PELAYAN BARU NEKAT MEROBEK KASUR MAJIKANNYA DAN MENEMUKAN RAHASIA MENGERIKAN! SEPUPU KEPERCAYAAN SANG PENGUSAHA KAYA MENDADAK MENJADI TERSANGKA UTAMA DI BALIK TEROR YANG PERLAHAN MENGHANCURKAN HIDUPNYA!

Hendra menatap Maya cukup lama hingga perempuan itu merasa seluruh udara di kamar tersebut menghilang.

“Siapa kamu sebenarnya?”

Pertanyaan itu terdengar tenang, tetapi Maya tahu tidak ada lagi jalan untuk bersembunyi.

Ia memandang tiga kotak hitam di atas meja, kemudian beralih kepada Dimas. Senyum pria itu masih ada, tipis dan penuh keyakinan, seolah apa pun yang akan dikatakan Maya justru merupakan bagian dari rencananya.

“Tujuh tahun lalu,” kata Maya akhirnya, “saya bekerja di sebuah klinik rehabilitasi swasta di Jakarta Selatan.”

Wajah Dimas berubah sesaat.

Sangat singkat.

Namun Maya melihatnya.

“Siska pernah dirawat di sana.”

Hendra langsung berdiri.

“Apa?”

“Bukan karena kecanduan seperti yang diberitakan setelah kematiannya. Mbak Siska datang karena mengalami insomnia berat, serangan panik, dan ketakutan yang tidak bisa dia jelaskan.”

Maya menarik napas.

“Saya bukan dokter. Waktu itu saya hanya staf administrasi malam. Tapi karena sering bertugas saat Mbak Siska datang, saya beberapa kali berbicara dengannya.”

Hendra mendekat.

“Kenapa tidak pernah ada yang memberitahu saya?”

“Karena Mbak Siska meminta identitasnya dirahasiakan.”

Maya menundukkan kepala.

“Dan karena setelah dia meninggal, semua catatan kunjungannya tiba-tiba hilang dari sistem.”

Kepala keamanan yang berdiri di dekat pintu menatap Dimas.

Dimas malah tertawa pendek.

“Cerita yang bagus.”

Maya tidak memedulikannya.

“Malam sebelum Mbak Siska meninggal, dia datang ke klinik dalam keadaan ketakutan. Dia bilang ada sesuatu di apartemennya yang membuatnya tidak bisa tidur. Setiap malam dia merasa dadanya sesak, kepalanya berat, dan seperti ada getaran yang tidak terdengar.”

Hendra menatap perangkat di atas meja.

Wajahnya perlahan mengeras.

“Persis seperti saya.”

Maya mengangguk.

“Siska juga mengatakan seseorang terus meyakinkannya bahwa semua itu hanya ada di kepalanya.”

Hendra langsung menoleh kepada Dimas.

Untuk pertama kalinya, senyum Dimas menghilang.

“Jangan lihat aku seperti itu,” katanya. “Siska punya banyak masalah.”

“Dia menyebut nama siapa?” tanya Hendra kepada Maya.

Maya terdiam.

Dimas menjawab lebih dahulu.

“Tentu saja namaku. Bukankah itu tujuan cerita ini?”

Maya menatapnya.

“Tidak.”

Jawaban itu justru membuat Dimas terpaku.

“Siska tidak pernah menyebut nama Anda.”

Hendra mengernyit.

“Lalu siapa?”

“Dia tidak tahu.”

Maya menjelaskan bahwa Siska hanya pernah mengatakan ada seseorang yang sangat dekat dengan keluarganya yang sedang berusaha membuatnya terlihat tidak stabil. Beberapa minggu sebelumnya, Siska menemukan transaksi mencurigakan dalam salah satu perusahaan keluarga.

Ada pembayaran besar kepada beberapa perusahaan konsultasi yang ternyata tidak memiliki kegiatan bisnis nyata.

Siska ingin memberitahu Hendra.

Tetapi sebelum sempat melakukannya, kondisi mentalnya mulai memburuk.

Kemudian ia meninggal.

Polisi menyimpulkan kematiannya sebagai overdosis tidak disengaja.

Maya menerima kesimpulan itu selama bertahun-tahun.

Sampai tiga bulan lalu.

“Saya menerima sebuah amplop.”

Maya mengeluarkan ponselnya dan membuka foto sebuah surat tanpa nama.

Di dalam amplop tersebut hanya ada salinan kartu pasien lama milik Siska dan sebuah kalimat.

Jika kamu masih ingat perempuan ini, datanglah ke rumah kakaknya sebelum terlambat.

Di bawahnya terdapat alamat rumah Hendra.

“Itulah alasan saya melamar bekerja di sini.”

Hendra membaca foto surat itu berulang kali.

“Siapa pengirimnya?”

“Saya tidak tahu.”

Dimas kembali tersenyum.

“Jadi seseorang misterius mengirimmu ke sini, lalu beberapa jam setelah masuk kamu langsung menemukan tiga perangkat tersembunyi. Sangat meyakinkan.”

Kali ini Hendra tidak langsung membela Maya.

Keraguan muncul di wajahnya.

Maya menyadarinya.

Dan itulah yang diinginkan Dimas.

“Periksa tas saya,” kata Maya tiba-tiba.

Semua orang menoleh.

“Periksa kamar staf saya. Periksa ponsel saya. Kalau saya datang untuk menjebak seseorang, pasti ada sesuatu yang bisa ditemukan.”

Hendra memberi isyarat kepada kepala keamanan.

Namun sebelum pria itu bergerak, salah seorang petugas datang tergesa-gesa.

“Pak, ada sesuatu di rekaman CCTV.”

Semua orang berpindah ke ruang keamanan.

Rekaman dari lorong lantai dua diputar.

Pukul 02.17 dini hari.

Seorang pria mengenakan seragam teknisi berjalan menuju kamar utama.

Wajahnya tertutup masker.

Ia membawa tas peralatan.

Petugas memperbesar gambar.

Pria tersebut menggunakan kartu akses.

Kartu yang tercatat atas nama Dimas.

Dimas langsung berdiri.

“Kartu itu bisa diduplikasi!”

Hendra menatap layar.

“Bukankah kamu bilang kartumu selalu ada di dompetmu?”

“Memang.”

“Berarti seseorang harus mendapatkan akses ke dompetmu.”

“Atau sistem keamanan rumah ini sudah dimanipulasi.”

Argumen itu masuk akal.

Terlalu masuk akal.

Hendra mengusap wajahnya.

Ia mulai menyadari bahwa bukti yang terlihat jelas justru mungkin terlalu sempurna.

Maya tiba-tiba meminta rekaman diputar mundur.

“Cari saat orang itu pertama kali masuk rumah.”

Petugas menelusuri kamera satu per satu.

Tidak ada.

Pria berseragam teknisi tersebut seperti muncul begitu saja di lorong lantai dua.

Maya memperhatikan layar.

“Dia bukan masuk dari luar.”

Kepala keamanan terdiam.

Hendra langsung memahami maksudnya.

“Cari semua kamera internal.”

Mereka memeriksa rekaman hampir tiga puluh menit.

Akhirnya ditemukan sesuatu.

Pukul 01.54, pintu kecil di ujung koridor pelayanan terbuka.

Pria berseragam teknisi keluar dari sana.

Ruangan itu merupakan gudang perlengkapan rumah.

Kepala keamanan langsung mengirim dua petugas.

Beberapa menit kemudian mereka kembali membawa sebuah tas hitam.

Di dalamnya terdapat pakaian teknisi, masker, sarung tangan, dan sebuah perangkat kecil untuk menyalin kartu akses elektronik.

Dimas mengembuskan napas keras.

“Sekarang kalian mengerti? Seseorang sedang menjebakku.”

Maya justru memperhatikan sarung tangan di dalam tas.

“Jangan sentuh.”

Ia meminta polisi segera dihubungi.

Hendra menyetujuinya.

Dimas mencoba meninggalkan ruangan.

“Tidak ada yang pergi,” kata Hendra.

Dimas berhenti.

“Kamu menahanku?”

“Aku memastikan semua orang tetap di sini sampai polisi datang.”

Tatapan kedua sepupu itu bertemu.

Untuk pertama kalinya sejak pagi, kemarahan terlihat jelas di wajah Dimas.

“Setelah semua yang kulakukan untukmu?”

Hendra menjawab pelan.

“Kalau kamu tidak bersalah, kamu tidak perlu takut.”

Sekitar empat puluh menit kemudian, tim penyidik tiba.

Rumah tersebut langsung berubah menjadi lokasi pemeriksaan.

Perangkat dari kasur diamankan.

Tas di gudang diperiksa.

Sidik jari dikumpulkan.

Semua penghuni diminta memberikan keterangan.

Namun temuan paling mengejutkan muncul menjelang siang.

Pada bagian dalam salah satu sarung tangan ditemukan rambut.

Hasil pemeriksaan awal menunjukkan rambut itu kemungkinan berasal dari perempuan.

Dimas tertawa ketika mendengarnya.

“Lihat? Pelakunya bukan aku.”

Lalu ia menatap Maya.

“Bukankah sekarang kandidatnya semakin sedikit?”

Maya tidak menjawab.

Tetapi beberapa staf mulai memandangnya dengan curiga.

Situasi berubah ketika polisi memeriksa perangkat elektronik di dalam tas.

Di dalam alat penyalin kartu terdapat catatan waktu penggunaan.

Salah satunya terjadi tiga hari sebelum Maya mulai bekerja.

Kartu yang disalin memang milik Dimas.

Tetapi lokasi penyalinan bukan rumah Hendra.

Lokasinya adalah kantor pusat Kusuma Group.

Polisi meminta rekaman keamanan gedung tersebut.

Dua jam kemudian, sebuah gambar muncul.

Dimas sedang berada di ruang rapat.

Jaketnya tergantung di kursi.

Seseorang masuk setelah rapat selesai dan mengambil dompetnya selama kurang dari satu menit.

Orang itu kemudian mengembalikannya.

Wajah orang tersebut terlihat jelas.

Hendra berdiri begitu cepat hingga kursinya jatuh.

“Tidak mungkin.”

Perempuan di layar itu adalah Ratih.

Asisten pribadi Hendra selama sebelas tahun.

Orang yang mengatur jadwalnya.

Mengurus obatnya.

Memilih dokter ketika kondisinya memburuk.

Dan hampir setiap malam memastikan kamar Hendra sudah siap sebelum ia tidur.

Ratih ditemukan di ruang kerja lantai bawah.

Ia tidak mencoba melarikan diri.

Ketika polisi menunjukkan rekaman tersebut, ia hanya menutup mata.

“Kenapa?” tanya Hendra.

Ratih menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

“Saya tidak pernah berniat membunuh Bapak.”

“Lalu apa namanya membuat saya kehilangan kemampuan berpikir selama berbulan-bulan?”

Ratih mulai menangis.

Namun sebelum ia menjawab, Dimas mendekat.

“Siapa yang menyuruhmu?”

Ratih menatap Dimas.

Ada sesuatu dalam tatapan itu yang membuat Maya merinding.

Kemudian Ratih berkata, “Anda.”

Dimas mundur.

“Jangan bohong.”

“Anda yang membayar saya.”

“Gila!”

Ratih mengatakan Dimas memberinya uang melalui rekening perusahaan perantara dan memintanya memasang perangkat tersebut. Tujuannya agar kondisi Hendra semakin buruk sampai dewan direksi mempertanyakan kemampuannya memimpin perusahaan.

Dimas membantah keras.

Polisi memeriksa transaksi.

Memang ada pembayaran kepada Ratih.

Namun rekening pengirim terhubung dengan perusahaan yang dikendalikan melalui jaringan badan usaha yang pada akhirnya mengarah kepada Dimas.

Hendra terlihat seperti kehilangan tenaga.

“Jadi benar kamu?”

Dimas menatap sepupunya.

Kemudian tertawa.

Bukan tawa gugup seperti sebelumnya.

Kali ini dingin.

“Kalau aku memang ingin mengambil perusahaanmu, apa menurutmu aku akan sebodoh itu meninggalkan jejak rekening?”

Hendra terdiam.

Maya juga.

Ada sesuatu yang salah.

Terlalu banyak bukti.

Kartu Dimas.

Kehadirannya di rumah.

Rekening yang mengarah kepadanya.

Semua tersusun sempurna.

Maya teringat Siska.

Tujuh tahun lalu, kematiannya juga terlihat terlalu mudah dijelaskan.

Overdosis.

Kecelakaan.

Selesai.

“Ratih,” kata Maya, “siapa yang pertama kali menghubungi Anda?”

Ratih tidak menjawab.

“Apakah benar Pak Dimas?”

Ratih menggigit bibir.

Polisi meminta semua orang diam.

Maya melanjutkan.

“Kalau Pak Dimas sendiri yang menyuruh Anda, mengapa dia perlu mencuri data kartunya sendiri? Dia sudah punya akses kamar.”

Wajah Ratih berubah.

Hendra menoleh kepada Dimas.

Dimas sendiri tampak terkejut.

Maya mendekati meja.

“Seseorang sengaja membuat semua jejak menuju Pak Dimas.”

Ia menatap Ratih.

“Siapa?”

Ratih mulai gemetar.

“Dia bilang keluarga saya akan celaka kalau saya bicara.”

“Siapa?”

Air mata mengalir di pipinya.

“Bu Lestari.”

Hendra membeku.

Tidak ada seorang pun bergerak.

Lestari Kusuma adalah ibu Hendra.

Perempuan berusia 71 tahun yang pagi itu bahkan sempat duduk di ruang keluarga sambil menangis melihat kondisi putranya.

“Jangan sembarangan bicara,” kata Hendra.

Ratih mengeluarkan ponsel cadangan dari balik lemari arsip.

Di dalamnya tersimpan percakapan selama berbulan-bulan.

Instruksi.

Transfer.

Jadwal.

Foto.

Dan sebuah rekaman suara.

Suara perempuan tua terdengar jelas.

Pastikan Hendra menyerahkan kuasa kepada Dimas. Setelah itu, biarkan semua bukti mengarah kepada Dimas. Aku tidak akan kehilangan perusahaan ini kepada mereka berdua.

Hendra tidak mampu berbicara.

Polisi menemui Lestari di ruang keluarga.

Perempuan tua itu tidak melawan.

Ia hanya menatap kedua pria yang dibesarkannya sejak kecil.

“Kenapa, Bu?” suara Hendra pecah.

Lestari tersenyum pahit.

“Karena kalian tidak pernah memahami apa yang dibangun ayahmu.”

Ternyata selama puluhan tahun, Lestari diam-diam mempertahankan kendali atas jaringan aset keluarga melalui perusahaan-perusahaan tersembunyi.

Ketika Siska menemukannya tujuh tahun lalu, ia berniat membongkar semuanya.

Lestari panik.

Ia menyuruh seseorang membuat Siska terlihat tidak stabil.

Metodenya belum secanggih perangkat yang digunakan kepada Hendra, tetapi tujuannya sama.

Merusak tidur.

Melemahkan kondisi mental.

Membuat perkataannya tidak dipercaya.

Namun Lestari bersumpah kematian Siska bukan bagian dari rencananya.

Malam itu Siska panik dan mengonsumsi obat tidur melebihi dosis.

“Dia anak Ibu sendiri,” kata Hendra.

Lestari menatap putranya.

“Dan aku menyesal setiap hari.”

“Tidak.”

Suara Hendra berubah dingin.

“Kalau Ibu benar-benar menyesal, Ibu tidak akan mengulanginya kepada saya.”

Lestari tidak menjawab.

Dimas berdiri di sudut ruangan dengan wajah kosong.

Selama berbulan-bulan ia memang mengambil alih semakin banyak urusan perusahaan.

Itulah sebabnya ia menjadi kambing hitam sempurna.

Keserakahannya sendiri membuat semua orang mudah mempercayai bahwa dialah pelakunya.

Sebelum dibawa pergi, Lestari tiba-tiba menatap Maya.

“Kamu masih belum mengerti satu hal.”

Maya terdiam.

“Surat yang membawamu ke rumah ini bukan dariku.”

Semua orang langsung memandang Maya.

Benar.

Masih ada satu pertanyaan.

Siapa yang mengirim amplop itu?

Malamnya, setelah rumah mulai sepi, Maya duduk sendirian di ruang tamu.

Hendra datang membawa sebuah kotak lama.

“Ini barang-barang Siska.”

Mereka memeriksa isinya.

Foto.

Buku catatan.

Beberapa surat.

Kemudian Maya menemukan amplop kecil yang terselip di dalam sebuah buku.

Tulisan tangan di bagian depan membuatnya membeku.

Untuk Maya.

Tangannya gemetar ketika membuka surat tersebut.

Maya mengenali tulisan Siska.

Jika sesuatu terjadi padaku, mungkin butuh waktu lama sebelum kakakku mengalami hal yang sama. Kalau hari itu datang, aku berharap surat ini akhirnya sampai kepadamu.

Maya menutup mulut.

Hendra membaca bagian berikutnya.

Aku tidak tahu siapa yang bisa dipercaya. Tapi aku tahu satu hal. Maya pernah menjadi satu-satunya orang yang percaya bahwa aku tidak gila.

Di bagian bawah terdapat instruksi agar surat itu dikirim kepada Maya hanya jika suatu hari Hendra mulai menunjukkan gejala serupa.

Hendra mengangkat kepala.

“Siapa yang menyimpannya selama tujuh tahun?”

Mereka menemukan jawabannya di halaman terakhir.

Nama seorang pengacara lama keluarga Kusuma tercantum di sana.

Siska ternyata sudah mempersiapkan semuanya sebelum meninggal.

Bukan Maya yang menemukan jalan menuju keluarga Kusuma.

Siska sendiri yang membawanya kembali.

Maya menatap foto perempuan yang meninggal tujuh tahun sebelumnya.

Air matanya akhirnya jatuh.

Selama bertahun-tahun ia dihantui rasa bersalah karena tidak melakukan apa pun ketika Siska berkata bahwa seseorang sedang menghancurkan pikirannya.

Kini ia memahami bahwa Siska tidak pernah menyalahkannya.

Beberapa bulan kemudian, penyelidikan terhadap jaringan perusahaan keluarga Kusuma berkembang menjadi kasus besar. Lestari dan Ratih menghadapi proses hukum, sementara keterlibatan sejumlah pihak lain terus diperiksa. Dimas tidak terbukti memasang perangkat tersebut, tetapi audit internal menemukan berbagai pelanggaran keuangan yang pernah ia sembunyikan. Hendra mencabut seluruh surat kuasanya dan menyerahkan pengelolaan perusahaan kepada manajemen profesional selama ia menjalani pemulihan.

Maya memilih meninggalkan rumah itu.

Pada hari terakhirnya, Hendra menghampirinya di depan gerbang.

“Saya masih tidak mengerti satu hal.”

Maya menoleh.

“Kenapa setelah tujuh tahun kamu tetap datang? Kamu bisa saja membuang surat itu.”

Maya tersenyum kecil.

“Karena dulu ada seorang perempuan yang meminta saya percaya bahwa rasa takutnya nyata. Saya tidak cukup berani membantunya saat itu.”

Ia memandang rumah besar di belakang Hendra.

“Saya tidak mau melakukan kesalahan yang sama dua kali.”

Hendra mengangguk.

Maya berjalan menuju jalan raya tanpa menoleh lagi.

Di dalam sakunya tersimpan surat terakhir Siska.

Dan di dalam rumah itu, untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, Hendra memerintahkan semua tirai kamar dibuka.

Cahaya matahari memenuhi ruangan yang selama ini menjadi tempat paling menakutkan dalam hidupnya.

Kasur yang robek telah dibuang.

Perangkat-perangkat itu telah menjadi barang bukti.

Namun Hendra akhirnya memahami sesuatu yang jauh lebih penting.

Teror paling berbahaya bukan selalu sesuatu yang membuat manusia berteriak ketakutan.

Kadang-kadang, teror itu datang dalam suara orang yang paling dipercaya, terus berbisik bahwa apa yang kita rasakan tidak pernah benar-benar terjadi.

Dan tujuh tahun setelah kematiannya, Siska akhirnya membuktikan bahwa ia tidak pernah kehilangan kewarasannya.

Ia hanya hidup di antara orang-orang yang berkepentingan membuat semua orang percaya bahwa dirinya telah kehilangan kewarasan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang