Jerome masih menatap wanita itu ketika ia turun dari tangga terakhir.
Ada sesuatu yang mengusik pikirannya.
Bukan hanya wajahnya.
Cara wanita itu menatap, cara ia tersenyum tipis, bahkan gerakan kecil ketika ia menyelipkan rambut ke belakang telinga terasa anehnya familiar.
Namun Jerome segera menggeleng.
Tidak mungkin.
Wanita yang pernah hidup bersamanya tidak seperti ini.
Clarissa yang ia ingat selalu mengenakan kaus longgar, rambut diikat seadanya, wajah pucat karena kurang tidur, dan mata yang terus-menerus terlihat lelah.
Sementara wanita di hadapannya sekarang tampak seperti seseorang yang bahkan sulit didekati.
Tenang.
Elegan.
Percaya diri.
Dan yang paling mengganggu Jerome, wanita itu berjalan berdampingan dengan Alexander Wijaya, pendiri Wijaya Global Capital, salah satu konglomerat Indonesia yang namanya tercatat dalam berbagai investasi internasional di Singapura, London, Dubai, dan New York.
Jerome datang malam itu justru karena ingin mendapatkan lima menit saja untuk berbicara dengan Alexander.
Namun kini pria itu berdiri begitu dekat dengan wanita misterius tersebut, bahkan beberapa kali menundukkan kepala untuk mendengarkan apa yang dikatakannya.
“Kenapa kamu terus melihat dia?” tanya Roxy ketus.
Jerome tersadar.
“Tidak. Aku cuma merasa pernah melihatnya.”
Roxy tertawa kecil.
“Semua laki-laki pasti merasa pernah melihat wanita secantik itu.”
Jerome tidak menjawab.
Beberapa menit kemudian, pembawa acara naik ke atas panggung dan meminta perhatian seluruh tamu.
Acara amal malam itu bertujuan menggalang dana untuk program pemulihan dan pelatihan kerja bagi ibu tunggal yang kehilangan sumber penghasilan.
Jerome sebenarnya tidak terlalu peduli.
Baginya, acara itu hanya tempat berkumpulnya orang-orang berpengaruh.
Namun kalimat berikutnya dari pembawa acara membuat seluruh pikirannya mendadak tertuju ke panggung.
“Dan malam ini, kami juga ingin memperkenalkan salah satu pendiri utama program Rumah Kedua, sebuah yayasan yang dalam dua tahun terakhir telah membantu lebih dari seribu lima ratus ibu tunggal mendapatkan pelatihan, pekerjaan, serta pendampingan psikologis.”
Sorot lampu bergerak ke arah wanita yang tadi turun dari tangga.
“Tepuk tangan untuk Ibu Clarissa Adinata.”
Tubuh Jerome membeku.
Gelas di tangannya hampir terlepas.
Roxy menoleh cepat.
“Apa?”
Jerome tidak menjawab.
Suara tepuk tangan memenuhi ballroom, tetapi telinganya seperti berdenging.
Clarissa.
Nama itu menghantamnya seperti sesuatu yang datang dari masa lalu.
Wanita itu berjalan naik ke panggung.
Ketika wajahnya terlihat jelas di bawah cahaya, Jerome akhirnya melihatnya.
Tatapan matanya.
Itulah tatapan yang dulu sering memandangnya sambil meminta sedikit bantuan ketika bayi mereka menangis tengah malam.
Itulah mata yang pernah basah ketika ia berkata bahwa tubuh Clarissa membuatnya malu.
Jerome perlahan meletakkan gelas.
“Tidak mungkin,” gumamnya.
Roxy memandang panggung, lalu memandang Jerome.
“Jangan bilang…”
Jerome masih tidak mampu berbicara.
Clarissa menerima mikrofon.
“Selamat malam.”
Suaranya tenang.
Tidak bergetar.
Tidak ada jejak wanita yang dulu menangis sendirian di kamar mandi sambil menahan suara agar bayinya tidak terbangun.
“Tiga tahun lalu,” lanjut Clarissa, “saya berada di titik ketika saya merasa tidak lagi memiliki apa pun.”
Ballroom menjadi sunyi.
“Saya baru melahirkan. Tubuh saya berubah. Saya tidak memiliki pekerjaan. Saya tidak memiliki tabungan. Dan dalam waktu yang hampir bersamaan, saya kehilangan orang yang saya pikir akan menjadi tempat saya bersandar.”
Jerome menunduk tanpa sadar.
Roxy mulai memahami semuanya.
Clarissa tidak pernah menyebut nama siapa pun.
Namun setiap kalimat terasa seperti diarahkan tepat ke dada Jerome.
“Saat itu saya pikir kegagalan terbesar saya adalah karena saya tidak cukup cantik untuk membuat seseorang bertahan.”
Ia berhenti sebentar.
“Belakangan saya sadar, saya salah.”
Tatapan Clarissa menyapu seluruh ruangan.
“Tubuh seorang perempuan setelah melahirkan bukan tanda bahwa ia kehilangan nilai. Luka, perubahan bentuk tubuh, kelelahan, semua itu adalah bukti bahwa ia baru saja melewati sesuatu yang luar biasa.”
Beberapa wanita di antara tamu mulai bertepuk tangan.
Clarissa tersenyum.
“Saya bangkit bukan dengan mengubah diri agar diterima kembali oleh seseorang yang pernah meninggalkan saya. Saya bangkit karena saya punya seorang anak yang setiap hari melihat saya sebagai rumahnya.”
Jerome merasakan tenggorokannya mengering.
Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, bayangan anaknya muncul sangat jelas dalam pikirannya.
Bayi kecil yang dulu sering menangis.
Bayi yang tidak pernah lagi ia tanyakan kabarnya.
Setelah Jerome pergi, kehidupan Clarissa memang hampir runtuh.
Tabungannya hanya cukup untuk membayar sewa apartemen selama dua bulan.
Ia menjual beberapa perhiasan pemberian ibunya dan mulai menerima pekerjaan desain konten dari rumah.
Tidak besar.
Kadang hanya cukup untuk membeli susu dan membayar listrik.
Ada malam ketika ia bekerja hingga pukul tiga pagi, kemudian terbangun pukul empat karena anaknya menangis.
Ada hari ketika ia makan mi instan agar bisa membeli obat demam untuk anaknya.
Namun perlahan, sesuatu berubah.
Seorang klien menyukai pekerjaannya.
Klien itu merekomendasikannya kepada perusahaan lain.
Clarissa kemudian mulai membantu bisnis kecil membangun identitas merek dan strategi digital.
Ia belajar hampir setiap malam melalui kelas daring gratis.
Ketika anaknya tidur, ia membaca.
Ketika anaknya bermain, ia bekerja.
Ketika merasa ingin menyerah, ia mengingat janji di depan cermin malam itu.

Dua tahun kemudian, agensi kecil yang ia bangun dari meja makan apartemen telah memiliki lebih dari dua puluh karyawan.
Di sanalah ia pertama kali bertemu Alexander Wijaya.
Bukan di pesta.
Bukan pula di restoran mahal.
Alexander datang ke kantor Clarissa untuk mencari agensi lokal yang dapat membantu salah satu perusahaan sosial miliknya.
Clarissa saat itu bahkan tidak tahu siapa dirinya.
Ia hanya mempresentasikan strategi selama empat puluh menit sambil sesekali menghentikan pembicaraan karena harus menerima telepon dari sekolah anaknya.
Alexander tertarik bukan karena penampilannya.
Ia tertarik karena Clarissa berani mengatakan bahwa konsep kampanye perusahaan miliknya “terlalu mewah dan tidak memahami kehidupan orang biasa”.
Tidak banyak orang berani mengatakan itu kepada Alexander.
Sejak saat itu mereka bekerja bersama.
Lalu menjadi sahabat.
Dan beberapa bulan terakhir, hubungan mereka tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dalam.
Namun Alexander tidak pernah menyelamatkan Clarissa.
Ketika bertemu dengannya, Clarissa sudah berdiri dengan kakinya sendiri.
Malam itu, setelah pidato selesai, Jerome hampir tidak bisa menahan dirinya.
Ia menunggu sampai Clarissa turun dari panggung.
Begitu Alexander pergi berbicara dengan beberapa tamu, Jerome langsung mendekat.
“Clarissa.”
Clarissa berhenti.
Ia menoleh perlahan.
Tidak terkejut.
Seolah sejak awal ia sudah tahu momen ini akan terjadi.
“Jerome.”
Hanya satu kata.
Tidak marah.
Tidak hangat.
Sekadar pengakuan bahwa orang di depannya memang seseorang dari masa lalu.
Jerome menelan ludah.
“Aku… aku benar-benar tidak mengenalimu tadi.”
Clarissa tersenyum kecil.
“Aku tahu.”
Jawaban itu justru membuat Jerome semakin malu.
“Aku tidak menyangka kamu bisa…”
Ia berhenti.
“Bisa apa?” tanya Clarissa.
Jerome tidak tahu bagaimana menyelesaikan kalimatnya.
Bisa secantik ini?
Bisa sesukses ini?
Bisa berdiri di ruangan yang bahkan membuat dirinya merasa kecil?
“Aku cuma tidak menyangka hidupmu berubah sejauh ini.”
Clarissa mengangguk.
“Banyak hal memang berubah dalam tiga tahun.”
Jerome menatap wajahnya.
“Anak kita bagaimana?”
Kalimat itu membuat senyum Clarissa menghilang.
Untuk pertama kalinya, tatapannya menjadi dingin.
“Namanya Ethan.”
Jerome terdiam.
Tentu saja ia tahu nama itu.
Setidaknya dulu.
Namun terasa memalukan bahwa nama anaknya sendiri kini terdengar seperti pengingat atas kegagalannya.
“Dia sehat?”
“Sehat.”
“Sudah besar?”
Clarissa menatap Jerome cukup lama sebelum menjawab.
“Anak-anak memang tumbuh, Jerome. Bahkan ketika ayahnya tidak melihat.”
Jerome menunduk.
“Aku pantas mendapat kalimat itu.”
Clarissa tidak membantah.
Saat itulah Roxy datang dengan wajah tegang.
“Jerome, kita harus bicara dengan Pak Alexander sebelum dia pergi.”
Ia kemudian memandang Clarissa.
Tatapannya bergerak dari gaun Clarissa, perhiasannya, hingga wajahnya.
Roxy mengenali nama itu.
Selama bertahun-tahun ia tahu bahwa Clarissa adalah istri yang ditinggalkan Jerome.
Namun ia tidak pernah membayangkan perempuan itu akan muncul dalam bentuk seperti ini.
“Aku Roxy,” katanya akhirnya.
Clarissa mengangguk.
“Aku tahu.”
Roxy tampak tidak nyaman.
Jerome segera berkata, “Clarissa, sebenarnya aku sedang punya masalah bisnis.”
Clarissa mengangkat alis.
“Dan?”
Jerome menarik napas.
“Aku perlu bertemu Alexander. Aku tahu ini mungkin terdengar tidak pantas, tapi kalau kamu bisa mengenalkan kami…”
Clarissa menatapnya tanpa ekspresi.
Tiga tahun.
Setelah tiga tahun tidak pernah mengirim susu, biaya sekolah, uang pengobatan, bahkan pesan ulang tahun kepada anaknya, Jerome akhirnya datang kembali.
Bukan untuk meminta maaf.
Bukan untuk bertanya tentang Ethan.
Melainkan meminta akses kepada seorang investor.
Ironisnya begitu sempurna sampai Clarissa hampir ingin tertawa.
“Jadi itu alasan sebenarnya kamu menghampiriku?”
Jerome tersentak.
“Bukan. Aku juga ingin bicara tentang kita.”
“Kita sudah tidak ada.”
“Clarissa, aku tahu aku salah.”
Suara Jerome mulai mengecil.
“Aku masih muda. Aku bodoh. Aku terlalu mementingkan penampilan.”
Clarissa menatapnya.
“Kamu bukan meninggalkanku karena muda, Jerome. Kamu meninggalkanku karena ketika aku berada di kondisi paling rapuh, kamu memilih membuatku merasa tidak berharga.”
Jerome tidak menjawab.
“Dan yang lebih buruk,” lanjut Clarissa, “kamu meninggalkan anakmu.”
Roxy menarik tangan Jerome.
“Sudahlah.”
Namun Jerome melepaskannya.
“Aku bisa memperbaikinya.”
Clarissa hampir tersenyum.
“Tidak semua hal dibuat untuk kembali seperti semula.”
Tiba-tiba suara Alexander terdengar dari belakang mereka.
“Ada masalah?”
Jerome langsung berubah sikap.
“Pak Alexander.”
Ia buru-buru mengulurkan tangan.
“Saya Jerome Santoso dari Santoso Development.”
Alexander menatap tangannya sebentar, lalu menjabat dengan sopan.
“Saya tahu.”
Mata Jerome berbinar.
“Bapak tahu perusahaan saya?”
“Tentu.”
Harapan muncul di wajah Jerome.
Namun kalimat Alexander berikutnya menghancurkannya.
“Tim saya baru selesai melakukan due diligence minggu lalu.”
Jerome membeku.
Due diligence?
Ia tidak pernah secara resmi bertemu Alexander.
Bagaimana bisa?
Alexander melanjutkan dengan tenang.
“Kami mempertimbangkan beberapa perusahaan properti yang membutuhkan suntikan modal. Perusahaan Anda salah satunya.”
Jerome seketika terlihat gugup.
“Kalau begitu kita bisa berdiskusi. Saya yakin setelah Bapak melihat potensi proyek kami…”
“Saya sudah melihat semuanya.”
Nada suara Alexander tetap sopan.
“Utang jangka pendek, sengketa dengan dua kontraktor, laporan arus kas, dan penggunaan dana investor sebelumnya.”
Wajah Jerome memucat.
Roxy ikut diam.
“Pak, saya bisa menjelaskan.”
“Saya rasa tidak perlu.”
Alexander kemudian menatap Clarissa.
Ada sesuatu dalam tatapannya yang lembut, jauh berbeda dari sikap bisnisnya.
“Clarissa termasuk salah satu anggota komite investasi sosial kami. Pendapatnya ikut menentukan apakah kami melanjutkan pembicaraan dengan sebuah perusahaan.”
Jerome perlahan menoleh kepada Clarissa.
Semua kepingan tiba-tiba jatuh pada tempatnya.
Clarissa bukan sekadar wanita yang datang bersama miliarder.
Ia memiliki suara dalam keputusan yang dapat menentukan apakah bisnis Jerome bertahan atau runtuh.
“Clarissa…”
Nada suara Jerome berubah.
Hampir memohon.
Namun Clarissa langsung menggeleng.
“Jangan.”
Jerome terdiam.
“Aku tidak akan menghancurkan bisnismu karena dendam,” kata Clarissa.
Jerome menatapnya penuh harapan.
“Tapi aku juga tidak akan menyelamatkannya karena masa lalu.”
Alexander tersenyum tipis.
“Keputusan kami murni berdasarkan data.”
Lalu ia menambahkan, “Dan berdasarkan data, perusahaan Anda bukan investasi yang sehat.”
Mereka berdua meninggalkan Jerome dalam keheningan.
Roxy berdiri beberapa detik di sampingnya.
Lalu ia berkata pelan, “Kamu bilang dulu dia tidak punya apa-apa.”
Jerome tidak menjawab.
“Kamu bilang dia membosankan. Tidak terawat. Tidak menarik.”
Jerome tetap diam.
Roxy tertawa hambar.
“Lucu.”
“Apa?”
“Ternyata masalahnya bukan dia.”
Jerome menoleh.
Roxy mengambil tasnya.
“Masalahnya kamu selalu menilai orang dari apa yang terlihat saat itu.”
Jerome memicingkan mata.
“Kamu mau ke mana?”
“Pulang.”
“Kita pulang bersama.”
Roxy menggeleng.
“Aku sudah terlalu lama hidup bersama laki-laki yang selalu mencari sesuatu yang lebih menguntungkan.”
Kalimat itu seperti tamparan kedua malam itu.
“Roxy.”
Namun perempuan itu sudah berjalan pergi.
Di sisi lain ballroom, Clarissa sedang berdiri di dekat jendela ketika Alexander menghampirinya.
“Kamu baik-baik saja?”
Clarissa mengangguk.
“Aneh.”
“Apa?”
“Aku dulu sering membayangkan hari ketika Jerome melihatku lagi.”
Alexander tersenyum.
“Lalu?”
Clarissa memandang pantulan dirinya di kaca.
Dulu ia membayangkan akan merasa menang.
Ia pikir kebahagiaan terbesar adalah melihat Jerome menyesal.
Namun sekarang, setelah momen itu benar-benar datang, tidak ada rasa puas seperti yang dibayangkannya.
Yang ada justru ketenangan.
“Aku ternyata tidak membutuhkan penyesalannya.”
Alexander tidak berkata apa-apa.
Clarissa tersenyum.
“Aku sudah menang jauh sebelum malam ini.”
Malam semakin larut.
Sebelum meninggalkan hotel, Clarissa menerima video call.
Wajah Ethan muncul di layar.
Anak laki-laki berusia tiga tahun itu mengenakan piyama bergambar pesawat.
“Mama!”
Seketika wajah Clarissa berubah cerah.
“Halo, jagoan Mama.”
“Kapan pulang?”
“Sebentar lagi.”
Ethan mengangkat sebuah gambar.
Tiga orang bergandengan tangan di bawah matahari yang ukurannya terlalu besar.
Clarissa tertawa.
“Ini siapa?”
“Ethan.”
“Yang ini?”
“Mama.”
Clarissa menunjuk sosok ketiga.
“Kalau ini?”
Ethan menjawab dengan polos.
“Uncle Alex.”
Alexander yang berdiri di samping Clarissa langsung tertawa.
“Kenapa saya rambutnya cuma tiga?”
Ethan terkikik.
Clarissa ikut tertawa.
Di kejauhan, Jerome melihat mereka.
Ia mendengar suara anak kecil dari ponsel Clarissa.
Untuk sesaat, ia ingin berjalan mendekat.
Namun langkahnya berhenti.
Karena akhirnya ia mengerti sesuatu yang tiga tahun lalu tidak pernah bisa dipahaminya.
Ada kehilangan yang tidak bisa dibeli kembali hanya karena seseorang akhirnya menyesal.
Clarissa pernah memintanya tinggal ketika dirinya berada dalam kondisi paling buruk.
Jerome memilih pergi.
Sekarang Clarissa berdiri dalam versi terbaik hidupnya.
Namun bukan lagi untuk Jerome.
Beberapa bulan kemudian, bisnis Jerome dinyatakan pailit setelah para krediturnya menolak restrukturisasi utang.
Clarissa mengetahui kabar itu dari sebuah artikel bisnis.
Ia membaca judulnya selama beberapa detik.
Lalu menutup layar ponsel.
Tidak ada senyum kemenangan.
Tidak ada keinginan menghubungi siapa pun.
Hari itu ia sedang berada di taman bersama Ethan.
Anaknya berlari mengejar gelembung sabun sementara Alexander duduk di bangku sambil membawa dua cangkir kopi.
Clarissa berjalan ke arahnya.
“Berita penting?” tanya Alexander.
Clarissa menggeleng.
“Cuma sesuatu dari masa lalu.”
Ia meletakkan ponselnya ke dalam tas.
Kemudian Ethan berlari dan memeluk pinggangnya.
“Mama, lihat aku!”
Clarissa tertawa dan mengangkat putranya.
Di bawah cahaya sore Jakarta, stretch mark di tubuhnya masih ada.
Tidak semuanya hilang.
Beberapa perubahan setelah melahirkan pun tetap menjadi bagian dari dirinya.
Namun Clarissa tidak pernah lagi berusaha menyembunyikannya.
Karena akhirnya ia memahami sesuatu yang dulu tidak bisa ia lihat ketika berdiri menangis di depan cermin apartemen kecilnya.
Menjadi cantik bukan tentang kembali menjadi perempuan seperti sebelum melahirkan.
Menjadi kuat juga bukan tentang membuat orang yang pernah menyakiti kita menyesal.
Kadang, kemenangan terbesar adalah ketika suatu hari kita bertemu lagi dengan seseorang yang pernah menghancurkan kita, menatapnya tanpa kebencian, lalu menyadari bahwa hidup yang kita bangun setelah kepergiannya ternyata jauh lebih indah daripada hidup yang dulu mati-matian kita pertahankan.
