Keesokan paginya aku bangun sebelum alarm berbunyi.
Selama beberapa detik, aku menatap langit-langit kamar dan tidak tahu sedang berada di mana. Lalu cahaya matahari Dubai menembus celah tirai, dan semuanya kembali sekaligus.
Perceraian.
Arman.
Citra.
Wawancara pukul sepuluh.

Aku berdiri di depan cermin dengan setelan krem sederhana yang kubeli tiga tahun lalu tetapi hampir tidak pernah kupakai. Rambutku kuikat rapi. Riasanku tipis. Saat memandang bayanganku sendiri, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun aku tidak melihat mantan istri Arman.
Aku melihat Laras Prameswari.
Perempuan yang pernah memiliki hidupnya sendiri.
Pukul sembilan lewat empat puluh menit aku sudah berada di Dubai International Financial Centre. Gedung-gedung kaca menjulang di bawah matahari yang menyilaukan. Para profesional berjalan cepat sambil membawa laptop dan berbicara dalam berbagai bahasa.
Tanganku dingin ketika menelepon Pak Chandra.
Beberapa menit kemudian seorang pria Indonesia berusia sekitar lima puluhan menghampiriku.
“Ibu Laras?”
Aku mengangguk.
Dia tersenyum dan menjabat tanganku.
“Direktur kami sudah menunggu.”
Kalimat itu justru membuat jantungku semakin berdebar.
Wawancara berlangsung hampir dua jam.
Aku diminta menerjemahkan dokumen investasi dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia, lalu menjelaskan beberapa istilah kontrak dalam bahasa Inggris. Awalnya suaraku sedikit bergetar. Namun setelah lima belas menit, sesuatu yang selama bertahun-tahun terkubur perlahan kembali.
Instingku.
Aku bahkan mulai menemukan kesalahan kecil dalam dokumen simulasi yang diberikan kepadaku.
“Angka di versi bahasa Inggris berbeda dengan versi Arab,” kataku.
Pria Emirat yang duduk di seberang meja mengangkat alis.
“Di mana?”
Aku menunjuk satu paragraf.
“Di sini tertulis dua belas persen, sementara naskah Arab menyebut sembilan belas persen. Kalau ini kontrak asli, perbedaannya cukup berbahaya.”
Ruangan mendadak hening.
Kemudian pria itu tersenyum.
“Bagus.”
Sore harinya, saat aku baru saja kembali ke hotel, Pak Chandra menelepon.
“Kami ingin menawarkan posisi senior liaison untuk pasar Asia Tenggara.”
Aku sampai harus memastikan bahwa aku tidak salah dengar.
“Senior?”
“Pengalaman Anda memang terputus cukup lama, tetapi kemampuan bahasa dan pemahaman bisnis Anda masih sangat kuat. Kami juga sudah memeriksa beberapa proyek penerjemahan lepas yang Anda cantumkan.”
Aku menutup mulut dengan tangan.
Gajinya hampir tiga kali lipat dari penghasilan terakhirku sebelum menikah.
Perusahaan menyediakan tunjangan tempat tinggal dan asuransi.
Aku berdiri di depan jendela kamar dengan tangan gemetar.
“Berapa lama saya boleh mempertimbangkannya?”
Pak Chandra tertawa kecil.
“Kalau Anda mau, sampai besok pagi.”
Aku tidak membutuhkan sampai besok.
“Saya terima.”
Malam itu aku menangis.
Bukan karena Arman.
Bukan karena pernikahanku gagal.
Aku menangis karena selama tujuh tahun aku percaya bahwa hidupku bergantung pada seorang laki-laki yang bahkan tidak lagi menghargai keberadaanku.
Padahal ternyata aku masih mampu berdiri sendiri.
Tiga bulan berlalu dengan cepat.
Aku pindah ke sebuah apartemen tidak jauh dari tempat kerja. Hari-hariku dipenuhi rapat, kontrak, penerjemahan, dan perjalanan singkat ke Abu Dhabi.
Aku mulai membeli pakaian bukan untuk membuat siapa pun terkesan, tetapi karena aku menyukainya.
Aku mulai berolahraga lagi.
Aku juga mulai tertawa tanpa merasa bersalah.
Arman hampir tidak pernah menghubungiku.
Sampai suatu malam pesan darinya muncul.
Aku dan Citra menikah bulan depan.
Aku membaca pesan itu dua kali.
Tidak ada rasa sakit seperti yang kubayangkan.
Hanya kehampaan kecil, seperti melihat foto rumah lama yang pernah kutinggali.
Aku mengetik singkat.
Selamat. Semoga bahagia.
Beberapa menit kemudian dia membalas.
Kalau kamu pulang ke Indonesia, kamu boleh datang.
Aku tersenyum tipis.
Arman selalu seperti itu. Bahkan ketika mengundangku ke pernikahannya sendiri, nada bicaranya masih seolah sedang memberiku kehormatan.
Aku tidak membalas.
Namun seminggu kemudian perusahaan mengumumkan bahwa aku harus mendampingi delegasi investor Uni Emirat Arab ke Jakarta.
Tanggal perjalanan itu hanya terpaut dua hari dari pernikahan Arman.
Aku sempat menganggapnya kebetulan yang lucu.
Sampai Pak Chandra memberikan daftar perusahaan Indonesia yang akan kami temui.
Nama perusahaan Arman ada di urutan ketiga.
Aku menatap kertas itu cukup lama.
“Kenapa, Bu Laras?”
“Tidak apa-apa.”
Aku menutup map.
Ternyata dunia memang lebih sempit daripada yang kita kira.
Aku tiba di Jakarta dua hari sebelum pernikahan.
Pertemuan dengan perusahaan Arman dijadwalkan sehari setelah acara, jadi aku tidak memberi tahu siapa pun bahwa aku berada di Indonesia.
Tetapi ibuku mengetahui kabar kepulanganku dan memaksaku datang ke pernikahan.
“Bukan untuk Arman,” katanya melalui telepon. “Datanglah supaya kamu sendiri tahu bahwa masa lalu itu benar-benar selesai.”
Aku akhirnya setuju.
Resort di Lembang ternyata persis seperti yang pernah kudengar malam itu dari balik pintu kamar mandi.
Taman bunga bernuansa ungu.
Lampu-lampu kecil tergantung di pepohonan.
Citra mengenakan gaun putih elegan. Arman memakai setelan hitam yang dibuat khusus.
Mereka tampak serasi.
Ketika aku memasuki area resepsi, beberapa orang langsung mengenaliku.
Bisikan terdengar di berbagai sudut.
“Itu Laras, kan?”
“Mantan istrinya?”
“Dia benar-benar datang?”
Aku tidak peduli.
Aku mengenakan gaun biru tua sederhana. Rambutku tergerai. Tidak ada perhiasan mencolok selain sepasang anting kecil yang kubeli dengan gaji pertamaku di Dubai.
Arman melihatku dari kejauhan.
Wajahnya berubah sesaat.
Kemudian dia menghampiri.
“Kamu datang juga.”
“Aku kebetulan sedang di Indonesia.”
Matanya mengamati penampilanku.
“Kamu kelihatan berbeda.”
Aku tersenyum.
“Mungkin.”
Citra muncul di sampingnya dan menggandeng lengan Arman.
“Laras.”
Nada suaranya ramah, tetapi matanya tidak.
“Terima kasih sudah datang. Aku sempat takut kamu merasa tidak nyaman.”
“Aku baik-baik saja.”
Dia tersenyum lebih lebar.
“Syukurlah. Arman cerita kamu sekarang kerja lagi.”
“Benar.”
“Penerjemah?”
Ada sesuatu dalam caranya mengucapkan kata itu yang membuat pekerjaan tersebut terdengar seperti pekerjaan kecil.
Aku hanya mengangguk.
“Kurang lebih.”
Arman tiba-tiba berkata, “Laras memang pintar bahasa Arab dari dulu. Tapi dunia bisnis sekarang jauh lebih kompleks daripada waktu dia masih kerja.”
Aku hampir tertawa.
Tujuh tahun lalu aku mungkin akan merasa dipermalukan.
Sekarang kalimat itu terdengar lucu.
“Aku setuju,” jawabku. “Dunia bisnis memang berubah cepat.”
Aku meninggalkan mereka untuk mengambil minuman.
Acara berjalan mewah. Para tamu berasal dari kalangan pengusaha, pejabat perusahaan, dan relasi bisnis Arman.
Sekitar pukul delapan malam, seorang pria berusia enam puluhan memasuki ruangan bersama dua orang lainnya.
Aku langsung mengenalinya.
Pak Surya Mahendra.
Komisaris salah satu grup investasi terbesar di Indonesia dan mitra lokal yang besok akan mendampingi delegasi perusahaan kami.
Aku mencoba menghindarinya karena malam itu aku datang sebagai tamu pribadi.
Namun dia lebih dulu melihatku.
“Bu Laras!”
Suaranya cukup keras hingga beberapa orang menoleh.
Dia berjalan cepat menghampiriku.
Aku menjabat tangannya.
“Pak Surya.”
“Kenapa tidak bilang Ibu juga hadir di sini?”
Arman yang sedang berbicara dengan beberapa tamu langsung menoleh.
Pak Surya tersenyum lebar.
“Saya baru saja menerima jadwal besok. Delegasi Dubai akhirnya menunjuk Ibu sebagai kepala liaison mereka, ya?”
Ruangan di sekitar kami mendadak terasa lebih sunyi.
Arman berjalan mendekat.
“Pak Surya kenal Laras?”
Pak Surya terlihat heran.
“Kenal? Tentu. Bu Laras yang menangani negosiasi regional mereka.”
Lalu dia tertawa kecil.
“Justru perusahaan Anda yang harus membuat kesan bagus di depan beliau besok.”
Aku melihat wajah Arman.
Senyumnya membeku.
Citra yang berdiri di sebelahnya ikut terdiam.
Pak Surya belum menyadari apa pun.
Dia melanjutkan, “Investor dari Dubai itu sedang menyiapkan ekspansi besar ke Indonesia. Nilainya ratusan miliar. Bu Laras salah satu orang yang memberikan evaluasi awal terhadap calon mitra lokal.”
Kalimat terakhir itu jatuh seperti batu.
Arman menatapku seolah baru pertama kali melihat siapa aku sebenarnya.
“Kamu… bekerja untuk mereka?”
Aku mengangguk.
“Sudah beberapa bulan.”
“Kenapa kamu tidak pernah bilang?”
Aku hampir tidak percaya mendengar pertanyaannya.
“Kita sudah bercerai, Man.”
Citra menggenggam lengan suaminya lebih erat.
Untuk pertama kalinya malam itu, senyumnya benar-benar hilang.
Aku tidak ingin membuat keributan di pernikahan mereka, jadi aku mengucapkan selamat sekali lagi dan pulang lebih awal.
Namun keesokan harinya situasinya menjadi jauh lebih rumit.
Arman datang ke ruang rapat bersama Citra.
Begitu melihatku duduk di samping direktur investasi dari Dubai, langkahnya terhenti.
Aku tetap profesional.
Presentasi berlangsung hampir satu jam.
Perusahaan Arman menawarkan proyek logistik yang cukup ambisius. Angka pertumbuhan terlihat menarik.
Sampai aku membuka dokumen tambahan.
Ada sesuatu yang terasa familiar.
Salah satu laporan transaksi menggunakan nama perusahaan pemasok yang pernah kulihat bertahun-tahun lalu.
Perusahaan itu milik saudara Citra.
Aku memeriksa angka-angkanya.
Beberapa biaya terlihat jauh lebih tinggi daripada harga pasar.
Aku tidak langsung menuduh.
Aku hanya bertanya.
“Pak Arman, bisa dijelaskan hubungan perusahaan Anda dengan PT Cakrawala Niaga?”
Wajah Citra langsung pucat.
Arman terdiam.
“Vendor biasa.”
“Direkturnya saudara kandung Bu Citra, benar?”
Ruangan menjadi senyap.
Direktur investasi kami menoleh kepada Arman.
Setelah itu semuanya terbuka perlahan.
Tim audit melakukan pemeriksaan tambahan.
Ternyata selama hampir dua tahun, beberapa proyek perusahaan Arman dialihkan kepada perusahaan milik keluarga Citra dengan harga yang dinaikkan.
Aku baru memahami alasan Citra begitu aktif mendekati Arman sejak masih menjadi sekretarisnya.
Dia tidak hanya menginginkan Arman.
Keluarganya membutuhkan akses ke perusahaannya.
Investasi akhirnya dibatalkan.
Tiga bulan kemudian aku mendengar Arman kehilangan dua mitra besar. Dewan direksi memaksanya mundur dari posisi direktur utama sementara audit internal berlangsung.
Citra meninggalkannya tidak sampai setahun setelah pernikahan.
Ironisnya, kabar itu bukan datang dari Arman.
Pak Chandra yang memberitahuku sambil minum kopi di Dubai.
“Tidak penasaran?”
Aku memandang pemandangan kota dari jendela kantor.
“Sedikit.”
“Tidak ingin menelepon mantan suami?”
Aku menggeleng.
“Apa gunanya?”
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah hampir setahun, Arman benar-benar menelepon.
Aku mengangkatnya.
Suara di seberang terdengar lelah.
“Laras.”
“Ya?”
Dia terdiam cukup lama.
“Aku salah.”
Aku tidak menjawab.
“Aku pikir Citra adalah perempuan yang kubutuhkan. Aku pikir kamu terlalu sederhana, terlalu diam, terlalu bergantung padaku.”
Dia tertawa hambar.
“Ternyata aku bahkan tidak pernah benar-benar mengenalmu.”
Aku berdiri di balkon apartemen. Angin malam Dubai menyentuh wajahku.
“Aku juga dulu tidak mengenal diriku sendiri, Man.”
“Kalau waktu bisa diulang…”
“Jangan.”
Dia terdiam.
“Aku tidak membencimu,” kataku. “Tapi aku juga tidak ingin kembali.”
“Kenapa?”
Pertanyaan itu membuatku tersenyum.
Dulu aku mungkin akan menjelaskan panjang lebar tentang perselingkuhan, kesepian, keguguran yang kuhadapi hampir sendirian, atau tujuh tahun ketika aku perlahan kehilangan harga diri.
Sekarang aku hanya mengatakan satu kalimat.
“Karena hidupku akhirnya menjadi milikku lagi.”
Aku menutup telepon.
Beberapa bulan kemudian, perusahaan mempromosikanku menjadi direktur hubungan regional Asia Tenggara.
Pada hari penandatanganan kontrak baru, aku menerima sebuah paket dari Jakarta.
Di dalamnya terdapat jas lama milik Arman.
Jas yang pernah dia sampirkan ke bahuku di atas yacht tujuh tahun lalu.
Ada secarik kertas.
Aku menemukan ini saat pindahan. Seharusnya dari dulu menjadi milikmu.
Aku memegang jas itu cukup lama.
Lalu aku tertawa kecil.
Ternyata Arman masih belum memahami satu hal.
Aku tidak pernah membutuhkan jas itu.
Yang kurindukan selama bertahun-tahun bukanlah laki-laki yang pernah memberikannya.
Aku merindukan perempuan yang mengenakannya malam itu.
Perempuan muda yang berdiri di atas yacht di Dubai dengan rambut diterpa angin, menerjemahkan percakapan bisnis tanpa takut salah, memiliki pekerjaan yang dicintainya, dan percaya bahwa masa depan terbentang luas di hadapannya.
Aku melipat jas itu dan memasukkannya kembali ke kotak.
Kemudian aku berjalan menuju jendela.
Dubai berkilau di bawah langit malam.
Tujuh tahun lalu, aku meninggalkan kota ini karena mengira cinta adalah alasan yang cukup untuk melepaskan kehidupan yang telah kubangun.
Sekarang aku kembali tanpa suami, tanpa rumah tangga, dan tanpa janji siapa pun.
Anehnya, aku tidak pernah merasa lebih utuh.
Aku akhirnya memahami bahwa perceraian bukanlah hari ketika Arman meninggalkanku demi perempuan lain.
Perceraian sesungguhnya terjadi jauh sebelumnya, ketika aku perlahan meninggalkan diriku sendiri demi mempertahankan seseorang yang sudah berhenti memilihku.
Dan kebebasanku tidak dimulai ketika hakim mengesahkan perpisahan kami.
Kebebasanku dimulai pada pagi ketika aku berdiri di depan cermin di Dubai, mengenakan setelan krem sederhana, lalu memutuskan bahwa perempuan di dalam cermin itu masih pantas memiliki masa depan.
Kali ini, aku tidak akan meninggalkannya lagi.
