Maya menatap layar ponselnya begitu lama sampai suara dari siaran langsung itu terdengar seperti datang dari tempat yang sangat jauh.
“Uang itu untuk Nadine.”
Kalimat Bu Rahmi terus terngiang di kepalanya.
Perempuan di dalam foto itu telah meninggal. Dimas berdiri di samping petinya dan menerima pelukan belasungkawa sebagai seorang suami yang baru kehilangan istri.
Padahal enam tahun terakhir, Dimas juga tidur di samping Maya, memanggilnya istri, dan setiap pagi mencium keningnya sebelum berangkat kerja.
“Sejak kapan?” suara Maya akhirnya keluar, nyaris seperti bisikan.
Bu Rahmi menariknya masuk dan menutup pintu.
“Duduk dulu.”
“Aku tidak mau duduk, Bu. Aku cuma ingin tahu sejak kapan.”
Bu Rahmi menatap wajah menantunya dengan mata merah.
“Dua tahun lalu.”
Jawaban itu terasa seperti pukulan.
Tepat dua tahun lalu Dimas mulai mengatakan bahwa Bu Rahmi sakit. Tepat dua tahun lalu ia mulai sering pulang larut. Tepat dua tahun lalu perjalanan dinasnya semakin sering.
Semuanya cocok.
Bu Rahmi mengambil ponselnya dan membuka galeri.
“Ibu menyimpan ini karena sejak awal Ibu merasa ada yang aneh.”
Ia menunjukkan sebuah foto.
Dimas berdiri di sebuah restoran bersama Nadine. Di belakang mereka ada beberapa anggota keluarga yang Maya kenal. Paman Dimas. Dua sepupunya. Bahkan kakak perempuan Bu Rahmi.
Nadine berdiri sangat dekat dengan Dimas.
“Apa mereka semua tahu?” tanya Maya.
“Tidak semuanya tahu kebenaran. Dimas bilang kepada keluarga besar bahwa kalian sudah bercerai diam-diam. Katanya kamu tidak ingin kabar perceraian tersebar karena takut merusak reputasi klinik.”
Maya tertawa pendek.
Bukan karena lucu.
Ia tertawa karena rasanya terlalu kejam untuk menjadi kenyataan.
“Jadi selama dua tahun, aku dibuat percaya Ibu membenciku. Sementara Ibu dibuat percaya aku sudah meninggalkan keluarga.”
Bu Rahmi mengangguk dengan wajah penuh penyesalan.
“Dimas memisahkan kita supaya kebohongannya tidak terbongkar.”
Maya kembali melihat siaran langsung.
Komentar terus bermunculan.
Turut berduka, Mas Dimas.
Semoga almarhumah mendapat tempat terbaik.
Yang kuat ya, Mas.
Maya mematikan layar.
“Aku mau ke sana.”
Bu Rahmi langsung berdiri.
“Maya.”
“Aku mau melihat sendiri.”
“Jangan datang dalam keadaan seperti ini.”
“Justru karena aku sudah terlalu lama diam.”
Tatapan Maya berubah.
Kesedihan masih ada di sana, tetapi sesuatu yang lebih dingin mulai tumbuh di baliknya.
“Dua tahun dia mengatur apa yang boleh aku lihat, siapa yang boleh aku temui, dan apa yang harus aku percaya. Hari ini tidak lagi.”
Bu Rahmi tidak mencoba menghentikannya lagi.
“Aku ikut.”
Empat puluh menit kemudian, mobil Maya berhenti di depan rumah duka di kawasan Jakarta Barat.
Puluhan kendaraan memenuhi halaman.
Karangan bunga berdiri berjejer.
Nama Nadine Larasati tercetak besar di beberapa papan belasungkawa.
Maya turun dari mobil bersama Bu Rahmi.
Langkahnya terasa berat, tetapi wajahnya tenang.
Begitu mereka memasuki ruangan utama, beberapa kepala langsung menoleh.
Seorang sepupu Dimas membelalakkan mata.
“Tante Rahmi?”
Percakapan di sekitar mereka perlahan mereda.
Lalu Dimas melihat mereka.
Wajahnya berubah pucat.
Untuk pertama kalinya pagi itu, ketenangan di wajah pria tersebut benar-benar runtuh.
“Maya?”
Suara itu cukup keras untuk membuat beberapa orang menoleh.
Maya berjalan mendekat.
Di samping peti, sebuah foto Nadine tersenyum tenang.
Maya berhenti beberapa meter di depan suaminya.
“Kamu bilang ibumu meninggal.”
Dimas tidak menjawab.
“Kamu bahkan bilang permintaan terakhir Ibu adalah supaya aku tidak datang ke pemakamannya.”
Ruangan menjadi semakin sunyi.
Bu Rahmi maju satu langkah.
“Ibumu masih hidup, Dimas.”
Seorang perempuan setengah baya yang tadi memeluk Dimas di siaran langsung menatap bingung.
“Mas Dimas, siapa mereka?”
Dimas langsung mendekati Maya.
“Kita bicara di luar.”
Maya mundur.
“Tidak.”
“Maya, jangan bikin keributan.”
“Aku yang bikin keributan?”
Suara Maya tetap rendah, tetapi setiap katanya terdengar jelas.
“Kamu mengumumkan dirimu sebagai duda di pemakaman perempuan yang selama dua tahun kamu perkenalkan sebagai istrimu, sementara istri sahmu masih hidup. Menurutmu bagian mana yang harus kita bicarakan diam-diam?”
Bisik-bisik mulai terdengar.

Wajah Dimas menegang.
Ibu Nadine menatapnya.
“Istri sah?”
Maya mengeluarkan ponsel.
Ia membuka foto buku nikah mereka.
“Saya Maya Restu. Saya menikah secara sah dengan Dimas enam tahun lalu. Sampai hari ini kami belum pernah bercerai.”
Ibu Nadine terlihat seperti kehilangan keseimbangan.
“Dimas?”
Pria itu menelan ludah.
“Bu, saya bisa jelaskan.”
“Jelaskan apa?”
Suara perempuan itu pecah.
“Kamu bilang sudah bercerai!”
Maya menatapnya.
Tiba-tiba ia menyadari sesuatu.
Perempuan di hadapannya bukan musuhnya.
Keluarga Nadine juga telah dibohongi.
“Bu,” kata Maya lebih lembut, “saya datang bukan untuk mempermalukan Nadine. Saya bahkan baru tahu keberadaannya hari ini.”
Mata ibu Nadine langsung dipenuhi air mata.
“Anak saya juga tidak tahu.”
Dimas menoleh cepat.
“Bu.”
“Diam!”
Suara perempuan itu menggema.
Ia berjalan ke sebuah meja kecil dan mengambil tas milik Nadine.
“Dua hari sebelum meninggal, Nadine meminta saya menyimpan ponselnya. Dia bilang kalau terjadi sesuatu padanya, jangan berikan ponsel ini kepada siapa pun sebelum bertemu pengacaranya.”
Wajah Dimas berubah.
Untuk pertama kalinya, Maya melihat ketakutan nyata di mata suaminya.
“Bu, itu barang pribadi Nadine.”
Ibu Nadine memeluk tas itu.
“Kenapa kamu takut?”
Dimas tidak menjawab.
Maya menangkap perubahan kecil itu.
Dan tiba-tiba ia tahu kematian Nadine mungkin menyimpan sesuatu yang lebih besar.
“Apa yang terjadi pada Nadine?” tanyanya.
Ibu Nadine terdiam.
“Kecelakaan mobil.”
Dimas langsung menyela.
“Sudah, jangan bahas ini sekarang.”
Namun kalimat itu justru membuat Maya semakin curiga.
Malam sebelumnya, Nadine mengemudikan mobil sendirian dari sebuah apartemen di Kuningan. Mobilnya menabrak pembatas jalan.
Polisi menyebut penyelidikan masih berlangsung.
Tetapi menurut ibunya, beberapa jam sebelum kecelakaan Nadine sempat menelepon sambil menangis.
Ia mengatakan satu kalimat.
“Aku baru tahu semuanya.”
Setelah pemakaman selesai, Maya tidak pulang bersama Dimas.
Ia pergi bersama Bu Rahmi dan ibu Nadine.
Namanya Bu Sinta.
Mereka bertiga duduk di sebuah kafe kecil tidak jauh dari rumah duka.
Tiga perempuan yang seharusnya tidak pernah bertemu justru dipertemukan oleh kebohongan satu laki-laki.
Bu Sinta membuka ponsel Nadine menggunakan kode yang pernah diberikan putrinya.
Mereka menemukan ratusan pesan antara Nadine dan Dimas.
Sebagian membuat Maya mual.
Dimas mengatakan bahwa Maya adalah mantan istri yang materialistis.
Ia mengaku harus membayar banyak utang akibat perceraian.
Lebih mengejutkan lagi, Nadine ternyata sering memberikan uang kepadanya.
Selama hampir dua tahun.
Totalnya lebih dari satu miliar rupiah.
Maya menatap angka-angka transfer itu.
“Dia juga mengambil uang dari saya.”
Bu Sinta menatapnya.
“Berapa?”
“Hampir seluruh kebutuhan rumah tangga saya tanggung. Dia bilang gajinya habis untuk pengobatan ibunya.”
Bu Rahmi menutup wajah.
“Ya Allah.”
Namun sesuatu yang lain kemudian ditemukan.
Sebuah folder bernama Klinik M.
Di dalamnya terdapat foto dokumen klinik Maya.
Sertifikat.
Laporan keuangan.
Data aset.
Bahkan salinan tanda tangannya.
Maya merasakan jantungnya berdetak keras.
“Aku tidak pernah memberikan ini.”
Ada percakapan Dimas dengan seseorang bernama Reno.
Maya membaca perlahan.
Kalau Maya setuju jual klinik, kita bisa tutup semuanya.
Kalau tidak?
Cari cara supaya dia tanda tangan.
Nadine sudah mulai curiga.
Pesan terakhir dikirim tiga hari lalu.
Jangan sampai dua perempuan itu bertemu.
Ruangan terasa dingin.
Bu Sinta menutup mulut.
“Nadine menemukan ini.”
Mereka kemudian membuka pesan yang dikirim Nadine kepada seorang pengacara.
Isinya singkat.
Saya curiga suami saya menggunakan identitas dan dokumen beberapa orang untuk mendapatkan pinjaman. Saya juga baru mengetahui bahwa dia mungkin masih memiliki istri sah.
Maya memejamkan mata.
Jadi bukan cinta yang membuat Dimas menjalani dua kehidupan.
Uang.
Dimas menggunakan Maya sebagai sumber penghasilan stabil.
Menggunakan Nadine sebagai sumber dana.
Dan ketika utangnya semakin besar, ia membutuhkan aset terbesar yang bisa dijual.
Klinik Maya.
Malam itu Maya membuat keputusan.
Ia tidak pulang ke rumah.
Ia menghubungi pengacara dan melaporkan dugaan pemalsuan dokumen serta penipuan.
Bu Sinta menyerahkan ponsel Nadine kepada polisi.
Bu Rahmi bersedia memberikan kesaksian.
Dimas menelepon Maya lebih dari tiga puluh kali.
Tidak satu pun dijawab.
Sampai pukul dua pagi sebuah pesan masuk.
Kamu salah paham. Pulanglah. Kita selesaikan sebagai suami istri.
Maya membaca pesan itu lama.
Kemudian membalas.
Enam tahun aku menjadi istrimu. Dua tahun terakhir aku menjadi rekening berjalanmu. Mulai malam ini, aku hanya akan menjadi orang yang memastikan semua kebohonganmu mendapat konsekuensi.
Setelah itu ia memblokir nomor Dimas.
Penyelidikan berlangsung hampir tiga bulan.
Kematian Nadine akhirnya dinyatakan sebagai kecelakaan. Tidak ditemukan bukti bahwa Dimas menyebabkan kecelakaan tersebut.
Namun penyelidikan terhadap keuangannya membuka sesuatu yang jauh lebih besar.
Dimas memiliki utang hampir tiga miliar rupiah dari investasi bodong dan judi online yang selama bertahun-tahun disembunyikannya.
Ia memalsukan beberapa dokumen.
Mengajukan pinjaman menggunakan data Nadine.
Dan mencoba menjadikan aset klinik Maya sebagai jaminan melalui dokumen yang tanda tangannya telah dipalsukan.
Dimas kehilangan pekerjaannya.
Ia kemudian ditetapkan sebagai tersangka atas penipuan, pemalsuan dokumen, dan penyalahgunaan data.
Maya mengajukan perceraian.
Hari sidang terakhir, Dimas terlihat jauh berbeda.
Tubuhnya lebih kurus.
Matanya cekung.
Ketika petugas membawanya melewati lorong pengadilan, ia berhenti di depan Maya.
“Aku memang salah,” katanya pelan. “Tapi aku pernah mencintaimu.”
Maya menatapnya tanpa kebencian.
Justru itulah yang membuat Dimas terlihat semakin hancur.
“Orang yang mencintai tidak membuat pasangannya meragukan kewarasannya sendiri selama dua tahun.”
Dimas terdiam.
“Kamu membuat aku percaya bahwa Ibu membenciku. Kamu membuat Ibu percaya bahwa aku membencinya. Kamu membuat Nadine percaya bahwa dia satu-satunya perempuan dalam hidupmu.”
Maya menggeleng.
“Itu bukan cinta. Itu pengendalian.”
Ia berjalan pergi.
Setahun kemudian, klinik Maya berkembang menjadi dua cabang.
Bu Rahmi kembali menjadi bagian dari kehidupannya meskipun secara hukum mereka bukan lagi mertua dan menantu.
Setiap Minggu pagi, Bu Rahmi masih datang membawa makanan.
Kadang terlalu banyak.
Kadang sambil mengomel karena Maya terlalu sibuk bekerja.
Maya selalu tertawa.
Hubungannya dengan Bu Sinta juga tidak terputus.
Mereka bahkan membuat program konsultasi hukum gratis bagi perempuan yang mengalami penipuan finansial dalam rumah tangga.
Program itu diberi nama Nadine.
Bukan karena Nadine adalah perempuan lain.
Melainkan karena pada akhirnya mereka memahami bahwa Nadine juga korban.
Suatu sore, setelah klinik tutup, Maya menerima sebuah amplop dari Bu Sinta.
Di dalamnya ada surat yang ditemukan terselip di antara barang-barang Nadine.
Surat itu belum pernah dikirim.
Untuk Maya Restu.
Tangan Maya bergetar ketika membukanya.
Tulisan Nadine memenuhi selembar kertas.
Mbak Maya, kalau surat ini sampai kepadamu, mungkin kita tidak sempat bertemu. Aku baru tahu siapa kamu. Aku minta maaf meskipun aku tahu permintaan maaf tidak bisa mengembalikan dua tahun hidupmu. Dimas membuatku percaya bahwa kamu adalah perempuan jahat yang meninggalkannya. Sekarang aku tahu kita berdua hanya mendengar cerita yang sengaja dibuat agar kita tidak pernah saling bicara. Aku sedang mengumpulkan semua bukti. Kalau sesuatu terjadi, jangan percaya satu kata pun darinya. Dan tolong jangan salahkan dirimu sendiri.
Maya berhenti membaca.
Air matanya jatuh ke atas kertas.
Di bagian paling bawah ada satu kalimat terakhir.
Kita mungkin tidak pernah menjadi teman, tetapi setidaknya jangan biarkan kebohongannya membuat kita menjadi musuh.
Maya memeluk surat itu di dadanya.
Selama ini ia mengira hari ketika mengetahui Bu Rahmi masih hidup adalah hari ketika pernikahannya hancur.
Ternyata bukan.
Hari itu justru hari ketika hidupnya kembali.
Karena kebohongan terbesar Dimas akhirnya mengajarkan sesuatu yang tidak pernah Maya lupakan.
Pengkhianatan paling berbahaya bukan ketika seseorang berbohong kepadamu.
Melainkan ketika ia berhasil membuatmu berhenti mempercayai mata, hati, dan nalurimu sendiri.
Dan sejak hari itu, Maya berjanji tidak akan pernah lagi menyerahkan kebenaran hidupnya kepada mulut orang lain.
