Tanganku gemetar hebat saat aku mengeluarkan selembar kertas bergaris dari dalam amplop cokelat itu. Aroma kertas tua bercampur debu langsung menusuk hidung, seolah membawa kembali kenangan masa lalu ketika Ayah biasa menulis daftar belanjaan atau catatan penting di meja kerjanya. Di bawah sinar matahari sore pemakaman yang mulai redup, aku mulai membaca tulisan tangan yang sangat kurindukan itu.
Leo, anakku. Jika kamu sedang membaca surat ini, berarti dugaanku benar. Linda dan keluarganya tidak akan pernah membiarkanmu menginjakkan kaki dengan tenang di rumah kita. Maafkan aku karena tidak bisa menyambutmu saat kamu keluar dari tempat mengerikan itu. Maafkan aku karena harus pergi dengan cara seperti ini.

Aku menarik napas panjang. Tenggorokanku terasa tercekat. Harold, penjaga makam tua itu, berdiri beberapa meter dariku, membiarkanku tenggelam dalam keheningan kuburan yang semakin mencekam. Aku kembali melanjutkan bacaan surat tersebut.
Kematianku bukanlah kecelakaan, Leo. Dan rumah itu bukan lagi milik kita sejak hari pertama kamu dijebak atas kejahatan yang tidak pernah kamu lakukan. Linda merencanakan semuanya. Ia bekerja sama dengan atas perusahaan untuk menyingkirkanmu agar surat kuasa penuh jatuh ke tangannya. Aku tahu rahasia mereka, dan itulah alasan mengapa mereka berniat menghabisiku. Sebelum mereka berhasil melakukannya, aku menyembunyikan sesuatu. Kunci yang ada di tanganmu adalah satu-satunya jalan keluar. Pergilah ke vila tua di tepi Danau Lido. Di sanalah kebenaran disimpan.
Air mataku akhirnya tumpah. Rasa sakit kehilangan seorang ayah kini bercampur dengan kobaran amarah yang luar biasa. Selama tiga tahun aku mendekam di balik jeruji besi karena fitnah keji, sementara orang-orang bajingan itu menikmati hasil jerih payah ayahku di atas penderitaanku. Linda telah merampas segalanya, masa mudaku, kebebasanku, dan kini, satu-satunya tempat berpijakku di dunia ini.
Aku menatap kunci kecil di telapak tanganku. Benda itu berkilau samar di bawah temaram senja. Tanpa membuang waktu lagi, aku mengucapkan terima kasih kepada Harold yang mengangguk pelan penuh pengertian, lalu bergegas meninggalkan area pemakaman.
Perjalanan menuju Danau Lido memakan waktu hampir dua jam menggunakan bus kota yang penuh sesak. Selama di perjalanan, pikiranku berkecamuk. Bagaimana bisa Linda begitu tega? Wanita itu dulu tampak begitu lembut dan perhatian ketika pertama kali dinikahi Ayah sepuluh tahun lalu. Siapa sangka di balik senyum manisnya tersimpan niat busuk untuk menghancurkan keluarga kami. Aku teringat kembali pada hari-hari terakhir sebelum penangkapanku. Ponselku tiba-tiba dipenuhi transaksi fiktif, dokumen perusahaan lenyap, dan polisi datang menyerbu kamar tidurku. Semua bukti itu ternyata palsu, dirancang rapi oleh tangan-tangan serakah yang kini menduduki rumah kami.
Ketika bus akhirnya berhenti di dekat kawasan Danau Lido, malam telah merangkak turun. Suasana di sekitar danau sangat sepi, dikelilingi oleh pepohonan pinus yang menjulang tinggi dan kabut tipis yang mulai merayap dari permukaan air. Vila tua milik keluarga kami tampak berdiri megah namun terbengkalai di ujung jalan setapak yang berbatu. Cat dindingnya sudah mengelupas, dan lampu terasnya mati total. Tempat ini sudah lama tidak dikunjungi, setidaknya itulah yang ingin dipamerkan Linda kepada dunia luar.
Aku melangkah mengendap-endap, menghindari suara gemerisik daun kering agar tidak menarik perhatian. Sesampainya di depan pintu kayu yang besar, aku merogoh kantong celana dan mengeluarkan kunci pemberian Ayah. Jantungku berdegup kencang seiring dengan setiap detik yang berlalu. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, aku memasukkan kunci itu ke dalam lubang kunci.
Klik.
Suara mekanisme kunci yang berputar terdengar sangat nyaring di tengah kesunyian malam. Aku mendorong pintu perlahan-lahan. Engselnya berderit berat, membiarkan bau apit dan debu keluar menyambut kedatanganku. Di dalam ruangan yang gelap gulita, aku meraba dinding mencari saklar lampu. Begitu lampu dinyalakan, pemandangan di hadapanku membuatku tertegun.
Ruangan itu tidak kosong seperti yang kubayangkan. Di atas meja kayu besar di tengah ruangan, terbentang belasan berkas, rekaman CCTV, dan beberapa lembar surat perjanjian bermaterai yang ditandatangani oleh Linda dan seorang pria asing yang kuingat sebagai rekan bisnis Ayah. Bukti-bukti kecurangan itu tertata rapi, seolah-olah seseorang sengaja meninggalkannya di sini untukku temukan.
Tiba-tiba, suara langkah kaki berat terdengar dari arah koridor gelap di belakang ruangan.
Aku langsung membalikkan badan, memasang kuda-kuda dengan sisa tenaga yang kudapatkan selama di penjara. Dari balik bayangan gelap, sesosok figur tinggi melangkah maju. Cahaya lampu ruangan yang kekuningan menyinari wajahnya, membuat mataku melebar karena terkejut luar biasa.
Itu bukan Linda. Bukan pula rekan bisnis Ayah.
Sosok itu tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat kukenal di dalam mimpi maupun mimpi burukku selama tiga tahun terakhir.
“Kamu terlambat, Leo,” suara serak itu menggema di dalam ruangan yang sunyi.
Ayah.
Pria yang kukira telah mati setahun yang lalu, pria yang makamnya baru saja kukunjungi, kini berdiri tegak di hadapanku dalam balutan jaket tua kesayangannya. Tidak ada tanda-tanda penyakit, tidak ada kerentaan yang berlebihan, hanya tatapan tajam penuh perhitungan yang selama ini mendidikku menjadi pria tangguh.
Aku tertegun, lidahku mendadak kelu, tidak mampu merangkai kata-kata. Kakiku terasa melekat di lantai. Pikiranku berputar kencang mencoba mencerna kenyataan yang terbalik seratus delapan puluh derajat ini.
“Ayah…?” suaraku bergetar, nyaris tidak terdengar. “Bagaimana bisa? Linda bilang… penjaga makam bilang…”
Ayah berjalan mendekat, menepuk pundakku pelan dengan tangan hangatnya yang selama ini begitu kurindukan. Sentuhan itu membuktikan bahwa dia benar-benar nyata, bukan hantu dan bukan pula bayangan semu.
“Linda memang menginginkan seluruh harta itu, dan ia mengira telah berhasil menyingkirkan kita berdua,” ucap Ayah dengan nada tenang namun dingin. “Tetapi untuk menjatuhkan musuh sebesar mereka, kita harus membiarkan mereka merasa menang terlebih dahulu. Penjara adalah satu-satunya tempat paling aman bagimu saat itu, Leo, karena orang-orang yang ingin menghabisi kita sedang memburumu. Aku memalsukan kematianku sendiri untuk memancing mereka keluar dari sarangnya.”
Ayah menunjuk tumpukan berkas di atas meja.
“Dan sekarang, semua bukti kejahatan mereka sudah lengkap. Malam ini, permainan yang sebenarnya baru saja dimulai.”
Mendengar kata-kata itu, rasa sakit dan penderitaan selama tiga tahun di dalam penjara seketika menguap, digantikan oleh gelombang adrenalin yang membakar dada. Aku menatap Ayah, lalu menatap tumpukan dokumen di atas meja. Senyuman tipis akhirnya tersungging di bibirku. Mereka mengira telah menguburku hidup-hidup, tetapi mereka lupa bahwa aku adalah benih yang sengaja ditanam di dalam gelap, siap tumbuh dan menghancurkan segalanya dari akar.
