Setelah membayar uang sekolah anak tiriku, aku berniat menjenguk putri kandungku sendiri. Namun, yang kuterima justru sebuah kotak besi dari satpam sekolah—bersama kabar yang membuat napasku seketika tercekat. Ternyata, sudah dua belas hari putriku berhenti sekolah.
Siang itu, di sebuah proyek pembangunan di Surabaya, aku membuka kantong plastik hitam dan menghitung kembali tabungan yang kukumpulkan sedikit demi sedikit selama berbulan-bulan. Jumlahnya tepat Rp10.000.000. Uang itu seharusnya menjadi dana daruratku. Namun pada akhirnya, tetap kugunakan.
Sehari sebelumnya, istriku, Lina, menangis sambil memohon agar aku membantu membayar biaya sekolah putranya dari pernikahan terdahulu, Arga. Ia gagal masuk SMA negeri, dan untuk bisa diterima di SMA swasta favorit di kota, dibutuhkan biaya sebesar Rp15.000.000. Aku bahkan terpaksa meminjam Rp5.000.000 dari mandor proyek agar jumlahnya cukup, lalu langsung mentransfer seluruh uang itu pada hari yang sama.

Lina menelepon dengan suara bergetar penuh rasa syukur.
“Mas, kamu benar-benar penopang keluarga ini. Suatu hari nanti Arga pasti akan membalas semua kebaikanmu.”
Hatiku terasa lega. Aku yakin telah menjalankan tanggung jawabku sebagai kepala keluarga.
Namun malam itu, saat pulang ke rumah, Arga hanya sibuk bermain gim di ponselnya tanpa sekali pun menoleh ke arahku. Lina menyajikan semua lauk terbaik untuknya. Saat itulah pikiranku melayang kepada Tania, putri kandungku.
Sudah lebih dari sebulan aku tidak bertemu dengannya.
Tania kini duduk di kelas dua belas dan tinggal di asrama agar bisa fokus mempersiapkan ujian akhir. Anak itu begitu pengertian. Ia tak pernah meminta apa pun dariku. Sangat berbeda dengan Arga.
Aku masuk ke kamarnya yang kecil. Semuanya tertata rapi, kecuali sebuah tas sekolah lama yang warnanya telah memudar. Tali tasnya sobek dan hanya dijahit seadanya.
Aku duduk sambil memperbaiki jahitannya. Dadaku terasa sesak.
“Besok aku akan menjenguknya,” gumamku lirih.
Keesokan harinya, aku naik bus menuju sekolah Tania.
Aku membelikan susu, roti, dan beberapa buah untuknya. Di sepanjang perjalanan, aku membayangkan senyum bahagianya saat melihatku datang.
Namun sesampainya di gerbang sekolah, raut wajah satpam tampak ragu.
“Pak… Tania sudah berhenti sekolah. Sudah dua belas hari.”
Dunia seakan berhenti berputar.
“Berhenti sekolah? Tidak mungkin…”
Satpam itu terdiam sejenak, lalu mengambil sebuah kotak besi kecil dan menyerahkannya kepadaku.
“Dia menitipkan ini. Katanya, kalau suatu hari ayahnya datang, tolong berikan kotak ini.”
Tanganku bergetar saat menerimanya.
Di atas kotak itu tertempel secarik kertas kecil dengan tulisan tangan yang sangat kukenal.
“Untuk Ayah.”
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku benar-benar takut membuka sesuatu yang mungkin akan menghancurkan hatiku sendiri.
Kotak itu tidak dikunci.
Saat kubuka perlahan, aroma kertas lama langsung menyeruak. Di dalamnya hanya ada tiga benda: sebuah buku tabungan, sebuah amplop cokelat, dan gelang benang merah yang pernah kubelikan saat Tania masih duduk di bangku sekolah dasar.
Aku membuka amplop lebih dulu.
Ayah,
Kalau Ayah membaca surat ini, berarti Ayah akhirnya datang mencariku.
Maaf karena aku tidak sempat berpamitan. Aku tahu Ayah pasti panik mendengar aku berhenti sekolah. Tapi aku tidak punya pilihan lagi.
Jangan salahkan siapa pun sebelum Ayah membaca semuanya.
Air mataku mulai jatuh sebelum surat itu selesai kubaca.
Tanganku beralih membuka buku tabungan.
Saldo terakhirnya membuatku membeku.
Rp15.327.000.
Nominal itu hampir sama dengan uang yang baru saja kuberikan kepada Arga.
Aku langsung membaca lanjutan suratnya.
Ayah selalu bilang aku anak yang kuat. Karena itu aku belajar tidak menjadi beban. Selama dua tahun terakhir aku bekerja setiap malam di sebuah kedai kopi dekat sekolah. Aku juga memberi les matematika untuk adik-adik kelas.
Semua uang itu sebenarnya ingin kupakai untuk biaya kuliah nanti.
Tapi sekarang sudah tidak perlu lagi.
Dadaku semakin sesak.
Aku terus membaca.
Beberapa minggu lalu, Ibu Lina datang ke sekolah. Beliau bilang Ayah sedang kesulitan dan Arga membutuhkan biaya sekolah. Beliau memintaku menyerahkan seluruh tabunganku. Katanya, nanti Ayah akan menggantinya setelah proyek selesai.
Aku menolak.
Beliau marah.
Beliau bilang aku egois. Katanya, kalau aku benar-benar menyayangi Ayah, aku harus berkorban demi keluarga.
Beliau juga bilang Ayah lebih membutuhkan Arga daripada aku.
Mataku membelalak.
Aku tidak pernah tahu Lina datang menemui Tania.
Surat itu berlanjut.
Beliau menangis di depanku. Aku tidak tega.
Akhirnya aku menyerahkan seluruh tabunganku.
Beliau berjanji tidak akan memberi tahu Ayah karena tidak ingin Ayah merasa bersalah.
Setelah uang itu habis, aku tidak mampu lagi membayar biaya asrama dan administrasi sekolah.
Aku mencoba bertahan beberapa hari. Tapi akhirnya aku harus keluar.
Ayah…
Jangan marah.
Aku tahu Ayah bekerja sangat keras.
Aku hanya tidak ingin Ayah meminjam uang lagi demi aku.
Tanganku gemetar hebat.
Jadi uang yang kupinjam dari mandor…
Dan uang tabungan Tania…
Dipakai untuk hal yang sama.
Lina telah mengambil uang putriku, lalu tetap memintaku mencari pinjaman.
Aku hampir tidak bisa bernapas.
Satpam yang berdiri di sampingku berkata pelan, “Pak, sebelum pergi, Tania menitip pesan. Dia bilang jangan cari dia sebelum Ayah membaca surat itu.”
“Dia pergi ke mana?”
Satpam menggeleng.
“Dia hanya bilang akan bekerja.”
Aku berlari menuju terminal bus terdekat, berharap masih bisa menemukan jejaknya.
Tidak ada.
Aku mendatangi teman-temannya.
Tidak ada yang tahu.
Selama tiga hari aku hampir tidak pulang.
Hari keempat, aku kembali ke rumah.
Begitu melihatku, Lina langsung bertanya, “Sudah ketemu Tania?”
Aku menatapnya tanpa berkedip.
“Kamu datang ke sekolahnya?”
Wajahnya langsung berubah pucat.
“Aku… aku cuma…”
“Kamu mengambil tabungannya?”
Ia menangis.
“Aku terpaksa…”
“Terpaksa?”
“Arga mengancam berhenti sekolah kalau tidak masuk SMA itu. Aku panik.”
“Jadi kamu membohongi aku?”
Ia terdiam.
“Kamu bilang butuh lima belas juta.”
“Iya…”
“Padahal uang Tania sudah kamu ambil.”
Tangisnya semakin keras.
“Aku takut kamu marah.”
Aku tertawa pahit.
“Marah? Putriku kehilangan sekolah, kehilangan asrama, kehilangan masa depannya. Dan kamu takut aku marah?”
Arga yang sejak tadi mendengar dari kamarnya keluar sambil memasang wajah kesal.
“Kenapa sih ribut-ribut?”
Aku memandang anak itu.
“Kamu tahu uang sekolahmu dari mana?”
“Dari Ayah.”
“Bukan.”
Aku melempar buku tabungan Tania ke meja.
“Dari kakakmu.”
Arga terdiam.
“Itu bukan urusanku,” katanya pelan.
Kalimat itu menghantamku lebih keras daripada tamparan.
Aku menggeleng perlahan.
“Tidak. Mulai hari ini memang bukan urusanku lagi.”
Malam itu juga aku mengemasi pakaian.
Aku mengajukan gugatan cerai seminggu kemudian.
Semua orang menganggap aku terlalu kejam.
Tidak ada yang tahu bahwa setiap malam aku terus mencari putriku ke berbagai kota.
Hingga hampir empat bulan berlalu.
Suatu pagi, saat sedang bekerja di proyek baru di Malang, teleponku berdering.
Nomornya tidak kukenal.
“Halo?”
Suara di seberang membuat lututku lemas.
“Ayah…”
“Tania?”
“Maaf baru menghubungi.”
Aku menangis seperti anak kecil.
“Di mana kamu?”
“Aku bekerja di sebuah panti rehabilitasi sebagai staf administrasi. Kepala panti membantuku mendapatkan beasiswa paket kesetaraan dan kuliah nanti.”
“Ayah jemput sekarang.”
“Tidak usah.”
“Kenapa?”
“Aku ingin Ayah melihatku saat aku benar-benar berhasil.”
“Tania…”
“Ayah tidak salah. Selama ini Ayah hanya terlalu percaya kepada orang yang salah.”
Aku menutup wajah sambil menangis.
Dua tahun kemudian, aku duduk di barisan paling depan sebuah aula universitas.
Namanya dipanggil sebagai lulusan terbaik Fakultas Keperawatan.
Seluruh ruangan berdiri memberi tepuk tangan.
Ia berjalan ke arahku sambil membawa map kelulusannya.
“Ayah.”
Aku memeluknya erat.
“Maafkan Ayah.”
Ia tersenyum sambil menggeleng.
“Kalau waktu itu Ayah tidak membuka kotak besi itu, mungkin Ayah tidak akan pernah tahu siapa yang benar-benar menyayangi Ayah.”
Aku mengangguk pelan.
Kotak besi itu tidak hanya menyimpan surat dan buku tabungan.
Kotak itu menyimpan kenyataan yang selama bertahun-tahun gagal kulihat.
Aku terlalu sibuk menjadi penopang bagi orang-orang yang terus meminta, hingga hampir kehilangan satu-satunya anak yang tidak pernah meminta apa pun, selain berharap ayahnya suatu hari datang dan benar-benar melihatnya.
