Mateo tetap mempertahankan senyum tipis di wajahnya ketika Valeria meraih lengannya dan mengecup pipinya seolah tidak pernah terjadi apa pun. Aroma parfum mahal yang biasanya membuatnya tenang kini justru terasa menusuk. Ia hanya mengangguk pelan, lalu berjalan menghampiri ibunya.
“Bu, bagaimana kabarnya hari ini?”
Doña Elvira mengangkat wajahnya. Matanya masih sembab, tetapi ia berusaha tersenyum.
“Ibu baik, Nak. Kamu pasti lelah. Duduklah, Ibu buatkan teh.”

“Tidak usah. Ibu istirahat saja.”
Tatapan mereka bertemu sesaat. Mateo melihat sesuatu yang selama ini tidak pernah ia sadari. Ketakutan. Bukan ketakutan sesaat, melainkan ketakutan yang sudah terlalu lama dipendam.
Sejak sore itu, Mateo tidak bertanya apa pun. Ia makan malam seperti biasa. Valeria bercerita tentang pesta amal yang akan diadakan akhir pekan nanti, tentang tas baru yang ingin dibelinya, tentang teman-temannya yang kagum melihat mansion mereka.
Mateo hanya mendengarkan.
Semakin tenang wajahnya, semakin berbahaya isi pikirannya.
Malam itu, setelah Valeria tertidur, ia menuju ruang kerja dan membuka sistem keamanan rumah. Sebagai seorang pengusaha yang sangat menjaga privasi, seluruh mansion dipasang kamera di hampir setiap sudut, kecuali kamar tidur dan kamar mandi.
Ia memutar rekaman dua minggu terakhir.
Lima menit pertama membuat napasnya tercekat.
Valeria tidak hanya membentak ibunya sekali.
Hampir setiap hari.
Kadang karena makanan.
Kadang karena cara berpakaian.
Kadang hanya karena ibunya berjalan terlalu lambat.
Dalam salah satu rekaman, Valeria memerintahkan seorang pembantu mengambil kursi makan Doña Elvira.
“Ibu duduk di dapur saja. Meja ini untuk keluarga.”
Padahal di meja itu hanya ada Valeria dan teman-temannya.
Rekaman lain menunjukkan Valeria membuang sepanci sup yang dimasak Doña Elvira ke tempat sampah.
“Makanan beginian bikin malu.”
Yang paling membuat Mateo hampir menghancurkan monitor adalah rekaman ketika ibunya diam-diam menangis di kamar sambil memegang foto almarhum suaminya.
“Ayah Mateo… maafkan aku. Aku tidak ingin membuat anak kita sedih.”
Wanita tua itu bahkan tidak pernah mengadu.
Esok paginya Mateo memanggil kepala keamanan.
“Mulai hari ini semua rekaman enam bulan terakhir salin ke hard disk baru. Jangan beri tahu siapa pun.”
“Baik, Pak.”
Lalu ia menghubungi pengacara pribadinya.
“Saya ingin seluruh aset keluarga diaudit. Termasuk rekening bersama.”
Dua hari kemudian laporan lengkap tiba.
Bukan hanya penghinaan terhadap ibunya yang terjadi.
Valeria diam-diam memindahkan uang hampir Rp120 miliar ke beberapa rekening atas nama perusahaan cangkang yang dikendalikan sepupunya.
Selain itu, ia juga berencana menjual sebagian saham yang selama ini dipercayakan Mateo untuk dikelola sementara.
Pengacara itu menghela napas.
“Pak Mateo, kalau Anda terlambat beberapa minggu saja, kerugiannya bisa jauh lebih besar.”
Mateo tidak marah.
Ia justru tersenyum.
“Biarkan semuanya berjalan seperti rencana mereka.”
Pengacara itu terdiam.
“Maksud Anda?”
“Mereka pikir mereka sedang menjebakku. Padahal mereka sedang menggali kuburan mereka sendiri.”
Selama dua minggu berikutnya, Mateo berpura-pura semakin sibuk.
Ia bahkan sengaja mengatakan kepada Valeria bahwa dirinya akan berangkat ke Singapura selama lima hari untuk bertemu investor.
Begitu mobilnya keluar dari gerbang, Valeria langsung menelepon seseorang.
“Aman. Dia sudah pergi.”
Mateo yang duduk di mobil lain mendengar semuanya melalui alat penyadap legal yang dipasang pada ponsel perusahaan milik istrinya.
Malam itu, mansion berubah menjadi tempat pesta.
Beberapa pria dan wanita datang membawa minuman mahal.
Seorang pria bernama Adrian muncul terakhir.
Begitu pintu tertutup, Valeria memeluknya.
“Akhirnya.”
“Apa dia benar-benar percaya?”
“Dia terlalu bodoh.”
Mereka tertawa.
Mateo menyaksikan semuanya dari monitor di ruang keamanan yang berada di gedung terpisah.
Namun yang membuatnya lebih terkejut adalah percakapan berikutnya.
“Tinggal tunggu dia menandatangani pengalihan saham minggu depan.”
“Lalu?”
“Lalu kita tinggalkan dia bersama ibunya yang tua itu.”
Adrian tertawa.
“Orang kaya memang gampang dibodohi kalau sedang jatuh cinta.”
Mateo mematikan layar.
Bukan karena tidak sanggup melihat.
Tetapi karena ia sudah melihat cukup.
Hari pesta amal akhirnya tiba.
Ratusan tamu hadir.
Pengusaha.
Politikus.
Selebritas.
Media nasional.
Valeria tampil anggun dalam gaun putih berkilau.
Di atas panggung ia berpidato tentang pentingnya menghormati orang tua.
Para tamu bertepuk tangan.
Mateo ikut bertepuk tangan paling keras.
Valeria tersenyum bangga.
“Suamiku selalu menjadi pendukung terbesar dalam hidupku.”
Mateo berdiri.
“Benar.”
Semua kamera langsung mengarah kepadanya.
“Aku memang ingin mendukung istriku.”
Valeria tersenyum semakin lebar.
“Sebab malam ini semua orang berhak mengenal siapa dirinya sebenarnya.”
Lampu ruangan tiba-tiba redup.
Layar LED raksasa di belakang panggung menyala.
Video pertama muncul.
Valeria memaki Doña Elvira.
Ruangan langsung sunyi.
Video kedua.
Valeria membuang makanan ke tempat sampah.
Video ketiga.
Valeria berkata, “Kalau wanita tua itu mati, rumah ini akhirnya tenang.”
Beberapa tamu menutup mulut karena syok.
Valeria berteriak.
“Matikan! Matikan sekarang!”
Tetapi video belum selesai.
Rekaman pesta rahasia.
Pelukan dengan Adrian.
Rencana memindahkan uang.
Percakapan tentang pengkhianatan.
Semua tampil tanpa terpotong.
Wajah Valeria berubah pucat.
“Aku bisa jelaskan!”
Mateo mengambil mikrofon.
“Tentu.”
Ia menatap semua tamu.
“Silakan jelaskan mengapa kamu menghina wanita yang membesarkan suamimu seorang diri.”
Valeria menangis.
“Itu tidak seperti yang terlihat.”
“Benarkah?”
Mateo mengangguk kepada pengacaranya.
Pengacara itu naik ke panggung membawa map.
“Seluruh bukti penggelapan dana telah kami serahkan kepada pihak berwenang.”
Beberapa petugas yang sejak tadi menunggu di luar langsung masuk.
Adrian mencoba melarikan diri.
Namun sudah terlambat.
Ia diborgol di depan semua tamu.
Valeria berlutut.
“Mateo… tolong… aku mencintaimu.”
Mateo memandangnya lama.
Lalu ia berkata dengan suara tenang.
“Orang yang mencintai tidak akan membuat seorang ibu menangis diam-diam di kamarnya.”
Valeria menangis semakin keras.
Tetapi kali ini tidak ada satu pun orang yang membelanya.
Seminggu kemudian proses perceraian dimulai.
Seluruh aset yang berusaha dipindahkan berhasil dibekukan.
Perusahaan kembali stabil.
Namun bagi Mateo, kemenangan itu tidak membawa kebahagiaan.
Ia merasa gagal.
Gagal melihat penderitaan ibunya selama berbulan-bulan.
Suatu sore ia duduk di beranda bersama Doña Elvira.
“Bu… maafkan Mateo.”
Wanita tua itu mengusap rambut putranya seperti ketika ia masih kecil.
“Kamu tidak bersalah.”
“Tapi Ibu menderita.”
“Ibu tidak takut dimarahi.”
“Lalu apa yang Ibu takutkan?”
Doña Elvira tersenyum lembut.
“Ibu takut kalau kamu kehilangan kebahagiaanmu.”
Air mata Mateo akhirnya jatuh.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun menjadi pengusaha yang dikenal dingin, ia menangis di pangkuan ibunya.
Beberapa bulan kemudian mansion megah itu dijual.
Semua orang heran mengapa seorang miliarder memilih pindah ke rumah yang jauh lebih sederhana.
Mateo hanya berkata, “Rumah bukan tempat yang paling mahal. Rumah adalah tempat di mana ibu bisa tersenyum tanpa rasa takut.”
Ia membeli sebuah rumah luas dengan taman kecil di pinggiran kota.
Doña Elvira mulai kembali memasak.
Aroma tamales, kacang merah, dan roti buatan tangannya memenuhi seluruh rumah.
Tidak ada lagi yang mengeluh.
Tidak ada lagi yang memintanya makan di dapur belakang.
Suatu pagi, Mateo melihat ibunya tertawa bersama anak-anak tetangga yang menikmati masakannya.
Saat itulah ia menyadari sesuatu.
Selama ini ia mengira kesuksesan adalah angka di rekening, gedung-gedung tinggi, dan kontrak bernilai miliaran rupiah.
Padahal kekayaan terbesar yang hampir ia kehilangan adalah wanita sederhana yang sejak awal mengajarinya arti cinta tanpa syarat.
Dan sejak hari itu, setiap kali seseorang memuji keberhasilannya, Mateo hanya tersenyum lalu menjawab, “Kalau ibuku masih bisa tersenyum, berarti aku belum benar-benar gagal.”
