Pintu kamar itu terbuka perlahan.
Ayu tidak bergerak. Tubuhnya meringkuk di sudut ranjang, kedua tangannya mencengkeram selimut sampai buku-buku jarinya memutih. Kilatan petir menerangi kamar selama sepersekian detik, cukup untuk memperlihatkan wajah Pak Haryono di ambang pintu.
Laki-laki itu berdiri diam dengan pakaian basah oleh hujan. Di tangan kanannya ada sebuah kunci kecil.
“Ayah sedang apa?” suara Ayu bergetar.

Pak Haryono tampak terkejut mengetahui Ayu masih terjaga.
“Kamu belum tidur?”
“Kenapa Ayah membuka pintu kamar saya?”
Tidak ada jawaban.
Pak Haryono justru melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya.
Darah Ayu seakan berhenti mengalir.
“Keluar.”
“Ayu, dengarkan dulu.”
“Keluar dari kamar saya!”
Pak Haryono maju satu langkah.
Ayu spontan meraih lampu meja dan mengangkatnya seperti senjata.
“Jangan mendekat!”
Suara petir meledak bersamaan dengan teriakannya.
Pak Haryono berhenti.
Wajah laki-laki itu terlihat berbeda dari sosok lembut yang selama bertahun-tahun dikenal para tetangga. Matanya merah, napasnya berat, dan aroma alkohol tercium bahkan dari jarak beberapa meter.
“Kamu makin mirip ibumu,” gumamnya.
Kalimat itu membuat bulu kuduk Ayu berdiri.
“Apa maksud Ayah?”
Pak Haryono tidak menjawab.
Saat ia kembali bergerak mendekat, Ayu melempar lampu meja ke arahnya. Lampu menghantam bahunya dan jatuh pecah. Ayu langsung melompat dari sisi lain ranjang.
Pak Haryono berusaha meraih tangannya, tetapi Ayu berhasil menghindar.
Ia berlari keluar kamar tanpa alas kaki.
“Ayu!”
Ayu menuruni tangga dengan panik.
Hujan mengguyur halaman seperti tirai tebal. Ia tidak peduli. Ia membuka pintu depan dan berlari menuju jalan.
Namun baru beberapa meter, kakinya terpeleset di tanah berlumpur.
Ayu jatuh.
Pergelangan kakinya terasa seperti ditusuk.
Dari belakang terdengar pintu rumah terbuka.
“Ayu, kembali!”
Ayu bangkit dengan susah payah lalu berlari terpincang-pincang menuju sebuah bangunan kecil di ujung jalan. Rumah itu milik Bu Sulastri, perempuan berusia hampir enam puluh tahun yang selama ini tinggal sendirian.
Ayu memukul pintunya berkali-kali.
“Bu! Tolong buka!”
Lampu teras menyala.
Bu Sulastri membuka pintu dan terkejut melihat Ayu basah kuyup dengan wajah pucat.
“Astaga, Ayu!”
“Tolong saya, Bu.”
Bu Sulastri segera menarik Ayu masuk dan mengunci pintu.
Beberapa menit kemudian terdengar langkah seseorang di halaman.
Pak Haryono berdiri di bawah hujan.
“Sulastri!” teriaknya. “Ayu sedang emosi. Suruh dia pulang.”
Bu Sulastri berdiri di balik pintu.
“Besok saja bicara. Sekarang pulanglah.”
“Itu urusan keluarga saya.”
“Kalau urusan keluarga membuat anak perempuan lari tengah malam tanpa alas kaki, berarti ada yang tidak beres.”
Pak Haryono terdiam.
Ayu menutup mulutnya agar isak tangisnya tidak terdengar.
Akhirnya langkah kaki Pak Haryono menjauh.
Malam itu Ayu tidak tidur.
Saat matahari terbit, Bu Sulastri membuatkan teh hangat. Perempuan itu duduk di hadapan Ayu cukup lama sebelum akhirnya bertanya.
“Dia masuk ke kamarmu?”
Ayu mengangguk.
Anehnya, Bu Sulastri tidak terlihat terkejut.
Ayu menatapnya.
“Ibu tahu sesuatu?”
Bu Sulastri menarik napas panjang.
“Ibumu pernah datang ke rumah saya sekitar tiga bulan sebelum meninggal.”
Ayu membeku.
“Untuk apa?”
“Dia takut.”
Bu Sulastri masuk ke kamarnya lalu kembali membawa amplop cokelat yang sudah kusam.
“Ibumu menitipkan ini. Katanya, kalau suatu hari terjadi sesuatu padanya dan kamu mulai merasa tidak aman, saya harus memberikannya kepadamu.”
Tangan Ayu gemetar ketika menerima amplop itu.
Di dalamnya terdapat fotokopi dokumen bank, sertifikat tanah, beberapa lembar bukti transfer, dan sebuah surat tulisan tangan.
Tulisan itu milik ibunya.
Ayu langsung mengenalinya.
Ayu, kalau kamu membaca surat ini, mungkin Ibu sudah tidak bisa menjelaskan semuanya sendiri. Jangan percaya siapa pun hanya karena dia menyebut dirinya keluarga. Tanah dan tabungan itu atas namamu. Ibu sengaja mengurusnya demikian karena beberapa bulan terakhir Haryono terus meminta Ibu menjual tanah. Jangan pernah menandatangani dokumen apa pun darinya.
Air mata Ayu jatuh ke kertas.
Ia membaca kalimat berikutnya.
Ada hal lain yang lebih penting. Kalau Ibu pergi secara tiba-tiba, cari kotak kayu kecil di bawah papan lantai ruang kerja Ibu.
Ayu mengangkat wajah.
“Kotak kayu?”
Bu Sulastri mengangguk.
“Ibumu tidak pernah menjelaskan isinya.”
Ayu merasa ketakutannya berubah menjadi sesuatu yang lain.
Kecurigaan.
Siang itu, ditemani Bu Sulastri dan Arif, keponakan Bu Sulastri yang bekerja sebagai sopir travel, Ayu kembali ke rumah.
Pak Haryono tidak ada.
Mereka menuju ruang kerja mendiang ibunya.
Setelah hampir setengah jam memeriksa lantai, Arif menemukan satu papan yang berbeda.
Ia mencungkilnya.
Di bawah papan terdapat kotak kayu kecil.
Ayu membukanya.
Isinya bukan perhiasan.
Ada buku catatan, sebuah flashdisk, dan beberapa bungkus obat.
Ayu mengenali obat itu.
Ibunya meminumnya beberapa minggu sebelum meninggal.
“Katanya vitamin,” gumam Ayu.
Mereka membawa semuanya ke kota.
Seorang apoteker yang dikenal Arif memeriksa kemasan obat tersebut. Ia mengatakan tablet di dalamnya bukan obat yang tertera pada label asli. Ia tidak berani memastikan kandungannya tanpa pemeriksaan laboratorium, tetapi menyarankan Ayu menyerahkannya kepada polisi.
Malam harinya mereka membuka flashdisk.
Ada rekaman suara.
Suara ibunya terdengar lemah.
“Haryono, tanah itu tidak akan saya jual.”
Lalu suara Pak Haryono.
“Kita butuh uang.”
“Itu milik Ayu.”
“Anak itu nanti menikah dan pergi. Untuk apa menyimpan tanah sebanyak itu?”
Rekaman berikutnya jauh lebih mengerikan.
Ibunya terdengar berkata, “Kenapa obat saya berbeda?”
Pak Haryono menjawab, “Kamu terlalu banyak berpikir.”
Kemudian terdengar suara benda jatuh dan rekaman berhenti.
Ayu menutup laptop.
Wajahnya kehilangan warna.
Selama ini kematian ibunya dianggap akibat stroke. Namun untuk pertama kalinya muncul kemungkinan yang jauh lebih gelap.
Mereka pergi ke kantor polisi keesokan paginya.
Penyelidikan dimulai.
Polisi menemukan fakta bahwa Pak Haryono memiliki utang ratusan juta rupiah akibat investasi bodong dan perjudian daring. Beberapa bulan sebelum istrinya meninggal, ia bahkan pernah mencoba menggunakan sertifikat tanah sebagai jaminan pinjaman, tetapi gagal karena tanah tersebut bukan atas namanya.
Lebih mengejutkan lagi, beberapa hari setelah kematian ibunya, Pak Haryono menghubungi seorang notaris untuk menanyakan prosedur pengalihan aset Ayu.
Namun bukti mengenai kematian ibunya belum cukup.
Pak Haryono dipanggil untuk diperiksa.
Ia menyangkal semuanya.
“Rekaman itu cuma pertengkaran suami istri,” katanya. “Soal obat, saya tidak tahu apa-apa.”
Ia juga mengatakan kejadian malam itu hanyalah kesalahpahaman.
“Saya masuk kamar Ayu karena mendengar suara. Saya khawatir dia sakit.”
Ayu hampir tertawa mendengarnya.
“Kalau begitu kenapa memakai kunci cadangan?”
Pak Haryono terdiam.
Meski demikian, polisi belum bisa menahannya atas dugaan kematian ibunya.
Ayu memutuskan tidak kembali ke rumah.
Ia tinggal bersama Bu Sulastri.
Dua minggu berlalu.
Suatu sore, seorang laki-laki datang mencarinya.
Usianya sekitar lima puluh tahun. Rambutnya mulai beruban dan ada bekas luka kecil di dagunya.
“Ayu?”
“Siapa Bapak?”
Laki-laki itu menatapnya lama.
Kemudian matanya berkaca-kaca.
“Namaku Bambang.”
Nama itu seperti suara dari masa lalu.
Itulah nama ayah kandung Ayu.
Ayu mundur.
“Tidak mungkin.”
Laki-laki itu mengeluarkan foto lama.
Di dalam foto, ibunya masih muda. Di sampingnya berdiri laki-laki yang sama, hanya jauh lebih muda, sambil menggendong bayi.
Bayi itu adalah Ayu.
“Kenapa baru datang sekarang?” suara Ayu meninggi. “Dua puluh tahun Bapak ke mana?”
Bambang menunduk.
“Ayahmu bukan pergi karena tidak menginginkanmu.”
Ia kemudian mengeluarkan setumpuk surat.
Puluhan surat.
Semuanya ditujukan kepada Ayu.
Sebagian masih tersegel.
“Ayah mengirim surat setiap tahun. Tidak pernah ada jawaban. Beberapa tahun lalu surat-surat mulai dikembalikan.”
Ayu melihat alamat pengirimnya.
Kalimantan Timur.
Bambang menjelaskan bahwa setelah bercerai dengan ibu Ayu, ia bekerja di perusahaan kayu di pedalaman. Hubungannya dengan mantan istrinya memang buruk, tetapi ia terus mengirim uang untuk Ayu.
“Lalu Haryono menghubungi Ayah tiga tahun lalu,” katanya.
Ayu menegang.
“Pak Haryono?”
“Dia bilang kamu tidak ingin bertemu Ayah. Katanya kamu menganggap Ayah sudah mati.”
Ayu merasa kepalanya berputar.
“Aku tidak pernah berkata begitu.”
Bambang mengangguk pelan.
“Ayah baru tahu ibumu meninggal setelah bertemu teman lama bulan lalu.”
Semua kepingan mulai tersusun.
Pak Haryono bukan hanya mencoba menguasai harta mereka. Ia perlahan memutus hubungan Ayu dengan orang-orang yang mungkin bisa melindunginya.
Namun kejutan terbesar datang tiga hari kemudian.
Hasil laboratorium keluar.
Tablet yang ditemukan di kotak kayu mengandung obat penenang dalam dosis yang tidak sesuai. Polisi kemudian memeriksa kembali catatan medis ibunya.
Dokter menemukan sesuatu yang sebelumnya dianggap tidak penting. Menjelang kematian, tubuh ibunya menunjukkan tanda paparan obat tertentu dalam kadar tinggi. Saat itu dianggap berasal dari pengobatan yang sedang dijalani.
Setelah bukti baru muncul, penyelidikan dibuka kembali.
Pak Haryono menghilang.
Teleponnya mati.
Bengkelnya kosong.
Polisi menduga ia melarikan diri.
Ayu justru teringat satu tempat.
Rumah tua di tepi sungai.
Malam itu, meski polisi sudah melarangnya pergi sendiri, Ayu mendapat telepon dari nomor tidak dikenal.
“Ayu.”
Suara Pak Haryono.
“Kamu mau tahu apa yang sebenarnya terjadi pada ibumu? Datang ke rumah. Sendiri.”
Telepon terputus.
Ayu tidak pergi sendirian.
Ia langsung menghubungi penyidik.
Polisi menyuruhnya datang sambil tetap tersambung dengan mereka.
Ketika Ayu tiba, rumah itu gelap.
Pak Haryono duduk di ruang tamu.
Di atas meja terdapat sertifikat tanah dan beberapa dokumen.
“Tandatangani ini,” katanya.
Ayu menatapnya.
“Setelah itu?”
“Kita selesai.”
“Ibu meninggal karena Ayah?”
Pak Haryono tertawa kecil.
“Ibumu keras kepala.”
Kalimat itu sudah cukup.
Ponsel di dalam tas Ayu sedang merekam.
“Ayah meracuni Ibu?”
“Saya hanya ingin dia lebih tenang. Dia punya tekanan darah tinggi. Saya tidak tahu dia akan mati.”
“Lalu kenapa menyembunyikan obatnya?”
Pak Haryono berdiri.
Wajahnya berubah ketika menyadari Ayu sengaja memancing pengakuannya.
“Kamu merekam saya?”
Ia menerjang.
Ayu mundur dan berteriak.
Pada saat bersamaan pintu depan didobrak.
Polisi masuk.
Pak Haryono mencoba kabur melalui pintu belakang, tetapi dua petugas sudah menunggunya.
Untuk pertama kalinya Ayu melihat laki-laki yang selama bertahun-tahun dipanggilnya Ayah itu diborgol.
Pak Haryono menatapnya dengan kebencian.
“Semua ini gara-gara kamu!”
Ayu menatapnya tanpa menangis.
“Bukan. Semua ini karena pilihan Ayah sendiri.”
Beberapa bulan kemudian, perkara Pak Haryono masuk pengadilan. Penyelidikan membuktikan ia sengaja mengganti sebagian obat istrinya dan memberikan obat penenang tanpa pengawasan medis. Jaksa juga menghadirkan bukti upayanya menguasai aset Ayu serta rekaman yang ditemukan.
Rumah tua itu akhirnya dijual.
Ayu tidak sanggup tinggal di sana lagi.
Tanah peninggalan ibunya tidak ia jual.
Sebagian lahan justru digunakan untuk membangun bengkel kecil dan ruang pelatihan kerajinan bagi perempuan muda di desa. Ayu menamainya Rumah Ratih, menggunakan nama ibunya.
Hubungannya dengan Bambang tidak langsung menjadi seperti ayah dan anak dalam cerita bahagia.
Terlalu banyak tahun yang hilang.
Terlalu banyak luka.
Namun mereka memulainya perlahan.
Kadang Bambang datang membawa makanan. Kadang mereka hanya duduk di tepi sungai tanpa banyak berbicara.
Suatu sore, Bambang menyerahkan sebuah kotak besar.
“Apa ini?”
“Surat-surat yang tidak pernah sampai kepadamu.”
Malam itu Ayu membacanya satu per satu.
Surat ulang tahun keenam.
Kesepuluh.
Ketiga belas.
Ketujuh belas.
Di surat terakhir tertulis satu kalimat sederhana.
Kalau suatu hari kamu merasa tidak punya tempat untuk pulang, ingatlah bahwa selama Ayah masih hidup, selalu ada seseorang yang menunggumu.
Ayu menangis lama.
Bukan karena sedih.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia menyadari sesuatu.
Rumah ternyata bukan bangunan yang memiliki dinding, pintu, atau pemandangan sungai yang indah.
Rumah adalah tempat di mana seseorang tidak perlu mengunci pintu kamar karena takut kepada orang yang tinggal bersamanya.
Setahun kemudian, pada hari peringatan kematian ibunya, Ayu berdiri di depan makam bersama Bambang dan Bu Sulastri.
Ia meletakkan bunga putih di atas tanah.
“Ibu,” bisiknya, “Ayu sudah tidak takut lagi.”
Angin sore bergerak pelan di antara pepohonan.
Saat hendak pergi, Ayu tiba-tiba teringat surat pertama yang ditemukan di bawah lantai rumah tua.
Ada satu bagian yang dahulu tidak terlalu ia perhatikan.
Ia membuka foto surat itu di ponselnya.
Di bagian paling bawah, ibunya menulis kalimat kecil.
Kalau semuanya sudah selesai, jangan habiskan hidupmu untuk membenci Haryono. Selamatkan dirimu, lalu hiduplah dengan baik. Itulah satu-satunya kemenangan yang tidak bisa dia ambil darimu.
Ayu menatap makam ibunya cukup lama.
Kemudian ia tersenyum sambil menghapus air mata.
Ia akhirnya memahami mengapa ibunya meninggalkan pesan itu.
Kejahatan Pak Haryono memang pernah merampas rasa aman, keluarga, dan sebagian masa mudanya.
Namun Ayu menolak memberikan satu hal terakhir yang masih menjadi miliknya.
Masa depannya.
