…ternyata adalah bentuk penyiksaan diri yang paling sunyi.

Dua hari kemudian, berkas pembatalan pernikahan (annulment) selesai diproses oleh pengacaraku. Di Filipina, hukum perkawinan sangat ketat, tetapi pengabaian psikologis yang ekstrem selama bertahun-tahun sudah lebih dari cukup untuk meruntuhkan ikatan legal ini.
Aku pulang ke rumah dinas kami di dalam Camp Aguinaldo hanya untuk meletakkan dokumen itu di atas meja kerjanya. Di samping map tersebut, aku meletakkan cincin kawin emas yang selama lima tahun ini tidak pernah lepas dari jariku.
Saat aku sedang mengemas pakaian medis terakhirku ke dalam koper, pintu kamar utama terbuka kasar.
Vicente berdiri di ambang pintu. Seragam militernya sedikit berantakan, dan di tangannya, dia menggenggam map dokumen yang baru saja kutinggalkan. Wajahnya pucat, matanya merah menahan badai emosi.
“Apa-apaan ini, Teresa?!” suaranya menggelegar, bergetar hebat. “Dokumen pembatalan nikah? Kamu mau menyudahi pernikahan kita karena masalah sepele seperti kemarin?”
Aku tidak berhenti melipat bajuku. “Menyelamatkan Liza dari belanjaan di Makati mungkin sepele bagimu, Vicente. Tapi bagiku, itu adalah pengingat kesekian kalinya tentang di mana posisiku di hidupmu.”
“Aku sudah bilang, keluargaku berutang budi pada kakeknya!” Vicente melangkah maju, mencengkeram kedua bahuku, memaksaku menatapnya. “Aku bersamamu, Teresa! Aku menikahimu, bukan dia!”
Aku menatap lurus ke dalam matanya yang bergetar. Tidak ada kemarahan di mataku, hanya ada kekosongan yang dalam.
“Kamu menikahiku, Vicente, tapi kamu memberikan seluruh waktumu, perhatianmu, dan khawatirmu padanya,” ucapku lirih namun tajam. “Ingat malam saat aku keguguran tiga bulan lalu?”
Tubuh Vicente menegang seketika. Genggamannya di bahuku melemah.
“Malam itu, aku pendarahan hebat di lantai kamar mandi rumah ini. Aku meneleponmu belasan kali sambil menangis, memohon agar kamu pulang,” air mata dingin mengalir di pipiku, namun suaraku tetap datar. “Tapi ajudanmu bilang, kamu sedang mengantar Liza ke rumah sakit karena dia mengeluh pusing akibat stres kuliahnya. Kamu mematikan ponselmu setelah itu.”
“Teresa… aku… aku tidak tahu kalau malam itu kamu…” Suara sang Mayor Jenderal tercekat. Pria yang tak pernah gemetar di depan moncong senjata itu kini tampak begitu rapuh dan ketakutan.
“Kamu tidak pernah tahu karena kamu tidak pernah peduli,” kataku sambil melepaskan tangannya dari bahuku. “Anak kita pergi tanpa sempat melihat ayahnya. Dan malam itu juga, cintaku padamu ikut mati bersama janin yang kukandung.”
3.
Hari keberangkatanku ke Jolo, Sulu akhirnya tiba. Pangkalan Udara Col. Jesus Villamor pagi itu diselimuti kabut tipis dan rintik hujan. Aku berjalan bersama tim medis AFP (Armed Forces of the Philippines) lainnya menuju pesawat angkut militer C-130.
Tiba-tiba, deru suara mobil komando memecah keheningan pangkalan. Sebuah kendaraan taktis berhenti mendadak di dekat landasan, dan Vicente turun dari sana tanpa mengenakan baretnya. Dia berlari menerobos barisan penjagaan, mengabaikan tatapan bingung dari para prajurit bawahannya.
“Teresa! Berhenti!” teriaknya parau.
Dia berhasil mengejarku tepat di depan tangga pesawat. Napasnya memburu, matanya sembap seolah dia tidak tidur berhari-hari.
“Kamu tidak bisa pergi ke Jolo! Itu wilayah konflik aktif, Teresa! Kelompok pemberontak sedang gencar melakukan penyergapan di sana!” Vicente mencengkeram pergelangan tanganku, suaranya memohon, hilang sudah keangkuhan seorang Jenderal. “Sebagai suamimu… sebagai komandanmu, aku melarangmu naik ke pesawat ini!”
Aku menatap tangannya yang mencengkeramku, lalu perlahan menaikkan pandanganku ke wajahnya. Aku menarik tanganku dengan tegas, lalu melakukan hormat militer yang sempurna di hadapannya.
“Melapor, General Salvatierra,” ucapku dengan lantang dan formal. “Perintah penugasan saya ditandatangan langsung oleh Chief of Staff AFP. Ini adalah misi kemanusiaan resmi. Anda tidak memiliki wewenang untuk membatalkan perintah markas besar.”
Vicente melangkah mundur, wajahnya dipenuhi rasa tidak percaya yang amat sangat. “Teresa… tolong jangan lakukan ini padaku. Aku salah. Aku akan berubah. Aku akan meminta mutasi ke staf administrasi, aku tidak akan menemui Liza lagi, aku akan melakukan apa saja… tolong jangan pergi…” Air matanya luruh di depan para prajuritnya sendiri.
Aku tersenyum tipis—senyuman perpisahan yang paling tulus yang bisa kuberikan.
“Jaga dirimu baik-baik, General. Tugas negara menanti Anda.”
Aku berbalik tanpa menoleh lagi, melangkah mantap menaiki tangga pesawat. Saat pintu hidrolik C-130 perlahan menutup, memotong pandanganku dari dunia luar, aku melihat Vicente berdiri mematung di tengah landasan pacu yang basah. Pria perkasa itu perlahan jatuh berlutut di bawah guyuran hujan, menutupi wajahnya dengan kedua tangan saat mesin pesawat mulai menderu keras.
Pesawat perlahan bergerak, lepas landas menembus awan hitam Manila.
Aku menyandarkan kepala pada dinding besi pesawat, merasakan getarannya, dan perlahan memejamkan mata. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun terakhir, dadaku terasa begitu lapang. Rasa sakit itu akhirnya menguap, digantikan oleh kedamaian yang teramat sangat.
Aku tidak lagi berjalan di bawah bayang-bayang orang lain. Aku pulang… kepada diriku sendiri.
