Gagang pintu itu bergerak sekali lagi.
Pelan, tetapi jelas bukan karena angin.
Aku berdiri di tengah kamar dengan tubuh kaku, sementara suara perempuan dari firma hukum masih terdengar melalui ponsel.
“Pak Ramon, polisi sedang menuju ke sana. Jangan membuat suara apa pun.”

Aku mematikan suara kaset, lalu memasukkan buku hijau dan foto lama ke dalam ransel. Kotak kayu terlalu besar untuk kubawa. Aku hanya sempat mengambil beberapa lembar naskah, surat dari firma hukum, dan pena tua milik Madam Corazon.
Dari balik pintu terdengar suara logam bergesekan.
Seseorang sedang mencoba membuka kunci.
Kamar kontrakanku berada di lantai dua sebuah bangunan tua. Satu-satunya jalan keluar selain pintu adalah jendela kecil yang menghadap atap seng rumah sebelah.
Aku membuka jendela perlahan.
Di bawah sana, gang sempit tampak kosong. Lampu jalan berkedip-kedip, memantulkan genangan air sisa hujan. Jarak antara jendelaku dan atap rumah sebelah tidak lebih dari satu meter, tetapi jika terpeleset, aku bisa jatuh ke halaman beton.
Bunyi kunci dipaksa semakin keras.
Aku mengikat ransel di dada, menaiki kursi, lalu keluar melalui jendela.
Saat kakiku mendarat di atas atap seng, suara dentuman terdengar dari dalam kamar.
Pintu berhasil dibuka.
Aku menahan napas.
Dua bayangan masuk.
“Cari kotaknya,” kata seseorang.
Suara itu terasa familiar.
Aku merangkak perlahan di atas atap, berusaha tidak menimbulkan bunyi. Namun seng tua berderit di bawah berat tubuhku.
“Dia di luar!”
Aku langsung berlari.
Atap itu licin. Kakiku sempat tergelincir, tetapi aku berhasil meraih talang sebelum jatuh. Di belakangku terdengar seseorang memanjat jendela.
Aku melompat ke balkon rumah berikutnya, menabrak jemuran, lalu turun melalui tangga darurat.
Begitu tiba di gang, aku berlari tanpa menoleh.
Sebuah mobil hitam meluncur dari ujung jalan.
Mobil yang sama yang kulihat saat pulang.
Aku menyelinap ke gang kecil di antara warung dan bengkel motor. Mobil itu tidak bisa masuk, tetapi dua laki-laki keluar dan mengejarku dengan berjalan kaki.
Aku mengenali salah satunya.
Tubuh tinggi, jaket gelap, langkah sedikit pincang.
Pak Beni.
Darahku seperti berhenti mengalir.
Supervisor yang selama ini memperingatkanku agar tidak terlalu lama berbicara dengan Madam Corazon ternyata berada di antara orang-orang yang memburuku.
Aku terus berlari sampai melihat sebuah minimarket yang masih buka dua puluh empat jam. Di depannya berdiri dua pengemudi ojek daring.
Aku menghampiri salah satu dari mereka.
“Mas, antar saya ke kantor polisi. Sekarang.”
Pengemudi itu melihat wajahku yang pucat dan napasku yang tidak teratur.
“Ada masalah?”
“Mereka mengejar saya.”
Ia tidak bertanya lagi.
Aku naik ke motornya tepat saat Pak Beni muncul dari ujung gang.
“Ramon!” teriaknya.
Motor melaju.
Aku menoleh sekali.
Pak Beni berdiri di bawah lampu jalan, menatapku dengan wajah yang tidak lagi terlihat seperti supervisor pemarah yang kukenal. Wajahnya tampak takut.
Bukan marah.
Takut.
Kami tiba di kantor polisi sekitar lima belas menit kemudian.
Dua petugas dari firma hukum sudah menunggu bersama seorang pengacara bernama Ratih Hadiwijaya. Ia perempuan berusia sekitar empat puluh tahun, mengenakan setelan abu-abu dan membawa tas dokumen.
“Pak Ramon?”
Aku mengangguk.
Ia segera membawaku ke ruangan pemeriksaan.
“Apakah kotak itu masih di kamar Anda?”
“Ya. Mereka mungkin sudah mengambilnya.”
Ratih menatap petugas polisi.
“Kita harus ke sana sekarang.”
Polisi mengirim tim ke kontrakanku. Namun ketika mereka tiba, kamar sudah kosong.
Kotak kayu hilang.
Pemutar kaset hancur.
Tidak ada sidik jari yang jelas karena para pelaku menggunakan sarung tangan.
Aku merasa gagal.
Semua yang dititipkan Madam Corazon hilang hanya dalam satu malam.
Namun Ratih tidak terlihat panik.
“Yang penting Anda selamat,” katanya.
“Mereka mengambil naskahnya.”
“Bukan semuanya.”
Aku menatapnya.
Ratih membuka tas dan mengeluarkan sebuah map tebal.
“Ibu Corazon sudah menduga kotak itu mungkin direbut. Naskah yang Anda terima adalah salinan.”
Aku terdiam.
“Dokumen asli disimpan di tempat lain,” lanjutnya. “Kotak itu hanya umpan untuk memancing orang-orang yang masih mengawasi beliau.”
“Jadi beliau sengaja membuat saya menjadi sasaran?”
Ratih menatapku beberapa detik sebelum menjawab.
“Beliau percaya Anda akan membuka rekaman dan menghubungi kami. Namun beliau tidak memperkirakan mereka bergerak secepat ini.”
Aku mengepalkan tangan.
“Siapa mereka?”
Ratih membuka beberapa foto.
Salah satunya memperlihatkan seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun, berkacamata, mengenakan jas mahal.
“Namanya Adrian Wiratama. Dua puluh tahun lalu, ia bekerja sebagai direktur administrasi di Rumah Sakit Bintang Kasih, Jakarta. Sekarang ia memiliki jaringan rumah sakit swasta dan perusahaan asuransi.”
Foto berikutnya adalah seorang perempuan bernama Helena Tanuwijaya, mantan kepala bagian rekam medis.
Kemudian foto ketiga.
Pak Beni.
Nama lengkapnya tercetak di bawah foto.
Benediktus Wiratama.
“Dia anak Adrian?” tanyaku.
Ratih mengangguk.
“Benediktus ditempatkan di perusahaan Anda tiga tahun lalu.”
“Untuk mengawasi siapa?”
“Anda.”
Aku merasa ruangan itu semakin sempit.
“Tapi kenapa? Saya bahkan tidak tahu apa-apa.”
“Karena mereka tahu Nenek Anda membawa salah satu bayi keluar dari rumah sakit. Mereka tidak pernah yakin apakah beliau menyimpan bukti atau tidak.”
Aku teringat semua teguran Pak Beni.
Waktu panggilan terlalu lama.
Kita bukan layanan teman bicara.
Mungkin ia bukan sekadar kesal karena aturan perusahaan.
Ia berusaha menjauhkan aku dari Madam Corazon.
“Apakah dia Mateo?”
Ratih menggeleng.
“Tidak. Berdasarkan usia dan dokumen kelahirannya, Benediktus bukan bayi kedua.”
“Lalu siapa?”
“Itulah yang belum kami pastikan.”
Aku menyerahkan foto lama yang kusimpan di ransel.
Ratih memeriksanya dengan saksama.
Saat melihat tulisan di belakang foto, wajahnya berubah.
“Beliau tidak pernah menunjukkan foto ini kepada saya.”
“Apa artinya?”
Ratih menunjuk perawat yang menggendong dua bayi.
“Perempuan ini bernama Sari Pramesti. Dia bukan perawat biasa. Dia orang terakhir yang melihat bayi-bayi itu sebelum dokumen mereka diubah.”
“Masih hidup?”
“Kami tidak tahu.”
Aku membuka buku hijau di halaman seratus delapan belas.
Di sana tertulis sebuah alamat di Jakarta Timur, diikuti satu kalimat:
Temukan rumah dengan pintu biru. Jangan mengetuk tiga kali.
Aku menunjukkan halaman itu kepada Ratih.
Ia segera membuat pengaturan perjalanan ke Jakarta.
Polisi menyarankan agar aku tetap berada dalam perlindungan, tetapi aku menolak menunggu di Surabaya. Setelah mengetahui bahwa seluruh hidupku mungkin dibangun di atas kebohongan, aku tidak bisa kembali duduk di depan komputer dan menjawab panggilan seperti biasa.
Kami berangkat pagi itu menggunakan penerbangan pertama.
Sepanjang perjalanan, aku membaca sebagian naskah Kota yang Menelan Nama-Nama.
Tokoh utamanya adalah seorang petugas kebersihan rumah sakit bernama Marni.
Ia menemukan dua bayi di ruang penyimpanan setelah seorang dokter memerintahkan semua staf keluar. Satu bayi berasal dari keluarga miskin yang ibunya meninggal setelah melahirkan. Bayi lainnya adalah anak seorang penulis terkenal yang dinyatakan meninggal beberapa jam setelah lahir.
Namun Marni melihat kedua bayi itu masih bernapas.
Dalam novel tersebut, bayi pertama diselamatkan. Bayi kedua dibawa ke sebuah keluarga kaya.
Aku menutup naskah ketika membaca kalimat berikutnya.
Anak yang dibawa itu tumbuh tanpa mengetahui bahwa ibunya masih hidup, tetapi ia dibesarkan untuk melindungi orang-orang yang telah mencurinya.
Setibanya di Jakarta, Ratih membawaku ke kantor firma hukum. Di sana sudah ada dua penyidik dan seorang jurnalis senior bernama Maya Lestari.
Aku keberatan ketika melihat jurnalis itu.
“Madam Corazon melarang naskah dipublikasikan.”
Maya mengangguk.
“Saya tidak akan menerbitkan apa pun tanpa izin. Saya mengenal beliau sebelum menghilang.”
Ratih menjelaskan bahwa Maya adalah salah satu dari sedikit orang yang membantu Corazon mengumpulkan bukti dua puluh tahun lalu.
“Kebakaran itu bukan kecelakaan,” kata Maya. “Saya tiba beberapa menit setelah api membesar. Corazon selamat karena keluar melalui pintu belakang. Namun asistennya meninggal di dalam.”
“Kenapa polisi tidak menyelidiki?”
“Mereka menyelidiki. Lalu bukti menghilang, saksi mengubah keterangan, dan kasus ditutup.”
Aku menatap foto Adrian Wiratama di meja.
“Karena dia membayar mereka?”
“Karena dia tidak bekerja sendirian,” jawab Maya. “Ada pejabat, dokter, pengusaha, dan keluarga kaya yang terlibat.”
Sore itu, kami pergi ke alamat dalam buku hijau.
Rumah tua berpintu biru itu berdiri di ujung gang sempit, tertutup pohon mangga dan pagar berkarat. Cat dindingnya mengelupas. Tirainya tertutup rapat.
Aku hampir mengetuk tiga kali karena kebiasaan, tetapi teringat pesan Madam Corazon.
Aku mengetuk dua kali.
Tidak ada jawaban.
Kemudian terdengar suara perempuan tua dari dalam.
“Siapa?”
“Ramon.”
Pintu terbuka sedikit.
Seorang perempuan berambut putih menatapku melalui celah. Matanya langsung melebar.
“Kamu mirip ibumu.”
Kakiku terasa lemas.
Perempuan itu adalah Sari Pramesti.
Ia mempersilakan kami masuk setelah Ratih menunjukkan surat dari Corazon.
Di dalam rumah, terdapat tumpukan koran lama, obat-obatan, dan sebuah mesin jahit. Sari berjalan pelan menggunakan tongkat.
“Aku menunggu dua puluh tahun,” katanya.
“Menunggu saya?”
“Menunggu salah satu dari kalian.”
“Salah satu dari kami?”
Sari mengeluarkan kotak logam dari lemari.
Di dalamnya ada gelang bayi, salinan rekam medis, dan dua hasil tes darah.
Ia menyerahkan salah satu gelang kepadaku.
Tulisan di gelang itu bukan Ramon.
Nama yang tertera adalah Rafa Adinata.
“Itu nama lahirmu,” kata Sari.
“Siapa orang tua saya?”
“Ibumu bernama Ayu Adinata. Ia bekerja di dapur rumah sakit. Ia meninggal karena pendarahan setelah melahirkan.”
“Dan ayah saya?”
Sari menunduk.
“Tidak tercatat.”
Aku menahan rasa kecewa yang datang tiba-tiba. Selama bertahun-tahun, aku membayangkan mungkin orang tuaku adalah orang baik yang meninggal terlalu cepat. Kenyataannya, ibuku meninggal sendirian dan namaku hampir dijual kepada orang lain.
“Nenek saya?”
“Namanya Marni. Ia bukan nenek kandungmu. Tetapi malam itu, ia mempertaruhkan hidupnya untuk menyelamatkanmu.”
Mataku panas.
Semua pengorbanan nenek mendadak terlihat lebih besar daripada yang pernah kubayangkan.
“Bagaimana dengan Mateo?”
Sari terdiam lama.
“Mateo dibawa oleh dokter bernama Surya Mahendra. Ia menyerahkan bayi itu kepada pasangan yang tidak bisa memiliki anak.”
“Keluarga siapa?”
Sari memandang Ratih, lalu Maya.
“Keluarga Wiratama.”
Ruangan itu sunyi.
“Berarti Mateo dibesarkan sebagai anak Adrian?”
“Ya.”
“Siapa namanya sekarang?”
Sari mengambil sebuah foto keluarga dari kotak logam.
Foto itu memperlihatkan Adrian Wiratama bersama istrinya dan dua anak laki-laki.
Anak sulung adalah Pak Beni.
Anak yang lebih muda berdiri di sebelah kanan, tersenyum tipis.
Aku mengenalnya.
Dimas.
Rekan kerja yang duduk di meja sebelahku.
Orang yang bercanda saat kotak kayu dibuka.
Orang yang melihat seluruh isinya.
Orang yang tahu aku membawa kotak itu pulang.
“Namanya Mateo?” suaraku hampir tidak terdengar.
“Sekarang ia dipanggil Dimas Wiratama,” jawab Sari.
Ponsel Ratih berbunyi.
Ia membaca pesan, lalu wajahnya memucat.
“Polisi menemukan Pak Beni.”
“Di mana?”
“Di sebuah gudang dekat pelabuhan.”
“Ditangkap?”
Ratih menggeleng.
“Dia terluka. Sebelum kehilangan kesadaran, dia mengatakan Dimas membawa naskah itu ke Jakarta.”
Aku teringat wajah Pak Beni saat mengejarku.
Ia tampak takut.
Bukan karena gagal menangkapku.
Mungkin ia mencoba memperingatkanku.
Malam itu, Dimas mengirim pesan.
Datang sendiri ke perpustakaan tua di Jalan Cikini. Bawa buku hijau. Kalau polisi ikut, semua dokumen akan dibakar.
Aku menunjukkan pesan itu kepada Ratih.
“Kita tidak akan membiarkan Anda pergi sendiri.”
“Tapi kalau dia melihat polisi?”
“Kami akan mengawasi dari jauh.”
Perpustakaan tua itu sudah lama ditutup untuk renovasi. Bangunannya gelap, hanya diterangi lampu darurat di lorong utama.
Dimas berdiri di antara rak-rak kosong.
Kotak kayu berada di atas meja.
“Jadi kamu sudah tahu,” katanya.
Aku menggenggam buku hijau.
“Kamu Mateo.”
Ia tertawa pendek.
“Nama itu tidak berarti apa-apa bagiku.”
“Madam Corazon adalah ibumu.”
“Perempuan yang meninggalkanku selama dua puluh tahun?”
“Dia mencarimu.”
“Dia bersembunyi.”
“Karena keluarga yang membesarkanmu mencoba membunuhnya.”
Wajah Dimas menegang.
“Kamu tidak mengerti apa pun. Ayahku memberiku rumah, pendidikan, dan hidup yang layak.”
“Dengan mencuri dirimu.”
“Semua orang mencuri sesuatu, Ramon. Ada yang mencuri uang, ada yang mencuri nama, ada yang mencuri kesempatan.”
“Dan sekarang kamu ingin membakar bukti?”
Dimas melihat kotak kayu.
“Aku hanya ingin hidupku tetap seperti semula.”
“Dengan membiarkan keluarga lain tidak pernah tahu anak mereka dijual?”
Ia tidak menjawab.
Aku mendekat.
“Madam Corazon tidak menyerahkan naskah itu agar aku menghancurkanmu.”
“Lalu untuk apa?”
“Agar kamu punya kesempatan memilih siapa dirimu.”
Dimas menatapku.
Untuk sesaat, aku melihat bukan anak pengusaha kaya atau orang yang mengkhianatiku.
Aku melihat seorang laki-laki yang seluruh hidupnya baru saja runtuh.
Tiba-tiba suara tepuk tangan terdengar dari lantai atas.
Adrian Wiratama muncul bersama dua laki-laki bersenjata.
“Pidato yang menyentuh,” katanya.
Dimas membeku.
“Ayah?”
“Kamu terlalu lemah sejak kecil.”
Adrian turun perlahan.
“Serahkan buku itu.”
Dimas berdiri di depanku.
“Bapak bilang hanya ingin mengambil naskah.”
“Aku juga ingin memastikan tidak ada lagi saksi.”
Wajah Dimas berubah.
Untuk pertama kalinya, ia memahami bahwa dirinya tidak pernah benar-benar dianggap anak.
Hanya bukti hidup yang harus dikendalikan.
Adrian mengangkat pistol.
Namun sebelum ia menembak, Dimas mendorong meja hingga kotak kayu jatuh. Lampu darurat padam. Aku mendengar teriakan, langkah kaki, dan letusan yang menggema di ruangan.
Polisi menyerbu dari dua pintu.
Ketika lampu menyala kembali, Adrian terbaring dengan tangan diborgol. Pelurunya hanya mengenai rak kayu.
Dimas duduk di lantai, gemetar.
Di tangannya ada kaset kedua yang ditemukan di dasar tersembunyi kotak.
Ratih memutarnya malam itu di kantor polisi.
Suara Corazon terdengar.
“Mateo, kalau kamu mendengar ini, aku ingin kamu tahu bahwa aku tidak pernah berhenti mencarimu. Namun aku juga tidak ingin kamu dihukum karena dosa orang yang membesarkanmu.”
Dimas menutup wajahnya.
“Aku tidak tahu apakah kamu akan menjadi orang baik atau tidak,” lanjut Corazon. “Tetapi seorang ibu selalu berharap anaknya masih mampu memilih jalan yang benar, bahkan setelah dibesarkan di tempat yang salah.”
Penyelidikan besar dimulai setelah dokumen asli diserahkan kepada kepolisian dan media.
Puluhan kasus adopsi palsu dibuka kembali.
Beberapa keluarga akhirnya mengetahui asal-usul anak-anak mereka.
Adrian Wiratama dan sejumlah mantan pejabat rumah sakit ditangkap.
Pak Beni selamat. Ternyata ia tidak mencoba merebut kotak itu. Ia mengikuti orang-orang suruhan ayahnya untuk melindungi Dimas, tetapi terlambat menyadari bahwa ayahnya berniat membunuh kami semua.
Dimas bersedia menjadi saksi utama.
Ia kehilangan nama keluarga, jabatan, dan sebagian besar hartanya.
Namun untuk pertama kalinya dalam hidup, ia mengakui nama yang diberikan ibunya.
Mateo de Villa.
Enam bulan kemudian, Kota yang Menelan Nama-Nama diterbitkan.
Atas permintaan terakhir Corazon, namaku tidak dicantumkan sebagai pewaris. Aku hanya ditulis dalam halaman persembahan.
Untuk Ramon, yang mengajarkanku bahwa didengarkan adalah bentuk terakhir dari kasih sayang.
Royalti buku digunakan untuk membantu keluarga korban dan membangun pusat bantuan bagi anak-anak tanpa identitas hukum.
Aku kembali bekerja di layanan pelanggan, tetapi tidak lagi sebagai agen shift malam. Perusahaan memberiku posisi dalam program pelayanan lansia.
Kadang-kadang, ketika telepon berdering lewat tengah malam, aku masih berharap nama Corazon de Villa muncul di layar.
Tentu saja itu tidak pernah terjadi.
Namun sekarang aku memahami kalimat yang pernah ia katakan.
Tidak semua tulisan dibuat untuk segera dibaca.
Sebagian tulisan menunggu sampai orang yang tepat cukup berani untuk membukanya.
Dan sebagian cerita tidak berakhir ketika penulisnya meninggal.
Cerita itu berakhir ketika kebenaran akhirnya menemukan seseorang yang bersedia mendengarkan.
