Suamiku bilang dia akan pergi ke Jerman selama empat tahun demi masa depan keluarga kami. Namun aku menemukan bahwa dia membeli tiket bersama selingkuhannya.

Nama penumpang kedua membuat napasku berhenti selama beberapa detik.

Vanessa Wijaya.

Usianya dua puluh delapan tahun. Rekan kerja Rafael di divisi internasional. Aku pernah bertemu dengannya dua kali saat acara perusahaan. Wajahnya cantik, pembawaannya percaya diri, dan tutur katanya selalu terdengar sopan. Saat itu, aku sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa wanita yang tersenyum manis sambil memanggilku “Kak Althea” ternyata sedang merencanakan perjalanan empat tahun bersama suamiku.

Aku memperbesar gambar tiket itu berulang kali.

Tanggal keberangkatan sama.

Nomor penerbangan sama.

Nomor kursi mereka bahkan hanya dipisahkan oleh lorong.

Tak mungkin itu kebetulan.

Malam itu aku tidak menangis. Anehnya, setelah rasa sakit yang begitu besar datang, yang tersisa justru ketenangan.

Aku membalas pesan Mika.

“Aku mengerti. Terima kasih.”

Tak sampai semenit, Mika menelepon.

“Althea, aku minta maaf. Aku baru berani mengirimnya malam ini karena baru mendapat bukti lengkap. Aku tahu ini pasti menghancurkanmu.”

“Aku baik-baik saja.”

“Kamu yakin?”

“Besok aku akan mengantarnya ke bandara.”

Mika terdiam.

“Aku ingin melihat bagaimana dia masih sanggup menatap mataku sambil berbohong.”

Keesokan paginya, aku tersenyum sepanjang perjalanan menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Rafael berkali-kali menggenggam tanganku.

“Nanti kalau sudah sampai, aku akan video call setiap malam.”

Aku mengangguk.

“Tentu.”

Dia tidak tahu bahwa sejak pukul lima pagi aku sudah memindahkan semua dokumen penting rumah, mengganti PIN rekening bersama, dan menyiapkan surat kuasa untuk menutup rekening itu begitu dia melewati pemeriksaan imigrasi.

Saat dia menghilang di balik pintu keberangkatan, aku tidak langsung pergi.

Aku berdiri beberapa menit.

Lalu berbalik menuju bank.

Dalam waktu kurang dari satu jam, rekening bersama yang selama ini menjadi sandaran semua rencana Rafael sudah tidak lagi memiliki saldo.

Enam miliar delapan ratus juta rupiah berpindah ke rekening pribadiku.

Aku baru keluar dari bank ketika ponselku mulai berdering tanpa henti.

Panggilan pertama.

Kutolak.

Panggilan kedua.

Kutolak.

Lalu belasan pesan masuk bersamaan.

“Althea, kenapa rekeningnya kosong?”

“Apa yang kamu lakukan?”

“Ini pasti salah sistem.”

Aku memblokir nomornya.

Baru beberapa menit kemudian, nomor asing menghubungiku.

Aku mengangkatnya.

Suara Rafael terdengar panik.

“Althea, kamu di mana?”

“Di Jakarta.”

“Kenapa rekening kita ditutup?”

“Aku hanya mengamankan uangku.”

“Itu uang keluarga.”

Aku tertawa pelan.

“Lebih dari lima miliar berasal dariku.”

Dia terdiam.

“Lalu sisanya juga berasal dari apartemen yang kujual sebelum menikah.”

“Althea, dengarkan dulu….”

Aku memotongnya.

“Semoga penerbanganmu menyenangkan.”

Telepon langsung kututup.

Sore harinya Mika datang ke apartemen.

Kami duduk di balkon sambil memandang langit Jakarta yang mulai memerah.

“Aku masih belum percaya kamu setenang ini.”

“Aku sudah menangis tadi pagi.”

“Sekarang?”

“Sekarang aku ingin tahu seberapa jauh kebohongan mereka.”

Dua hari kemudian jawabannya datang sendiri.

Vanessa mengunggah foto di media sosial.

Lokasinya Munich.

Yang terlihat hanya secangkir kopi dan dua pasang tangan yang saling menggenggam.

Wajah mereka memang tidak terlihat.

Namun aku mengenali jam tangan Rafael.

Jam tangan itu kuberikan sebagai hadiah ulang tahun ketiga pernikahan kami.

Aku mengambil tangkapan layar itu.

Lalu mengirimkannya kepada pengacara.

“Aku rasa proses perceraian bisa dimulai.”

Pengacaraku, Bima, bekerja cepat.

Seminggu kemudian semua aset yang secara hukum masih berkaitan denganku mulai diamankan.

Rafael tampaknya baru menyadari bahwa selama ini aku bukan sekadar istri yang mengurus rumah.

Aku adalah orang yang mengatur hampir seluruh administrasi keuangan keluarga.

Aku yang membayar pajak.

Aku yang mengurus investasi.

Aku yang menyimpan seluruh bukti kepemilikan.

Tanpa bantuanku, dia bahkan kesulitan mengakses beberapa dokumen penting.

Sebulan berlalu.

Suatu malam aku menerima email dari perusahaan tempat Rafael bekerja.

Mereka meminta konfirmasi mengenai beberapa dokumen proyek yang selama ini berada di bawah tanggung jawabku sebagai konsultan eksternal.

Aku datang ke kantor mereka di kawasan Sudirman.

Direktur HR menyambutku dengan wajah serius.

“Bu Althea, kami ingin memastikan sesuatu.”

“Tentu.”

“Pak Rafael mengatakan beliau berangkat sendiri ke Jerman.”

Aku menatapnya.

“Lalu?”

“Ternyata kami menemukan bahwa beliau mengajukan keberangkatan dengan alasan membawa tenaga ahli tambahan.”

Direktur itu menarik napas panjang.

“Nama tenaga ahli itu adalah Vanessa.”

Aku diam.

“Yang menjadi masalah, perusahaan hanya membiayai satu orang.”

“Mereka menggunakan dokumen yang dimanipulasi.”

Aku mengangguk pelan.

“Saya mengerti.”

Direktur itu menatapku penuh simpati.

“Terus terang, kami baru mengetahui hubungan pribadi mereka setelah muncul laporan dari beberapa karyawan.”

Tak lama kemudian perusahaan membuka investigasi internal.

Hasilnya keluar dua minggu berikutnya.

Rafael diberhentikan.

Vanessa juga.

Proyek internasional yang selama ini mereka banggakan berakhir sebelum kontraknya berjalan tiga bulan.

Mereka tidak lagi memiliki pekerjaan di Jerman.

Namun ternyata masalah mereka belum selesai.

Rafael terus mencoba menghubungiku melalui berbagai nomor.

Suatu malam aku akhirnya mengangkat telepon.

“Althea.”

Suaranya terdengar lelah.

“Aku hanya ingin bicara.”

“Apa lagi?”

“Kami akan pulang.”

“Kami?”

Dia langsung terdiam.

Aku tersenyum tipis.

“Setidaknya sekarang kamu jujur.”

Beberapa minggu kemudian mereka benar-benar kembali ke Jakarta.

Bukan sebagai pasangan sukses yang membangun masa depan di Eropa.

Melainkan dua orang yang kehilangan pekerjaan dan harus memulai hidup dari nol.

Hari sidang perceraian tiba.

Rafael datang lebih kurus.

Matanya sembab.

Dia mencoba mendekat.

“Bisakah kita bicara sebentar?”

Aku mengangguk.

“Aku menyesal.”

“Aku tahu.”

“Aku tidak pernah berniat menceraikanmu.”

“Lalu?”

“Aku hanya berpikir… empat tahun di luar negeri terlalu lama. Aku kesepian.”

Aku memandang wajah pria yang dulu begitu kucintai.

“Kesepian bukan alasan untuk mengkhianati seseorang.”

Dia menunduk.

“Aku benar-benar mencintaimu.”

“Kalau begitu, seharusnya kamu tidak membeli dua tiket.”

Tak ada lagi yang bisa dia katakan.

Perceraian selesai jauh lebih cepat daripada yang kubayangkan.

Aku keluar dari pengadilan dengan perasaan ringan.

Seolah beban bertahun-tahun akhirnya terangkat.

Kupikir hidupku akan kembali tenang.

Ternyata belum.

Tiga bulan kemudian seseorang mengetuk pintu apartemenku.

Saat kubuka, Vanessa berdiri di sana.

Wajahnya jauh berbeda.

Tidak lagi penuh percaya diri.

Matanya merah.

“Aku hanya ingin meminta maaf.”

Aku tidak mempersilahkannya masuk.

“Aku tidak datang untuk membela diri.”

“Sebenarnya Rafael juga membohongiku.”

Aku mengernyit.

“Apa maksudmu?”

“Dia bilang kalian sudah lama berpisah.”

“Dia bilang hanya tinggal menunggu tanda tangan perceraian.”

Aku tidak mengatakan apa-apa.

Vanessa menundukkan kepala.

“Aku baru tahu semuanya setelah tiba di Jerman.”

“Aku ingin pulang, tapi sudah terlambat.”

Air matanya jatuh.

“Dia bahkan memakai uang yang katanya tabungan pribadinya untuk menyewa apartemen.”

Aku menghela napas.

“Itu uangku.”

Vanessa menutup wajahnya.

“Aku benar-benar minta maaf.”

Aku tidak memaafkannya hari itu.

Namun aku juga tidak membencinya lagi.

Karena akhirnya aku sadar, kami sama-sama pernah menjadi korban dari pria yang sama.

Beberapa bulan setelah perceraian, aku mendapat tawaran menjadi direktur operasional di perusahaan tempatku bekerja.

Selama ini aku selalu menolak promosi karena ingin menyesuaikan jadwal dengan Rafael.

Kini tidak ada lagi yang perlu kutunggu.

Aku menerima jabatan itu.

Pekerjaanku semakin sibuk.

Aku mulai bepergian ke Singapura, Kuala Lumpur, dan Tokyo untuk menangani berbagai proyek regional.

Suatu malam, saat menghadiri konferensi bisnis di Bali, aku tanpa sengaja bertemu Mika.

Kami tertawa mengingat semua kejadian itu.

“Kalau aku tidak mengirim screenshot itu malam itu?”

Aku memandang laut yang gelap.

“Mungkin aku masih menunggu seseorang yang tidak pernah benar-benar memilihku.”

Mika tersenyum.

“Kadang kebenaran memang menyakitkan.”

“Tapi lebih menyakitkan hidup dalam kebohongan.”

Setahun kemudian, saat membersihkan lemari lama, aku menemukan dua pasang sandal rumah yang dulu kubelikan untuk Rafael.

Aku memandangnya cukup lama.

Lalu memasukkannya ke dalam kotak donasi.

Beberapa barang memang dibuat untuk menemani perjalanan seseorang.

Namun ketika orang itu memilih berjalan ke arah yang berbeda, tidak ada gunanya terus menyimpannya.

Di hari yang sama, sebuah email masuk ke kotak masukku.

Subjeknya sederhana.

“Aku berutang satu permintaan maaf lagi.”

Pengirimnya Rafael.

Aku tidak membukanya.

Aku langsung menghapus email itu.

Bukan karena aku masih marah.

Melainkan karena untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, hidupku tidak lagi membutuhkan penjelasan dari orang yang pernah menghancurkannya.

Dan saat layar komputer kembali kosong, bayanganku justru tertuju pada pagi di Bandara Soekarno-Hatta ketika aku melihat punggungnya menghilang di balik pemeriksaan keamanan.

Dulu aku mengira pria itu sedang membawa masa depan keluargaku pergi ke Jerman.

Padahal tanpa kusadari, yang benar-benar berangkat hari itu adalah semua kebohongan yang selama ini mengikat hidupku.

Sementara aku, yang ditinggalkan di Jakarta dengan hati yang hancur, ternyata justru sedang melangkah menuju kehidupan yang akhirnya benar-benar menjadi milikku sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang