Malam itu, batas waktu yang kutakuti akhirnya tiba.
Suara raungan mesin mobil yang berat memecah keheningan malam di bawah jembatan. Itu bukan suara angkot atau truk sampah yang biasa lewat. Ini adalah deru mesin V8 yang halus, bertenaga, dan sangat asing bagi telinga orang-orang kumuh.

Sebuah mobil sedan hitam mewah berlogo elang emas—simbol keluarga Imperial—berhenti tepat di depan gubuk reyot kami. Lampu depannya yang terang benderang menembus celah-celah dinding bambu gubuk kami, membuat Maya, Luna, dan Tala terbangun seketika dengan mata berkedip ketakutan.
“Papa… ada apa?” bisik Maya, putri tertuaku, sambil memeluk erat kedua adiknya. Naluri dewasanya mulai menangkap atmosfer bahaya.
“Tetap di dalam. Jangan keluar apa pun yang terjadi,” kataku dengan suara rendah, namun penuh penekanan yang belum pernah mereka dengar sebelumnya.
Aku melangkah keluar. Saraf-saraf tubuhku yang sudah sepuluh tahun tertidur sebagai “Nestor si pemulung”, mendadak tegang dan kembali ke mode “Jenderal”. Kutatap pintu mobil mewah itu terbuka.
Sepasang sepatu kulit mengkilap melangkah turun ke atas tanah berlumpur. Pria itu bertubuh tegap, mengenakan setelan jas mahal, dan di belakangnya berdiri empat orang berbadan besar dengan tangan siaga di balik jas mereka. Aku mengenali pria di depan itu. Dia adalah Marco, tangan kanan Don Arturo yang baru.
Marco menatapku, lalu melihat sekeliling tempat kumuh itu dengan tatapan jijik, sebelum akhirnya seringai dingin terukir di wajahnya.
“Sepuluh tahun, Jenderal. Kami mengira Anda sudah jadi abu di dalam mobil yang terbakar itu,” ucap Marco, suaranya terdengar seperti desisan ular. “Tapi Don Arturo tidak pernah sepenuhnya percaya. Dan dia benar. Darah Imperial tidak bisa disembunyikan di dalam tumpukan sampah.”
“Kalian salah orang. Aku Nestor, kuli pasar,” jawabku datar, mencoba mempertahankan sandiwara demi melindungi anak-anak di dalam.
Marco tertawa terbahak-bahak. “Nestor? Jenderal terbaik di negeri ini berubah menjadi tikus got? Jangan menghina kecerdasan kami. Serahkan ketiga putri Lady Valeria sekarang juga. Don Arturo ingin memastikan bahwa silsilah keluarga Don Vicente benar-benar berakhir malam ini.”
Mendengar nama ibunya disebut, ketakutan di dadaku lenyap, digantikan oleh amarah yang membakar. Sepuluh tahun aku melembut karena kasih sayang anak-anak itu, tapi malam ini, mereka mengingatkanku mengapa aku pernah ditakuti.
“Jika kalian ingin menyentuh mereka,” kataku sambil melangkah maju, menghalangi pintu gubuk, “kalian harus melewati mayatku dulu.”
“Dengan senang hati,” sahut Marco dingin, seraya memberi isyarat kepada empat anak buahnya.
Malam Penebusan
Dua orang pria berbadan besar menerjang ke arahku. Di bawah temaram lampu jalan dan sorot lampu mobil, naluri bertarungku kembali bangkit.
- Pria pertama mengayunkan jotosan mentah ke arah wajahku. Aku merunduk, memanfaatkan postur tubuhku yang lebih rendah, lalu menghantam ulu hatinya dengan siku tangan kanan yang kapalan karena bertahun-tahun mengangkat karung pasar. Dia terhuyung, muntah darah.
- Pria kedua mencoba mencabut pisau dari pinggangnya, namun sebelum senjatanya keluar, aku mencengkeram pergelangan tangannya, memutarnya hingga terdengar bunyi krak yang renyah, dan merebut pisau tersebut.
Dalam hitungan detik, dua orang tumbang. Dua lainnya berniat mencabut senjata api mereka, namun aku bergerak lebih cepat. Pisau di tanganku melesat, menancap tepat di paha salah satu penyerang, membuatnya jatuh berlutut sambil menjerit.
“Cukup!” teriak sebuah suara dari dalam gubuk.
Aku menoleh dengan panik. Maya keluar dari gubuk, memegang sebuah besi berkarat dengan tangan bergetar, diikuti oleh Luna dan Tala yang menangis di belakangnya.
“Jangan sakiti Papa kami!” teriak Maya, matanya memancarkan keberanian yang luar biasa. Di usianya yang baru lima belas tahun, tatapan matanya begitu mirip dengan mendiang ibunya, Lady Valeria. Anggun, namun tak gentar.
Marco terpaku menatap Maya. Seringainya melebar. “Ah… genetik memang tidak pernah bohong. Dia sangat mirip dengan ibunya.” Marco kemudian perlahan mencabut pistol dari balik jasnya dan mengarahkannya tepat ke dada Maya. “Letakkan pisaumu, Jenderal. Atau malam ini pengasuhanmu berakhir dengan tragis.”
Aku membeku. Jarakku terlalu jauh untuk merebut pistol Marco. Keringat dingin mengalir di punggungku. Sepuluh tahun aku melindungi mereka dari maut, apakah semuanya harus berakhir mengenaskan di tanah berlumpur ini?
DOR!
Suara tembakan menggema membelah malam. Tapi bukan pistol Marco yang meletus.
Pembalikan Takdir
Marco terbelalak. Sebutir peluru menembus bahu kanannya, membuat pistolnya terlepas dan jatuh ke lumpur. Ia mengerang kesakitan sambil memegangi bahunya yang bersimbah darah.
Dari kegelapan di ujung jalan bawah jembatan, muncul tiga mobil SUV hitam lainnya. Mereka bergerak cepat, mengepung mobil mewah Marco. Puluhan pria bersenjata lengkap dengan seragam taktis keluar dan langsung menodongkan senjata ke arah sisa-sisa anak buah Marco.
Seorang pria tua berambut putih, namun berwajah tegas dan berwibawa, melangkah keluar dari salah satu SUV. Menggunakan tongkat berkepala perak, ia berjalan mendekat.
“D-Don… Don Vicente?” bisik Marco dengan wajah pucat pasi, seolah melihat hantu.
“Kau mengira aku sudah mati karena racun Arturo, hah?” suara tua itu menggelegar penuh wibawa. “Aku berhasil bertahan, Arturo mendekam di sel bawah tanah sejak tiga bulan lalu, dan aku menghabiskan sisa hidupku untuk mencari darah dagingku.”
Don Vicente mengalihkan pandangannya dariku, lalu menatap ketiga gadis kecil yang bersembunyi di belakangku. Air mata jatuh di pipi keriput sang penguasa tua. “Valeria… anak-anakmu…”
Don Vicente kemudian berlutut di atas tanah berlumpur—sebuah pemandangan yang tak pernah kubayangkan dari seorang pemimpin Imperial—dan menatap ketiga cucunya. “Maafkan kakek yang terlambat menemukan kalian.”
Maya, Luna, dan Tala kebingungan. Mereka menatapku, meminta penjelasan.
Aku menarik napas dalam-dalam, berlutut di depan mereka, dan menggenggam tangan mereka satu per satu. “Maya, Luna, Tala… Temui kakek kalian yang sebenarnya. Dialah alasan mengapa kalian memiliki darah yang begitu berharga.”
Awal yang Baru
Satu minggu setelah malam yang mencekam itu, kehidupan kami berubah total. Kami tidak lagi berada di gubuk bawah jembatan. Don Vicente memboyong kami ke sebuah rumah besar yang aman di pinggiran kota, jauh dari intrik berdarah pusat kekuasaan Imperial yang sedang dibersihkan.
Pagi itu, aku duduk di beranda, menikmati kopi hangat tanpa bau busuk sungai. Tanganku yang kapalan kini bersih, dan aku mengenakan pakaian yang layak.
“Papa!” panggil Tala, berlari menghampiriku dengan seragam sekolah barunya yang sangat bersih. Di belakangnya, Maya dan Luna berjalan sambil tersenyum.
“Kakek bilang kami bisa sekolah di tempat terbaik, tapi…” Maya ragu-ragu sejenak, lalu duduk di sampingku dan memeluk lenganku. “Kami tidak mau tinggal di sini kalau Papa tidak ikut. Bagi kami, Papa adalah satu-satunya ayah kami.”
Don Vicente berjalan keluar dari dalam rumah, mendengar ucapan cucunya. Ia menatapku dengan rasa hormat yang mendalam.
“Aku bisa memberikan mereka kekayaan, Jenderal. Tapi kau telah memberikan mereka jiwa, kasih sayang, dan kehidupan,” kata Don Vicente tulus. “Keluarga Imperial berutang budi padamu selamanya. Tetaplah di sini, bukan sebagai kepala keamanan, tapi sebagai bagian dari keluarga ini. Sebagai ayah mereka.”
Aku menatap ketiga putriku yang kini tersenyum bahagia tanpa ketakutan lagi. Masa lalu yang berdarah itu memang telah kembali menagihku, namun alih-alih mengambil nyawa kami, ia mengembalikan takdir yang sempat terenggut.
Kini, aku bukan lagi “Jenderal” yang haus darah, bukan lagi “Nestor” yang menyembunyikan ketakutan. Aku hanyalah seorang ayah yang berhasil menunaikan janjinya.
