Bahkan mengetahui rutinitas mereka secara rinci.
Penyelidikan digital pun dilakukan.
Semua rekaman CCTV di sekitar rumah diperiksa ulang.
Akhirnya ditemukan fakta yang jauh lebih mengejutkan.
Pria bertopi biru ternyata beberapa kali masuk ke kompleks menggunakan kartu akses milik penghuni.
Pemilik kartu itu bukan orang asing.
Melainkan Rudi, mantan sopir keluarga Carlo yang diberhentikan enam bulan sebelumnya karena mencuri uang perusahaan.
Saat ditangkap, Rudi mengaku ia memang membantu pelaku utama masuk ke kompleks.
Namun ia sendiri tidak pernah bertemu langsung dengan otak di balik rencana tersebut.
Ia hanya menerima uang.
Lalu polisi menunjukkan foto beberapa tersangka.
Begitu melihat salah satunya, Enzo langsung menunjuk.
“Itu Om Biru.”
Ruangan kembali sunyi.
Foto itu adalah seorang konsultan keamanan yang pernah beberapa kali datang ke rumah Carlo untuk memasang sistem smart home.
Selama berbulan-bulan, pria itu mempelajari tata letak rumah, jadwal keluarga, kebiasaan para pekerja, bahkan karakter Enzo.
Semua informasi itu dipakai untuk menyusun penculikan yang nyaris sempurna.
Untungnya, rekaman CCTV yang hampir diabaikan justru menjadi bukti yang menyelamatkan semuanya.
Beberapa minggu kemudian, kehidupan keluarga itu perlahan kembali normal.
Suatu sore, Enzo berlari di taman sambil menggenggam tangan Liza dan Maureen sekaligus.
“Tangan Mama satu, tangan Kak Liza satu.”
Maureen tersenyum.
Ia menoleh kepada Liza.
“Dulu saya pikir hubungan kita cuma soal pekerjaan.”
“Ternyata keluarga tidak selalu dibentuk oleh darah.”
“Kadang dibentuk oleh orang yang memilih tetap tinggal, bahkan ketika hatinya sudah dihancurkan.”
Liza hanya tersenyum sambil menatap Enzo yang tertawa lepas di bawah sinar matahari.
Hari itu ia menyadari satu hal.
Kepercayaan memang bisa hancur hanya dalam beberapa menit.
Namun ketulusan yang benar-benar tulus, pada akhirnya akan selalu menemukan jalannya sendiri untuk membuktikan kebenaran.
