Namaku Althea, tiga puluh tahun.
Aku berdiri di dapur kontrakan petak dengan sapu di tangan kanan dan busa sabun masih menempel di sela-sela jari kiriku ketika pintu kayu berderit. David masuk bersama seorang perempuan yang langsung memenuhi ruangan sempit itu dengan aroma parfum mahal. Jas baru yang dikenakannya tampak begitu asing dibandingkan lelaki yang dulu menulis proposal bisnis dengan laptop rusak di lantai kontrakan ini.
Di atas meja makan yang salah satu kakinya masih disangga kardus bekas, ia meletakkan map cokelat.
“Tanda tangan.”

Aku membuka map itu dengan tangan gemetar.
Surat cerai.
Satu kata yang seolah menghancurkan tujuh tahun hidupku.
David bahkan tidak mencoba menjelaskan. Stella, perempuan di sampingnya, hanya tersenyum sinis sambil memandangi dinding kontrakan yang lembap.
“David sudah bukan laki-laki miskin lagi,” katanya ringan. “Dia pantas mendapatkan kehidupan yang lebih baik.”
Aku mencoba mengingat lelaki yang pernah memelukku sambil berkata bahwa kami akan kaya bersama. Lelaki yang menangis ketika aku menyerahkan uang hasil menjual kalung peninggalan ibuku.
Namun lelaki itu sudah tidak ada.
Yang berdiri di depanku hanyalah seorang CEO yang memandangku seperti beban.
Aku menandatangani surat itu.
Bukan karena menyerah.
Melainkan karena saat itu aku sadar, cinta yang harus dipaksa bukan lagi cinta.
Aku keluar dari rumah hanya membawa ponsel retak.
Hujan turun begitu deras.
Di tengah guyuran hujan itulah aku menghubungi satu-satunya nomor yang tidak pernah kusentuh selama tujuh tahun.
“Lolo…”
Suara di seberang terdiam cukup lama.
“Thea?”
Aku menggigit bibir.
“Aku gagal.”
Suara lelaki tua itu terdengar berat.
“Pulanglah.”
Hanya itu.
Tidak ada pertanyaan.
Tidak ada kemarahan.
Telepon terputus.
Dua belas jam kemudian aku berada di Bandara Soekarno-Hatta.
Selama penerbangan menuju Surabaya, pikiranku terus dipenuhi wajah David.
Aku membencinya.
Tetapi lebih dari itu, aku membenci diriku sendiri karena telah mengorbankan segalanya tanpa pernah menyisakan apa pun untuk diriku.
Mobil hitam menjemputku di bandara.
Pengemudinya langsung menundukkan kepala.
“Selamat datang kembali, Nona Althea.”
Aku terkejut.
Tujuh tahun lalu, semua orang di rumah menyebutku Nona.
Kini panggilan itu terasa asing.
Rumah keluarga masih berdiri megah seperti dahulu.
Lolo ternyata bukan nama asli.
Ia adalah Lorenzo Wijaya, sahabat mendiang ibuku sekaligus direktur utama grup perusahaan keluarga.
Sejak kecil aku memang memanggilnya Lolo.
Ketika aku kabur demi menikahi David, ayahku marah besar.
Beliau menganggap aku telah mengkhianati keluarga.
Enam bulan setelah itu, beliau meninggal karena serangan jantung.
Aku bahkan tidak sempat menghadiri pemakamannya.
Perasaan bersalah itu tidak pernah hilang.
Lolo menyambutku di ruang kerja.
Rambutnya sudah memutih.
Matanya berkaca-kaca.
“Ibumu pernah berkata, kalau suatu hari kamu kembali, jangan pernah menghukummu dengan masa lalu.”
Aku menunduk.
“Ayah pasti membenciku.”
Lolo menggeleng.
“Sebelum meninggal, beliau mencabut semua surat yang memutus hubungan denganmu.”
Aku mengangkat kepala.
“Apa?”
Lolo membuka brankas.
Ia mengeluarkan sebuah amplop.
“Itu surat terakhir beliau.”
Tanganku gemetar saat membukanya.
Tulisan tangan ayah masih sangat kukenal.
Thea.
Kalau kamu membaca surat ini, berarti aku sudah tidak ada.
Ayah memang keras kepala.
Tetapi Ayah selalu mencintaimu.
Kalau laki-laki yang kamu pilih ternyata menyakitimu, jangan malu pulang.
Rumah ini akan selalu menjadi rumahmu.
Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan.
Selama tujuh tahun aku hidup dengan keyakinan bahwa keluargaku membenciku.
Ternyata semua itu hanya karena gengsi dan salah paham.
Beberapa minggu kemudian, perlahan aku mulai membantu perusahaan keluarga.
Aku tidak langsung duduk di kursi direktur.
Aku memilih memulai dari bawah.
Aku mengunjungi gudang.
Aku berbicara dengan karyawan.
Aku belajar laporan keuangan.
Aku ikut rapat operasional.
Semua orang terkejut melihat putri keluarga Wijaya yang rela mengenakan helm proyek dan sepatu keselamatan.
Pengalaman hidup miskin membuatku memahami sesuatu yang tidak pernah diajarkan sekolah bisnis.
Aku tahu bagaimana rasanya menghitung uang sebelum membeli beras.
Aku tahu bagaimana rasanya bekerja tiga shift.
Aku tahu bagaimana menghargai orang kecil.
Dalam waktu satu tahun, divisi logistik yang kutangani mencetak pertumbuhan terbesar di perusahaan.
Media mulai menulis namaku.
Namun aku tidak pernah membahas masa laluku.
Sementara itu, perusahaan David berkembang sangat cepat berkat proyek pemerintah yang dibantu keluarga Stella.
Mereka sering tampil di majalah bisnis sebagai pasangan sukses.
Hingga suatu pagi, semuanya berubah.
Audit nasional menemukan kejanggalan dalam proyek digitalisasi yang dikerjakan perusahaan David.
Nilainya mencapai ratusan miliar rupiah.
Saham perusahaannya langsung anjlok.
Investor mulai menarik dana.
Berita itu memenuhi televisi.
Aku hanya menatap layar tanpa berkata apa-apa.
Seminggu kemudian sekretarisku masuk.
“Bu Althea, ada tamu.”
“Siapa?”
“Pak David.”
Aku tersenyum tipis.
“Izinkan masuk.”
David masuk dengan wajah pucat.
Jas mahalnya masih sama.
Tetapi matanya tidak lagi penuh kesombongan.
Ia duduk tanpa dipersilakan.
“Thea…”
Aku tetap berdiri.
“Ada keperluan apa?”
Ia menghela napas panjang.
“Perusahaanku sedang kesulitan.”
Aku diam.
“Aku tahu perusahaanmu sedang mencari mitra logistik nasional.”
Aku masih diam.
“Aku ingin bekerja sama.”
Aku memandangnya lama.
Lelaki yang dulu mengusirku kini datang meminta bantuan.
Ironis.
“Thea…”
Ia menunduk.
“Aku salah.”
Kalimat itu akhirnya keluar.
“Aku menyesal.”
Aku berjalan mendekati jendela.
Di luar, para karyawan sedang bekerja.
Sebagian mengenakan seragam sederhana.
Mereka mengingatkanku pada diriku sendiri dahulu.
“Aku pernah memberimu seluruh hidupku.”
David tidak mampu menatapku.
“Aku bahkan menjual kalung terakhir peninggalan ibuku.”
Ia menggenggam kedua tangannya.
“Aku akan mengembalikannya.”
Aku tersenyum kecil.
“Tidak bisa.”
“Pegadaian masih menyimpannya.”
Aku menggeleng.
“Bukan soal kalung.”
“Benda itu bisa dibeli.”
“Kepercayaan tidak.”
Ia menutup wajahnya.
“Aku benar-benar menyesal.”
Aku menarik napas panjang.
“David.”
Ia mengangkat kepala.
“Kalau hari itu kamu datang membawa perempuan lain, bukan karena sudah tidak mencintaiku.”
“Kamu datang karena merasa sudah lebih tinggi dariku.”
“Itulah kesalahanmu.”
Wajahnya memucat.
“Aku tidak akan membalas dendam.”
Ia tampak bingung.
“Tapi aku juga tidak akan menyelamatkanmu.”
Aku menekan tombol interkom.
“Tolong antar Pak David keluar.”
Sebelum pintu tertutup, ia berbalik.
“Thea.”
Aku tidak menjawab.
“Kalau waktu bisa diulang…”
Aku tersenyum tipis.
“Kalau waktu bisa diulang, aku tetap akan bekerja keras.”
“Hanya saja kali ini bukan untuk membangun hidup orang yang salah.”
Ia pergi.
Itulah pertemuan terakhir kami.
Beberapa bulan kemudian, perusahaan David resmi dinyatakan pailit.
Stella meninggalkannya bahkan sebelum proses hukum selesai.
Media yang dulu memuja mereka kini ramai memberitakan kejatuhan mereka.
Suatu sore, Lolo memanggilku.
Ia menyerahkan sebuah kotak beludru.
“Ada seseorang yang menitipkan ini.”
Aku membukanya.
Kalung emas milik ibuku.
Pegadaian ternyata tidak pernah melelangnya karena Lolo diam-diam menebusnya bertahun-tahun lalu.
Beliau hanya menunggu sampai aku cukup kuat untuk menerimanya kembali.
Aku memegang kalung itu erat-erat.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa benar-benar pulang.
Aku tidak kehilangan segalanya malam ketika David mengusirku.
Justru malam itulah aku berhenti hidup sebagai bayangan seseorang.
Aku kembali menjadi diriku sendiri.
Aku belajar bahwa pengorbanan tidak pernah salah.
Yang salah adalah memberikannya kepada orang yang menganggap cinta sebagai utang yang memalukan.
Kalung itu kini kusimpan di ruang kerjaku, bukan sebagai lambang harta, melainkan sebagai pengingat bahwa harga diri tidak boleh digadaikan, bahkan demi orang yang paling kita cintai.
