Lalu pesan kedua masuk. Sebuah foto lampiran.
Aku menyipitkan mata, mencoba melihat gambar yang buram di bawah temaram lampu halte. Itu adalah foto sebuah koran lama Filipina, bertahun-tahun lalu, dengan tajuk utama yang nyaris pudar: “Tragedi di Altar: Gaun Pengantin Berdarah, Desainer Terkenal Menghilang.” Di bawahnya, ada foto hitam putih wajah seorang pria yang jauh lebih muda, namun garis rahang dan tatapan dingin itu tidak salah lagi.
Gabriel Reyes.
“Dia bukan mencari asisten,” ketik akun anonim itu lagi. “Dia mencari pengganti.”

Tubuhku seketika bergetar hebat. Angin malam Manila yang basah menusuk hingga ke tulang, tetapi rasa dingin di dadaku jauh lebih menyiksa. Siapa orang ini? Dan apa maksudnya dengan “pengganti”?
Sebelum aku sempat membalas, sebuah taksi berhenti di depanku. Aku segera masuk, membiarkan kehangatan AC mobil menghapus sisa hujan di kulitku, tetapi pikiranku tetap tertinggal di halte itu. Di satu sisi, ada Angela yang memperlakukanku seperti pelayan. Di sisi lain, ada Gabriel yang menawarkan jalan keluar, namun diselimuti misteri yang mengerikan.
Malam itu, aku tidak bisa tidur. Aku menatap kartu nama mewah bertekstur beludru milik Gabriel, lalu beralih ke ponselku. Angela mengirim pesan terakhirnya jam dua pagi: “Kalau besok kamu nggak datang ke gereja untuk gladi resik meja registrasi, kita putus hubungan.”
Aku tersenyum getir. Delapan tahun persahabatan dipertaruhkan hanya untuk sebuah meja registrasi.
Keesokan paginya, aku mengambil keputusan. Aku tidak pergi ke San Agustin Church. Aku naik kereta menuju Makati, melangkah membelah kawasan bisnis yang sibuk, hingga tiba di depan sebuah bangunan kolonial tua yang disulap menjadi studio modern berselimut kaca gelap. REYES Bridal Atelier.
Saat aku mendorong pintu kaca, lonceng berdenting pelan. Aroma kayu cendana dan kain premium langsung menyambutku. Di tengah ruangan yang luas, dikelilingi oleh manekin-manekin yang mengenakan gaun pengantin paling megah yang pernah kulihat, Gabriel sedang berdiri dengan pita ukur di lehernya.
Dia menoleh. Tidak ada senyuman, hanya anggukan kecil yang menandakan dia sudah menduga aku akan datang.
“Kamu tepat waktu, Toly,” katanya, suaranya menggema di ruangan yang sunyi. “Ganti bajumu dengan seragam di dalam. Klien pertama kita akan datang tiga puluh menit lagi.”
“Tunggu, Mr. Reyes,” panggilku, menahan langkahnya. Jantungku berdegup kencang saat aku merogoh ponselku dan menunjukkan pesan anonim itu. “Siapa Anda sebenarnya? Dan apa maksud dari pesan ini?”
Gabriel menatap layar ponselku. Matanya yang dingin tidak berkedip sedikit pun, tidak ada kilasan panik ataupun kemarahan. Dia justru menghela napas pendek, lalu berjalan ke arah sebuah lemari kaca di sudut ruangan. Dari dalam, dia mengeluarkan sebuah manekin yang ditutupi kain hitam.
Saat dia menyibakkan kain itu, aku terengah.
Itu adalah sebuah gaun pengantin mahakarya. Potongannya begitu sempurna, namun di bagian dada dan perutnya, ada sulaman benang merah tua yang menyerupai cipratan darah—sengaja dibuat untuk menutupi noda asli yang tampaknya sudah mengering dan menggelap di kain satinnya.
“Gadis di foto koran itu adalah tunanganku, Elena,” ujar Gabriel, suaranya terdengar begitu kosong. “Lima tahun lalu, dia dibunuh tepat di malam sebelum pernikahan kami. Di studio ini. Seseorang yang sangat terobsesi padanya merobek gaun ini… dan nyawanya.”
Aku mundur satu langkah, merinding. “Lalu kenapa akun ini bilang Anda mencari pengganti?”
Gabriel menatapku tajam. “Karena pembunuhnya tidak pernah tertangkap, Toly. Dan selama lima tahun ini, sang pembunuh terus mengawasiku. Dia mengirim pesan kepada setiap wanita yang mencoba bekerja denganku, mengancam mereka agar menjauh. Akun anonim yang menghubungimu… adalah orang yang membunuh tunanganku.”
Kata-katanya memukulku telak. Jadi, akun misterius itu bukan ingin menyelamatkanku, melainkan memperingatkanku karena aku mulai masuk ke dalam radar sang pembunuhnya.
“Aku tidak mencarimu untuk menjadi umpan,” lanjut Gabriel, melangkah mendekat hingga aku bisa mencium aroma parfum maskulinnya yang tajam. “Aku mencarimu karena bakatmu. Tetapi aku tidak akan memaksamu. Jika kamu keluar dari pintu itu sekarang, aku tidak akan menyalahkanmu.”
Aku berdiri di persimpangan jalan. Kembali ke hidupku yang biasa sebagai waitress yang tidak dihargai dan sahabat yang dimanfaatkan, atau tinggal di sini, menghadapi bahaya yang nyata demi sebuah kesempatan mengubah nasib.
Sebelum aku bisa menjawab, pintu depan atelier terbuka kasar.
Lonceng berdenting ricuh. Aku menoleh dan seketika membeku.
Angela berdiri di sana, wajahnya merah padam karena amarah, napasnya terengah-engah. Di belakangnya, tampak Nicole dan Jessa mengekor.
“Oh, jadi di sini kamu?!” pekik Angela, suaranya melengking memecah kesunyian atelier mewah itu. “Kamu mengabaikan teleponku, bolos gladi resik, cuma buat datang ke tempat desainer bangkrut ini?!”
Angela melangkah maju, matanya menyapu ruangan dengan jijik, sampai pandangannya jatuh pada gaun pengantin di samping Gabriel—gaun mahakarya bersulam merah yang baru saja dibuka kain penutupnya.
Seketika, ekspresi kemarahan di wajah Angela runtuh. Matanya melebar, dipenuhi ketamakan yang luar biasa. Dia mengabaikanku sepenuhnya dan langsung berlari mendekati gaun itu.
“Ya Tuhan… gaun apa ini? Ini jauh lebih indah dari dua puluh tiga gaun sampah yang kucoba kemarin!” Angela menoleh ke arah Gabriel dengan mata berbinar egois. “Heii, desainer! Aku mau gaun ini. Berapa pun harganya, tunanganku akan bayar. Aku harus memakai ini di San Agustin!”
Gabriel tidak bergerak. Dia hanya menatap Angela dengan pandangan menilai yang sangat dingin, lalu perlahan melirik ke arahku. Sebuah senyuman tipis—yang terasa misterius sekaligus berbahaya—muncul di sudut bibirnya.
“Gaun ini tidak dijual,” kata Gabriel tenang. “Kecuali…”
“Kecuali apa?! Aku calon pengantin, aku berhak mendapatkan yang terbaik!” potong Angela sombong.
Gabriel berjalan mendekat ke arahku, lalu meletakkan tangannya di bahuku, menegaskan posisiku di depan sahabatku yang selama ini memperlakukanku seperti sampah.
“Kecuali asisten baruku, Toly, yang mengizinkannya,” ucap Gabriel mantap. “Di studio ini, kata-katanya adalah hukum. Jika dia bilang kamu pantas memakainya, maka gaun ini milikmu.”
Angela terperangah, menatapku dengan tatapan tidak percaya sekaligus murka. Sementara itu, di dalam saku rokku, ponselku kembali bergetar. Sebuah pesan baru dari akun anonim itu masuk:
“Dia memilih gaun itu. Permainan dimulai lagi.”
Aku menatap Angela yang menanti jawabanku dengan wajah memohon yang dipaksakan, lalu beralih menatap Gabriel yang menungguku dengan tatapan penuh teka-teki. Detik itu juga aku tahu, hidupku yang tenang di Manila telah berakhir, dan aku baru saja melangkah masuk ke dalam jaringan rahasia yang jauh lebih mematikan.
