“Sudah. Tidak usah pura-pura baik lagi.”
Tanganku berhenti tepat saat hendak menarik selimut sampai ke pinggang Ibu Hartini.
Aku menoleh. Perempuan yang selama hampir setahun kurawat itu menatapku dari ranjang khusus di kamar depan. Sejak stroke membuat tubuh bagian kirinya lumpuh, suaranya sering terdengar lemah. Namun malam itu, setiap kata keluar begitu jelas hingga terasa seperti pisau.
“Kamu merawat Ibu karena mengincar tiga rumah Ibu.”

Aku menatap popok dewasa yang masih ada di tanganku, lalu meja kecil berisi obat, air putih, salep, dan bubur yang baru saja kusuapkan kepadanya.
“Ibu serius?”
“Rumah ini satu. Rumah kontrakan di Cimahi satu. Rumah dekat kampus satu. Kamu pasti sudah menghitung semuanya.”
Aku tertawa kecil, tetapi mataku mulai panas.
Hampir setahun hidupku berputar mengikuti jadwal Ibu Hartini. Sebelum berangkat bekerja, aku memasak sarapan dan menyiapkan obat. Sepulang kantor, aku membersihkan tubuhnya, mengganti pakaian, menyuapi makan, sampai membantunya tidur.
Dimas, suamiku, lebih sering berada di luar kota dengan alasan proyek.
Aku lelah, tentu saja. Pernah aku mengunci diri di kamar mandi hanya agar bisa duduk sendirian selama lima menit tanpa mendengar namaku dipanggil.
Tetapi aku tidak pernah menanyakan sertifikat rumah. Tidak pernah membicarakan warisan.
“Jadi selama ini Ibu menganggap aku seperti itu?”
“Kamu terlalu rajin.”
Kalimat itu membuat sesuatu dalam diriku runtuh.
“Kalau aku tidak merawat Ibu, aku menantu tidak tahu diri. Kalau aku merawat Ibu, aku dianggap mengincar harta.”
Ibu Hartini diam.
Aku meletakkan barang di tanganku, masuk ke kamar, mengambil pakaian secukupnya, lalu memesan mobil.
Dimas sedang di Semarang. Setidaknya begitu pengakuannya.
Aku hanya mengirim satu pesan.
“Aku pulang ke rumah Mama beberapa hari. Tolong urus Ibu.”
Lima menit kemudian dia membalas.
“Kenapa?”
Aku tidak menjawab.
Keesokan harinya telepon Dimas datang berkali-kali.
“Ibu tidak mau makan.”
“Perawat belum dapat.”
“Kamu sebenarnya marah soal apa?”
Lalu malamnya muncul satu pesan yang membuatku mematikan ponsel.
“Jangan buat masalah kecil jadi besar.”
Masalah kecil.
Hampir setahun aku mengubah seluruh ritme hidup demi ibunya. Sekarang penghinaan itu disebut masalah kecil.
Hari kedua, pukul tiga sore, nomor asing menelepon.
“Bu Ayu?”
“Iya.”
“Saya Wira. Saya kenal lama dengan Ibu Hartini.”
Aku mengenali namanya. Pak Wira adalah notaris yang dulu membantu almarhum ayah mertua mengurus dokumen keluarga.
“Ibu Hartini meminta saya menghubungi Anda. Kalau memungkinkan, datang pukul lima. Sendiri.”
“Ke rumah?”
“Bukan. Dan pembicaraan ini tidak boleh diketahui Mas Dimas.”
Dua jam kemudian aku berada di sebuah kedai kopi kecil di Bandung.
Pak Wira sudah menunggu.
Di sampingnya duduk Ibu Hartini di kursi roda.
Aku membeku.
“Ibu?”
“Duduk, Ayu.”
Pak Wira mengeluarkan sebuah ponsel lama dan menekan layar.
Suara Dimas terdengar.
“Kalau Mama masih keras kepala, kita pakai cara lain.”
Kemudian terdengar suara Rika, kakak Dimas.
“Terus Ayu?”
“Justru dia yang paling gampang dipakai.”
Jantungku serasa berhenti.
“Dia yang setiap hari urus Mama. Dia juga sering pegang map dokumen. Kalau nanti ada masalah, bilang saja Ayu yang menekan Mama soal harta.”
“Kalau dia membantah?”
Dimas tertawa pendek.
“Siapa yang bakal percaya?”
Pak Wira menghentikan rekaman.
Aku menatap Ibu Hartini.
“Dua malam lalu,” katanya pelan, “Ibu memang sengaja membuat kamu pergi.”
“Apa?”
“Ibu harus memastikan kamu keluar sebelum Dimas pulang.”
Dadaku terasa dingin.
“Katanya dia di Semarang.”
“Dia tidak pernah ke Semarang.”
Pak Wira mendorong sebuah map cokelat ke arahku.
Di halaman pertama tertulis nama Dimas Pratama.
Di bawahnya tercantum angka Rp1.280.000.000.
Utang.
Bukan satu pinjaman, melainkan beberapa.
Aku membuka halaman demi halaman.
Pinjaman pribadi. Utang bisnis. Perjanjian dengan investor. Surat penagihan.
Lalu aku menemukan fotokopi sertifikat sebuah rumah.
Rumah Ibu Hartini di Cimahi.
“Apa ini?”
“Jaminan,” jawab Pak Wira.
“Tapi rumah itu milik Ibu.”
“Benar.”
“Bagaimana Dimas bisa menjaminkannya?”
Pak Wira menatapku lama.
“Karena ada tanda tangan Ibu Hartini.”
Aku melihat ibu mertuaku.
Beliau menggeleng perlahan.
“Ibu tidak pernah tanda tangan.”
Darahku seperti turun ke kaki.
“Dipalsukan?”
Pak Wira mengangguk.
Ternyata selama berbulan-bulan Dimas menjalankan bisnis investasi properti bersama seseorang bernama Reza. Awalnya bisnis itu benar-benar berjalan. Namun setelah dua proyek gagal, Dimas mulai menutup utang lama dengan uang baru.
Ketika investor meminta pengembalian dana, dia membutuhkan jaminan.
Rumah ibunya menjadi sasaran pertama.
“Kenapa harus menjebak aku?” tanyaku.
Ibu Hartini menggenggam ujung selimut di pangkuannya.
“Karena ada masalah kedua.”
Pak Wira mengeluarkan dokumen lain.
Surat kuasa.
Namaku tercantum di sana.
Ayu Larasati.
Tanda tanganku ada di bawahnya.
Aku menatap kertas itu beberapa detik sebelum tubuhku gemetar.
“Itu bukan tanda tanganku.”
“Kami tahu.”
Surat tersebut seolah menyatakan bahwa aku menerima kuasa dari Ibu Hartini untuk membantu mengurus beberapa aset.
Jika semuanya terbongkar, mereka telah menyiapkan cerita sederhana.
Menantu yang setiap hari merawat ibu mertua mengetahui semua dokumen, mendapat kepercayaan, lalu mencoba mengambil hartanya.
Aku.
“Rekaman ini dari mana?”
Ibu Hartini menarik napas.
“Dimas datang tiga minggu lalu ketika dia kira Ibu tidur.”
Ternyata setelah stroke, Ibu Hartini tidak selalu bisa menunjukkan bahwa dirinya sadar penuh. Malam itu Dimas dan Rika berbicara di kamar sebelah. Ponsel lama yang biasa dipakai mendengarkan pengajian sedang merekam karena sebelumnya Ibu Hartini tanpa sengaja menekan tombol perekam.
Beliau mendengar semuanya.
Sejak itu, diam-diam beliau menghubungi Pak Wira melalui perempuan yang membantunya terapi.
“Kenapa Ibu tidak langsung bilang kepadaku?”
Air mata mulai memenuhi mata Ibu Hartini.
“Karena Ibu takut.”
“Takut aku terlibat?”
“Takut kamu tetap membela Dimas.”
Aku tidak mampu menjawab.
Karena kemungkinan itu memang ada.
Aku mencintai suamiku.
Atau setidaknya, aku mencintai lelaki yang kukira adalah suamiku.
Ibu Hartini kemudian menjelaskan bahwa tuduhan tentang tiga rumah sengaja dibuat agar aku marah dan pergi tanpa membawa dokumen apa pun. Beliau tahu Dimas akan pulang begitu aku pergi karena tidak ada lagi orang yang menjaga rumah.
Dan benar.
Pagi tadi Dimas pulang.
Dia langsung mencari map berisi sertifikat asli.
Namun map itu sudah lebih dulu diamankan Pak Wira.
“Sekarang dia panik,” kata Ibu Hartini.
Ponselku bergetar.
Nama Dimas muncul.
Kali ini aku mengangkatnya.
“Kamu di mana?” tanyanya cepat.
“Rumah Mama.”
“Kapan pulang?”
“Kenapa?”
Ada jeda.
“Mama bikin masalah. Beberapa dokumen hilang.”
Aku menatap Ibu Hartini.
“Dokumen apa?”
“Ya dokumen keluarga. Kamu biasa urus barang Mama, kan? Coba ingat kamu taruh di mana.”
Saat itulah aku sadar.
Dia sedang mulai membangun cerita.
“Aku tidak tahu.”
“Ayu, jangan main-main. Sertifikat rumah Cimahi tidak ada.”
“Kok kamu tahu sertifikat itu tidak ada?”
Telepon mendadak sunyi.
“Aku cuma bantu cari.”
“Bukannya kamu sedang di Semarang?”
Dimas tidak menjawab.
Aku memutus telepon.
Pak Wira kemudian mengatakan sesuatu yang tidak kuduga.
“Kita belum akan melaporkan dia malam ini.”
Aku mengernyit.
“Kenapa?”
“Karena kami perlu tahu siapa orang yang akan menerima sertifikat itu.”
Rupanya pagi tadi Dimas sempat menelepon seseorang dan mengatakan dokumen asli akan diserahkan malam itu.
Pak Wira sudah menghubungi pengacara keluarga.
Aku tidak ingin terlibat lebih jauh, tetapi Ibu Hartini meminta satu hal.
“Pulanglah bersama Ibu.”
Aku menatapnya.
“Untuk apa?”
“Biar Dimas menunjukkan sendiri siapa dirinya.”
Malam itu kami pulang sekitar pukul delapan.
Begitu mobil berhenti di depan rumah, aku melihat kendaraan hitam yang tidak kukenal.
Dimas membuka pintu.
Wajahnya berubah saat melihatku mendorong kursi roda Ibu Hartini.
“Mama dari mana?”
“Keluar.”
“Dengan Ayu?”
Ibu Hartini tidak menjawab.
Di ruang tamu ada Rika dan seorang laki-laki berusia sekitar empat puluh tahun.
Begitu melihat Ibu Hartini, laki-laki itu berdiri.
Dimas langsung berkata, “Ini Pak Reza, teman bisnis.”
Reza tampak tidak nyaman.
“Sertifikatnya mana?” tanyanya.
Ruangan langsung sunyi.
Dimas menatapnya tajam.
“Apa maksudmu?”
Reza mengerutkan dahi.
“Katamu malam ini selesai.”
Rika buru-buru berdiri.
“Pak Reza, mungkin sebaiknya kita bicara di luar.”
“Tidak,” kata Ibu Hartini.
Suaranya lemah, tetapi semua orang berhenti.
“Bicara di sini.”
Dimas mendekati ibunya.
“Mama istirahat saja. Ini urusan kerja.”
“Rumah Ibu sejak kapan jadi urusan kerja kamu?”
Wajah Dimas pucat.
Ibu Hartini memberi isyarat kepadaku.
Aku meletakkan map cokelat di meja.
Dimas langsung mengenalinya.
“Ayu dapat dari mana?”
Aku tersenyum getir.
“Kenapa? Bukannya aku cuma menantu yang mengincar tiga rumah?”
Rika mundur satu langkah.
Dimas menoleh kepada ibunya.
“Mama cerita apa?”
“Cukup banyak.”
Pak Wira dan seorang pengacara kemudian masuk dari teras.
Wajah Dimas berubah total.
Reza segera mengangkat kedua tangan.
“Saya tidak tahu kalau dokumennya bermasalah.”
Dimas berteriak, “Diam!”
Tetapi semuanya terlambat.
Pak Wira menunjukkan salinan surat kuasa palsu dan dokumen jaminan.
Dimas menyangkal.
Dia mengatakan tanda tangan itu diberikan ibunya saat masih sehat.
Lalu Pak Wira memutar rekaman.
Suara Dimas sendiri memenuhi ruang tamu.
“Justru Ayu yang paling gampang dipakai.”
Tidak ada yang bergerak.
Aku melihat wajah suamiku kehilangan warna.
Untuk pertama kalinya sejak menikah, aku merasa sedang menatap orang asing.
Namun kejutan terbesar belum muncul.
Ibu Hartini meminta Pak Wira mengeluarkan satu amplop putih.
“Ini dibuat enam bulan lalu,” katanya.
Dimas menatap amplop itu.
“Apa?”
“Surat wasiat baru.”
Rika langsung bereaksi.
“Mama!”
Ibu Hartini mengangkat tangan kanannya.
“Dengar dulu.”
Beliau menatap kedua anaknya.
“Tiga rumah itu tidak akan diwariskan kepada kalian.”
Dimas membeku.
Rika mulai menangis.
“Mama tega?”
Ibu Hartini tersenyum pahit.
“Yang tega siapa?”
Beliau menjelaskan bahwa setelah stroke, dirinya mulai memikirkan apa yang akan terjadi pada aset peninggalan suaminya. Enam bulan lalu, bahkan sebelum mengetahui rencana Dimas, beliau sudah mengubah wasiat.
Rumah dekat kampus akan dijual setelah beliau meninggal dan dananya diberikan kepada yayasan rehabilitasi pasien stroke.
Rumah kontrakan di Cimahi akan menjadi dana perawatan jangka panjang selama beliau hidup.
Rumah yang kami tempati akan diberikan kepada seseorang.
Semua mata beralih kepadaku.
Aku langsung menggeleng.
“Jangan bilang untuk aku.”
Ibu Hartini tersenyum kecil.
“Bukan.”
Aku terdiam.
“Untuk siapa?”
“Untuk Diah.”
Aku tidak mengenal nama itu.
Namun wajah Dimas dan Rika berubah seperti melihat hantu.
“Dia masih hidup?” bisik Rika.
Ibu Hartini menutup mata sebentar.
“Masih.”
Barulah rahasia terakhir keluarga itu terbuka.
Diah adalah anak perempuan sulung Ibu Hartini.
Kakak Dimas dan Rika.
Lebih dari dua puluh tahun lalu, Diah menikah dengan laki-laki yang tidak direstui keluarga. Ayah mertua memutus hubungan dengannya. Namanya nyaris tidak pernah disebut lagi.
Setelah suaminya meninggal, Diah hidup sederhana di Garut dan bekerja sebagai guru honorer.
Selama bertahun-tahun Ibu Hartini diam-diam berhubungan kembali dengannya.
Dimas mengetahui hal itu enam bulan lalu.
Dan itulah alasan sebenarnya dia mulai terburu-buru menguasai aset.
Dia takut warisan berpindah kepada kakak yang selama ini dianggap sudah keluar dari keluarga.
Aku menatap Dimas.
“Jadi semua ini bukan karena bisnis saja.”
Dia tidak menjawab.
“Kamu menjadikan aku tameng supaya kalau pemalsuan terbongkar, aku yang disalahkan.”
“Ayu, dengarkan aku.”
“Tidak.”
Untuk pertama kalinya aku tidak ingin mendengar penjelasannya.
Malam itu Dimas tidak langsung ditangkap. Namun semua bukti diserahkan kepada pengacara dan kemudian dilaporkan. Beberapa minggu berikutnya menjadi masa paling berat dalam hidupku.
Aku mengajukan gugatan cerai.
Dimas berkali-kali datang meminta kesempatan.
Dia mengatakan semuanya terjadi karena tekanan utang.
Aku hampir percaya sampai suatu hari Pak Wira menunjukkan pesan lama Dimas kepada Rika.
Kalimatnya sederhana.
“Kalau Ayu yang kena, nanti setelah masalah selesai kita bisa urus perceraian. Yang penting rumah aman.”
Setelah membaca itu, tidak ada lagi yang perlu diselamatkan.
Enam bulan kemudian aku kembali mengunjungi Ibu Hartini.
Beliau kini tinggal bersama Diah di sebuah rumah sederhana di Bandung. Terapi rutin membuat tangan kirinya mulai bisa digerakkan sedikit.
Aku datang membawa bubur ayam kesukaannya.
Saat aku hendak menyuapi, beliau menahan tanganku.
“Jangan.”
Aku terdiam.
Beliau mengambil sendok dengan tangan kanannya dan mencoba makan sendiri.
Sebagian bubur tumpah.
Kami malah tertawa.
Setelah beberapa suap, Ibu Hartini menatapku.
“Ayu.”
“Iya, Bu?”
“Maaf.”
Aku tahu maaf itu bukan hanya tentang malam ketika beliau menuduhku mengincar tiga rumah.
Itu adalah permintaan maaf karena beliau pernah membiarkan anaknya membuatku hidup dalam kebohongan.
Aku menggenggam tangannya.
“Dulu aku marah sekali ketika Ibu menuduhku.”
“Ibu tahu.”
“Tapi sekarang aku mengerti kenapa Ibu melakukannya.”
Beliau menggeleng.
“Jangan terlalu mudah memaklumi orang yang menyakiti kamu.”
Aku terdiam.
Ibu Hartini tersenyum.
“Merawat seseorang tidak berarti kamu harus membiarkan dirimu dihancurkan.”
Kalimat itu tinggal di kepalaku lama sekali.
Aku dulu mengira menjadi istri yang baik berarti bertahan. Menjadi menantu yang baik berarti melayani tanpa mengeluh. Menjadi bagian keluarga berarti memaafkan sebanyak mungkin.
Ternyata tidak selalu begitu.
Kadang bentuk keberanian terbesar justru pergi ketika kebaikanmu mulai dipakai untuk menghancurkanmu.
Sebelum pulang, aku membantu Ibu Hartini kembali ke kursi rodanya.
Di dekat pintu, beliau memanggilku.
“Ayu.”
Aku menoleh.
“Tiga rumah itu ternyata tidak berhasil membuat Ibu kehilangan menantu.”
Aku tersenyum.
“Tapi Ibu kehilangan anak laki-laki.”
Beliau terdiam sejenak, lalu menggeleng perlahan.
“Tidak.”
Matanya berkaca-kaca.
“Ibu kehilangan kebohongan tentang siapa anak Ibu sebenarnya.”
Aku tidak mampu menjawab.
Aku hanya memeluknya.
Dan untuk pertama kalinya, aku memahami bahwa malam ketika aku pergi sambil menangis bukanlah malam sebuah keluarga hancur.
Itu adalah malam ketika sebuah keluarga akhirnya berhenti hidup di dalam kebohongan.
