Hujan semakin deras membasahi aspal kota saat saya melangkah keluar dari gedung Zenith. Namun, dinginnya hujan tidak sedingin atmosfer yang akan menyambut Richard di dalam ruang rapat utama sepuluh menit lagi. Saya tidak pulang. Saya masuk ke sebuah kafe di seberang jalan, melepas seragam sopir yang membosankan, dan di balik kemeja putih sederhana itu, saya mengenakan setelan jas bespoke dari bahan wol Italia yang harganya mungkin setara dengan gaji tahunan sopir di perusahaan Richard.
Saya mengeluarkan ponsel terenkripsi saya. Satu pesan singkat terkirim ke Direktur Operasional: “Mulai rapatnya. Saya akan masuk dalam lima menit.”
Di dalam ruang rapat utama, suasana tegang terasa mencekam. Richard duduk di kursi utama dengan dagu terangkat tinggi, merasa seperti raja yang tak tergoyahkan. Di hadapannya, para direktur tampak gelisah. Mereka tahu sesuatu yang tidak diketahui Richard: pemilik mayoritas yang baru telah mengambil alih kursi kekuasaan.

“Tuan-tuan,” suara Richard bergema, penuh percaya diri yang berlebihan. “Hari ini adalah hari bersejarah. Kita akan menyambut investor baru kita. Saya harap kalian tidak mempermalukan saya dengan pertanyaan-pertanyaan bodoh tentang penurunan laba kuartal ini. Ingat, saya adalah orang yang menjaga kapal ini tetap terapung.”
Tepat saat Richard hendak menyalakan cerutunya, pintu ruang rapat terbuka lebar.
Keheningan seketika menyelimuti ruangan. Saya melangkah masuk, tidak lagi mengenakan seragam sopir yang lusuh, melainkan setelan jas yang menunjukkan otoritas absolut. Di belakang saya, tim pengacara korporasi dan kepala auditor internal mengikuti dengan langkah sigap.
Richard bangkit berdiri, matanya menyipit karena silau oleh cahaya lampu ruangan, mencoba mengenali sosok yang berjalan mantap menuju kursi utama di ujung meja. Ketika saya semakin dekat, ketika raut wajah saya yang tenang namun tajam tertangkap oleh matanya, cerutu di tangan Richard jatuh ke lantai.
“K-kau…” suaranya bergetar, nyaris tidak terdengar. “Bagaimana bisa… kau sopir itu! Apa yang kau lakukan di sini? Satpam! Bawa bajingan ini keluar!”
Tidak ada satpam yang bergerak. Mereka semua menunduk, takut menatap mata saya.
Saya menarik kursi utama—kursi yang selama ini diduduki Richard dengan congkak—dan duduk dengan tenang. Saya meletakkan dokumen pengambilalihan perusahaan di atas meja kayu ek yang megah itu.
“Duduklah, Richard,” ucap saya dingin. Suara saya memenuhi ruangan, tidak lagi bernada hormat seperti saat saya menjadi sopirnya. “Kau benar tadi pagi. Aku memang ‘sampah’ yang mengotori pemandanganmu. Tapi ada satu hal yang lupa kau pelajari di sekolah bisnis: jangan pernah menghina orang yang memegang kontrak hidup matimu.”
Richard terhuyung-huyung, wajahnya yang tadinya merah padam kini berubah pucat pasi seperti kertas. “Ini… ini tidak mungkin. Kau hanya sopir! Kau… kau Gabriel si Miliarder?”
“Tepat sekali,” jawab saya sambil tersenyum tipis. “Satu bulan ini, aku tidak hanya melihat bagaimana kau mengelola perusahaan. Aku melihat bagaimana kau mencuri dana pensiun karyawan, bagaimana kau melakukan penggelapan pajak melalui perusahaan cangkang di luar negeri, dan bagaimana kau memperlakukan manusia seolah mereka adalah debu di bawah sepatumu.”
Ketegangan mencapai puncaknya. Richard mencoba melangkah mundur, namun lututnya lemas. Serangan jantung ringan mungkin memang sedang menyerangnya, namun yang lebih mematikan adalah rasa malunya yang luar biasa.
“Kau memecatku tadi pagi, ingat?” saya melanjutkan, sambil membuka map dokumen. “Itu adalah keputusan terbaik yang pernah kau buat. Karena sejak detik itu, secara hukum, kau bukan lagi bagian dari Zenith. Tapi, karena kau adalah CEO yang ‘bijaksana’, kau meninggalkan tanda tanganmu di dokumen audit yang secara tidak sengaja—atau mungkin karena keserakahanmu—telah menyerahkan semua aset pribadimu sebagai jaminan utang perusahaan yang kau manipulasi.”
Richard terbelalak. Dia mencoba meraih dokumen itu, namun tangannya gemetar hebat. “Kau menjebakku…”
“Aku hanya membiarkanmu menggali kuburanmu sendiri, Richard,” sahut saya tajam. “Keamanan, bawa dia keluar. Dia tidak lagi memiliki akses ke gedung ini, apalagi ke kursi ini.”
Dua petugas keamanan, yang dulu sering dimaki Richard, kini melangkah maju dengan wajah yang jauh lebih tegak dari biasanya. Mereka tidak menyeretnya, tetapi mencengkeram lengan Richard dengan tegas. Pria yang tadi pagi begitu angkuh, kini hanya bisa menatap lantai, suaranya hilang ditelan kesunyian ruang rapat.
Saat Richard diseret keluar, saya menatap para direktur yang tersisa. “Sesi rapat dimulai. Kita akan memulainya dari nol, dengan integritas, bukan dengan kesombongan.”
Ketika pintu tertutup, saya menyandarkan punggung di kursi besar itu. Saya menatap ke luar jendela besar yang menghadap ke kota. Hujan mulai reda. Langit tampak bersih, seolah-olah apa yang saya lakukan hari ini memang perlu terjadi.
Namun, kejutan sebenarnya belum usai. Saat saya membuka laci meja kerja, saya menemukan sebuah buku harian kecil milik CEO sebelumnya. Di halaman terakhir, tertulis catatan tangan yang membuat darah saya mendesak naik ke kepala:
“Jika Gabriel berhasil menemukan dokumen ini, maka permainan sesungguhnya baru dimulai. Dia bukan pembeli perusahaan ini secara kebetulan. Dia adalah target dari sandiwara yang lebih besar.”
Tangan saya gemetar saat membaca baris selanjutnya: “Richard hanyalah pion yang dipersembahkan untuk membuatmu lengah. Selamat datang di jebakan yang sudah kami siapkan selama sepuluh tahun, Gabriel.”
Saya mematung. Di balik jendela, di gedung pencakar langit seberang, saya melihat seberkas cahaya laser merah menyapu kaca jendela ruang rapat saya. Permainan ini belum berakhir. Justru, saya baru saja masuk ke dalam labirin yang tidak pernah saya bayangkan.
Saya mematikan lampu ruang rapat, membiarkan diri saya tenggelam dalam kegelapan, menunggu langkah selanjutnya dari musuh yang bahkan belum menunjukkan wajahnya.
