“Rp280 juta untuk ruko apa, Hotra?”
Suamiku berdiri hanya beberapa langkah dari pintu, tetapi wajahnya seperti seseorang yang baru tertangkap melakukan sesuatu yang seharusnya tidak pernah kuketahui.
Matanya berpindah dari wajahku ke ponsel di atas meja.
“Nuna, kamu buka HP aku?”
“Aku tidak perlu membukanya. Pesannya muncul sendiri.”

Hotra berjalan cepat dan mengambil ponselnya.
“Ini urusan keluarga.”
Aku hampir tertawa mendengar kalimat itu.
“Enam tahun aku jadi istrimu, tapi ketika menyangkut uang ratusan juta, tiba-tiba aku bukan keluarga?”
“Nggak seperti itu.”
“Lalu seperti apa?”
Hotra mengembuskan napas kasar.
“Maya sedang mencoba membangun usaha. Ruko itu untuk tempat produksi kuenya.”
Aku menatapnya lama.
“Uangnya dari mana?”
Dia diam.
“Dari hasil penjualan rumah Mama?”
Hotra mengusap wajah.
“Sebagian.”
“Berapa rumah Mama terjual?”
“Nuna, nggak perlu membahas nominal.”
“Berapa?”
Nada suaraku membuat Mama Sulastri keluar dari kamar.
“Ada apa?”
Aku menoleh kepadanya.
Mama masih mengenakan kacamata pelindung setelah operasi. Wajahnya terlihat cemas.
Aku tidak ingin menyeretnya ke pertengkaran, tetapi semuanya sudah terlalu jauh.
“Ma, rumah di Bogor kemarin terjual berapa?”
Mama tampak bingung.
“Rumah?”
Hotra langsung menyela.
“Ma, istirahat saja.”
Tetapi Mama justru menjawab polos.
“Delapan ratus tujuh puluh juta.”
Ruangan itu mendadak sunyi.
Aku menatap Hotra.
Dia memejamkan mata sebentar.
Delapan ratus tujuh puluh juta.
Selama ini Hotra mengatakan sebagian besar uang rumah habis untuk utang peninggalan Papa, pengobatan, dan berbagai kewajiban.
“Utang Papa berapa, Ma?”
Mama semakin bingung.
“Utang apa?”
Pertanyaan sederhana itu terasa seperti palu menghantam kepalaku.
Hotra langsung meninggikan suara.
“Sudah, Nuna!”
Aku tidak peduli lagi.
“Katanya rumah Mama dijual karena harus melunasi utang setelah Papa meninggal.”
Mama menatap anaknya.
“Hotra bilang begitu?”
Aku melihat perubahan kecil di wajah Mama.
Bukan sekadar kebingungan.
Kekecewaan.
“Papa kalian tidak meninggalkan utang,” katanya pelan. “Justru ada deposito yang Mama cairkan setelah beliau meninggal.”
Hotra membanting ponselnya ke meja.
“Kenapa semua harus dibesar-besarkan?”
Aku menatapnya tak percaya.
“Kamu bohong kepadaku.”
“Aku cuma nggak cerita semuanya.”
“Itu namanya bohong.”
Hotra berjalan mendekat.
“Uang itu milik Mama. Mau dipakai untuk apa juga bukan urusanmu.”
“Aku tidak pernah bilang uang itu milikku.”
Suaraku mulai bergetar.
“Tapi kamu menyuruhku menutup usaha supaya aku punya waktu menjaga Mama. Sementara uang Mama kalian gunakan untuk membelikan Maya ruko.”
“Itu investasi keluarga.”
“Dan pekerjaanku bukan?”
Hotra terdiam.
Aku menunjuk ruang depan yang sekarang sudah berubah menjadi kamar Mama.
“Aku membangun usaha itu dari nol. Aku membeli mesin sendiri. Aku renovasi ruangan itu pakai tabunganku. Aku membantu bayar KPR rumah ini setiap bulan. Tapi saat keluargamu punya rencana, yang pertama dikorbankan justru pekerjaanku.”
Mama tiba-tiba bertanya, “Hotra, kamu bilang ke Nuna dia harus berhenti kerja untuk menjaga Mama?”
Hotra tidak menjawab.
Mama melepaskan kacamata pelindungnya perlahan.
“Aku tidak pernah meminta itu.”
Aku menatap Mama.
“Apa?”
“Mama masih bisa mengurus diri sendiri. Dokter cuma bilang jangan mengangkat berat dan jangan terlalu banyak membungkuk. Bahkan Maya bilang Mama tinggal di sini karena rumah kalian lebih dekat ke rumah sakit.”
Aku merasa ada sesuatu yang semakin tidak masuk akal.
“Bukannya karena apartemen Maya terlalu sempit?”
Mama mengernyit.
“Maya sudah pindah.”
Jantungku seperti berhenti sesaat.
“Pindah ke mana?”
“Ke rumah kontrakan di Cibubur. Lumayan besar. Tiga kamar.”
Aku menoleh perlahan kepada Hotra.
Satu demi satu kebohongannya runtuh.
Malam itu dia akhirnya mengaku.
Rumah Mama memang terjual Rp870 juta.
Sekitar Rp90 juta digunakan untuk biaya pengobatan, pajak, notaris, dan beberapa kebutuhan lain. Sisanya masih lebih dari Rp700 juta.
Maya ingin mengembangkan usaha kuenya dan menemukan sebuah ruko di kawasan Jatiasih. Pemilik meminta uang muka Rp280 juta.
Hotra setuju menggunakan uang Mama.
Aku masih belum mengerti satu hal.
“Kenapa semua itu mengharuskan aku berhenti menjahit?”
Hotra tidak langsung menjawab.
Dan justru karena itulah aku tahu masih ada sesuatu yang disembunyikan.
Aku menunggu.
Akhirnya dia berkata, “Maya butuh bantuan.”
“Bantuan apa?”
“Produksi.”
Aku mengernyit.
“Maksudmu?”
“Kalau rukonya jadi, dia mau memperbesar usaha. Dia butuh orang untuk bagian administrasi, pengadaan bahan, kadang bantu packing.”
Aku menatapnya.
Kemudian semuanya menjadi jelas.
“Kamu mau aku bekerja untuk Maya?”
“Bukan bekerja. Bantu keluarga.”
“Dibayar?”
Hotra diam.
Aku tertawa pendek.
Jadi inilah rencananya.
Usahaku harus dihentikan.
Pelangganku dibuat percaya aku akan berhenti selama enam bulan.
Ruangan kerjaku diambil.
Setelah itu aku akan memiliki banyak waktu luang.
Lalu, secara perlahan, aku akan diarahkan membantu bisnis Maya tanpa perlu digaji karena semuanya dibungkus dengan kalimat membantu keluarga.
“Aku nggak percaya kamu melakukan ini.”
Hotra mulai defensif.
“Maya punya peluang besar. Kalau bisnisnya berkembang, semuanya juga kembali ke keluarga.”
“Semua siapa?”
“Kita.”
“Nama siapa di surat ruko?”
Dia tidak menjawab.
Aku sudah tahu jawabannya.
Maya.
Aku masuk kamar malam itu dan mengunci pintu.
Untuk pertama kalinya selama enam tahun pernikahan, aku merasa rumah yang cicilannya kubayar setiap bulan tidak lagi terasa seperti rumahku sendiri.
Pagi berikutnya aku bangun lebih awal.
Aku membuka buku catatan usaha.
Selama dua tahun aku mencatat semuanya.
Uang pembelian mesin.
Biaya renovasi.
Pesanan.
Pendapatan.
Bahkan transfer untuk cicilan rumah.
Aku menghitung.
Dalam tiga tahun terakhir saja, aku sudah menyetor lebih dari Rp180 juta untuk kebutuhan rumah tangga dan KPR.
Angka itu membuatku sadar betapa mudahnya kontribusiku dianggap tidak ada hanya karena pekerjaanku dilakukan dari rumah.
Aku kemudian menghubungi semua pelanggan yang pesanannya sempat diminta Hotra untuk dibatalkan.
Aku meminta maaf.
Aku mengatakan studionya sedang dipindahkan sementara.
Lalu aku menelepon seorang pelanggan lama bernama Rika yang memiliki salon di Galaxy.
Dua bulan sebelumnya, dia pernah menawarkan lantai dua rukonya yang kosong.
Dulu aku menolak karena merasa lebih nyaman bekerja dari rumah.
Sekarang aku bertanya apakah tawaran itu masih berlaku.
“Masih, Mbak,” jawabnya. “Kalau Mbak Nuna mau, minggu depan bisa masuk.”
Hari itu juga aku melihat tempatnya.
Tidak besar.
Tetapi cukup untuk tiga mesin jahit, meja potong, rak kain, dan ruang fitting kecil.
Aku langsung membayar sewa tiga bulan.
Ketika pulang, Hotra sedang duduk di ruang makan bersama Maya.
Di atas meja ada beberapa lembar desain interior ruko.
Maya tersenyum.
“Kak Nuna, pas banget. Aku mau ngobrol soal usaha.”
Aku meletakkan tas.
“Usahamu?”
“Iya. Nanti kalau ruko sudah jalan, aku butuh orang yang bisa dipercaya. Daripada Kak Nuna capek jahit terus, mungkin bisa bantu aku.”
Aku hampir kagum.
Persis seperti yang kuduga.
“Gajinya berapa?”
Maya terdiam.
Hotra langsung berkata, “Kok ngomongnya gaji?”
“Kalau aku bekerja, ya aku tanya gaji.”
“Kita keluarga.”
Aku tersenyum.
“Kalau begitu kenapa rukonya tidak atas nama keluarga?”
Wajah Maya berubah.
Hotra berdiri.
“Nuna, jangan mulai lagi.”
“Aku tidak mulai apa-apa.”
Aku mengeluarkan sebuah kunci dari tas.
“Aku cuma mau bilang mulai Senin aku pindah studio.”
Hotra menatap kunci itu.
“Studio apa?”
“Aku sewa tempat.”
“Kamu nggak diskusi dulu sama aku?”
Aku menatapnya.
Aneh sekali.
Pria yang menghubungi pelangganku tanpa izin, merencanakan masa depanku tanpa bertanya, dan menyembunyikan ratusan juta rupiah sekarang meminta diskusi.
“Aku sedang menyelamatkan pekerjaanku.”
“Siapa yang suruh kamu sampai sewa tempat?”
“Kamu.”
Malam itu pertengkaran kami lebih besar dari sebelumnya.
Tetapi ada satu orang yang tidak kusangka akan berdiri di pihakku.
Mama.
“Cukup, Hotra.”
Suara beliau pelan, tetapi membuat semuanya berhenti.
Mama keluar membawa map cokelat yang pernah kulihat.
“Besok antar Mama ke notaris.”
Hotra langsung pucat.
“Untuk apa?”
“Mama batalkan ruko itu.”
Maya berdiri.
“Ma!”
Mama menatap kedua anaknya bergantian.
“Kalian bilang uang muka itu untuk investasi yang Mama setujui bersama. Kalian tidak pernah bilang caranya dengan membuat Nuna kehilangan pekerjaan.”
“Mama salah paham,” kata Maya.
“Tidak.”
Mama membuka map tersebut.
Di dalamnya ada salinan dokumen transaksi.
“Mama memang tua. Mata Mama memang baru dioperasi. Tapi Mama belum kehilangan akal.”
Ternyata Mama sudah mengetahui lebih banyak daripada yang kami kira.
Dua hari sebelum datang ke rumah kami, Hotra meminta Mama menandatangani surat kuasa pengelolaan sebagian uang hasil penjualan rumah.
Katanya supaya lebih mudah mengurus deposito.
Mama menandatanganinya karena percaya.
Namun setelah melihat pertengkaran kami, Mama meminta notaris menjelaskan seluruh isi dokumen.
Uang muka ruko memang berasal dari rekening Mama.
Tetapi ada sesuatu yang bahkan membuat Maya terdiam.
Dalam draft pembelian, ruko itu bukan hanya atas nama Maya.
Nama Hotra juga tercantum sebagai pemilik bersama.
Aku menatap suamiku.
Jadi kalimat investasi keluarga itu akhirnya memiliki arti.
Bukan keluargaku.
Keluarga mereka.
“Kamu punya bagian di ruko itu?” tanyaku.
Hotra tidak mampu menjawab.
Mama yang menjawab.
“Empat puluh persen.”
Dadaku terasa kosong.
Hotra ternyata tidak sekadar membantu adiknya.
Dia sedang membangun aset untuk dirinya sendiri menggunakan uang ibunya, sementara memintaku menghentikan usaha yang selama bertahun-tahun ikut membayar rumah kami.
Aku tidak berteriak.
Entah kenapa, justru saat itu aku menjadi sangat tenang.
Aku hanya berkata, “Sekarang aku mengerti.”
“Nuna, dengarkan dulu.”
“Sudah enam tahun aku mendengarkanmu.”
Aku masuk kamar dan mengeluarkan satu map lain.
Bukan milik mereka.
Milikku.
Di dalamnya ada seluruh bukti transfer cicilan rumah dan dokumen renovasi.
Aku sudah menghubungi konsultan hukum pagi itu untuk memahami posisi keuanganku jika keadaan memburuk.
Aku belum memutuskan bercerai.
Tetapi untuk pertama kalinya aku memutuskan sesuatu yang selama ini selalu kutunda.
Aku tidak akan lagi menyerahkan penghasilanku tanpa perlindungan apa pun.
Seminggu kemudian studio baruku dibuka.
Aku mengira kehilangan pelanggan karena Hotra sempat mengatakan aku berhenti bekerja.
Yang terjadi justru sebaliknya.
Rika mengunggah foto studio baruku ke media sosial.
Pelanggan lama membagikannya.
Dalam tiga hari, jadwal jahitku penuh untuk hampir dua bulan.
Mama bahkan datang saat pembukaan.
Beliau duduk di kursi dekat jendela sambil tersenyum melihatku mengukur kain pelanggan.
Sementara ruko Maya batal dibeli.
Uang Rp280 juta akhirnya dikembalikan setelah dipotong biaya pembatalan sesuai kesepakatan dengan pemilik.
Mama memindahkan sebagian besar uangnya ke deposito atas namanya sendiri dan menunjuk notaris untuk mengurus segala transaksi besar.
Maya marah.
Hotra lebih marah lagi.
Tetapi kemarahannya tidak lagi membuatku takut.
Sebulan setelah studio dibuka, Hotra datang menemuiku.
Dia terlihat jauh lebih kurus.
“Aku salah,” katanya.
Aku tetap melipat kain.
“Aku pikir usaha Maya bisa jadi sesuatu yang besar.”
“Mungkin memang bisa.”
“Aku ingin punya investasi juga.”
“Itu juga tidak salah.”
Dia menatapku bingung.
Aku berhenti bekerja.
“Yang salah adalah kamu membangun masa depanmu dengan menghancurkan milikku.”
Hotra menunduk.
Untuk pertama kalinya dia tidak punya pembelaan.
Pernikahan kami tidak langsung berakhir.
Tetapi juga tidak kembali seperti sebelumnya.
Aku meminta kami menjalani konseling pernikahan dan memisahkan pencatatan keuangan sementara.
Aku tidak tahu apakah kepercayaan yang pecah bisa benar-benar pulih.
Aku hanya tahu satu hal.
Tiga bulan kemudian, ketika kontrak studio hampir habis, pemilik bangunan menawarkan lantai dua itu untuk dijual.
Aku tidak punya uang sebanyak itu.
Aku hampir menolak.
Namun Rika mempertemukanku dengan seorang kenalannya yang sedang mencari mitra untuk bisnis busana modest modern.
Setelah melihat laporan keuangan usahaku selama dua tahun, perempuan itu bersedia menanam modal.
Enam bulan kemudian, studio kecilku berubah menjadi rumah produksi dengan lima penjahit.
Pada hari papan nama baru dipasang, Mama datang membawa sebuah amplop.
“Apa ini, Ma?”
“Buka.”
Di dalamnya ada cek.
Rp280 juta.
Angka yang sama persis.
Aku langsung mengembalikannya.
“Aku nggak bisa terima.”
Mama tersenyum.
“Mama tahu.”
“Terus kenapa diberikan?”
“Supaya Mama tahu jawabanmu.”
Aku terdiam.
Beliau memasukkan kembali cek itu ke tas.
“Dulu anak-anak Mama mengira uang adalah cara tercepat membangun masa depan. Kamu justru menunjukkan bahwa masa depan dibangun dari sesuatu yang tidak bisa dibeli.”
“Apa?”
“Kepercayaan pada diri sendiri.”
Aku memandang ruangan di belakangku.
Suara mesin jahit berdengung.
Para penjahit sedang bekerja.
Di rak tergantung gaun-gaun yang belum selesai.
Tempat itu tidak mewah.
Tetapi setiap sudutnya terasa milikku.
Saat itulah aku memahami sesuatu yang selama bertahun-tahun tidak pernah kupikirkan.
Usaha kecil yang dulu dianggap bisa dihentikan kapan saja ternyata bukan sekadar sumber penghasilan.
Itu adalah bukti bahwa aku memiliki kehidupan, kemampuan, dan masa depan yang tidak boleh ditentukan orang lain.
Dan ironisnya, semua itu baru benar-benar kusadari karena sebuah pesan singkat tentang Rp280 juta yang seharusnya tidak pernah kubaca.
