SUAMI PULANG LEBIH AWAL DAN MENEMUKAN ISTRINYA PINGSAN USAI OPERASI. IBU KANDUNGNYA MALAH SANTAI MAKAN MALAM, TAPI REKAMAN CCTV MEMBONGKAR NIAT JAHAT YANG SEBENARNYA!

Rendy tidak pernah menyangka kepulangannya yang empat jam lebih cepat akan mengubah cara pandangnya terhadap keluarganya sendiri.

Beberapa menit setelah petugas medis masuk ke rumah, ruang tengah yang sebelumnya hanya dipenuhi tangisan bayi berubah menjadi kacau. Dua petugas segera memeriksa tekanan darah Maya, sementara seorang lainnya menyiapkan tandu.

“Tekanannya rendah sekali,” kata salah satu petugas.

Rendy berdiri di samping sofa dengan wajah tegang.

“Dia baru tiga hari pulang setelah operasi caesar,” katanya cepat. “Tadi saya temukan dia pingsan. Sepertinya dia dipaksa melakukan banyak aktivitas.”

Petugas itu menatap dapur yang berantakan lalu kembali melihat kondisi Maya.

“Kami bawa ke rumah sakit sekarang.”

Bu Ratna langsung menyela.

“Perlu sekali sampai dibawa? Mungkin cuma kecapekan.”

Rendy menoleh tajam.

“Ibu diam dulu.”

Nada suaranya membuat Bu Ratna tertegun.

Selama bertahun-tahun, Rendy hampir tidak pernah berbicara seperti itu kepada ibunya.

Maya dipindahkan ke atas tandu. Saat tubuhnya diangkat, wajahnya meringis menahan sakit. Tangannya refleks memegang bagian bawah perut.

Rendy melihat bekas noda tipis pada pakaian rumah yang dikenakan istrinya.

Darah.

Tidak banyak, tetapi cukup membuat jantungnya berdegup lebih cepat.

Ia segera mengambil tas bayi, beberapa dokumen medis, lalu menggendong Rizky.

Saat hendak keluar, matanya kembali tertuju pada tas Maya yang terletak di meja rias.

Ia mengambil tas itu lebih dulu.

Bu Ratna memperhatikan gerakannya.

“Biar ibu pegang,” katanya.

Rendy langsung memasukkan tas itu ke dalam tas kerjanya.

“Tidak perlu.”

Untuk sesaat wajah Bu Ratna berubah kaku.

Namun ia segera tersenyum.

“Kamu curiga sama ibu?”

Rendy tidak menjawab.

Ia hanya menatap layar ponselnya yang masih menampilkan rekaman CCTV yang belum selesai diputar.

“Setelah Maya aman, kita bicara.”

Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Rendy duduk di samping Maya di dalam ambulans. Rizky dibawa oleh pengasuh bayi dari tetangga yang selama ini sering membantu mereka beberapa jam dalam sehari.

Maya masih setengah sadar.

Rendy menggenggam tangannya erat.

“Maaf,” bisiknya.

Maya membuka mata perlahan.

“Untuk apa?”

“Aku seharusnya tidak meninggalkan kamu sendirian.”

Maya menggeleng lemah.

“Kamu bekerja.”

“Aku tetap salah karena menganggap semuanya akan baik-baik saja hanya karena ibu ada di rumah.”

Maya menatapnya beberapa detik.

Ada banyak hal dalam tatapan itu.

Takut.

Lelah.

Dan sesuatu yang tampak seperti kecewa yang sudah lama dipendam.

“Rendy,” katanya pelan, “ibumu bukan baru hari ini seperti ini.”

Rendy membeku.

“Apa maksudmu?”

Maya menutup mata lagi.

“Nanti.”

Di rumah sakit, dokter segera memeriksa kondisi Maya.

Rendy menunggu hampir satu jam di luar ruang pemeriksaan.

Saat dokter akhirnya keluar, wajahnya serius.

“Pak Rendy?”

“Ya, Dok.”

“Istri Anda mengalami dehidrasi berat, kelelahan, dan tekanan darahnya turun. Untung luka operasinya tidak terbuka parah, tetapi ada iritasi dan perdarahan ringan akibat aktivitas berlebihan.”

Rendy mengepalkan tangan.

“Apakah berbahaya?”

“Kalau terlambat ditangani, bisa jadi berbahaya. Tubuhnya masih dalam fase pemulihan. Untuk sementara kami sarankan rawat inap.”

Rendy mengangguk.

Setelah dokter pergi, ia duduk sendirian di lorong.

Ponselnya bergetar.

Bu Ratna menelepon.

Ia membiarkannya.

Tak lama kemudian pesan masuk.

Ibu cuma mau jelaskan.

Disusul pesan kedua.

Jangan langsung menuduh macam-macam.

Lalu pesan ketiga.

Kunci itu seharusnya bukan milik Maya.

Rendy menatap layar beberapa detik.

Kalimat terakhir membuat seluruh tubuhnya menegang.

Ia berdiri lalu berjalan menuju sudut lorong yang lebih sepi.

Ia membuka aplikasi CCTV dan memutar rekaman sejak pukul sembilan pagi.

Pada awalnya tidak ada yang aneh.

Maya terlihat duduk menyusui Rizky.

Bu Ratna datang membawa teh.

Namun sekitar pukul sepuluh, percakapan mereka mulai berubah.

Suara Bu Ratna terdengar jelas dari mikrofon kamera.

“Kunci kotak bank itu kamu simpan di mana?”

Maya yang sedang berdiri di dekat meja makan langsung menoleh.

“Kunci apa, Bu?”

“Jangan pura-pura tidak tahu. Yang ditinggalkan almarhum ayahmu.”

Maya terdiam.

“Kenapa Ibu menanyakan itu?”

Bu Ratna mendekat.

“Karena ada surat yang seharusnya tidak pernah diberikan kepadamu.”

Maya terlihat memegang sandaran kursi.

“Saya tidak mengerti.”

“Kamu mengerti.”

Rendy memperbesar volume.

Jantungnya berdebar.

Bu Ratna melanjutkan.

“Ayahmu dulu punya hubungan bisnis dengan keluarga kami. Ada dokumen soal tanah di Bekasi dan saham perusahaan lama. Itu semua bermasalah.”

Maya menatap mertuanya dengan bingung.

“Kalau ada masalah, bicara dengan Rendy.”

“Tidak perlu membawa Rendy.”

“Kenapa?”

Bu Ratna tidak menjawab.

Ia hanya menyuruh Maya masuk dapur.

Rekaman berikutnya memperlihatkan sesuatu yang jauh lebih buruk.

Bu Ratna sengaja menyuruh Maya membuat beberapa jenis makanan.

Maya sempat menolak.

“Dokter melarang saya berdiri terlalu lama.”

Namun Bu Ratna menjawab dingin.

“Kalau begitu jangan bilang kamu tidak becus jadi istri.”

Setelah itu ia meletakkan daftar belanja di meja.

Maya terlihat semakin pucat.

“Bisa pesan online saja, Bu.”

“Barangnya mahal. Jalan sendiri. Supermarket dekat.”

Maya menatap perutnya.

“Saya belum kuat.”

“Kalau baru melahirkan saja sudah manja begini, bagaimana mau mengurus anak?”

Rendy menghentikan rekaman.

Tangannya gemetar.

Ia menarik napas panjang lalu memutar bagian lain.

Sekitar pukul satu siang, Maya kembali dari luar rumah sambil membawa beberapa kantong belanja.

Langkahnya sangat pelan.

Satu tangan memegang perut.

Ia hampir jatuh saat memasuki rumah.

Bu Ratna tidak menolong.

Sebaliknya ia membuka salah satu kantong lalu berkata,

“Air mineralnya kurang dua botol.”

Maya hanya menatap.

“Ibu serius?”

Bu Ratna membalas,

“Tidak usah pakai nada begitu.”

Kemudian rekaman berpindah beberapa jam berikutnya.

Maya terus memasak.

Sementara Bu Ratna beberapa kali keluar masuk kamar Maya.

Rendy mempercepat rekaman.

Pada pukul tiga lewat dua puluh, kamera menangkap Bu Ratna berdiri di meja rias sambil membuka laci.

Ia mencari sesuatu.

Lalu ia membuka lemari.

Kemudian tas Maya.

Namun Maya muncul dari dapur dan memergokinya.

“Ibu cari apa?”

Bu Ratna berbalik.

“Obat sakit kepala.”

“Obat ada di dapur.”

Wajah Bu Ratna berubah.

“Kamu menyembunyikan kunci itu di tas?”

Maya langsung mengambil tasnya.

“Kenapa Ibu begitu ingin mendapatkannya?”

Bu Ratna mendekat.

Suaranya merendah.

“Karena kalau dokumen itu jatuh ke tangan Rendy, keluarga kita bisa hancur.”

Rendy langsung menghentikan video.

Darahnya serasa membeku.

Keluarga kita bisa hancur.

Ia memutar lagi.

Maya bertanya,

“Dokumen apa sebenarnya?”

Bu Ratna terdiam cukup lama sebelum akhirnya menjawab.

“Bukti bahwa rumah yang sekarang kalian tempati dibeli menggunakan uang ayahmu.”

Rendy membelalak.

Rumah mereka dibeli dua tahun lalu.

Selama ini Bu Ratna selalu mengatakan uang muka rumah itu berasal dari tabungan keluarga besar Pratama.

Bahkan Rendy merasa berutang budi kepada ibunya karena bantuan tersebut.

Dalam rekaman, Maya terdengar bingung.

“Ayah saya?”

“Tidak usah sok kaget.”

“Ayah meninggal empat tahun lalu.”

“Tapi sebelum meninggal dia sudah menyiapkan semuanya.”

“Kenapa saya tidak tahu?”

Bu Ratna tertawa kecil.

“Karena suamimu juga tidak tahu.”

Maya terlihat semakin takut.

“Apa yang Ibu lakukan?”

“Tidak ada yang perlu kamu tahu.”

Lalu Bu Ratna menunjuk dapur.

“Sekarang selesaikan masakan.”

Rekaman berikutnya menunjukkan Maya mulai sempoyongan.

Sekitar pukul lima, ia duduk sebentar di sofa.

Bu Ratna datang membawa gelas.

“Minum.”

Maya menyesap sedikit.

Beberapa menit kemudian ia terlihat semakin lemas.

Rendy memperhatikan layar dengan napas tertahan.

Ia memutar ulang bagian itu.

Bu Ratna mengambil gelas dari dapur.

Ia membuka sebuah kemasan kecil.

Menuangkan sesuatu.

Mengaduknya.

Lalu membawa gelas kepada Maya.

Rendy langsung merasa mual.

Ia menyimpan potongan rekaman itu.

Kemudian menelepon dokter.

“Saya curiga istri saya diberi sesuatu dalam minuman. Bisa dilakukan pemeriksaan toksikologi?”

Dokter terdiam beberapa detik.

“Bisa. Kami akan ambil sampel. Ada alasan kuat?”

“Saya punya rekaman CCTV.”

“Jangan hapus rekamannya.”

Setelah itu Rendy menelepon seorang kenalan yang bekerja sebagai pengacara.

Ia tidak menceritakan semuanya.

Hanya meminta datang ke rumah sakit.

Malam semakin larut ketika Maya akhirnya sadar penuh.

Wajahnya masih pucat, tetapi kondisinya lebih stabil.

Rendy duduk di samping ranjang.

“Aku sudah lihat rekaman CCTV.”

Maya menatapnya.

“Kamu lihat semuanya?”

“Ya.”

Mata Maya langsung berkaca-kaca.

“Aku tidak ingin kamu membenci ibumu.”

Rendy menunduk.

“Aku ingin tahu sejak kapan ini terjadi.”

Maya diam sebentar.

“Sejak aku hamil enam bulan.”

Rendy mengangkat kepala.

“Apa?”

“Dia sering menanyakan dokumen ayah. Awalnya aku tidak mengerti.”

Maya menarik napas.

“Dua minggu sebelum melahirkan, notaris ayah menghubungiku. Katanya ada kotak penyimpanan bank yang baru boleh dibuka setelah aku menikah dan memiliki anak.”

“Kenapa baru sekarang?”

“Ayah menuliskan syarat itu sendiri.”

Maya tersenyum pahit.

“Mungkin karena dia takut aku mengambil keputusan gegabah.”

Rendy terdiam.

“Kamu sudah membukanya?”

“Belum.”

“Lalu bagaimana ibu tahu?”

Maya memandang suaminya.

“Itu yang membuatku takut.”

Pintu kamar terbuka.

Pengacara Rendy, Arman, masuk.

Setelah mendengar penjelasan mereka, Arman meminta melihat rekaman.

Wajahnya berubah serius.

“Kalau dugaan pemberian zat terbukti, masalahnya bisa masuk pidana.”

Rendy mengangguk.

“Aku ingin tahu isi kotaknya.”

Maya mengambil tasnya.

Dari saku bagian dalam ia mengeluarkan sebuah kunci kecil dan amplop tertutup.

Di depan amplop tertulis tangan.

Untuk Maya. Buka hanya saat kamu sudah siap melihat siapa yang selama ini kamu percaya.

Maya membuka amplop itu.

Di dalamnya terdapat secarik kertas berisi nomor kontak notaris bernama Aditya Santoso.

Arman langsung menelepon.

Tidak sampai dua puluh menit, mereka berhasil terhubung.

Pak Aditya terdengar terkejut saat mendengar nama Maya.

“Saya sudah menunggu telepon ini cukup lama.”

“Apa isi kotak itu, Pak?” tanya Maya.

“Saya tidak boleh menjelaskan melalui telepon. Tapi saya sarankan Anda datang dengan pengacara.”

Keesokan paginya, setelah kondisi Maya cukup stabil, Rendy dan Arman pergi ke bank sementara Maya tetap dirawat.

Mereka membuka kotak penyimpanan bersama Pak Aditya.

Di dalamnya bukan emas.

Bukan uang tunai.

Melainkan tumpukan dokumen.

Sertifikat tanah.

Akta jual beli.

Perjanjian saham.

Dan sebuah surat pernyataan panjang yang ditandatangani almarhum ayah Maya.

Semakin Rendy membaca, semakin dingin wajahnya.

Ayah Maya ternyata pernah menjadi investor utama perusahaan milik ayah Rendy dua puluh tahun lalu.

Saat perusahaan itu hampir bangkrut, ia menyuntikkan modal dalam jumlah besar.

Sebagai jaminan, sebagian saham dan aset keluarga Pratama dipindahkan atas namanya.

Namun ketika ayah Maya sakit keras, Bu Ratna dan suaminya meminta agar transaksi tersebut tidak diumumkan karena takut nama keluarga mereka jatuh.

Ayah Maya menyetujui satu syarat.

Aset itu kelak diberikan kepada Maya.

Dokumen terakhir membuat Rendy hampir kehilangan keseimbangan.

Rumah yang selama ini ia tempati memang dibeli menggunakan uang dari penjualan salah satu aset milik ayah Maya.

Bu Ratna selama ini bukan membantu mereka.

Ia hanya mengembalikan sebagian kecil dari apa yang memang menjadi hak Maya.

Namun ada satu berkas lain.

Salinan laporan keuangan yang menunjukkan bahwa Bu Ratna diam-diam menjual aset lain bertahun-tahun sebelumnya menggunakan surat kuasa yang diragukan keabsahannya.

Nilainya miliaran rupiah.

Arman langsung menatap Rendy.

“Sekarang saya paham kenapa ibumu takut dokumen ini keluar.”

Sore itu, Rendy kembali ke rumah sakit.

Namun sebelum ia masuk kamar Maya, polisi sudah datang.

Hasil pemeriksaan awal menemukan zat penenang dosis rendah di tubuh Maya.

Belum cukup untuk menyebabkan keracunan berat, tetapi berbahaya jika dikombinasikan dengan kondisi dehidrasi dan pascaoperasi.

Bu Ratna diminta datang untuk memberikan keterangan.

Awalnya ia menyangkal semuanya.

Namun ketika diperlihatkan rekaman CCTV, ia mulai gemetar.

“Itu cuma obat tidur ringan.”

Rendy menatap ibunya tanpa ekspresi.

“Kenapa Ibu kasih ke Maya?”

Bu Ratna menangis.

“Ibu cuma ingin dia tidur supaya ibu bisa cari kuncinya.”

“Dan kalau dia tidak bangun?”

Bu Ratna terdiam.

Rendy mengulang lebih keras.

“Kalau dia tidak bangun bagaimana?”

“Ibu tidak bermaksud membunuh siapa pun!”

“Tapi Ibu tahu dia baru operasi.”

Bu Ratna menangis semakin keras.

“Aku melakukan semua ini untuk keluarga kita!”

Rendy tertawa pendek.

“Keluarga kita?”

“Ibumu cuma ingin melindungi apa yang ayahmu bangun!”

“Yang ayah bangun?”

Rendy mengeluarkan salinan dokumen dari map.

“Setengah dari semua yang Ibu sebut milik keluarga kita ternyata berasal dari uang ayah Maya.”

Bu Ratna langsung pucat.

Rendy melanjutkan.

“Bahkan rumah tempat Ibu duduk makan sementara istri saya pingsan dibeli dari uang keluarga Maya.”

Bu Ratna menatapnya dengan mata kosong.

“Rendy…”

“Tidak.”

Ia menggeleng.

“Selama ini Ibu selalu bilang Maya menikah denganku karena uang. Ternyata justru kita yang hidup dari uang keluarganya.”

Bu Ratna mulai terisak.

Namun Rendy tidak lagi bergerak mendekat seperti biasanya.

Untuk pertama kalinya, ia membiarkan ibunya menghadapi akibat perbuatannya sendiri.

Beberapa minggu kemudian, penyelidikan atas dokumen lama dimulai.

Maya pulih perlahan.

Ia tidak langsung menggugat semua aset.

Sebaliknya, ia meminta audit independen.

Keputusannya mengejutkan Rendy.

“Kamu bisa mengambil banyak hal dari mereka,” kata Rendy suatu malam.

Maya menatap Rizky yang sedang tidur.

“Aku hanya mau mengambil yang memang hakku.”

“Setelah semua yang ibu lakukan?”

Maya diam sebentar.

“Aku tidak ingin menjadi seperti dia.”

Kalimat itu menempel lama dalam pikiran Rendy.

Beberapa bulan kemudian, hasil audit keluar.

Sebagian aset resmi dikembalikan kepada Maya.

Sementara penjualan aset lama yang melibatkan Bu Ratna masuk proses hukum.

Rendy dan Maya memutuskan menjual rumah mereka.

Bukan karena mereka tidak mampu mempertahankannya.

Mereka hanya tidak ingin membesarkan Rizky di tempat yang selalu mengingatkan mereka pada pengkhianatan.

Sebelum pindah, Rendy berdiri terakhir kali di ruang tengah.

Di tempat yang sama Maya pernah terkapar tak berdaya.

Ia melihat bekas posisi meja makan.

Mendadak ia teringat satu hal.

Hari itu, kunjungan kerjanya di Bandung selesai lebih awal karena klien membatalkan pertemuan.

Rendy selama ini menganggapnya kebetulan.

Namun beberapa hari setelah pindah, ia menerima pesan dari nomor yang tidak dikenal.

Pesan itu hanya berisi satu kalimat.

Saya sengaja membatalkan pertemuan hari itu supaya Anda pulang lebih cepat. Ayah Maya pernah menyelamatkan keluarga saya. Saya hanya membayar utang lama.

Di bawahnya ada sebuah nama.

Nama direktur perusahaan yang seharusnya ditemui Rendy di Bandung.

Rendy membaca pesan itu berkali-kali.

Kemudian ia menyerahkan ponsel kepada Maya.

Maya menatap layar cukup lama.

Matanya berkaca-kaca.

“Jadi seseorang tahu?”

“Mungkin.”

Maya memandang Rizky yang tertidur dalam pelukannya.

Lalu ia tersenyum tipis.

Untuk pertama kalinya sejak semua itu terjadi, senyum itu tidak menyimpan rasa takut.

Malam itu Rendy akhirnya memahami sesuatu yang selama ini tidak pernah diajarkan ibunya.

Keluarga bukanlah orang yang selalu membela kita, apa pun kesalahan kita.

Keluarga adalah orang yang tetap memilih melindungi kita ketika melakukannya tidak memberi keuntungan apa pun bagi dirinya sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang