SEORANG PRIA YANG SELALU MENYELIPKAN SURAT CINTA RAHASIA KE DALAM TAS SEORANG WANITA BER-EARPHONE DI BUS SETIAP HARI JUMAT AKHIRNYA MEMUTUSKAN UNTUK MEMPERKENALKAN DIRI SEBELUM PINDAH KE LUAR NEGERI. NAMUN SAAT IA MENYERAHKAN SURAT TERAKHIRNYA, TERUNGKAP SEBUAH KENYATAAN YANG SANGAT MENGEJUTKAN.

Adrian tidak pernah menyangka bahwa selembar kertas biru terakhir akan mengubah seluruh kisah yang selama setahun ia anggap sebagai cinta sepihak.

Jumat pagi itu, langit Jakarta masih kelabu setelah hujan semalaman. Jalanan basah memantulkan cahaya lampu kendaraan, sementara halte TransJakarta dipenuhi para pekerja yang memeluk tas dan jaket mereka erat-erat. Udara lembap, bau aspal dan kopi dari kios kecil bercampur menjadi aroma khas pagi kota.

Adrian berdiri di dekat pintu masuk halte dengan sebuah amplop biru di genggamannya.

Berbeda dari lima puluh dua surat sebelumnya, surat itu tidak dilipat kecil dan tidak akan diselipkan diam-diam ke dalam tas kanvas Elise.

Kali ini, ia akan menyerahkannya langsung.

Hari itu adalah hari terakhir Adrian berada di Jakarta. Sore nanti, ia akan terbang ke Melbourne untuk menerima tawaran kerja sebagai arsitek di sebuah perusahaan internasional. Kontraknya berlangsung tiga tahun, mungkin lebih lama jika semuanya berjalan baik.

Ia sudah menunda keputusan itu selama dua bulan hanya karena satu alasan yang bahkan tidak pernah benar-benar menjadi miliknya.

Elise.

Adrian menarik napas panjang ketika bus tiba. Jantungnya berdegup keras, seolah ia sedang berjalan menuju ruang sidang yang akan menentukan seluruh hidupnya.

Ia naik dan langsung melihat Elise duduk di tempat biasanya, di dekat jendela. Earphone putih menutupi telinganya. Tas kanvas yang sudah dikenalnya selama setahun terletak di pangkuan.

Hari itu Elise mengenakan blus krem dan celana hitam. Rambutnya yang biasanya tergerai kini diikat sederhana. Wajahnya terlihat pucat dan sedikit lelah, tetapi tetap menyimpan ketenangan yang selalu membuat Adrian kehilangan keberanian.

Adrian memilih duduk dua bangku di belakangnya.

Sepanjang perjalanan dari Jakarta Timur menuju Sudirman, ia terus menyentuh amplop di dalam saku jaket. Berkali-kali ia berlatih dalam hati.

Halo, saya Adrian. Sayalah yang menulis surat-surat itu.

Tidak, terlalu kaku.

Maaf kalau selama ini saya membuat Anda tidak nyaman.

Terlalu menyeramkan.

Saya akan pindah ke luar negeri hari ini. Saya hanya ingin memperkenalkan diri sebelum pergi.

Kalimat itu terdengar paling masuk akal, tetapi ketika bus mendekati halte tempat Elise biasa turun, telapak tangan Adrian tetap basah oleh keringat.

Elise berdiri.

Adrian ikut berdiri.

Bus mengerem mendadak. Beberapa penumpang hampir kehilangan keseimbangan. Adrian memegang tiang besi, lalu melangkah mendekati Elise.

“Permisi,” katanya.

Elise tidak bereaksi.

Adrian baru ingat earphone di telinganya. Ia mengangkat tangan dengan ragu, lalu menyentuh ringan ujung tali tas kanvas wanita itu.

Elise menoleh.

Tatapan mereka bertemu untuk pertama kalinya.

Adrian membeku.

Mata Elise berwarna cokelat gelap, tetapi tatapannya tampak kosong, seperti sedang berusaha mencari arah suara.

Adrian buru-buru menunjukkan amplop biru di tangannya.

“Maaf,” katanya lebih keras. “Saya Adrian. Saya orang yang selama ini menulis surat untuk Anda.”

Elise memandang bibir Adrian dengan saksama.

Kemudian ia melepaskan salah satu earphone.

“Apa?” tanyanya pelan.

Suaranya terdengar sedikit tidak jelas, tetapi lembut.

Adrian menelan ludah.

“Saya yang menulis surat biru setiap Jumat.”

Wajah Elise berubah.

Bukan terkejut seperti yang dibayangkan Adrian.

Bukan pula tersenyum malu.

Elise justru memucat. Tangannya mencengkeram tas kanvas begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

Pintu bus terbuka.

Beberapa penumpang mendesak keluar. Elise menoleh panik, lalu turun tanpa mengambil amplop yang disodorkan Adrian.

“Elise!”

Adrian mengejarnya keluar.

Wanita itu berjalan cepat menuju jembatan penyeberangan. Adrian menyusul dengan napas terburu-buru.

“Tunggu! Saya tidak bermaksud membuat Anda takut!”

Elise berhenti di dekat tangga.

Ia berbalik, lalu menatap Adrian dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

“Bagaimana kamu tahu nama saya?”

Pertanyaan itu membuat Adrian terdiam.

“Saya pernah melihat kartu identitas kantor Anda tergantung di tas,” jawabnya jujur. “Hanya sekilas. Saya tidak pernah mengikuti Anda atau mencari informasi lain.”

Elise masih terlihat tegang.

Adrian menjaga jarak beberapa langkah.

“Saya minta maaf kalau surat-surat itu membuat Anda tidak nyaman. Saya seharusnya bicara sejak awal. Hari ini saya akan pindah ke luar negeri. Saya hanya ingin memberikan surat terakhir dan memperkenalkan diri. Setelah itu, saya tidak akan mengganggu Anda lagi.”

Ia mengulurkan amplop biru.

Elise memandang amplop itu lama sekali.

Akhirnya, dengan tangan gemetar, ia menerimanya.

“Jadi selama ini benar-benar kamu?” tanyanya.

Adrian mengangguk.

Elise membuka amplop tersebut perlahan. Di dalamnya hanya ada satu lembar kertas.

Terima kasih karena tanpa sadar telah membuat perjalanan pagi saya selama setahun terasa lebih berarti. Hari ini saya pergi. Saya tidak berharap apa pun, tetapi saya ingin Anda tahu bahwa semua kalimat itu ditulis dengan tulus. Semoga di mana pun Anda berada, Anda selalu merasa cukup berharga untuk dicintai.

Di bagian bawah, Adrian menulis nomor telepon dan nama lengkapnya.

Elise membaca surat itu dua kali.

Air mata jatuh di pipinya.

Adrian panik.

“Maaf. Saya benar-benar tidak bermaksud membuat Anda menangis.”

Elise menggeleng cepat.

“Bukan begitu.”

Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menunjuk sebuah kedai kopi kecil di seberang halte.

“Kamu punya waktu?”

Adrian melihat jam tangannya. Masih ada lima jam sebelum keberangkatan pesawat.

“Ada.”

Mereka duduk di sudut kedai yang sepi. Adrian memesan dua cangkir teh hangat. Elise meletakkan earphone di atas meja.

Untuk pertama kalinya, Adrian melihat benda itu dari dekat. Earphone tersebut ternyata bukan earphone biasa. Ada alat kecil berwarna transparan menempel di belakang telinga Elise.

“Kamu memakai alat bantu dengar?” tanya Adrian hati-hati.

Elise mengangguk.

“Saya mengalami gangguan pendengaran sejak kecil. Telinga kanan saya hampir tidak berfungsi. Telinga kiri masih bisa menangkap suara, tetapi tidak sempurna.”

Adrian merasa malu karena selama ini ia mengira Elise selalu mendengarkan musik dan sengaja mengabaikan dunia.

“Maaf. Saya tidak tahu.”

“Tidak perlu minta maaf.”

Elise menyentuh amplop biru di meja.

“Yang harus kamu tahu, selama setahun ini saya tidak pernah membaca satu pun suratmu.”

Adrian menatapnya, yakin bahwa ia salah dengar.

“Apa?”

Elise mengeluarkan sebuah kotak kecil dari tas kanvasnya. Kotak itu dibungkus kain dan diikat dengan tali tipis.

Ketika dibuka, di dalamnya tersimpan puluhan kertas biru yang dilipat rapi.

Semua surat Adrian.

“Saya menemukan surat pertama saat pulang ke rumah,” kata Elise. “Awalnya saya takut. Saya pikir ada orang yang sedang mempermainkan saya. Saya tidak bisa membaca dengan lancar karena saya juga mengalami disleksia. Kalimat pendek pun kadang terlihat berantakan di mata saya, terutama kalau sedang lelah.”

Adrian terdiam.

“Tapi saya sering melihat Anda tersenyum saat membaca surat itu di bus.”

Elise tersenyum tipis.

“Itu bukan saya.”

Adrian mengerutkan kening.

Elise menarik ponselnya, membuka galeri, lalu menunjukkan foto seorang gadis muda berusia sekitar tujuh belas tahun. Wajah gadis itu sangat mirip dengan Elise, tetapi rambutnya pendek dan senyumnya jauh lebih cerah.

“Namanya Clara. Adik saya.”

Adrian menatap foto tersebut.

“Setiap Jumat malam, Clara membacakan suratmu untuk saya lewat panggilan video. Kadang-kadang, ketika dia kebetulan menginap di rumah saya dan ikut naik bus, dialah yang membaca surat itu di perjalanan. Mungkin kamu melihatnya dari belakang dan mengira dia saya.”

Adrian mencoba mengingat. Memang beberapa kali wanita yang membaca surat itu mengenakan hoodie dan duduk dengan kepala sedikit menunduk. Ia tidak pernah melihat wajahnya dengan jelas.

“Clara sangat menyukai surat-suratmu,” lanjut Elise. “Dia bilang orang yang menulisnya pasti sangat baik. Dia selalu menunggu hari Jumat. Kadang dia menebak-nebak siapa pengirimnya.”

“Lalu kenapa tadi kamu terlihat ketakutan ketika saya mengaku?”

Elise menunduk.

Jari-jarinya meremas ujung amplop.

“Karena Clara meninggal enam bulan lalu.”

Suasana di kedai seolah mendadak sunyi.

Adrian tidak mampu berkata-kata.

Elise menarik napas gemetar.

“Dia mengalami kecelakaan sepeda motor saat pulang dari sekolah. Sejak saat itu, tidak ada lagi yang membacakan surat-suratmu untuk saya.”

Adrian memandang kotak berisi kertas biru itu.

“Lalu surat-surat setelahnya?”

“Saya tetap menyimpannya.”

“Mengapa?”

Elise mengusap air matanya.

“Karena itu satu-satunya hal yang masih membuat saya merasa Clara akan menelepon lagi pada Jumat malam.”

Adrian menunduk, merasa bersalah meskipun tidak tahu untuk apa.

“Saya sangat menyesal.”

Elise menggeleng.

“Jangan. Surat-surat itu justru membantu saya bertahan.”

Ia mengeluarkan satu lembar kertas dari kotak. Kertas itu tampak lebih kusut dibanding yang lain.

“Ini surat yang kamu kirim seminggu setelah Clara meninggal.”

Adrian mengenali tulisannya.

Seberat apa pun hidupmu, semoga selalu ada seseorang yang membuat hatimu lebih ringan setiap hari.

“Saat itu saya benar-benar hancur,” kata Elise. “Saya berhenti bekerja selama dua minggu. Ketika kembali naik bus, saya menemukan surat ini. Saya tidak bisa membacanya sendiri. Jadi saya meminta seorang rekan kantor membacakannya.”

Suaranya pecah.

“Kalimat itu membuat saya menangis semalaman. Saya merasa seperti Clara sedang mengirim pesan terakhir melalui seseorang yang bahkan tidak saya kenal.”

Adrian tidak tahu harus berkata apa. Semua perasaan yang selama ini ia simpan mendadak terasa jauh lebih kecil dibanding duka yang dipikul Elise.

“Saya pikir saya sedang membuat Anda bahagia,” katanya lirih. “Ternyata saya hanya membuka luka.”

“Tidak,” jawab Elise cepat. “Kamu salah.”

Ia menatap Adrian untuk pertama kalinya tanpa rasa takut.

“Kamu tidak membuka luka. Kamu membuat saya berani melihatnya.”

Elise kemudian mengambil ponsel dan menunjukkan sebuah rekaman video.

Dalam video itu, Clara duduk di kamar sambil memegang salah satu surat biru.

“Kak, orang ini pasti menyukaimu,” katanya sambil tertawa. “Kalau suatu hari dia memperkenalkan diri, jangan langsung lari. Setidaknya traktir dia kopi.”

Adrian terpaku.

Video itu direkam tiga hari sebelum kecelakaan.

Elise menutup ponsel.

“Itulah sebabnya saya mengajakmu ke sini.”

Mereka terdiam cukup lama.

Di luar, kota tetap bergerak. Bus datang dan pergi. Orang-orang bergegas menyeberang. Tidak ada yang tahu bahwa di sudut kedai kecil itu, dua orang asing sedang menghubungkan potongan kehidupan yang selama ini tidak mereka pahami.

“Jadi,” kata Elise akhirnya, “kamu benar-benar akan pergi hari ini?”

Adrian mengangguk.

“Penerbangan saya pukul empat sore.”

“Berapa lama?”

“Tiga tahun.”

Elise menatap teh yang mulai dingin.

“Saya tidak pandai menulis pesan.”

“Saya juga tidak pandai berbicara langsung,” kata Adrian.

Elise tertawa kecil. Itu pertama kalinya Adrian mendengar tawanya.

“Tapi kamu menulis lima puluh tiga surat.”

“Karena kertas tidak bisa menolak saya.”

“Manusia juga belum tentu menolak.”

Adrian menatapnya, tidak yakin apakah ia boleh berharap.

Elise mengambil surat terakhir, lalu membalik kertasnya. Dari tasnya, ia mengeluarkan pulpen dan mulai menulis perlahan. Tangannya bergerak hati-hati, beberapa kali berhenti untuk memastikan huruf-hurufnya benar.

Setelah selesai, ia menyerahkan kertas itu kepada Adrian.

Tulisan Elise tidak rapi, tetapi dapat dibaca.

Jangan menghilang hanya karena kamu pergi jauh. Saya masih punya banyak surat yang belum dibacakan. Mungkin kamu bisa membacakannya sendiri, satu surat setiap Jumat.

Di bawah kalimat itu, Elise menulis nomor teleponnya.

Adrian menahan senyum yang hampir berubah menjadi tangis.

“Apakah ini berarti saya boleh menelepon?”

“Setiap Jumat,” jawab Elise.

“Hanya Jumat?”

“Kita lihat nanti.”

Adrian akhirnya berangkat ke Melbourne sore itu.

Selama tiga tahun berikutnya, setiap Jumat malam waktu Jakarta, ponsel Elise selalu berdering.

Adrian membacakan satu surat lama, lalu menceritakan kehidupannya di kota baru. Elise perlahan belajar membaca lebih lancar dengan bantuan terapi. Ia juga mulai bekerja sebagai ilustrator buku anak-anak, pekerjaan yang tidak terlalu bergantung pada kemampuan mendengar.

Hubungan mereka tumbuh bukan dari pertemuan sempurna, melainkan dari kesalahpahaman, kehilangan, dan keberanian untuk tetap membuka hati.

Tiga tahun kemudian, Adrian kembali ke Jakarta.

Pada Jumat pagi pertama setelah kepulangannya, ia naik bus yang sama.

Elise sudah duduk di dekat jendela.

Kali ini tidak ada earphone putih di telinganya. Di pangkuannya terletak sebuah tas kanvas baru dengan resleting tertutup rapat.

Adrian duduk di sebelahnya.

“Saya tidak bisa menyelipkan surat lagi,” katanya sambil menunjuk tas itu.

Elise tersenyum.

“Bagus. Sekarang kamu harus memberikannya langsung.”

Adrian mengeluarkan sebuah amplop biru.

Elise menerimanya, tetapi tidak segera membuka.

“Apa isinya?”

“Surat terakhir.”

Wajah Elise langsung berubah.

“Terakhir?”

Adrian mengangguk.

Elise membuka amplop dengan tangan gemetar.

Di dalamnya hanya ada satu kalimat.

Maukah kamu menjadi orang pertama yang membaca semua surat saya, bukan hanya setiap Jumat, tetapi sepanjang hidup kita?

Ketika Elise mengangkat wajah, Adrian sudah memegang sebuah cincin sederhana.

Air mata mengalir di pipinya.

Namun sebelum menjawab, Elise mengambil ponselnya dan membuka video lama Clara.

Suara gadis itu kembali terdengar.

“Kalau dia orang baik, jangan biarkan dia turun di halte berikutnya.”

Elise tersenyum melalui air mata.

Kemudian ia menatap Adrian dan berkata pelan, tetapi jelas.

“Kali ini, jangan pergi lagi.”

Bus terus melaju menembus kemacetan Jakarta.

Di luar jendela, ribuan orang menjalani pagi mereka tanpa mengetahui bahwa cinta terkadang tidak datang melalui kata-kata besar.

Kadang cinta hadir lewat selembar kertas kecil, sebuah perjalanan yang berulang, dan seseorang yang memilih untuk tetap menulis meskipun tidak pernah yakin apakah suratnya benar-benar dibaca.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang