Hujan turun tanpa suara ketika Maya melangkah keluar dari rumah kayu peninggalan ibunya. Di tangan ayahnya sudah tergenggam map berisi surat perjanjian yang akan mengubah hidup mereka selamanya. Bukan karena ada warisan, bukan pula karena ada pekerjaan baru. Hari itu Maya akan menikah dengan seorang pria yang bahkan belum pernah mengajaknya berbicara.

Di desa kecil di pinggiran Bogor, semua orang mengenal Arga. Ia memiliki puluhan hektare kebun sayur, peternakan kambing, dan rumah yang cukup besar untuk ditinggali satu keluarga. Namun rumah itu hanya dihuni seorang diri. Arga tuli sejak kecil dan hampir tidak pernah berbicara. Ia berkomunikasi dengan bahasa isyarat atau tulisan di ponselnya. Wajahnya selalu datar sehingga banyak orang menganggapnya angkuh.
Yang tidak diketahui Maya adalah alasan sebenarnya di balik pernikahan itu.
Ayahnya terlilit utang ratusan juta rupiah akibat usaha yang bangkrut. Seorang pengusaha kaya bernama Hendra menawarkan jalan keluar. Jika Maya bersedia menikah dengan Arga, seluruh utang akan lunas. Ayah Maya menerima tanpa bertanya apa pun.
Belakangan Maya baru mengetahui bahwa semua itu berawal dari sebuah taruhan. Di sebuah acara makan malam, beberapa orang menertawakan Arga yang dianggap tidak akan pernah bisa menikah karena kekurangannya. Hendra, yang mengenal Arga sejak lama, bertaruh bahwa dalam waktu satu bulan Arga akan memiliki istri. Uang taruhan itu sangat besar. Hendra memenangkan taruhan, tetapi diam-diam ia juga menggunakan kesempatan itu untuk membantu sahabatnya mendapatkan pendamping hidup.
Bagi Maya, apa pun alasannya tetap terasa seperti penghinaan.
Pernikahan berlangsung sederhana. Tidak ada pesta mewah. Tidak ada musik. Setelah akad selesai, Arga hanya mengetik satu kalimat di layar ponselnya lalu menunjukkannya kepada Maya.
“Aku tahu kau tidak menginginkan semua ini. Aku tidak akan memaksamu.”
Kalimat itu membuat Maya sedikit terkejut.
Sesampainya di rumah, Arga mempersilakan Maya memilih kamar utama, sedangkan dirinya tidur di ruang kerja. Ia bahkan memasak sendiri sarapan keesokan harinya sebelum berangkat ke kebun.
Hari demi hari berlalu dalam keheningan. Maya mulai memperhatikan kebiasaan suaminya. Arga selalu membantu para pekerja tanpa membedakan diri sebagai pemilik kebun. Ia mengangkat karung, memperbaiki saluran air, bahkan membersihkan kandang ketika pegawai lain pulang.
Tetapi ada satu hal yang aneh.
Setiap malam Arga sering memegang telinga kanannya sambil meringis kesakitan. Kadang rasa sakit itu begitu hebat hingga ia harus duduk di lantai selama beberapa menit.
Suatu malam Maya menemukan bercak darah di bantal Arga.
Ia segera menghampiri suaminya yang sedang duduk sambil memegangi kepala.
“Apa ini sering terjadi?”
Arga membaca gerakan bibir Maya lalu mengetik pelan.
“Sudah bertahun-tahun.”
“Sudah diperiksa dokter?”
“Sudah. Katanya kerusakan saraf.”
Maya tidak puas dengan jawaban itu.
Ia pernah bekerja sebagai asisten di sebuah klinik THT sebelum ibunya meninggal. Pengalamannya membuat naluri medisnya muncul kembali.
Beberapa hari kemudian rasa sakit Arga datang lebih hebat dari biasanya. Tubuh pria itu berkeringat dingin. Napasnya memburu.
Maya mengambil senter kecil dari kotak P3K lalu mengintip ke dalam telinga kanan Arga.
Jantungnya langsung berdegup kencang.
Di balik liang telinga terlihat sesuatu yang hitam.
Benda itu bergerak.
“Bukan mungkin…” gumam Maya.
Ia meminta Arga tetap diam.
Dengan pinset steril dan cahaya senter, Maya mencoba menjepit benda itu perlahan.
Arga menggenggam erat kursi hingga buku-buku jarinya memutih.
Beberapa detik kemudian Maya menarik pinset itu keluar.
Seekor serangga berwarna hitam sepanjang hampir tiga sentimeter menggeliat di ujung pinset.
Maya menjerit pelan.
Arga memandangnya dengan wajah bingung.
Serangga itu masih hidup.
Tanpa membuang waktu, Maya membawa Arga ke rumah sakit.
Dokter yang memeriksa pun tampak terkejut.
“Dari mana ini keluar?”
“Dari telinganya.”
Dokter segera melakukan pemeriksaan menyeluruh menggunakan kamera endoskopi.
Hasilnya jauh lebih mengejutkan.
Di dalam telinga Arga masih terdapat beberapa larva kecil yang selama bertahun-tahun berkembang di rongga telinga akibat infeksi lama yang tidak pernah tertangani dengan benar. Rasa sakit yang selama ini dianggap sebagai kerusakan saraf ternyata berasal dari koloni serangga yang hidup di sana.
Operasi dilakukan malam itu juga.
Empat jam kemudian dokter keluar sambil tersenyum.
“Operasinya berhasil.”
Maya hampir menangis lega.
Selama beberapa minggu berikutnya Arga menjalani masa pemulihan.
Lalu sesuatu yang tidak pernah dibayangkan siapa pun mulai terjadi.
Ia perlahan dapat merasakan getaran suara.
Awalnya hanya bunyi pintu ditutup.
Kemudian suara hujan.
Lalu suara mesin motor.
Dokter menjelaskan bahwa pendengaran Arga memang tidak sepenuhnya hilang sejak lahir. Infeksi kronis selama bertahun-tahun memperburuk kondisinya hingga hampir tidak ada suara yang dapat masuk.
Setelah infeksi dibersihkan dan dilakukan terapi intensif, sebagian fungsi pendengarannya kembali.
Hari ketika Arga berhasil mendengar suara manusia untuk pertama kalinya, ia meminta Maya mengucapkan namanya.
Dengan bibir bergetar Maya berkata pelan.
“Arga.”
Pria itu memejamkan mata.
Air matanya mengalir tanpa bisa ditahan.
“Itu… suaramu?” ucapnya lirih. Kalimat pertama yang keluar dari mulutnya sejak belasan tahun.
Maya ikut menangis.
Mereka sama-sama menyadari bahwa keajaiban itu tidak hanya mengembalikan pendengaran Arga, tetapi juga mengubah hubungan mereka.
Perlahan cinta tumbuh tanpa dipaksa.
Maya mulai memahami bahwa di balik wajah dingin Arga tersembunyi hati yang lembut.
Sebaliknya Arga melihat Maya sebagai perempuan yang tidak hanya menyelamatkan hidupnya, tetapi juga memberinya kesempatan kedua.
Namun kebahagiaan mereka tidak berlangsung lama.
Suatu sore Hendra datang berkunjung.
Ia mengaku bersalah.
“Aku harus mengatakan sesuatu.”
Hendra lalu memperlihatkan rekaman video dari malam taruhan itu.
Semua orang tertawa ketika nama Arga disebut.
Ada yang mengatakan tidak ada perempuan waras yang mau menikah dengannya.
Ada pula yang mengejek kekurangannya.
Hendra memang memenangkan taruhan.
Tetapi uang taruhan itu seluruhnya ia gunakan untuk melunasi utang keluarga Maya dan membiayai perawatan kebun Arga selama beberapa bulan.
“Aku tidak pernah berniat mempermainkan kalian,” katanya. “Aku hanya ingin membuktikan bahwa mereka salah.”
Maya memandang Arga.
Ia takut suaminya akan marah.
Namun Arga hanya tersenyum tipis.
Ia lalu mengetik di ponselnya.
“Kalau bukan karena taruhan itu, aku tidak akan pernah bertemu perempuan yang menyelamatkan hidupku.”
Beberapa bulan kemudian Maya dan Arga mengadakan pesta pernikahan kedua.
Kali ini bukan karena utang.
Bukan karena taruhan.
Bukan karena belas kasihan.
Mereka mengundang seluruh warga desa.
Di depan semua tamu, Arga berdiri memegang mikrofon.
Suaranya masih sedikit terbata-bata karena lama tidak berbicara.
“Aku… dulu… mengira… hidupku… selesai.”
Ia berhenti sejenak.
Semua orang menunggu.
“Lalu seseorang memilih melihatku… bukan kekuranganku.”
Ruangan menjadi sunyi.
Arga menggenggam tangan Maya.
“Terkadang… keajaiban… tidak datang… dalam bentuk keberuntungan.”
Ia menoleh kepada istrinya sambil tersenyum.
“Keajaiban datang… ketika ada seseorang… yang memilih tidak menyerah… pada kita.”
Tepuk tangan bergemuruh memenuhi ruangan.
Di luar gedung hujan kembali turun.
Namun kali ini tidak terasa dingin.
Karena dua orang yang dulu dipersatukan oleh sebuah taruhan akhirnya memilih untuk tetap bersama karena cinta yang mereka bangun sendiri.
