Aku tidak pernah menyangka bahwa rasa percaya yang kubangun selama tujuh tahun pernikahan bisa runtuh hanya dalam satu malam.
Selama ini aku selalu menganggap Marco sebagai suami yang nyaris sempurna. Dia bekerja keras, tidak pernah mengeluh, dan yang paling membuatku bersyukur adalah kedekatannya dengan putra kami yang baru berusia empat tahun, Tobias. Setiap malam tepat pukul delapan, tanpa pernah lupa, dia mengajak Tobias keluar dengan alasan berjalan-jalan agar anak kami bisa menghirup udara segar sebelum tidur.
“Aku saja yang ajak dia keluar. Kamu istirahat. Seharian sudah capek mengurus rumah,” katanya hampir setiap malam.
Aku merasa menjadi perempuan paling beruntung.
Sampai Tobias tanpa sengaja menghancurkan semua keyakinanku.
“Bu, nanti malam kita ke rumah Tante Bianca lagi, ya? Aku mau makan kue cokelat.”
Rumah?
Jantungku berdegup begitu keras hingga telingaku berdenging. Marco selalu bilang mereka hanya pergi ke taman. Lalu rumah siapa yang dimaksud Tobias?

Malam berikutnya, aku pura-pura sedang sakit kepala agar Marco tidak curiga. Seperti biasa, dia menggandeng tangan Tobias keluar rumah sambil melambai padaku.
Begitu pintu tertutup, aku langsung mengambil jaket, mengenakan masker, lalu mengikuti mereka dari kejauhan menggunakan sepeda motor.
Awalnya mereka memang menuju taman kota.
Aku hampir merasa bersalah karena telah mencurigai suamiku.
Namun setelah hanya lima menit berjalan di taman, Marco menggandeng Tobias keluar melalui pintu samping. Mereka kemudian berjalan beberapa blok menuju sebuah kompleks perumahan yang tenang.
Dadaku mulai sesak.
Marco berhenti di depan sebuah rumah berwarna putih dengan pagar kecil yang dipenuhi bunga bugenvil.
Seorang perempuan cantik berusia sekitar tiga puluh tahun membuka pintu bahkan sebelum Marco sempat mengetuk.
Perempuan itu langsung tersenyum lebar.
“Tobias! Anak pintar Tante datang.”
Dia memeluk Tobias dengan hangat, mencium kedua pipinya, lalu mengusap rambutnya penuh kasih.
Marco tersenyum.
Senyum yang selama ini kukira hanya milikku.
Air mataku mulai menggenang.
Kupikir aku akan melihat suamiku berselingkuh.
Kupikir aku siap menghadapi apa pun.
Ternyata aku sama sekali tidak siap melihat anakku tertawa begitu akrab bersama perempuan asing.
Mereka masuk ke dalam rumah.
Aku berdiri mematung di luar pagar selama beberapa menit sebelum akhirnya memberanikan diri mendekat ke jendela samping yang sedikit terbuka.
Dari sana aku bisa melihat ruang makan.
Di atas meja sudah tersedia berbagai makanan favorit Tobias.
Ayam goreng.
Kentang.
Kue cokelat.
Jus jeruk.
Seolah-olah mereka memang sudah menunggu kedatangannya.
Perempuan itu duduk di samping Tobias sambil menyuapinya.
Marco memandangi mereka dengan tatapan yang sulit kujelaskan.
Bukan tatapan penuh gairah seperti seorang pria kepada selingkuhannya.
Melainkan tatapan yang dipenuhi rasa bersalah.
Aku tak tahan lagi.
Aku mengetuk pintu dengan keras.
Suara tawa di dalam langsung berhenti.
Beberapa detik kemudian pintu terbuka.
Wajah Marco berubah pucat pasi.
“Laras?”
Aku mendorongnya menjauh.
“Apa ini?” suaraku bergetar.
Perempuan itu berdiri mematung.
Tobias berlari menghampiriku sambil tersenyum polos.
“Bu! Ini Tante Bianca!”
Aku menatap perempuan itu tajam.
“Siapa kamu?”
Dia tidak menjawab.
Justru Marco yang menghela napas panjang.
“Aku memang harus menjelaskan semuanya.”
“Jelaskan? Setelah berbulan-bulan berbohong?”
Marco memejamkan mata.
“Laras… Bianca bukan selingkuhanku.”
“Kalau begitu kenapa kalian diam-diam membawa anakku ke sini?”
Ruangan menjadi sunyi.
Bianca mulai menangis.
“Aku yang salah,” katanya lirih.
“Tolong jangan salahkan Marco sepenuhnya.”
Aku semakin bingung.
Marco kemudian mengeluarkan sebuah map dari lemari.
Di dalamnya terdapat beberapa dokumen rumah sakit.
Nama yang tertera membuatku membeku.
Bianca Prasetyo.
Diagnosis: Leukemia stadium lanjut.
Tanganku gemetar.
“Apa hubungannya denganku?”
Marco menatapku dengan mata berkaca-kaca.
“Lima tahun lalu, sebelum kita pindah ke kota ini, Bianca pernah menjadi donor darah untuk Tobias.”
Aku mencoba mengingat.
Saat Tobias masih bayi, dia pernah mengalami kecelakaan kecil dan membutuhkan transfusi darah langka.
Semuanya terjadi begitu cepat hingga aku bahkan tidak pernah mengetahui siapa pendonornya.
Marco melanjutkan.
“Setelah itu kami tidak pernah bertemu lagi. Tiga bulan lalu aku tidak sengaja bertemu Bianca di rumah sakit saat menemani ayahku kontrol.”
Bianca menunduk.
“Dokter bilang umurku mungkin tinggal beberapa bulan.”
Aku terdiam.
“Aku tidak punya suami.”
Dia tersenyum pahit.
“Aku juga tidak bisa punya anak.”
Air matanya jatuh satu per satu.
“Sejak pertama kali mendonorkan darah untuk Tobias, aku selalu mendoakan dia sehat. Waktu bertemu lagi, aku hanya ingin melihat bagaimana kabarnya.”
Marco mengangguk pelan.
“Aku awalnya menolak.”
“Lalu kenapa akhirnya kamu setuju?” tanyaku dengan suara dingin.
“Karena aku melihat seseorang yang sedang menghadapi kematian.”
Dia menatap Bianca.
“Permintaannya hanya satu.”
Bianca menahan tangis.
“Aku cuma ingin merasakan bagaimana rasanya menyayangi seorang anak sebelum aku meninggal.”
Ruangan kembali sunyi.
Aku ingin marah.
Ingin membenci mereka.
Namun setiap kali melihat wajah Bianca yang pucat dengan kepala hampir botak tertutup syal, amarahku mulai goyah.
Marco menggenggam kedua tangannya.
“Aku takut kamu salah paham.”
“Lalu kamu memilih berbohong?”
“Aku tahu itu salah.”
Aku menatap Tobias yang sedang asyik memainkan mobil-mobilan bersama Bianca.
Dia tertawa begitu lepas.
Tidak ada ketakutan.
Tidak ada kesedihan.
Hanya kebahagiaan seorang anak kecil.
Selama beberapa menit tidak ada yang berbicara.
Akhirnya Bianca memecah keheningan.
“Aku minta maaf. Mulai besok aku tidak akan bertemu Tobias lagi.”
Dia tersenyum meski air matanya terus mengalir.
“Cukup sampai di sini.”
Tobias langsung memeluknya.
“Kenapa, Tante? Tobias nakal?”
Tangis Bianca pecah.
Dia memeluk Tobias erat seolah takut tidak akan pernah bisa melakukannya lagi.
Aku menoleh ke arah Marco.
Untuk pertama kalinya malam itu aku melihat seorang pria yang benar-benar dihantui rasa bersalah.
Bukan karena perselingkuhan.
Melainkan karena kebohongan yang dia yakini dilakukan demi melindungiku.
Malam itu kami pulang tanpa banyak bicara.
Aku tidak bisa langsung memaafkannya.
Bukan karena Bianca.
Melainkan karena Marco telah menghilangkan hakku untuk memilih.
Selama beberapa hari kami nyaris tidak saling berbicara.
Namun setiap kali Tobias bertanya kapan bisa bertemu Tante Bianca lagi, hatiku semakin berat.
Seminggu kemudian aku diam-diam mendatangi rumah Bianca sendirian.
Rumah itu sepi.
Bianca tampak lebih kurus dibanding terakhir kali kulihat.
Dia terkejut saat membuka pintu.
“Aku hanya ingin minta maaf,” kataku.
“Seharusnya aku yang meminta maaf.”
Aku menggeleng.
“Tidak. Yang membuatku terluka adalah kebohongan, bukan keberadaanmu.”
Hari itu kami berbicara selama berjam-jam.
Aku mendengar kisah hidupnya.
Tentang pertunangannya yang batal karena penyakitnya.
Tentang kedua orang tuanya yang sudah meninggal.
Tentang kesepian yang setiap malam memenuhi rumah kecil itu.
Aku pulang dengan mata sembab.
Malamnya aku berkata kepada Marco, “Besok kita ajak Tobias ke rumah Bianca.”
Marco menatapku tidak percaya.
“Kamu yakin?”
“Aku tidak ingin seorang anak kehilangan kesempatan memberi kebahagiaan kepada seseorang.”
Sejak saat itu kami datang bersama-sama.
Tidak ada lagi kebohongan.
Tidak ada lagi rahasia.
Bianca menjadi seperti keluarga.
Dia mengajari Tobias melukis.
Membacakan dongeng.
Membuat kue favoritnya.
Sementara aku sering membantu membersihkan rumah atau menemaninya menjalani kemoterapi.
Suatu sore, Bianca memberikan sebuah kotak kecil kepadaku.
“Kalau nanti aku sudah tidak ada, tolong berikan ini saat Tobias berumur delapan belas tahun.”
Aku menerimanya dengan tangan gemetar.
Dua bulan kemudian, Bianca mengembuskan napas terakhirnya dengan tenang.
Di detik-detik terakhir, Tobias menggenggam tangannya sambil berkata, “Tante jangan takut. Tobias sayang Tante.”
Bianca tersenyum.
“Itu sudah lebih dari cukup.”
Dia pergi dengan senyum yang tidak pernah kulupakan.
Empat belas tahun berlalu.
Pada ulang tahunnya yang kedelapan belas, Tobias membuka kotak yang ditinggalkan Bianca.
Di dalamnya ada sebuah surat.
“Untuk Tobias.
Kalau kamu membaca surat ini, berarti kamu sudah menjadi pria dewasa. Kita memang tidak memiliki hubungan darah, tetapi sebagian kecil dari hidupku pernah mengalir di dalam tubuhmu. Jangan pernah menyia-nyiakan hidupmu. Jadilah seseorang yang selalu memilih kejujuran, karena kebohongan sekecil apa pun bisa melukai orang yang paling kita cintai. Dan kalau suatu hari nanti kamu melihat seseorang yang kesepian, jangan lewatkan kesempatan untuk menjadi alasan dia tersenyum, meski hanya sebentar. Percayalah, kebahagiaan yang kita berikan kepada orang lain akan hidup jauh lebih lama daripada usia kita sendiri.”
Tobias menangis sambil memelukku.
Marco berdiri di samping kami dengan mata basah.
Aku menggenggam tangannya.
Butuh waktu bertahun-tahun untuk benar-benar memaafkan kebohongannya.
Namun surat Bianca membuatku sadar bahwa cinta tidak selalu datang dalam bentuk yang mudah dipahami. Kadang yang menghancurkan kita bukanlah kenyataan yang kita temukan, melainkan prasangka yang tumbuh karena tidak adanya kejujuran.
Sejak hari itu, setiap kali melewati taman tempat semuanya bermula, aku selalu teringat malam ketika aku mengikuti suami dan anakku dengan hati penuh kecurigaan. Aku memang menemukan sebuah rahasia, tetapi bukan perselingkuhan seperti yang kubayangkan. Aku menemukan pelajaran bahwa kepercayaan membutuhkan kejujuran, dan bahwa kebaikan yang tulus, bahkan hanya berlangsung beberapa bulan, dapat meninggalkan jejak yang tidak akan pernah hilang seumur hidup.
