SUAMI KU TUDUH AKU PENYEBAB SELINGKUHANNYA KEHILANGAN KANDUNGANNYA DAN MEMASUKKANKU KE PENJARA DUA TAHUN PENUH DENGAN DUSTA, NAMUN HARI AKU BEBAS DARI PENJARA PONDOK BAMBU, AKU BUAT DIA BANGKRUT TOTAL SEKETIKA!

Pintu ballroom Hotel Arunika di kawasan SCBD terbuka tepat ketika Rama Wardhana mengangkat gelas sampanye dan tersenyum ke arah ratusan tamu.

“Mulai malam ini,” katanya dari atas panggung, “Wardhana Group memasuki era baru.”

Tepuk tangan meledak. Lampu kristal memantulkan kilau emas ke seluruh ruangan. Para pengusaha, pejabat, selebritas, dan wartawan berdiri mengelilingi meja-meja bundar yang dihiasi bunga putih. Di layar raksasa belakang panggung, terpampang wajah Rama dan Vira dalam foto resmi perusahaan, tampak seperti pasangan sempurna yang baru saja memenangkan dunia.

Vira berdiri di sampingnya dengan gaun merah tua, tangan kanannya melingkar di lengan Rama. Gelang berlian milikku masih ada di pergelangan tangannya.

Dua tahun berlalu, tapi aku mengenali setiap batu berlian itu.

Aku berdiri di ambang pintu dalam mantel hitam yang masih lembap oleh hujan. Seluruh ruangan perlahan kehilangan suara.

Seseorang menjatuhkan sendok.

Seorang wartawan berbisik, “Itu Larasati.”

Rama menoleh. Senyumnya membeku.

Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, pria itu tampak benar-benar ketakutan.

“Tidak mungkin,” gumamnya.

Aku berjalan masuk dengan langkah tenang. Carmen berada beberapa meter di belakangku bersama dua pengacara, seorang notaris, dan tiga petugas dari Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus. Mereka belum bergerak. Mereka menunggu waktuku.

Di meja utama, Raka berdiri mendadak. Wajah anak lelakiku sudah jauh lebih dewasa. Bahunya lebar, rambutnya dipotong pendek, tapi sorot matanya masih sama seperti saat kecil ketika ia menungguku pulang kerja.

Rina duduk membeku di sampingnya. Matanya melebar, lalu mulai berkaca-kaca.

Bu Siti mencengkeram tas tangannya.

“Apa yang dia lakukan di sini?” desisnya.

Rama menurunkan mikrofon dan melangkah maju.

“Keamanan!” teriaknya. “Keluarkan perempuan ini!”

Tidak ada seorang pun bergerak.

Kepala keamanan hotel berdiri di dekat pintu, tapi Carmen sudah menyerahkan dokumen resmi kepadanya beberapa menit sebelumnya. Pria itu hanya menunduk dengan wajah tegang.

Aku berhenti sekitar lima meter dari panggung.

“Selamat ulang tahun, Rama,” kataku.

Suara itu terdengar tenang, bahkan terlalu tenang, sampai beberapa orang di barisan depan merinding.

Rama berusaha tertawa.

“Laras, kau baru keluar penjara dan langsung membuat keributan? Kau seharusnya pulang dan memperbaiki hidupmu.”

“Aku memang datang untuk memperbaiki hidupku.”

Aku mengeluarkan ponsel.

“Dimulai dengan mengambil kembali semua yang kau curi.”

Wajah Vira berubah pucat.

Rama menatapnya sekilas, lalu kembali menatapku.

“Kau tidak punya apa-apa lagi,” katanya. “Saham, rumah, aset, semuanya sudah sah menjadi milik perusahaan.”

Aku tersenyum tipis.

“Benarkah?”

Aku menekan satu tombol.

Layar besar di belakang panggung mendadak gelap. Foto Rama dan Vira menghilang, digantikan bagan transaksi yang rumit. Nama puluhan perusahaan muncul, terhubung oleh garis-garis merah.

PT Langit Persada.

PT Aruna Investama.

PT Karya Sentosa Global.

Lalu sebuah nama asing muncul di tengah layar.

Blue Crest Holdings Ltd.

Ruangan mulai dipenuhi bisikan.

Aku mengambil mikrofon dari salah satu staf yang berdiri kaku di dekatku.

“Selama dua tahun terakhir, Wardhana Group memindahkan dana proyek senilai lebih dari delapan ratus miliar rupiah ke perusahaan-perusahaan fiktif. Uang itu kemudian dialihkan ke rekening luar negeri melalui Blue Crest Holdings.”

Rama langsung berteriak.

“Itu fitnah!”

“Direktur resmi Blue Crest Holdings adalah seorang perempuan bernama Virania Maheswari.”

Semua mata beralih ke Vira.

Tangannya perlahan terlepas dari lengan Rama.

“Aku tidak tahu apa-apa,” katanya cepat.

Layar menampilkan salinan dokumen pendirian perusahaan lengkap dengan tanda tangannya.

Vira mundur selangkah.

“Itu bukan tanda tanganku.”

Carmen mengangkat sebuah map.

“Aslinya sudah disita penyidik pagi tadi.”

Beberapa wartawan langsung menyalakan kamera. Kilatan cahaya mulai memenuhi ballroom.

Rama turun dari panggung dan berjalan ke arahku.

“Matikan layar itu,” katanya dengan suara rendah. “Sekarang.”

Aku tidak bergerak.

“Kenapa? Takut para investor tahu bagaimana uang mereka dipakai untuk membeli vila di Bali, apartemen di Singapura, dan perhiasan untuk kekasihmu?”

Rama mengepalkan tangan.

“Jaga mulutmu.”

“Dua tahun lalu kau menyuruhku diam. Kau menjebloskanku ke penjara agar aku tidak bisa memeriksa pembukuan perusahaan. Tapi kau lupa satu hal.”

Aku menatapnya lurus.

“Auditor tidak perlu berada di kantor untuk menemukan kebohongan. Ia hanya perlu mengikuti uang.”

Aku memberi isyarat kecil kepada Carmen.

Rekaman suara terdengar dari pengeras suara ballroom.

Suara Rama muncul jelas.

“Kalau Laras masuk penjara, dia tidak bisa menolak pengalihan saham. Setelah dua tahun, kita pakai surat kuasa lama itu. Anak-anak juga akan percaya dia gila karena cemburu.”

Lalu suara Vira terdengar.

“Bagaimana kalau dokter bicara?”

“Dia sudah dibayar.”

“Aku sebenarnya tidak pernah hamil, Rama.”

“Justru itu yang membuat rencana ini aman. Tidak ada rekam medis yang bisa dibantah karena rumah sakit milik rekan kita.”

Ruangan langsung gaduh.

Rina menutup mulut dengan kedua tangan.

Raka menatap ayahnya seolah baru pertama kali melihat wajah asli pria itu.

Bu Siti berdiri sambil gemetar.

“Rama,” katanya lirih, “apa maksud semua ini?”

Rama berbalik ke arah ibunya.

“Itu rekaman palsu.”

Namun Vira mendadak menangis.

“Aku sudah bilang jangan putar rekaman itu di mana-mana,” katanya tanpa sadar.

Keheningan turun seketika.

Rama menatap Vira dengan kemarahan yang tak bisa disembunyikan.

“Kau bodoh.”

Vira membeku. Ia baru menyadari apa yang baru saja diucapkannya.

Raka bergerak turun dari meja utama.

“Ayah,” katanya, “jadi Ibu tidak pernah menyebabkan keguguran?”

Rama menarik napas panjang.

“Raka, ini urusan orang dewasa.”

“Jawab.”

Nada suara anakku membuat dadaku sesak. Selama dua tahun, aku membayangkan ia membenciku. Ternyata di balik kemarahannya ada seorang anak yang menunggu satu jawaban.

Rama mendekatinya.

“Kau tidak mengerti situasinya.”

Raka mundur.

“Jangan sentuh aku.”

Rina mulai menangis.

“Ayah bilang Ibu mencoba mencelakai Tante Vira,” katanya. “Ayah bilang Ibu tidak pernah menyayangi kami.”

Aku memandang putriku. Ada seribu kata yang ingin kuucapkan, tapi tak satu pun terasa cukup.

“Aku tidak pernah berhenti menyayangi kalian,” kataku. “Tidak satu hari pun.”

Rina bangkit, lalu berjalan ke arahku. Langkahnya ragu-ragu, seolah takut aku akan menghilang.

Ketika ia berada tepat di depanku, ia menatap wajahku lama sekali.

“Kenapa Ibu tidak kirim surat?”

“Aku mengirim dua puluh tiga surat.”

Rina menoleh ke arah ayahnya.

“Aku tidak pernah menerima satu pun.”

Carmen menyerahkan sebuah amplop plastik bening kepadaku. Di dalamnya ada salinan surat-surat yang dikembalikan ke penjara dengan catatan bahwa keluarga menolak menerima.

Aku memperlihatkannya kepada Rina.

“Ayahmu mengembalikan semuanya.”

Rina mengambil salah satu surat dengan tangan bergetar. Tulisan tanganku terlihat di amplop.

Untuk Rina, putri kecil Ibu.

Tangisnya pecah.

Ia memelukku begitu erat sampai aku hampir kehilangan napas.

Aku menutup mata.

Dua tahun dinding beton, jeruji, penghinaan, dan malam-malam panjang terasa runtuh dalam satu pelukan itu.

Raka berdiri beberapa langkah dari kami. Rahangnya bergetar, tapi ia berusaha tidak menangis.

“Aku datang ke penjara sekali,” katanya. “Tapi Ayah bilang Ibu menolak bertemu.”

Aku menoleh kepadanya.

“Aku tidak pernah diberi tahu.”

Raka menunduk. Lalu ia berjalan mendekat dan memelukku bersama adiknya.

Untuk beberapa detik, ballroom itu tidak lagi ada. Tidak ada wartawan, tidak ada pengusaha, tidak ada lampu mewah. Hanya aku dan kedua anakku, mencoba mengembalikan dua tahun yang telah dirampas.

Suara Rama memecah momen itu.

“Cukup!”

Ia meraih mikrofon dari tanganku.

“Semua ini belum membuktikan apa pun. Perusahaan masih milikku. Aku pemegang saham mayoritas.”

Aku melepaskan pelukan anak-anak dan menatapnya.

“Tidak lagi.”

Notaris yang datang bersama kami maju ke depan.

“Berdasarkan akta pendirian Wardhana Group, saham milik Ibu Larasati tidak dapat dialihkan tanpa tanda tangan langsung dan verifikasi biometrik. Surat kuasa yang digunakan Tuan Rama Wardhana terbukti telah dimodifikasi.”

Layar menampilkan dua dokumen. Satu dokumen asli, satu dokumen palsu. Perbedaan tanggal dan nomor halaman terlihat jelas.

Notaris melanjutkan, “Karena pengalihan dilakukan dengan dokumen tidak sah, seluruh transaksi pengambilalihan saham batal demi hukum.”

Rama terdiam.

Aku melanjutkan kalimat yang paling ingin ia hindari.

“Dan karena sebagian besar pinjaman perusahaan menggunakan saham itu sebagai jaminan, seluruh fasilitas kredit Wardhana Group dibekukan sejak satu jam lalu.”

Beberapa tamu langsung memeriksa ponsel. Para investor mulai berdiri dari kursi mereka.

Seorang direktur bank menghampiri stafnya dan berbisik cepat.

Telepon Rama mulai berdering.

Satu.

Dua.

Tiga.

Dalam beberapa detik, ponselnya tak berhenti bergetar.

Ia menatap layar, lalu mematikan panggilan.

“Ini bisa diselesaikan,” katanya. “Laras, kita bicara pribadi.”

“Aku pernah mencoba bicara pribadi. Kau mengirimku ke penjara.”

“Aku bisa mengembalikan uangmu.”

“Uangku?”

Aku tertawa kecil.

“Rama, kau belum mengerti. Aku tidak datang untuk menagih uang. Aku datang untuk memastikan kau tidak bisa mencuri dari siapa pun lagi.”

Para petugas akhirnya bergerak maju.

Salah satu dari mereka menunjukkan surat penangkapan.

“Rama Wardhana, Anda diminta ikut dengan kami terkait dugaan pemalsuan dokumen, pencucian uang, penggelapan dana perusahaan, dan rekayasa keterangan palsu dalam proses hukum.”

Wajah Rama kehilangan seluruh warnanya.

Vira mencoba berjalan mundur, tapi dua petugas perempuan sudah berdiri di belakangnya.

“Virania Maheswari, Anda juga diminta ikut untuk pemeriksaan.”

Vira langsung menunjuk Rama.

“Semua idenya dari dia! Aku hanya disuruh menandatangani!”

Rama menatapnya tajam.

“Kau menikmati semua uangnya.”

“Aku tidak mau masuk penjara!”

“Kau pikir aku mau?”

Pertengkaran mereka terekam oleh puluhan kamera.

Bu Siti berjalan tertatih mendekati Rama.

“Kau bilang Laras bersalah,” katanya. “Kau bersumpah demi anak-anakmu.”

Rama memalingkan wajah.

Bu Siti menamparnya.

Suara tamparan itu menggema di seluruh ballroom.

“Aku bersaksi melawan menantuku sendiri karena mempercayaimu,” katanya sambil menangis. “Aku menghancurkan keluarga kita.”

Rama hendak menjawab, tapi petugas sudah memasangkan borgol di tangannya.

Saat ia digiring melewatiku, ia berhenti.

“Kau pikir kau menang?” bisiknya. “Perusahaan ini akan hancur tanpa aku.”

Aku mendekat sedikit.

“Perusahaan itu hampir hancur karena kau.”

Ia menatapku penuh kebencian.

“Kau masih mencintaiku. Itu sebabnya kau begitu marah.”

Aku menatap wajahnya lama sekali. Dulu, wajah itu pernah menjadi rumah bagiku. Sekarang aku hanya melihat seorang lelaki yang telah kehilangan dirinya sendiri karena keserakahan.

“Tidak, Rama,” kataku pelan. “Aku tidak datang karena masih mencintaimu. Aku datang karena akhirnya aku mencintai diriku sendiri.”

Petugas membawanya pergi.

Satu per satu tamu meninggalkan ballroom. Para wartawan mengejar petugas sampai ke lobi. Musik berhenti. Kue ulang tahun besar di sudut ruangan tetap utuh, sementara tulisan emas Selamat Ulang Tahun, Rama terlihat menyedihkan di bawah lampu redup.

Aku berdiri bersama Raka dan Rina.

Bu Siti mendekati kami dengan wajah basah oleh air mata.

“Laras,” katanya, “Maafkan Ibu.”

Aku menatap perempuan yang dua tahun lalu menyebutku istri gagal di depan seluruh negeri.

“Aku belum tahu apakah aku bisa memaafkan Ibu.”

Ia mengangguk lemah.

“Tapi aku tidak akan melarang anak-anak bertemu neneknya,” lanjutku. “Kesalahan orang dewasa tidak boleh lagi merampas keluarga mereka.”

Bu Siti menangis semakin keras.

Tiga bulan kemudian, pengadilan membatalkan putusan lamaku setelah dokter yang dulu memberikan kesaksian palsu mengakui bahwa ia menerima bayaran. Namaku dibersihkan secara resmi. Beberapa media yang pernah menghakimiku menerbitkan permintaan maaf, meski tidak ada satu pun yang bisa mengembalikan dua tahun hidupku.

Wardhana Group tidak bangkrut.

Rama yang bangkrut.

Seluruh aset pribadinya disita untuk menutup kerugian investor. Vila, mobil, rekening luar negeri, dan apartemen mewahnya hilang satu per satu. Vira bekerja sama dengan penyidik demi hukuman lebih ringan, lalu mengakui bahwa gelang berlian yang selalu dipakainya diambil dari brankas rumahku.

Aku tidak kembali menjadi istri sosialita.

Aku mengambil alih perusahaan bersama dewan independen dan mengubah namanya menjadi Arunika Properti. Sebagian keuntungan pertama kami digunakan untuk mendirikan lembaga bantuan hukum bagi perempuan yang menjadi korban kriminalisasi dan rekayasa perkara.

Pada hari peresmian lembaga itu, Raka berdiri di sampingku sebagai mahasiswa hukum tahun pertama. Rina memegang tanganku sambil tersenyum.

Di depan gedung, ada sebuah plakat kecil bertuliskan:

Kebenaran mungkin terlambat, tetapi ia tidak pernah kehilangan jalan pulang.

Aku menatap tulisan itu lama.

Dulu aku mengira pembalasan terbaik adalah melihat Rama kehilangan segalanya.

Ternyata aku salah.

Pembalasan terbaik bukan kehancurannya.

Pembalasan terbaik adalah saat aku, setelah semua yang mereka lakukan, tetap mampu membangun hidup yang jauh lebih besar daripada kebohongan mereka.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang