Setelah Kecelakaan Mobil Parah, Aku Lebih Memilih Menyeret Tubuh Penuh Darah Hampir Satu Kilometer Mencari Orang untuk Menolongku daripada Menelepon Suamiku, Seorang Mayor Jenderal yang Selalu Sulit Dihubungi.

Hujan deras mengguyur jalanan Surabaya ketika mobil yang kukendarai menghantam pembatas jalan. Benturan keras membuat tubuhku terlempar ke samping, sementara kaca depan retak dan darah mengalir dari dahiku. Aku mencoba meraih ponsel yang terjatuh di bawah kursi, tetapi tanganku gemetar hebat.

Nama suamiku, Arjuna, muncul di layar.

Selama tujuh tahun menikah, aku selalu percaya bahwa suatu hari nanti dia akan mengangkat teleponku ketika aku benar-benar membutuhkannya. Namun, malam itu, saat aku hampir tidak mampu bergerak, aku justru menghapus nomornya dari daftar panggilan.

Aku tahu jawabannya bahkan sebelum menelepon.

Sedang bertugas. Jangan ganggu.

Dengan sisa tenaga, aku membuka pintu mobil dan merangkak keluar. Jalanan sepi, hujan semakin deras, dan tak ada kendaraan yang berhenti. Aku menyeret tubuhku di sepanjang jalan, berusaha mencapai sebuah warung yang kulihat samar-samar hampir satu kilometer dari tempat kecelakaan.

Setiap meter terasa seperti perjuangan panjang. Aku tidak tahu apakah akan berhasil sampai ke sana. Namun, satu hal sudah kupastikan. Aku tidak akan memohon pertolongan kepada suamiku lagi.

Tujuh tahun sebelumnya, aku adalah seorang insinyur yang memiliki karier menjanjikan. Aku meninggalkan pekerjaanku setelah Arjuna, seorang mayor jenderal yang selalu sibuk dengan tugas khusus, memintaku mengurus rumah tangga.

Aku mencintainya dan percaya bahwa pengorbanan itu akan membuat pernikahan kami semakin kuat.

Kenyataannya berbeda.

Ribuan pesanku tidak pernah dijawab. Ketika kendaraanku mogok di tengah malam, dia menyuruhku mencari taksi. Ketika aku demam tinggi, dia mengatakan bahwa aku seharusnya bisa mengurus diri sendiri. Bahkan ketika aku kehilangan bayi kami di rumah sakit, dia tetap tidak datang.

Hari itu, aku meneleponnya tiga kali.

Tiga kali pula panggilanku ditolak.

Pesan otomatis yang masuk berbunyi, sedang latihan, jangan ganggu.

Namun, beberapa menit kemudian, aku melihat unggahan media sosialnya. Dia berdiri di tepi pantai, memeluk Dewi, adik angkat keluarganya. Jaket militernya menutupi bahu perempuan itu, sementara keterangannya berbunyi bahwa Dewi selalu merasa aman ketika berada di dekatnya.

Aku menatap foto tersebut lama sekali.

Ternyata dia bisa meluangkan waktu untuk melindungi seseorang. Hanya saja, orang itu bukan aku.

Aku memblokir nomornya.

Setelah berhasil keluar dari rumah sakit, aku pulang dan mendapati Dewi mengenakan kemeja Arjuna serta sandal rumahku. Perempuan itu menyambutku dengan senyum manis, seolah-olah dialah pemilik rumah tersebut.

Arjuna bahkan menegurku karena tidak pulang selama dua hari.

Ketika kuberitahu bahwa aku baru menjalani tindakan medis setelah kehilangan bayi kami, dia hanya mengerutkan kening.

Sakit apa lagi?

Dua kata itu mengakhiri sesuatu di dalam diriku.

Aku tidak menangis. Aku tidak berteriak. Aku hanya menyadari bahwa selama ini aku mempertahankan pernikahan yang bahkan tidak diperjuangkan oleh suamiku sendiri.

Malam itu, aku memutuskan kembali bekerja sebagai insinyur di sebuah proyek energi di Surabaya. Aku juga menghubungi pengacara untuk menyiapkan perceraian.

Namun, sebelum aku sempat berangkat, pengacaraku, Pak Setyo, mengirimkan dokumen yang mengubah segalanya.

Ada transaksi mencurigakan dari rekening bersama kami. Selama hampir dua tahun, ratusan juta rupiah telah ditransfer kepada Dewi. Transfer terakhir sebesar lima puluh juta rupiah dilakukan pada pagi ketika aku terbaring di rumah sakit.

Keterangan transaksi itu hanya berbunyi, uang rumah.

Aku meminta Pak Setyo menyelidikinya lebih jauh.

Keesokan paginya, dia datang membawa beberapa dokumen. Wajahnya serius.

Bu Sari, rumah yang selama ini ditempati Dewi bukan rumah kontrakan seperti yang dikatakan suami Ibu. Rumah itu dibeli menggunakan uang dari rekening bersama kalian.

Aku terdiam.

Rumah itu ternyata berada di kawasan perumahan elit di Jakarta Selatan. Sertifikatnya mencantumkan nama Dewi sebagai pemilik.

Tetapi ada sesuatu yang lebih mengejutkan.

Pak Setyo meletakkan dokumen lain di hadapanku.

Sebagian besar uang untuk membeli rumah tersebut berasal dari dana yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan keluarga, termasuk tabungan pendidikan anak yang kami rencanakan sebelum aku kehilangan kehamilanku.

Aku merasakan dadaku sesak.

Jadi, ketika aku berjuang mempertahankan kehamilan itu, suamiku sedang membangun kehidupan lain untuk perempuan yang selalu disebutnya sebagai adik.

Namun, Pak Setyo belum selesai.

Ada satu dokumen lagi. Surat kuasa yang ditandatangani Arjuna. Isinya memberikan Dewi kewenangan mengelola rekening tertentu atas nama perusahaan yang terhubung dengan bisnis pengadaan milik keluarga mereka.

Nama perusahaan itu terasa familier.

Perusahaan tersebut pernah menjadi pemasok dalam proyek energi tempatku bekerja dahulu.

Aku mulai memahami bahwa persoalan ini jauh lebih besar daripada perselingkuhan atau pengkhianatan rumah tangga.

Beberapa hari kemudian, aku kembali bekerja di Surabaya. Aku menghabiskan waktu memeriksa dokumen proyek lama, membandingkan catatan pembayaran, dan menelusuri perubahan anggaran yang tidak masuk akal.

Semakin banyak data yang kutemukan, semakin jelas bahwa sejumlah pembayaran proyek dialihkan melalui perusahaan perantara. Perusahaan itu berkaitan dengan keluarga Dewi.

Aku menyerahkan bukti yang relevan kepada pihak audit dan mengikuti prosedur pelaporan resmi. Aku tidak ingin menggunakan kecurigaan sebagai senjata. Aku ingin semua fakta diperiksa dengan benar.

Dua minggu kemudian, Arjuna muncul di kantorku.

Wajahnya tegang, seragamnya rapi, tetapi matanya memperlihatkan kemarahan yang selama ini jarang kutemui.

Apa yang kamu lakukan, Sari?

Aku menutup berkas di hadapanku.

Bekerja.

Jangan berpura-pura tidak tahu. Audit itu bisa menghancurkan banyak orang.

Aku menatapnya tanpa gentar.

Kalau semuanya bersih, audit tidak akan menghancurkan siapa pun.

Dia mendekat dan menurunkan suaranya.

Kamu istriku. Seharusnya kamu membicarakan ini denganku terlebih dahulu.

Aku hampir tertawa mendengarnya.

Ketika aku kehilangan bayi kita, kamu tidak datang. Ketika aku mengalami kecelakaan, aku bahkan tidak berani mengandalkanmu. Sekarang, setelah pekerjaanmu terancam, tiba-tiba kamu ingat bahwa aku istrimu.

Arjuna terdiam.

Untuk pertama kalinya, dia tidak memiliki jawaban.

Kemudian ponselnya berdering. Nama Dewi muncul di layar.

Dia menolak panggilan itu.

Gerakan kecil tersebut seharusnya tidak berarti apa-apa, tetapi aku menyadari betapa terlambatnya semua ini. Dulu, aku menghabiskan bertahun-tahun berharap dia akan melakukan hal yang sama untukku.

Arjuna akhirnya mengungkapkan bahwa Dewi bukan sekadar adik angkat. Dia pernah membantunya ketika keluarganya mengalami kesulitan, dan sejak itu Arjuna merasa bertanggung jawab atas kehidupannya. Dia mengaku telah menggunakan uang keluarga untuk membeli rumah dan membantu Dewi, meyakinkan dirinya sendiri bahwa semuanya bisa dijelaskan nanti.

Aku mendengarkannya sampai selesai.

Lalu aku bertanya, Apakah kamu pernah berpikir untuk memberitahuku?

Dia menunduk.

Aku tidak ingin kamu salah paham.

Aku mengangguk perlahan.

Kamu tidak memberiku kesempatan untuk memahami apa pun. Kamu hanya memastikan aku selalu menjadi orang terakhir yang tahu.

Beberapa bulan berikutnya, penyelidikan menemukan pelanggaran dalam pengelolaan dana perusahaan. Semua pihak yang terlibat harus mempertanggungjawabkan tindakan mereka melalui proses hukum dan pemeriksaan yang berlaku. Arjuna menjalani pemeriksaan internal terkait transaksi tersebut, sementara kepemilikan rumah Dewi menjadi bagian dari sengketa keuangan yang ditangani secara terpisah.

Aku tidak merasa menang.

Kehilangan kepercayaan, kehilangan bayi, dan kehilangan pernikahan bukanlah kemenangan bagi siapa pun.

Namun, aku akhirnya mendapatkan kembali sesuatu yang pernah kutinggalkan bertahun-tahun lalu, yaitu diriku sendiri.

Perceraian kami selesai beberapa bulan kemudian. Aku menetap di Surabaya dan kembali membangun karier. Perlahan, aku belajar bahwa hidup sendiri tidak sama dengan hidup tanpa siapa pun. Aku memiliki rekan kerja yang menghargai kemampuanku, teman-teman yang hadir ketika dibutuhkan, dan keberanian untuk meminta bantuan tanpa merasa bersalah.

Suatu sore, ketika sedang membereskan barang-barang lama, aku menemukan ponsel yang kugunakan pada malam kecelakaan.

Ada satu pesan terakhir yang tersimpan dalam draf, belum pernah kukirim kepada Arjuna.

Aku mengetik pesan itu ketika terbaring di pinggir jalan, sebelum seorang pengendara akhirnya menemukanku dan membawaku ke rumah sakit.

Aku membukanya dengan tangan gemetar.

Isinya singkat.

Jika aku tidak selamat malam ini, jangan salahkan dirimu. Aku sudah terlalu lama menyalahkan diriku sendiri karena mengira aku tidak cukup penting untuk ditolong.

Aku membaca kalimat itu berkali-kali, lalu menghapusnya.

Bukan karena aku ingin melupakan masa lalu, melainkan karena aku tidak lagi membutuhkan Arjuna untuk memahami rasa sakitku agar aku bisa melanjutkan hidup.

Setahun setelah kecelakaan itu, aku memimpin tim insinyur muda dalam proyek energi baru. Pada hari peresmian, seorang wartawan bertanya apa yang membuatku mampu bangkit setelah melewati masa sulit.

Aku tersenyum tipis.

Dulu, saya mengira kekuatan berarti mampu bertahan sendirian dalam keadaan apa pun. Sekarang saya tahu, kekuatan juga berarti mengenali kapan seseorang harus berhenti bertahan di tempat yang terus melukainya.

Malamnya, hujan turun lagi di Surabaya.

Aku berdiri di depan jendela apartemen, mendengarkan suara air yang jatuh di jalanan. Untuk sesaat, aku teringat malam kecelakaan itu, ketika setiap langkah terasa mustahil dan aku hanya ingin seseorang datang menyelamatkanku.

Kini aku mengerti sesuatu yang tidak kupahami saat itu.

Orang pertama yang harus kuperjuangkan bukanlah suamiku, bukan pula pernikahan yang telah kehilangan maknanya.

Orang pertama yang harus kuselamatkan adalah diriku sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang