Suara Raden berubah ketika ia mulai bercerita. Bukan lagi suara lelaki tua yang selama puluhan tahun mengatur rumah dengan kalimat pendek dan tatapan keras. Suara itu terdengar rapuh, seperti suara seorang pemuda yang masih terjebak di sebuah malam yang tidak pernah benar-benar berakhir.
“Aku bukan Raden yang kamu kenal,” katanya.
Tangan saya yang memegang cangkir kopi langsung membeku.

“Apa maksudmu?”
Ia menunduk. Jemarinya gemetar di atas meja.
“Nama asliku bukan Raden Prasetyo. Namaku dulu Surya Wibawa.”
Saya menatap wajah yang telah saya kenal selama setengah hidup. Hidung yang mulai turun, alis tebal yang memutih, garis keras di sudut bibir. Mendadak semuanya terasa seperti milik orang asing.
Raden, atau Surya, menarik napas panjang.
Pada tahun 1965, saat usianya baru dua puluh dua tahun, ia bekerja sebagai pegawai administrasi di sebuah gudang logistik milik pemerintah di Jakarta Timur. Tugasnya sederhana, mencatat barang masuk dan keluar. Namun situasi politik saat itu membuat pekerjaan sederhana menjadi berbahaya.
Suatu malam, ia melihat beberapa peti tanpa dokumen resmi dimasukkan ke gudang. Di dalamnya bukan beras atau obat-obatan, melainkan senjata dan daftar nama warga.
Surya tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Ia hanya tahu ada sesuatu yang salah.
“Aku mencuri satu buku catatan,” katanya. “Di dalamnya ada nama orang-orang yang akan ditangkap.”
Saya tidak langsung percaya.
“Untuk apa kamu mengambilnya?”
“Karena nama kakakku ada di sana.”
Ia mencoba memperingatkan kakaknya, tetapi terlambat. Rumah keluarga mereka didatangi orang-orang bersenjata pada malam yang sama. Kakaknya dibawa pergi. Ibunya dipukul ketika mencoba menghalangi.
Surya melarikan diri sambil membawa buku catatan itu.
Ia bersembunyi selama berhari-hari di sebuah bengkel tua dekat stasiun. Namun seorang teman yang ia percaya ternyata menyerahkannya kepada kelompok yang mencari buku tersebut.
Ia ditahan di sebuah bangunan kosong di pinggiran kota.
Di sanalah luka-luka di punggungnya dibuat.
Ia tidak menjelaskan terlalu rinci. Ia hanya berkata mereka ingin tahu di mana buku itu disembunyikan. Ia memilih diam karena buku tersebut berisi nama puluhan orang yang dapat terbunuh jika jatuh ke tangan mereka.
“Berapa lama?” tanya saya.
“Dua puluh satu hari.”
Suara saya nyaris tidak keluar.
“Bagaimana kamu bisa selamat?”
Seorang penjaga muda bernama Yusuf membantunya kabur. Yusuf merasa bersalah karena adiknya sendiri ditangkap oleh kelompok yang sama. Pada malam hujan, ia membuka pintu belakang, memberikan pakaian, uang, dan sebuah kartu identitas milik sepupunya yang telah meninggal.
Nama di kartu itu adalah Raden Prasetyo.
Sejak malam itu, Surya Wibawa hilang. Raden Prasetyo lahir.
Ia pindah dari satu kota ke kota lain, bekerja serabutan, lalu akhirnya kembali ke Jakarta beberapa tahun kemudian ketika keadaan mulai tenang.
“Lalu kamu bertemu denganku,” kata saya.
Raden mengangguk.
Pasar malam paroki tahun 1968. Saya masih berusia dua puluh tiga tahun, menjual kue bersama bibi saya. Ia datang mengenakan kemeja putih lengan panjang meski udara sangat panas. Saya mengira ia hanya lelaki pemalu.
“Saat itu kamu sudah tahu akan menikahiku?”
“Tidak. Aku bahkan berjanji tidak akan dekat dengan siapa pun.”
“Lalu kenapa?”
Ia menatap saya lama.
“Karena kamu memberiku segelas air tanpa bertanya siapa aku.”
Saya ingin marah, tetapi kalimat itu menusuk bagian lembut dalam diri saya.
Raden berkata ia sebenarnya ingin meninggalkan saya setelah beberapa kali bertemu. Namun setiap kali mencoba pergi, ia selalu kembali. Bersama saya, untuk pertama kalinya ia merasa bisa menjadi manusia biasa.
Kami menikah. Michael lahir. Dua tahun kemudian Anna menyusul.
Namun masa lalu tidak pernah benar-benar melepaskannya.
Beberapa bulan setelah Michael lahir, ia menerima amplop tanpa nama. Di dalamnya ada foto rumah kami dan secarik kertas bertuliskan, Kami tahu kamu masih hidup.
Sejak saat itu ia mulai mengobati lukanya sendiri setiap subuh. Sebagian luka lama sering kembali meradang. Tetapi alasan ia mengunci pintu bukan hanya untuk menyembunyikan tubuhnya.
“Di balik ubin kamar mandi ada tempat penyimpanan,” katanya.
Saya berdiri begitu cepat hingga kursi bergeser.
“Penyimpanan apa?”
Ia mengajak saya ke kamar mandi belakang. Dengan obeng kecil, ia membuka ubin yang selama ini tampak biasa. Di baliknya terdapat ruang sempit berisi kantong plastik tebal.
Dari dalam kantong itu, ia mengeluarkan buku catatan tua dengan sampul hitam.
Buku yang ia curi pada tahun 1965.
Tangan saya terasa dingin ketika menyentuhnya. Kertasnya sudah menguning. Tulisan tinta biru memenuhi halaman-halaman pertama. Ada nama, alamat, tanggal, dan catatan singkat di sampingnya.
Ditangkap.
Dipindahkan.
Dihilangkan.
Saya menutup buku itu dengan cepat.
“Kenapa kamu masih menyimpannya?”
“Karena sebagian orang dalam daftar itu tidak pernah kembali. Keluarga mereka tidak pernah tahu apa yang terjadi.”
“Kenapa tidak kamu serahkan kepada polisi?”
Ia tertawa pahit.
“Dulu, siapa yang bisa dipercaya?”
Saya terdiam.
Kemudian ia mengeluarkan sebuah foto hitam putih. Empat pemuda berdiri di depan gudang. Salah satunya adalah Raden saat masih muda. Di sampingnya ada seorang lelaki bermata tajam yang wajahnya terasa tidak asing.
Saya memperhatikannya lebih dekat.
Jantung saya serasa jatuh.
“Itu ayahku.”
Raden menutup mata.
Saya memegang meja agar tidak roboh.
Ayah saya, Samuel Torres, meninggal ketika saya berusia sembilan belas tahun. Ibu selalu berkata ia tewas dalam kecelakaan kerja. Saya tidak pernah melihat jenazahnya karena peti langsung ditutup.
“Kenapa ayahku ada di sana?”
Raden tidak segera menjawab.
“Dia bukan bagian dari mereka,” katanya akhirnya. “Dia yang membantu menyembunyikan buku itu sebelum aku ditangkap.”
Saya merasa udara kamar mandi tiba-tiba habis.
“Ayahmu tahu mereka akan datang. Dia memindahkan buku itu ke tempat aman. Tapi setelah aku kabur, dia ditangkap sebagai gantiku.”
Saya mengguncang kepala.
“Tidak. Ibu bilang dia kecelakaan.”
“Ibumu diminta mengatakan begitu.”
Saya menatapnya dengan kemarahan yang mulai naik.
“Kamu tahu semua ini sejak awal?”
“Tidak saat pertama bertemu denganmu. Aku baru tahu kamu anak Samuel setelah melihat foto keluargamu.”
“Dan kamu tetap menikah denganku?”
Raden mulai menangis.
“Aku mencintaimu.”
“Jangan pakai cinta untuk membungkus kebohongan.”
Suara saya menggema di kamar mandi.
Tiga puluh lima tahun saya percaya kami membangun keluarga dari kemiskinan, kesetiaan, dan kerja keras. Ternyata fondasinya dipenuhi nama palsu dan rahasia.
Saya keluar dari kamar mandi tanpa menoleh.
Hari itu saya menelepon Michael dan Anna.
Mereka datang sore hari. Michael langsung marah ketika mendengar cerita itu. Ia memukul meja dan menuntut ayahnya menyerahkan buku tersebut kepada pihak berwenang.
Anna lebih tenang. Ia membaca setiap halaman sambil memotret dengan telepon genggam.
“Ada nama Kakek di sini,” katanya.
Kami berkumpul di ruang tamu. Hujan turun deras di luar. Raden duduk di sudut seperti terdakwa.
Lalu Anna menemukan sesuatu di halaman terakhir.
Sebuah nama yang baru ditulis jauh setelah daftar awal dibuat.
Michael Prasetyo.
Putra pertama Raden.
Michael merebut buku itu.
“Apa ini?”
Raden menutup wajah.
Ternyata ancaman tidak berhenti setelah amplop pertama. Pada tahun 1982, ketika Michael berusia sebelas tahun, seseorang datang menemui Raden di pabrik. Lelaki itu mengaku sebagai bagian dari jaringan lama yang masih mencari buku tersebut.
Ia memberi pilihan.
Serahkan buku itu, atau nama Michael akan dimasukkan ke dalam daftar baru.
“Itulah sebabnya aku selalu keras kepadamu,” kata Raden kepada Michael. “Aku melarangmu pergi malam, melarangmu ikut organisasi, melarangmu berteman sembarangan. Aku pikir dengan membuatmu takut, aku bisa membuatmu aman.”
Michael menatap ayahnya dengan mata merah.
“Jadi selama ini Bapak memperlakukanku seperti musuh karena ingin melindungiku?”
“Aku tidak tahu cara menjadi ayah. Aku hanya tahu cara bertahan hidup.”
Untuk pertama kalinya saya melihat kekerasan dalam diri Michael retak. Ia duduk kembali dan memalingkan wajah.
Anna lalu bertanya, “Orang yang mengancam Bapak masih hidup?”
Raden mengangguk.
“Namanya Bram Santoso.”
Nama itu membuat saya membeku lagi.
Bram adalah tetangga lama kami. Ia pernah menjadi ketua lingkungan. Ia sering membantu saat kami kesulitan uang. Bahkan ia menjadi saksi pernikahan Michael.
“Pak Bram?” bisik saya.
Raden mengangguk.
“Dia selalu tinggal dekat untuk mengawasi.”
Malam itu kami sepakat menyerahkan semua bukti kepada seorang pengacara hak asasi manusia yang dikenal Anna. Bukan langsung kepada sembarang kantor, melainkan melalui jalur yang aman dan terdokumentasi.
Namun sebelum kami sempat pergi, seseorang mengetuk pintu.
Tiga kali.
Pelan.
Raden langsung pucat.
“Jangan buka.”
Ketukan terdengar lagi.
Kemudian suara tua dari luar berkata, “Surya, kita sudah terlalu lama memainkan permainan ini.”
Bram.
Michael berdiri, tetapi saya menahannya.
Raden menyuruh kami masuk ke dapur. Ia berjalan ke pintu seorang diri.
Ketika pintu dibuka, Bram berdiri memakai jas hujan abu-abu. Tubuhnya sudah renta, tetapi matanya tetap tajam seperti dalam foto.
“Aku cuma mau buku itu,” katanya.
Raden menjawab, “Sudah terlambat.”
Bram tersenyum tipis.
“Tidak pernah terlambat untuk menghapus masa lalu.”
Saat itulah Anna keluar sambil mengangkat telepon genggam.
“Semua ucapan Bapak direkam.”
Wajah Bram berubah.
Michael berdiri di samping adiknya. Saya ikut keluar dan memegang buku hitam itu di dada.
Bram menatap kami satu per satu. Ia mungkin berharap melihat keluarga yang ketakutan. Yang ia temukan justru empat orang yang sudah terlalu lelah untuk terus diam.
Beberapa menit kemudian, dua mobil berhenti di depan rumah. Pengacara Anna datang bersama petugas yang telah dihubungi sebelumnya.
Bram dibawa pergi malam itu.
Kasusnya tidak selesai dengan cepat. Banyak dokumen perlu diperiksa. Banyak saksi telah meninggal. Namun salinan buku itu menyebar ke beberapa lembaga, sehingga tidak mungkin lagi dihilangkan oleh satu tangan.
Beberapa keluarga akhirnya mengetahui nasib orang-orang yang selama puluhan tahun dianggap menghilang tanpa jejak.
Nama ayah saya juga dibersihkan.
Ia bukan korban kecelakaan kerja.
Ia meninggal karena melindungi orang-orang yang tidak sempat menyelamatkan diri.
Beberapa bulan kemudian, Raden berdiri di depan makam ayah saya. Ia mengenakan kemeja putih, tetapi untuk pertama kalinya lengan bajunya digulung.
Ia berlutut.
“Maafkan aku karena terlalu lama membawa ketakutanmu ke dalam rumah anakmu.”
Saya berdiri di belakangnya.
Kemudian ia melakukan sesuatu yang tidak pernah ia lakukan selama pernikahan kami.
Ia membuka kemejanya di bawah cahaya pagi.
Punggung penuh bekas luka itu terlihat jelas. Tidak indah. Tidak utuh. Tetapi nyata.
Michael menatapnya tanpa berkata-kata. Anna menangis.
Saya mendekat dan menyentuh salah satu bekas luka dengan ujung jari.
Kali ini tubuhnya tidak menegang.
“Kenapa sekarang?” tanya saya.
“Karena aku lelah hidup sebagai orang yang bersembunyi.”
Saya memandang lelaki yang selama tiga puluh lima tahun tidur di samping saya. Ia memang telah berbohong. Ia telah membuat kami hidup di dalam ketakutan yang tidak kami pahami. Tetapi di balik semua itu, ia juga menjaga sebuah kebenaran ketika semua orang memilih melupakannya.
Saya tidak langsung memaafkannya.
Memaafkan bukan pintu yang bisa dibuka dalam satu pagi.
Namun saya menggenggam tangannya.
Sejak hari itu, Raden tidak lagi mengunci diri setiap subuh.
Pintu kamar mandi tetap terbuka.
Kadang saya membantunya mengganti perban. Kadang Michael datang membawa obat. Kadang Anna duduk di ambang pintu sambil membacakan perkembangan kasus.
Rumah kami tidak runtuh setelah kebenaran terbongkar.
Justru untuk pertama kalinya, rumah itu benar-benar berdiri.
Bukan karena kami terus diam.
Melainkan karena akhirnya, seseorang berani membuka pintu.
