“Jangan umumkan siapa saya dulu.”
Jawaban Nadira membuat Hendra Wijaya terdiam cukup lama di ujung telepon.
“Bu Nadira, apakah Ibu yakin?”
“Sangat yakin.”
Nadira menatap kaki kirinya yang terbungkus gips. Rasa nyeri dari jahitan di betisnya masih berdenyut, tetapi anehnya kepalanya justru terasa jauh lebih jernih dibandingkan empat tahun terakhir.

“Saya ingin audit dilakukan seperti prosedur biasa. Jangan beri Dimas perlakuan khusus. Jangan juga beri tahu siapa pun bahwa perintah ini datang dari saya.”
“Baik, Bu.”
“Hendra.”
“Ya?”
“Kalau ditemukan pelanggaran, jangan tutupi apa pun hanya karena dia suami saya.”
Nada suara Hendra berubah tegas.
“Saya mengerti.”
Panggilan berakhir.
Nadira meletakkan ponsel di samping bantal.
Dokter yang sejak tadi berdiri beberapa langkah dari ranjangnya mendekat.
“Ibu sebaiknya istirahat. Tekanan darah Ibu masih tinggi.”
Nadira mengangguk.
Untuk pertama kalinya sejak menikah dengan Dimas, seseorang menyuruhnya beristirahat tanpa menambahkan kewajiban apa pun setelahnya.
Tidak ada kalimat, “Setelah itu masak.”
Tidak ada, “Jangan lupa antar Ibu.”
Tidak ada, “Kamu kan cuma di rumah.”
Nadira menutup mata.
Empat tahun lalu, ia menikahi Dimas bukan karena status, bukan pula karena jabatan.
Saat itu Dimas hanya seorang manajer junior di sebuah perusahaan teknologi. Ia sederhana, ambisius, dan tampak sangat menghargai Nadira.
Mereka bertemu ketika Nadira sengaja menggunakan nama belakang ibunya dan bekerja sebagai konsultan independen.
Dimas tidak pernah tahu bahwa Nadira adalah putri tunggal pendiri Arunika Group.
Lebih tepatnya, setelah ayah Nadira meninggal enam tahun lalu, hampir seluruh saham induk perusahaan diwariskan kepadanya.
Nadira tidak aktif muncul di media. Pengelolaan operasional diserahkan kepada dewan direksi profesional.
Identitas pemilik manfaat utama hanya diketahui beberapa orang di lingkaran tertinggi perusahaan.
Saat hubungan mereka menjadi serius, Nadira pernah berniat memberitahukan semuanya.
Namun seminggu sebelum pernikahan, ia mendengar Dimas berbicara kepada seorang teman.
“Aku paling takut menikah dengan perempuan kaya. Biasanya merasa bisa membeli suaminya.”
Nadira menahan diri.
Ia berpikir akan memberitahu Dimas ketika waktunya tepat.
Masalahnya, waktu yang tepat itu tidak pernah datang.
Setelah Dimas mendapat promosi, sikapnya perlahan berubah.
Ketika gajinya naik, ia mulai menganggap dirinya sebagai satu-satunya pencari nafkah.
Ketika mendapat mobil dinas, ia mulai meremehkan mobil kecil Nadira.
Ketika akhirnya menjadi Direktur Regional, Bu Ratna mulai mengatakan kepada setiap kerabat bahwa putranya berhasil “mengangkat derajat” Nadira.
Dan Nadira?
Ia diam.
Bukan karena lemah.
Awalnya karena ia ingin mengetahui satu hal sederhana.
Apakah Dimas akan tetap mencintainya jika ia mengira Nadira tidak punya apa-apa?
Empat tahun kemudian, Nadira mendapatkan jawabannya.
Pukul sembilan malam, Kirana datang ke rumah sakit membawa tas pakaian.
Begitu melihat kondisi sahabatnya, wajahnya langsung memerah karena marah.
“Empat puluh tujuh kali?”
Nadira mengangguk.
“Dia meneleponmu empat puluh tujuh kali saat kamu di IGD hanya karena ibunya ingin makan?”
“Bukan cuma makan. Katanya ada dua belas tamu.”
Kirana menatapnya seolah tidak percaya.
“Dan dia melaporkanmu ke polisi?”
“Iya.”
Kirana menarik kursi, lalu duduk.
“Nadira, aku sudah bilang sejak dua tahun lalu. Dimas tidak mencintaimu. Dia mencintai kegunaanmu.”
Kalimat itu menyakitkan karena benar.
Nadira menunduk.
“Aku tahu.”
Kirana menggenggam tangannya.
“Kamu tidak gagal mempertahankan pernikahan. Kamu hanya berhenti mempertahankan sesuatu yang sudah tidak memperlakukanmu seperti manusia.”
Malam itu, Nadira tidur hanya beberapa jam.
Pukul tujuh pagi, ponselnya berbunyi.
Pesan dari Hendra.
Audit tahap pertama menemukan beberapa transaksi yang membutuhkan klarifikasi segera.
Nadira membacanya sekali.
Kemudian dua kali.
Ada pembayaran konsultasi kepada sebuah perusahaan bernama PT Mahardika Solusi Digital.
Nilainya hampir Rp2,4 miliar dalam delapan belas bulan.
Masalahnya, perusahaan itu terdaftar atas nama sepupu Dimas.
Ada pula biaya perjalanan dinas yang tidak sesuai jadwal, pengadaan perangkat dengan harga jauh di atas pasar, serta penggunaan kartu korporat untuk pembayaran sebuah vila di Bali.
Nadira menutup layar.
Dadanya terasa dingin.
Ia sudah siap menghadapi suami yang kejam.
Ia belum siap menghadapi kemungkinan suaminya juga mencuri dari perusahaan miliknya.
Menjelang siang, Sinta Mahardika, pengacaranya, datang.
“Kita punya kabar baik dan kabar buruk,” kata Sinta.
“Kabar buruk dulu.”
“Rekening bersama kalian sebesar Rp1,8 miliar memang bisa menjadi objek sengketa.”
Nadira mengangguk.
“Yang baik?”
Sinta membuka map.
“Rumah Citraland dibeli dua tahun sebelum pernikahan atas nama perusahaan investasi pribadimu. Dimas tidak punya hak kepemilikan.”
Nadira tersenyum tipis.
“Mobil?”
“Pajero itu terdaftar atas nama Dimas.”
“Biarkan dia ambil.”
Sinta mengangkat alis.
“Kamu yakin?”
“Sangat. Aku tidak ingin bertengkar soal mobil.”
Ia berhenti sejenak.
“Aku ingin menyelesaikan semuanya secara sah.”
Sinta tersenyum.
“Itulah sebabnya aku suka menjadi pengacaramu.”
Sore harinya, Dimas datang.
Ia tidak membawa bunga.
Tidak membawa makanan.
Bahkan tidak bertanya bagaimana keadaan kaki Nadira.
Begitu masuk ke kamar rawat, ia langsung meletakkan sebuah map di meja.
“Kalau kamu masih mau pulang sekarang dan minta maaf kepada Ibu, aku bisa melupakan omongan soal cerai kemarin.”
Nadira menatapnya.
Dimas mengenakan kemeja kantor biru tua, jam tangan mahal, dan ekspresi yang selama bertahun-tahun selalu membuat Nadira memilih diam.
Kali ini tidak.
“Keluar.”
Dimas mengernyit.
“Apa?”
“Aku bilang keluar.”
“Nadira, jangan kekanak-kanakan.”
“Dimas, aku baru saja menjalani operasi.”
“Dan?”
Satu kata itu membuat semua keraguan Nadira menghilang.
Dan?
Seolah rasa sakitnya tidak memiliki arti.
Dimas menarik kursi.
“Ibu sampai tidak makan tadi malam gara-gara kamu.”
“Dia punya dua tangan.”
“Kamu istriku.”
“Tidak lama lagi.”
Wajah Dimas menegang.
“Kamu pikir gampang hidup tanpa aku?”
Nadira hampir tertawa.
“Aku sudah hidup tanpa kamu selama empat tahun. Bedanya, selama ini aku masih tinggal serumah denganmu.”
Dimas berdiri kasar.
“Kamu akan menyesal.”
Ponselnya tiba-tiba berbunyi.
Nama yang muncul di layar membuat ekspresi Dimas berubah.
Hendra Wijaya.
Dimas segera menjawab dengan nada ramah.
“Selamat sore, Pak Hendra.”
Beberapa detik kemudian, wajahnya pucat.
“Audit?”
Ia melirik Nadira.
“Kenapa mendadak?”
Suara Hendra tidak terdengar dari tempat Nadira.
Namun ia tahu apa yang sedang terjadi.
Dimas berjalan ke dekat jendela.
“Saya bisa jelaskan semuanya.”
Diam.
“Tidak, Pak. Pengadaan itu sudah sesuai prosedur.”
Diam lagi.
“Siapa yang memerintahkan pemeriksaan ini?”
Dimas perlahan menoleh ke arah Nadira.
Nadira hanya membalas tatapannya.
Setelah panggilan berakhir, Dimas memasukkan ponsel ke saku.
“Aneh.”
“Apa?”
“Kantorku sedang diaudit.”
“Begitu?”
“Pasti ada orang yang ingin menjatuhkanku.”
Nadira memiringkan kepala.
“Mungkin mereka hanya ingin tahu ke mana uang perusahaan pergi.”
Dimas langsung menatap tajam.
“Kamu tahu apa tentang pekerjaanku?”
“Lebih banyak daripada yang kamu kira.”
Dimas tertawa.
“Jangan sok pintar.”
Ia mengambil map dari meja.
“Satu minggu lagi kamu akan meneleponku sambil menangis.”
Kemudian ia pergi.
Nadira menatap pintu yang tertutup.
“Satu minggu terlalu lama,” gumamnya.
Tiga hari kemudian, Dimas diberhentikan sementara.
Audit internal menemukan dugaan konflik kepentingan, manipulasi vendor, dan penggunaan anggaran perusahaan untuk kepentingan pribadi.
Akses emailnya dinonaktifkan.
Kartu korporat dibekukan.
Mobil dinas ditarik.
Dimas panik.
Ia menelepon hampir semua anggota direksi.
Tidak seorang pun memberikan jawaban.
Bu Ratna bahkan datang langsung ke kantor pusat Arunika Investama dan membuat keributan di lobi.
“Anak saya sudah bekerja mati-matian untuk perusahaan ini!” teriaknya.
Petugas keamanan meminta ia menunggu.
Saat itulah Dimas menelepon Nadira.
“Kamu harus pulang.”
Nadira sedang berada di apartemen Kirana setelah keluar dari rumah sakit.
“Untuk apa?”
“Ibu sakit karena memikirkan pekerjaanku.”
“Bawa ke dokter.”
“Nadira!”
“Kamu punya tangan. Kamu juga punya ponsel. Pesan taksi online.”
Dimas terdiam.
Kalimat itu terdengar familiar.
Nadira tersenyum kecil.
“Kakimu juga tidak digips, kan?”
Telepon langsung ditutup.
Dua minggu kemudian, gugatan cerai resmi masuk ke pengadilan.
Di saat bersamaan, dewan komisaris Arunika Group menjadwalkan rapat luar biasa.
Dimas dipanggil untuk memberikan klarifikasi terakhir.
Ia datang bersama pengacara.
Di ruang rapat lantai tiga puluh dua, Hendra, direktur hukum, kepala audit internal, serta beberapa komisaris sudah duduk.
Dimas tampak tegang.
“Pak Hendra, saya yakin ada kesalahpahaman.”
Hendra tidak menjawab.
Pintu di ujung ruangan terbuka.
Seorang perempuan masuk dengan langkah pelan menggunakan tongkat.
Kaki kirinya masih memakai penyangga medis.
Dimas menoleh.
Wajahnya seketika membeku.
“Nadira?”
Nadira berjalan menuju kursi di ujung meja.
Kursi yang selama ini selalu dibiarkan kosong setiap kali pemilik perusahaan memilih mengikuti rapat melalui perwakilan.
Hendra berdiri.
Semua orang di ruangan ikut berdiri.
“Selamat pagi, Bu Nadira.”
Dimas menatap satu per satu wajah di dalam ruangan.
“Apa-apaan ini?”
Hendra menarik kursi untuk Nadira.
“Silakan, Bu Pemilik.”
Wajah Dimas kehilangan warna.
“Apa?”
Nadira duduk.
Hendra membuka dokumen di depannya.
“Ibu Nadira Ayuningtyas adalah pemegang saham pengendali sekaligus pemilik manfaat utama Arunika Group.”
Dimas tidak bergerak.
Seolah otaknya menolak memahami kalimat tersebut.
“Tidak mungkin.”
Nadira menatapnya.
“Kenapa tidak mungkin?”
“Kamu…”
Dimas menelan ludah.
“Kamu cuma konsultan.”
“Aku memang pernah menjadi konsultan.”
“Rumah itu…”
“Milik perusahaan investasiku.”
“Uangmu…”
“Tidak pernah kamu tanyakan.”
Dimas jatuh terduduk.
Untuk pertama kalinya, pria yang selama empat tahun selalu berbicara keras itu tidak memiliki kalimat untuk menyelamatkan dirinya sendiri.
Nadira mendorong setumpuk dokumen ke tengah meja.
“Tapi kita tidak berada di sini untuk membicarakan pernikahan.”
Nada suaranya profesional.
“Kita membicarakan Rp2,4 miliar pembayaran kepada perusahaan milik sepupumu.”
Dimas berkeringat.
“Itu vendor resmi.”
“Kita juga akan membicarakan vila di Bali.”
“Itu perjalanan dinas.”
“Bersama siapa?”
Dimas diam.
Kepala audit membuka dokumen lain.
“Bersama seorang perempuan bernama Raline Kusuma.”
Nama itu membuat Nadira mengerutkan kening.
Ia tidak mengenalnya.
Hendra memandang Nadira ragu-ragu.
“Bu, ada satu hal lain.”
“Apa?”
Raline ternyata bukan staf perusahaan.
Ia adalah perempuan yang selama hampir satu tahun tinggal di sebuah apartemen yang sewanya dibayar menggunakan transaksi dari rekening perusahaan vendor milik sepupu Dimas.
Dimas langsung berdiri.
“Nadira, dengarkan dulu.”
Anehnya, Nadira tidak merasa hancur.
Tidak menangis.
Tidak marah.
Ia hanya merasa seluruh bagian cerita akhirnya menemukan tempatnya.
Lembur yang terlalu sering.
Perjalanan dinas mendadak.
Ponsel yang selalu dibawa ke kamar mandi.
Dan sikap Dimas yang semakin kasar selama setahun terakhir.
“Aku bisa menjelaskan.”
Nadira menggeleng.
“Tidak perlu.”
“Nadira…”
“Masalah perselingkuhanmu akan dibicarakan melalui pengacara kita.”
Ia kemudian menoleh kepada Hendra.
“Untuk urusan perusahaan, lanjutkan sesuai prosedur. Serahkan temuan yang memenuhi unsur pidana kepada aparat berwenang.”
Dimas membelalak.
“Kamu mau menghancurkanku?”
Nadira menatapnya lama.
“Tidak.”
Ia berdiri perlahan dengan bantuan tongkat.
“Kamu menghancurkan dirimu sendiri.”
Enam bulan kemudian, perceraian mereka resmi.
Dimas kehilangan jabatannya dan harus menghadapi proses hukum terkait sejumlah transaksi perusahaan.
Bu Ratna pindah dari rumah yang selama bertahun-tahun ia kira milik putranya.
Sementara Nadira kembali ke Citraland setelah rumah itu direnovasi.
Bukan karena ia membutuhkan rumah besar.
Ia hanya ingin mengambil kembali ruang yang pernah membuatnya merasa seperti tamu.
Suatu sore, Kirana datang membawa kopi.
Mereka duduk di teras belakang.
“Kamu tahu apa yang paling lucu?” kata Kirana.
“Apa?”
“Dimas dulu selalu bilang dia yang membiayai hidupmu.”
Nadira tertawa pelan.
“Padahal gajinya secara tidak langsung berasal dari perusahaanmu.”
“Dan sekarang?”
Nadira melihat ke taman.
Ia sudah mulai lebih aktif di Arunika Group.
Bukan sebagai sosok misterius di balik dokumen kepemilikan.
Melainkan sebagai pemimpin yang hadir.
Namun perubahan terbesarnya bukanlah itu.
Ia mendirikan sebuah program bantuan hukum dan pemulihan ekonomi untuk perempuan yang terjebak dalam hubungan abusif dan ketergantungan finansial.
Nama program itu sederhana.
Ruang Kembali.
Kirana membaca papan kecil di meja.
“Kenapa namanya begitu?”
Nadira tersenyum.
“Karena tidak semua orang perlu memulai hidup baru.”
Ia menatap cahaya sore yang jatuh di halaman.
“Kadang mereka hanya perlu kembali kepada diri mereka sendiri.”
Ponselnya berbunyi.
Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.
Nadira hampir mengabaikannya.
Namun kalimat pertama membuatnya berhenti.
Saya Raline.
Nadira terdiam.
Pesan berikutnya muncul.
Saya tahu mungkin Ibu membenci saya. Tapi ada sesuatu tentang Dimas yang harus Ibu ketahui.
Kirana melihat ekspresinya.
“Ada apa?”
Nadira membaca pesan terakhir.
Saya tidak pernah tahu dia sudah menikah. Dan uang apartemen itu bukan untuk saya.
Jantung Nadira berdetak lebih cepat.
Pesan berikutnya tiba.
Dimas menggunakan identitas saya untuk menutupi aliran dana. Saya sudah menyerahkan bukti kepada penyidik.
Nadira terdiam cukup lama.
Selama ini ia mengira Raline adalah akhir dari pengkhianatan Dimas.
Ternyata perempuan itu justru menjadi saksi yang membantu membuka skema yang jauh lebih besar.
Beberapa hari kemudian, penyidik menemukan bahwa Dimas tidak bekerja sendirian.
Ada empat orang lain di jaringan tersebut, termasuk seorang eksekutif senior di perusahaan induk.
Seseorang yang selama bertahun-tahun dipercaya oleh keluarga Nadira.
Hendra Wijaya.
Ketika kabar penangkapan Hendra sampai kepadanya, Nadira hanya duduk diam di ruang kerja ayahnya.
Ia akhirnya mengerti sesuatu yang jauh lebih menyakitkan daripada perselingkuhan atau kehilangan uang.
Kadang pengkhianatan terbesar tidak datang dari orang yang terang-terangan merendahkan kita.
Ia datang dari orang yang berdiri dengan sopan di sisi kita, memanggil kita dengan hormat, lalu diam-diam menunggu kesempatan untuk mengambil semuanya.
Nadira menatap foto ayahnya di atas meja.
Dulu ia menyembunyikan identitas karena ingin mengetahui siapa yang mencintainya tanpa melihat kekayaannya.
Kini ia sadar, pertanyaan itu sejak awal terlalu sederhana.
Bukan siapa yang mencintainya ketika ia tidak punya apa-apa.
Melainkan siapa yang tetap menghormatinya ketika mereka merasa tidak membutuhkan apa pun darinya.
Nadira berdiri dan membuka tirai ruang kerja.
Cahaya pagi memenuhi ruangan.
Kakinya sudah sembuh.
Namun bekas luka tipis di betisnya masih ada.
Ia tidak pernah berniat menghilangkannya.
Karena setiap kali melihat bekas luka itu, Nadira mengingat satu sore di ruang IGD ketika seorang pria meneleponnya 47 kali dan menyuruhnya pulang untuk memasak.
Hari ketika tubuhnya terluka.
Namun untuk pertama kalinya dalam empat tahun, hidupnya mulai sembuh.
