Ponsel Dominic jatuh ke lantai, membentur kaki ranjang sebelum layar yang retak berhenti tepat di samping sepatu Paige.
Untuk beberapa detik, tak seorang pun bergerak.
Paige yang masih memegang gelas sampanye menatap Dominic dengan bingung. “Apa maksud dokter itu?”
Dominic tidak menjawab. Wajahnya pucat. Matanya hanya terpaku pada pesan terakhir dariku.
Nikmatilah keluarga yang sudah kau pilih.

“Dominic?”
“Audrey hamil.”
Paige perlahan menurunkan gelasnya.
Dominic menelan ludah. “Delapan minggu. Dia kehilangan bayinya.”
Suasana kamar mendadak terasa sesak.
Lalu kalimat kedua dokter itu menghantamnya lebih keras.
Mandul.
Sebulan sebelumnya, Dominic diam-diam menjalani pemeriksaan karena Victoria terus mendesaknya segera memberinya cucu. Ia tidak pernah memberitahuku. Baginya, pemeriksaan itu hanya formalitas karena Victoria selalu yakin jika kami belum memiliki anak, masalahnya pasti ada padaku.
Dominic meraih ponselnya dan meneleponku.
Nomorku sudah tidak aktif.
Ia menelepon rumah sakit.
Aku sudah pergi.
Ia menghubungi semua orang yang mengenalku, tetapi tidak ada seorang pun tahu ke mana aku pergi.
Sementara itu, aku sedang duduk di kursi belakang sebuah mobil hitam yang melaju meninggalkan rumah sakit menuju apartemen milik ayahku di Jakarta Selatan yang selama bertahun-tahun sengaja kubiarkan kosong.
Sophia duduk di sampingku.
“Kau tidak perlu melihat ke belakang,” katanya.
Aku memandang lampu kota di balik kaca.
“Aku bukan sedang melihat ke belakang.”
“Lalu?”
“Aku sedang mengingat semua hal yang tidak akan pernah kubiarkan terjadi lagi.”
Keesokan paginya, Dominic pulang dan menemukan Victoria sedang sarapan seolah tidak terjadi apa-apa.
“Kenapa Ibu mendorong Audrey?”
Sendok di tangan Victoria berhenti.
“Apa?”
“Jangan bohong.”
Victoria menghela napas. “Dia kurang ajar. Ibu hanya menyentuh bahunya. Dia sendiri yang kehilangan keseimbangan.”
“Dia hamil.”
Wajah Victoria berubah.
“Hamil?”
“Delapan minggu.”
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Victoria tidak memiliki jawaban.
Dominic menghantam meja.
“Anak itu anakku!”
Victoria berdiri. “Jangan menyalahkan Ibu. Kalau istrimu tidak begitu dramatis…”
“Dia kehilangan anak kita!”
Suara Dominic mengguncang ruang makan.
Namun Victoria tiba-tiba menatapnya tajam.
“Bagaimana kau tahu itu anakmu?”
Pertanyaan itu membuat Dominic terdiam.
Victoria memang kejam, tetapi bukan bodoh.
“Apa maksud Ibu?”
“Kalau dokter bilang kau mandul, bagaimana Audrey bisa hamil?”
Keraguan muncul di wajah Dominic.
Dan seperti biasa, ketika dihadapkan pada pilihan antara mempercayaiku atau mempercayai prasangkanya sendiri, Dominic memilih yang kedua.
Sore itu ia datang ke rumah sakit dan menuntut bertemu Dr. Reed.
“Dia berselingkuh, kan?”
Dr. Reed menatapnya tanpa ekspresi.
“Saya dokter, bukan konsultan pernikahan Anda.”
“Saya mandul. Audrey hamil. Jelaskan.”
Dokter membuka berkas pemeriksaannya.
“Mandul bukan berarti Anda tidak pernah menghasilkan satu pun sel sperma sepanjang hidup. Kondisi Anda mengalami penurunan progresif. Berdasarkan pemeriksaan lama yang Anda berikan dan hasil laboratorium terbaru, kemungkinan besar Anda masih memiliki tingkat fertilitas sangat rendah beberapa bulan lalu.”
Dominic membeku.
“Jadi…”
“Kehamilan istri Anda sepenuhnya mungkin berasal dari Anda.”
Dr. Reed menutup berkas.
“Dan sebelum Anda menuduh seorang perempuan yang baru kehilangan kandungan karena jatuh dari tangga, mungkin Anda sebaiknya bertanya mengapa dia berada sendirian di rumah sakit sementara Anda bahkan tidak tahu dia terluka.”
Dominic keluar tanpa berkata apa-apa.
Ketika pulang, Paige sudah pergi.
Yang tersisa hanyalah selembar catatan di meja.
Aku tidak mau terlibat dalam kekacauan keluargamu.
Ironisnya, tiga hari sebelumnya Paige masih mengatakan ingin membangun masa depan bersamanya.
Namun kehancuran Dominic baru dimulai.
Senin pagi, ketika ia tiba di kantor pusat perusahaan konstruksinya, kartu aksesnya tidak berfungsi.
“Ada masalah dengan sistem,” katanya kepada petugas keamanan.
Pria itu tampak gugup.
“Maaf, Pak. Akses Anda dinonaktifkan oleh dewan direksi.”
“Apa?”
Di lantai dua puluh, enam anggota dewan sudah menunggu.
Sophia duduk di ujung meja.
Dominic masuk dengan wajah merah.
“Kenapa pengacara Audrey ada di sini?”
Sophia mendorong sebuah dokumen ke arahnya.
“Karena klien saya adalah pemilik mayoritas perusahaan ini.”
Dominic tertawa.
“Audrey?”
Tidak ada yang ikut tertawa.
Sophia membuka dokumen berikutnya.
“Dua tahun lalu, Sterling Meridian Holdings menyuntikkan modal untuk menyelamatkan perusahaan ini dari kebangkrutan. Setelah restrukturisasi utang dan beberapa putaran pembelian saham, perusahaan tersebut memiliki enam puluh dua persen kepemilikan.”
“Aku tahu itu. Investor anonim.”
“Pemilik tunggal Sterling Meridian Holdings adalah Audrey.”
Dominic berdiri begitu cepat hingga kursinya jatuh.
“Itu tidak mungkin.”
Sophia hanya menatapnya.
“Rumah yang Anda tempati juga dimiliki Sterling Meridian. Dua kendaraan yang Anda gunakan merupakan aset perusahaan. Kartu korporat Anda telah dibekukan. Dewan juga telah memilih untuk memberhentikan Anda sementara dari posisi direktur utama sambil menunggu audit.”
Dominic kehilangan kata-kata.
Selama bertahun-tahun ia mengira akulah orang yang hidup dari uangnya.
Ternyata hampir seluruh kehidupan yang dibanggakannya berdiri di atas uangku.
Namun pukulan terbesar datang ketika audit dimulai.
Tim keuangan menemukan transaksi mencurigakan senilai jutaan dolar yang ditandatangani Victoria menggunakan otorisasi Dominic.
Uang perusahaan dialihkan ke beberapa perusahaan pemasok yang ternyata dimiliki kerabat Victoria.
Dominic bersumpah tidak mengetahui apa pun.
Sayangnya, hampir semua dokumen menggunakan tanda tangannya.
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak aku meninggalkan rumah sakit, Dominic berhasil menghubungiku melalui nomor Sophia.
“Audrey.”
Aku diam.
Suara napasnya terdengar berat.
“Aku tidak tahu kau hamil.”
“Aku juga baru tahu ketika anak kita sudah tidak ada.”
Kalimat itu membuatnya terdiam.
“Aku minta maaf.”
“Untuk yang mana?”
“Apa?”
“Untuk tidur dengan Paige? Membiarkan ibumu menghinaku? Tidak datang ke rumah sakit? Atau karena kau baru menyesal setelah tahu semua yang kau banggakan ternyata milikku?”
“Audrey, aku mencintaimu.”
Aku hampir tertawa.
“Aku pernah menunggu bertahun-tahun untuk mendengar kalimat itu.”
“Pulanglah.”
“Pulang ke mana?”
“Ke rumah kita.”
“Rumah itu milikku, Dominic.”
Ia kembali terdiam.
Aku menarik napas.
“Aku tidak mengambil perusahaanmu sebagai balas dendam. Aku hanya berhenti menyelamatkannya.”
“Aku bisa berubah.”
“Mungkin. Tapi bukan lagi untukku.”
Aku memutus sambungan.
Seminggu kemudian, Victoria ditangkap atas dugaan penggelapan dan pemalsuan dokumen perusahaan.
Dominic tidak ikut ditahan, tetapi reputasinya hancur. Dewan secara resmi mencopotnya setelah ditemukan bukti bahwa kelalaiannya memungkinkan Victoria menggunakan perusahaan seperti rekening pribadi.
Paige pun memberikan kejutan terakhir.
Ia menghubungi Dominic dan mengaku sedang hamil.
Dominic yang putus asa langsung menemuinya.
“Aku akan bertanggung jawab.”
Paige justru menatapnya aneh.
“Aku tidak pernah bilang bayi ini anakmu.”
Dominic membeku.
Paige kemudian mengaku telah menjalin hubungan dengan pria lain bahkan sebelum mendekati Dominic. Ia hanya memilih Dominic karena mengira ia kaya.
Ketika mengetahui Dominic kehilangan jabatan dan akses terhadap kekayaannya, Paige tidak punya alasan lagi untuk berpura-pura.
Dalam waktu kurang dari sebulan, Dominic kehilangan istri, anak yang tidak pernah sempat ia kenal, kekasih, perusahaan, rumah, dan keyakinannya bahwa semua orang berada di sisinya karena mencintainya.
Aku sendiri tidak merasa menang.
Tidak ada kemenangan dalam kehilangan anak.
Aku menghabiskan beberapa bulan berikutnya jauh dari Jakarta, menjalani terapi dan belajar hidup tanpa terus mempertanyakan mengapa seseorang yang kucintai mampu memperlakukanku begitu buruk.
Enam bulan kemudian aku kembali.
Perusahaan telah stabil. Para karyawan yang hampir kehilangan pekerjaan akibat penyelewengan Victoria tetap mendapat pekerjaan mereka. Aku menunjuk seorang profesional sebagai direktur utama dan memilih tetap berada di dewan.
Aku tidak membutuhkan nama besar di pintu kantor.
Aku hanya ingin sesuatu yang diwariskan ayahku dipakai untuk membangun, bukan menghancurkan.
Suatu sore, ketika keluar dari gedung, aku melihat Dominic menunggu di seberang jalan.
Ia tampak berbeda.
Tidak ada jas mahal.
Tidak ada mobil mewah.
Hanya kemeja sederhana dan wajah seseorang yang akhirnya belajar bahwa penyesalan tidak selalu mendapatkan kesempatan kedua.
“Aku cuma ingin memberikan ini.”
Ia menyerahkan sebuah kotak kecil.
Di dalamnya ada kalung mungil berbentuk bintang.
“Aku membelinya setelah tahu tentang bayi kita.”
Aku memegang kalung itu.
“Dokter bilang kalau kehamilannya bertahan, perkiraan lahirnya bulan ini.”
Aku menatapnya.
Mata Dominic berkaca-kaca.
“Aku memikirkan dia setiap hari.”
“Aku juga.”
“Aku tidak meminta kau memaafkanku.”
“Bagus.”
Ia tersenyum getir.
“Aku hanya ingin kau tahu satu hal. Hari itu aku kehilangan keluarga bukan karena kau pergi. Aku sudah kehilangan kalian jauh sebelumnya, ketika aku memilih tidak membelamu.”
Untuk pertama kalinya, Dominic akhirnya memahami semuanya.
Aku menggenggam kotak kecil itu.
Lalu berjalan pergi.
Setahun kemudian, perceraian kami resmi selesai.
Victoria dijatuhi hukuman penjara setelah bukti penggelapan dan rekaman kamera keamanan rumah membuktikan bahwa ia memang sengaja mendorongku dari tangga.
Namun ada satu hal yang tidak pernah kuberitahukan kepada Dominic.
Beberapa minggu sebelum sidang terakhir, Dr. Reed menghubungiku.
Ada kekeliruan administratif dalam hasil pemeriksaan genetik jaringan kehamilanku yang sebelumnya belum selesai dianalisis.
Ia bertanya apakah aku ingin mengetahui jenis kelamin bayi yang hilang.
Aku hampir mengatakan tidak.
Namun akhirnya aku datang.
Dr. Reed menyerahkan sebuah amplop.
“Perempuan,” katanya lembut.
Aku menangis untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan.
Bukan karena Dominic.
Bukan karena Victoria.
Aku menangis untuk seorang anak perempuan kecil yang hanya hidup delapan minggu di dalam tubuhku tetapi telah mengubah seluruh hidupku.
Aku menamainya Grace.
Tiga tahun kemudian, aku mendirikan sebuah yayasan dengan nama itu untuk membantu perempuan korban kekerasan dalam rumah tangga mendapatkan pendampingan hukum, tempat tinggal sementara, dan dukungan psikologis.
Pada hari peresmian pusat pertamanya di Jakarta, Sophia berdiri di sampingku sambil memandangi papan nama di depan gedung.
“Kalau ayahmu masih hidup, dia pasti bangga.”
Aku tersenyum.
“Aku berharap Grace juga.”
Sophia menggenggam tanganku.
Saat itulah aku memahami sesuatu yang dulu tidak pernah kupahami ketika masih menjadi istri Dominic.
Keluarga bukanlah orang-orang yang memiliki nama belakang yang sama.
Bukan rumah besar.
Bukan rekening bersama.
Bukan pula janji yang diucapkan di depan altar lalu dilupakan ketika pintu rumah tertutup.
Keluarga adalah orang-orang yang membuatmu merasa aman ketika kau tidak punya apa pun untuk diberikan.
Aku pernah menyembunyikan delapan puluh juta dolar untuk mencari tahu apakah seseorang bisa mencintaiku tanpa mengetahui bahwa aku kaya.
Ternyata aku mengajukan pertanyaan yang salah.
Yang seharusnya kutanyakan sejak awal bukan apakah Dominic bisa mencintaiku ketika aku tidak memiliki apa-apa.
Melainkan apakah aku masih mampu mencintai diriku sendiri ketika orang yang kupilih terus membuatku merasa tidak berharga.
Aku meninggalkan rumah itu dengan tubuh terluka, sebuah pernikahan yang hancur, dan seorang anak yang tidak sempat kugendong.
Namun aku tidak pergi dengan tangan kosong.
Aku membawa kembali satu hal yang selama bertahun-tahun telah kuberikan kepada orang lain.
Diriku sendiri.
Dan akhirnya aku mengerti arti sebenarnya dari pesan terakhir yang kukirim kepada Dominic malam itu.
Nikmatilah keluarga yang sudah kau pilih.
Karena untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku juga memilih keluargaku.
Aku memilih diriku sendiri.
