Jantung Rosa berdegup kencang, menghantam rongga dadanya seolah ingin melompat keluar. Ia berpura-pura masih sibuk menyeka kaca jendela, namun matanya yang membelalak terpantul di permukaan kaca, mengawasi pintu bangsal dengan waspada. Gary belum kembali.
Nestor tidak berhenti. Jari telunjuknya yang kurus dan pucat kembali bergerak, menekan pagar besi dengan irama yang lebih mendesak.
T-o-x-i-c.

Rosa menahan napas. Tangannya yang memegang kain lap gemetar hebat. Ia harus bertindak, tetapi ia hanyalah seorang petugas kebersihan rendahan. Jika ia melapor dan ternyata ia salah, ia akan kehilangan pekerjaan ini seketika—pekerjaan yang menjadi napas bagi kelangsungan hidup putranya. Namun, jika ia diam dan Nestor benar-benar diracuni, suara ketukan itu akan menghantuinya seumur hidup.
Tiba-tiba, derap langkah kaki terdengar di koridor. Rosa segera menunduk, menggosok bingkai jendela dengan gerakan yang sangat cepat hingga menimbulkan suara gesekan yang kasar. Gary masuk kembali ke ruangan, membawa senyum ramah yang kini terasa seperti topeng yang sangat mengerikan.
“Terima kasih sudah membersihkan area ini, Mbak,” sapa Gary dengan suara lembut yang menenangkan.
Rosa hanya mengangguk singkat tanpa berani menatap mata pria itu. Ia melangkah mundur, berusaha secepat mungkin keluar dari bangsal tersebut. Namun, saat ia melewati tempat tidur Nestor, ia sempat melirik sekilas. Gary sedang mendekatkan sesendok sup ke mulut Nestor. Pria tua itu menatap keponakannya dengan mata yang berkaca-kaca, penuh ketakutan yang mendalam.
Rosa keluar dari bangsal itu dan langsung menuju ruang ganti staf yang sempit di lantai bawah. Ia tidak bisa langsung lapor ke perawat jaga; mereka tidak akan percaya padanya. Ia butuh bukti.
Selama tiga hari berikutnya, Rosa hidup dalam ketegangan yang menyesakkan. Ia mengamati rutinitas Gary dengan diam-diam. Setiap sore, Gary datang dengan termos biru yang sama. Rosa menyadari sesuatu yang janggal: setiap kali Gary menyuapi pamannya, ia selalu memastikan tirai pembatas ditarik rapat, seolah-olah ia sedang menjaga privasi, padahal sebenarnya ia menutupi tindakannya dari pandangan perawat.
Rosa memutuskan untuk mengambil risiko. Saat Gary pergi ke kantin rumah sakit untuk membeli kopi, Rosa menyelinap masuk ke bangsal 4 dengan alasan memeriksa kebersihan di sudut ruangan. Begitu Gary menghilang di balik pintu, ia segera mendekati Nestor.
“Pak Nestor,” bisiknya pelan, hampir tak terdengar. “Jika benar dia meracuni Anda, beri saya tanda. Ketuk sekali untuk ‘Ya’.”
Tap.
Jari Nestor mengetuk besi tempat tidur dengan mantap.
“Apa yang dia masukkan ke dalam sup itu?” tanya Rosa lagi, suaranya tercekat.
Nestor mulai mengetuk dengan lambat, namun penuh tekad. Ia mengeja nama sebuah zat kimia. A-R-S-E-N-I-K.
Dunia Rosa seakan runtuh. Arsenik. Racun yang bekerja perlahan, membuat gejalanya mirip dengan komplikasi pasca-stroke. Itulah sebabnya tidak ada dokter yang curiga; mereka mengira itu adalah penurunan kondisi alami karena usia dan penyakit.
“Saya akan mengambil sisa sup itu,” bisik Rosa. “Jangan melakukan apa pun yang mencurigakan.”
Rosa dengan sigap mengambil cangkir plastik yang diletakkan Gary di meja nakas. Ia menuangkan sisa cairan di dalamnya ke dalam botol kecil yang ia bawa untuk keperluan kebersihan, lalu menggantinya dengan air mineral biasa. Ia harus memastikan sisa sup itu diuji di laboratorium swasta di luar rumah sakit. Ia tidak bisa mempercayai siapa pun di dalam sini—siapa tahu Gary memiliki sekutu di antara staf medis.
Malam itu, setelah shift-nya berakhir, Rosa tidak pulang ke rumah. Ia pergi ke sebuah laboratorium forensik kecil di pusat kota, menghabiskan hampir seluruh tabungannya untuk melakukan tes cepat. Penantian selama enam jam terasa seperti bertahun-tahun. Ketika hasilnya keluar, ia hampir pingsan. Hasilnya positif. Kadar arsenik yang sangat tinggi ditemukan dalam sampel cairan tersebut.
Namun, saat ia kembali ke rumah sakit keesokan paginya, ia disambut oleh suasana yang kacau.
“Dia meninggal,” bisik seorang perawat jaga dengan mata sembab. “Nestor Macaraeg. Ia mengalami gagal jantung mendadak beberapa jam yang lalu.”
Dunia Rosa terasa gelap seketika. Nestor sudah pergi. Kesaksian satu-satunya telah hilang.
Gary berdiri di koridor, menangis terisak-isak di pelukan seorang wanita yang tampak seperti kerabat lainnya. Pria itu tampak sangat terpukul, namun Rosa melihat ada kilatan kepuasan di sudut matanya saat ia menyeka air mata. Gary merasa menang. Ia telah melenyapkan satu-satunya saksi dan pewaris harta pamannya yang kaya raya itu kini akan jatuh ke tangannya.
Rosa mengepalkan tangannya di balik saku seragamnya. Ia tidak akan membiarkan ini berakhir begitu saja. Ia memiliki botol berisi sisa sup, dan ia memiliki catatan waktu kapan Gary datang dan pergi.
Ia mendekati Gary di koridor yang sepi. Gary berhenti menangis, menoleh ke arah Rosa dengan pandangan dingin yang tiba-tiba berubah drastis. Senyum ramahnya lenyap, digantikan oleh sorot mata yang mengancam.
“Ada yang bisa saya bantu, Mbak petugas kebersihan?” tanya Gary dengan nada merendahkan.
“Saya tahu apa yang kamu lakukan pada pamanmu,” bisik Rosa, suaranya stabil meski jantungnya berpacu hebat.
Gary tertawa sinis, langkahnya mendekat hingga ia membayangi tubuh kecil Rosa. “Kamu hanya orang miskin yang tidak punya arti apa-apa di rumah sakit ini. Siapa yang akan mendengarkanmu? Polisi? Mereka akan menertawakanmu sebelum kamu sempat membuka mulut.”
“Saya punya bukti,” Rosa menunjukkan botol kecil di tangannya.
Senyum Gary memudar. Untuk pertama kalinya, pria itu tampak ragu. Ia mencoba merebut botol itu, namun Rosa sudah bersiap. Ia berteriak sekeras-kerasnya, memanggil perawat dan petugas keamanan yang ada di pos jaga terdekat.
“Tolong! Polisi! Pembunuhan!”
Keributan pecah. Orang-orang berlarian ke arah mereka. Gary panik, ia mencoba melarikan diri, namun seorang petugas keamanan yang sigap berhasil menyergapnya.
Di kantor polisi, Rosa duduk gemetar. Ia telah memberikan segalanya: bukti, kronologi, dan kesaksian tentang pola ketukan itu. Awalnya, pihak kepolisian ragu, tetapi setelah hasil lab forensik dikonfirmasi, Gary tidak bisa lagi mengelak. Penyelidikan lebih lanjut menemukan bahwa Gary telah terjerat utang judi yang sangat besar dan telah memalsukan surat wasiat pamannya hanya beberapa hari setelah Nestor masuk rumah sakit.
Beberapa minggu kemudian, Rosa kembali bekerja. Bangsal 4 sudah ditempati oleh pasien lain. Namun, ia tidak lagi merasa ketakutan. Ia telah menyelamatkan martabat seorang pria tua yang dianggap tidak berdaya.
Sore itu, saat ia sedang mengepel lantai di dekat Tempat Tidur 14, ia berhenti sejenak. Ia menatap pagar besi tempat tidur tersebut. Ia teringat Nestor. Mungkin, baginya, ketukan itu bukan sekadar kode telegraf, melainkan sebuah pesan tentang keberanian.
Saat ia akan berbalik, ia mendengar sebuah bunyi kecil.
Tap. Tap.
Rosa membeku. Ia menoleh dengan cepat ke arah tempat tidur tersebut. Tidak ada siapa-siapa. Pasien di sana sedang tertidur pulas. Itu mungkin hanya bunyi logam yang memuai karena perubahan suhu udara.
Namun, Rosa tersenyum. Ia tahu, di suatu tempat di luar sana, keadilan telah ditegakkan. Ia bukan lagi sekadar petugas kebersihan yang menundukkan kepala. Ia adalah saksi, dan suaranya kini memiliki kekuatan untuk mengubah takdir seseorang. Ia kembali melanjutkan pekerjaannya dengan langkah yang lebih tegak, dengan keyakinan bahwa kejahatan sekecil apa pun tidak akan pernah bisa bersembunyi selamanya dari mata yang waspada—bahkan jika mata itu milik seseorang yang dulunya dianggap tidak terlihat.
Pekerjaan Rosa di rumah sakit itu akhirnya memberinya lebih dari sekadar upah. Ia mendapatkan kembali harga dirinya. Ia bukan lagi sosok bayangan yang menyapu lorong, melainkan sosok yang berani berdiri di antara yang lemah dan yang bengis. Ketika ia berjalan pulang malam itu di bawah lampu-lampu kota Manila, ia merasa putranya, di rumah, akan tumbuh menjadi seseorang yang bangga memiliki ibu yang tidak pernah memalingkan wajah saat keadilan memanggil.
