“Aku cuma mengatakan beberapa kalimat. Apa perlu kamu bersikap sejauh ini?”
Aku menatap Gilang di bawah cahaya putih area parkir. Wajahnya tampak benar-benar bingung, seolah perubahan yang terjadi di rumah kami sama sekali tidak ada hubungannya dengan dirinya.
“Aku tidak sedang menghukummu,” kataku. “Aku hanya melakukan apa yang kamu minta.”
“Sekar…”
“Kamu bilang aku harus punya pendirian sendiri. Jadi sekarang aku belajar membuat keputusan sendiri.”
Aku berjalan menuju mobil sebelum dia sempat menjawab.
Sejak hari itu, kehidupan kami berubah dengan cara yang hampir tidak terlihat dari luar.

Kami masih tinggal di apartemen yang sama di Bandung. Masih tidur di ranjang yang sama. Masih saling mengabari kalau pulang terlambat. Namun sesuatu yang dulu memenuhi ruang di antara kami perlahan menghilang.
Pertanyaan-pertanyaan kecil.
“Besok kamu mau sarapan apa?”
“Menurutmu warna ini cocok?”
“Minggu depan kita ke rumah Mama, ya?”
“Kamu mau aku tunggu makan malam?”
Semuanya berhenti.
Anehnya, beberapa minggu pertama justru terasa lebih ringan bagiku.
Aku baru menyadari betapa banyak energi yang selama ini kuhabiskan untuk menyesuaikan hidupku dengan Gilang.
Kalau dia pulang terlambat, aku menunggu.
Kalau dia sedang banyak pekerjaan, aku mengubah jadwalku.
Kalau dia ingin mengunjungi orang tuanya, aku membatalkan rencanaku.
Aku selalu mengira kompromi adalah bahasa cinta.
Namun kompromi yang hanya dilakukan satu orang ternyata memiliki nama lain.
Mengalah.
Tiga minggu setelah makan malam itu, aku mulai sering merasakan nyeri di perut bagian bawah.
Awalnya hanya seperti kram menstruasi. Aku mengabaikannya karena sedang mengejar tenggat pekerjaan.
Sampai suatu sore, saat sedang berdiri di depan mesin fotokopi kantor, rasa sakit itu datang begitu tajam hingga lututku hampir kehilangan tenaga.
“Sekar!”
Temanku, Rani, menangkap lenganku.
Aku berpegangan pada meja.
“Aku tidak apa-apa.”
“Wajahmu putih begitu masih bilang tidak apa-apa?”
Rani memaksaku duduk.
“Sudah berapa lama?”
“Mungkin dua minggu.”
“Sudah periksa?”
Aku hampir menjawab bahwa aku akan bertanya kepada Gilang dulu.
Kalimat itu sudah sampai di ujung lidah.
Namun aku teringat wajahnya di restoran hotpot.
Aku ini suamimu, bukan ayahmu.
Aku menarik napas.
“Belum.”
“Besok kita ke rumah sakit.”
Biasanya aku akan mengirim pesan kepada Gilang.
Perutku sakit. Menurutmu aku perlu ke dokter?
Hari itu aku membuka ruang percakapan kami, menatap layar selama beberapa detik, lalu menutupnya kembali.
Aku membuat janji pemeriksaan sendiri.
Hasil USG menunjukkan adanya kista ovarium yang ukurannya cukup besar. Dokter mengatakan kondisinya perlu dipantau dan pemeriksaan lanjutan harus dilakukan.
“Kalau nyerinya semakin berat, jangan ditunda,” katanya. “Ada risiko komplikasi. Kita perlu mempertimbangkan tindakan operasi.”
Aku duduk sendirian di depan dokter.
Tanganku dingin.
“Apakah operasinya berbahaya?”
“Setiap tindakan punya risiko, tapi kita akan melakukan evaluasi lengkap dulu.”
Aku mengangguk.
Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun pernikahan, aku menerima kabar medis yang cukup menakutkan tanpa menggenggam tangan suamiku.
Malam itu Gilang pulang sekitar pukul sembilan.
Dia meletakkan tas laptop di sofa.
“Sudah makan?”
“Sudah.”
“Ada makanan?”
“Ada di kulkas.”
Dia membuka kulkas, mengambil lauk, lalu menghangatkannya.
Aku duduk beberapa meter darinya sambil membaca hasil pemeriksaan melalui ponsel.
Beberapa kali aku ingin mengatakan sesuatu.
Lang, tadi aku ke rumah sakit.
Lang, dokter bilang mungkin aku harus operasi.
Lang, sebenarnya aku takut.
Namun setiap kali kalimat itu muncul, suara lain terdengar di kepalaku.
Jangan semua hal menunggu keputusanku.
Akhirnya aku hanya bertanya, “Besok kamu pulang malam?”
Gilang menoleh.
Aku tersenyum pahit pada diriku sendiri.
Bahkan pertanyaan itu pun terasa seperti kebiasaan lama yang belum sepenuhnya mati.
“Kayaknya iya,” jawabnya. “Kenapa?”
“Tidak apa-apa.”
Seminggu kemudian, hasil pemeriksaan lanjutan membuat dokter menyarankan operasi.
Aku menerima surat rawat inap.
Tanggal operasi ditetapkan dua minggu kemudian.
Aku tidak memberi tahu Gilang.
Bukan karena ingin membalas dendam.
Aku hanya ingin membuktikan kepada diriku sendiri bahwa aku bisa menangani hidupku tanpa terus meminta seseorang berdiri di sampingku.
Rani bersikeras akan menemaniku.
“Suamimu tahu?”
Aku diam.
Rani langsung memahami jawabannya.
“Sekar, ini operasi.”
“Aku tahu.”
“Dia berhak tahu.”
Aku menatap surat rawat inap di tanganku.
“Dan aku berhak memilih siapa yang membuatku merasa aman.”
Rani tidak mengatakan apa-apa lagi.
Beberapa hari menjelang operasi, Gilang justru mulai berubah.
Dia semakin sering memperhatikanku.
Suatu malam, aku sedang duduk di sofa ketika dia keluar dari kamar membawa dua kemeja.
“Besok aku presentasi. Menurutmu yang biru atau putih?”
Aku menatap kedua kemeja itu.
“Pilih yang kamu suka.”
Dia menghela napas.
“Sekar, aku sedang bertanya pendapatmu.”
“Kamu bisa memutuskan sendiri.”
Rahangnya mengeras.
“Kenapa setiap aku bertanya sekarang jawabannya selalu begitu?”
Aku menutup laptop.
“Bukankah itu bagus? Kita sama-sama tidak bergantung.”
“Suami istri memang saling bertanya!”
Aku terdiam.
Ironi kadang datang dengan cara yang sangat sederhana.
Aku tersenyum tipis.
“Ternyata begitu.”
Gilang langsung kehilangan kata-kata.
Malam berikutnya dia pulang membawa martabak favoritku.
Biasanya aku akan langsung mengambil piring dan duduk bersamanya.
Namun rasa mual membuatku hanya bisa memandang kotaknya.
“Kamu tidak mau?”
“Tidak lapar.”
Dia mengamati wajahku.
“Kamu akhir-akhir ini kurusan.”
“Mungkin.”
“Kamu sakit?”
Aku menatapnya.
Untuk sesaat, aku hampir menyerah.
Aku ingin mengatakan semuanya.
Namun ponselnya berbunyi. Nama salah satu rekan kerjanya muncul. Gilang langsung mengangkat telepon dan berjalan ke balkon.
Aku kembali masuk kamar.
Besok paginya, aku menemukan martabak itu masih utuh di meja.
Hari operasi semakin dekat.
Aku sudah mengatur cuti kantor, menyiapkan dokumen rumah sakit, membayar deposit, dan memasukkan pakaian ke dalam tas kecil.
Aku bahkan membuat daftar kata sandi dan dokumen penting jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Mengerjakan semuanya sendiri membuatku sadar bahwa sebenarnya aku memang mampu.
Namun kemampuan untuk berdiri sendiri ternyata tidak selalu terasa membanggakan.
Kadang terasa sangat sepi.
Dua hari sebelum operasi, Rani menelepon.
Ibunya mendadak dirawat di Tasikmalaya.
“Aku benar-benar minta maaf, Sekar. Aku harus pulang malam ini.”
“Jangan minta maaf. Temani ibumu.”
“Tapi operasimu?”
“Aku bisa.”
“Sekar…”
“Aku bisa, Ran.”
Setelah telepon ditutup, aku duduk lama di tepi ranjang.
Untuk pertama kalinya, keberanianku terasa seperti kebodohan.
Aku hampir membuka percakapan dengan Gilang.
Namun malam itu dia mengirim pesan lebih dahulu.
“Aku ada acara kantor. Pulang agak malam.”
Aku hanya menjawab, “Oke.”
Keesokan harinya, saat aku sedang mandi, Gilang mencari dokumen asuransi mobil di laci meja kerja.
Di situlah dia menemukan amplop putih dari rumah sakit.
Ketika aku keluar dari kamar mandi, dia sudah berdiri di tengah kamar.
Wajahnya pucat.
Surat itu berada di tangannya.
“Kamu sakit?”
Aku berhenti.
“Kenapa tidak memberitahuku?”
Aku mengambil handuk kecil dan mengeringkan rambut.
“Karena aku tidak mau merepotkanmu lagi.”
Gilang menatapku seolah aku baru saja menamparnya.
“Ini bukan soal memilih makan malam, Sekar. Ini operasi!”
“Aku tahu.”
“Besok?”
“Iya.”
“Dan kamu baru mau memberitahuku kapan?”
“Aku tidak berencana memberitahumu.”
“Sekar!”
Aku menatapnya.
“Kamu ingin aku mandiri. Aku sedang melakukannya.”
“Aku tidak pernah menyuruhmu menyembunyikan penyakit!”
“Tidak. Kamu cuma mengajariku bahwa melibatkanmu dalam hidupku membuatmu lelah.”
Wajahnya berubah.
“Aku bercanda malam itu.”
“Orang yang bercanda biasanya berhenti ketika melihat orang yang dicintainya dipermalukan.”
Dia membuka mulut, tetapi tidak ada kata-kata yang keluar.
Aku mengambil surat itu dari tangannya.
“Besok aku harus berangkat jam enam.”
“Aku ikut.”
“Tidak perlu.”
“Aku suamimu.”
Aku menatap matanya.
“Justru itu yang selama ini kupikirkan.”
Besok paginya, Gilang sudah duduk di ruang tamu sebelum aku keluar kamar.
Dia tidak mengenakan pakaian kantor.
“Ayo.”
Aku tidak berdebat.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, dia hampir tidak berbicara.
Setelah administrasi selesai, aku dibawa ke ruang persiapan. Gilang duduk di kursi sebelah tempat tidur, kedua tangannya saling menggenggam.
Seorang perawat masuk membawa beberapa formulir.
“Siapa pendamping pasien yang akan menandatangani formulir? Kalau belum dilengkapi, pasien harus menanggung sendiri keputusan dan risiko selama operasi.”
Aku mengambil pulpen.
Gilang langsung berdiri.
“Aku.”
Aku menggeleng.
“Tidak perlu.”
“Sekar, jangan bercanda.”
“Aku tidak bercanda.”
Aku menandatangani formulir persetujuan tindakan yang memang dapat kutandatangani sendiri setelah penjelasan dokter.
“Jangan tegang,” kataku. “Kali ini pun aku tidak membutuhkan tanda tanganmu.”
Gilang duduk kembali.
Matanya merah.
Beberapa menit kemudian, dokter datang menjelaskan prosedur. Operasi diperkirakan berlangsung sekitar dua jam.
Ketika perawat mulai mendorong tempat tidurku keluar, Gilang tiba-tiba berdiri dan menggenggam tanganku.
Aku refleks ingin menariknya.
Namun genggamannya bergetar.
“Sekar.”
Aku menoleh.
“Aku salah.”
Itulah pertama kalinya dia mengatakannya tanpa diikuti kata tapi.
“Aku salah,” ulangnya. “Aku pikir kamu bertanya karena tidak bisa memutuskan. Aku baru sadar… kamu bertanya karena kamu selalu menyediakan tempat untukku dalam hidupmu.”
Aku diam.
“Aku baru sadar setelah tempat itu hilang.”
Pintu ruang operasi sudah terbuka.
Aku melepaskan tangannya perlahan.
“Kalau aku keluar nanti, kita bicara.”
Operasi berlangsung lebih lama dari perkiraan.
Ketika aku sadar, langit di luar jendela sudah gelap.
Hal pertama yang kulihat adalah Gilang tertidur di kursi dengan kepala bersandar pada dinding.
Kemejanya kusut.
Di meja kecil ada botol air, obat-obatan, charger ponselku, dan sebuah buku catatan.
Aku mengenal buku itu.
Buku catatan kecil dari rumah kami.
Gilang terbangun ketika aku bergerak.
“Kamu sudah sadar?”
Dia langsung berdiri.
Aku mengangguk lemah.
“Dokter bilang operasinya berhasil.”
Aku memejamkan mata sebentar.
Gilang tidak mencoba memelukku. Tidak mencoba meminta maaf lagi.
Dia hanya duduk.
Beberapa menit kemudian, dia bertanya pelan, “Kamu haus?”
Aku hampir menjawab iya, tetapi bibirku terasa kering.
Dia berhenti sebelum mengambil air.
“Boleh minum sekarang atau harus tunggu perawat?”
Aku menatapnya.
Untuk pertama kalinya setelah dua bulan, pertanyaan sederhana itu tidak terasa seperti beban.
Dia menekan tombol panggil perawat dan memastikan lebih dahulu.
Hari-hari setelah operasi berjalan lambat.
Gilang mengambil cuti.
Dia belajar mengganti perban. Memasang alarm untuk jadwal obat. Membuat bubur yang terlalu encer. Membaca instruksi dokter tiga kali karena takut salah.
Namun aku tidak langsung kembali seperti dulu.
Luka di tubuhku membutuhkan beberapa minggu untuk sembuh.
Luka dalam pernikahan kami membutuhkan waktu lebih lama.
Suatu malam, sekitar sebulan setelah operasi, aku menemukan Gilang duduk di meja makan dengan buku catatan kecil itu.
“Apa yang kamu tulis?”
Dia tampak sedikit malu.
Aku mengambil buku tersebut.
Di halaman pertama tertulis beberapa kalimat.
Sekar tidak suka bubur terlalu cair.
Obat pukul 08.00 dan 20.00.
Kontrol tanggal 17.
Jangan membuat keputusan akhir pekan sebelum bertanya apakah Sekar punya rencana.
Aku membalik halaman berikutnya.
Ukuran sepatuku.
Nama kopi favoritku.
Tanggal ulang tahun ayahku.
Makanan yang membuat lambungku tidak nyaman.
Hal-hal kecil tentang diriku yang selama ini selalu kuingat tentang dirinya, tetapi tidak pernah terpikir olehnya untuk mengingat tentangku.
Aku menutup buku itu.
“Kamu tidak perlu melakukan ini.”
“Aku tahu.”
“Lalu?”
Gilang memandangku.
“Aku ingin belajar memperhatikanmu.”
Aku terdiam.
Dia menarik napas.
“Dulu aku pikir menjadi suami berarti menjadi orang yang selalu punya jawaban. Jadi setiap kali kamu bertanya, aku merasa kamu sedang membebankan keputusan kepadaku. Sekarang aku tahu aku salah.”
Aku duduk di depannya.
“Yang paling menyakitkan bukan karena kamu menertawakanku.”
Dia menunggu.
“Yang paling menyakitkan adalah aku mulai percaya bahwa caraku mencintaimu memang memalukan.”
Mata Gilang memerah.
“Maaf.”
Aku tidak langsung mengatakan bahwa aku memaafkannya.
Karena beberapa permintaan maaf tidak membutuhkan jawaban cepat. Mereka membutuhkan bukti.
Dua bulan kemudian, kami kembali ke restoran hotpot yang sama.
Bukan karena aku menginginkannya.
Salah satu rekan Gilang berulang tahun dan mengundang kami.
Ketika kami duduk di meja yang hampir sama, seorang rekannya tertawa sambil mengangkat sepotong babat dengan sumpit.
“Eh, Lang, ini berapa detik, sih? Jangan sampai Sekar tanya lagi nanti.”
Beberapa orang tertawa.
Aku menundukkan kepala.
Namun sebelum aku sempat bereaksi, Gilang meletakkan sumpitnya.
“Jangan.”
Ruangan perlahan sunyi.
Rekannya terlihat bingung.
Gilang melanjutkan, “Waktu itu gue yang bodoh.”
Tak ada yang tertawa lagi.
“Sekar bukan nggak bisa mengambil keputusan. Dia cuma selalu menganggap pendapat gue penting. Dan gue malah mempermalukan dia karena itu.”
Aku menatapnya.
Gilang kemudian mengambil sepotong babat, memasukkannya ke kuah, lalu menyalakan timer di ponselnya.
Ketika matang, dia meletakkannya di mangkukku.
“Coba.”
Aku mencicipinya.
“Enak?”
Aku menahan senyum.
“Lumayan.”
“Kurang lama?”
Aku mengangkat alis.
“Kenapa tanya aku?”
Gilang tertawa kecil.
“Karena pendapatmu penting.”
Malam itu, dalam perjalanan pulang, mobil berhenti di lampu merah.
Gilang memandang jalan di depan.
“Besok Minggu.”
“Iya.”
“Kamu mau ke mana?”
Aku menoleh kepadanya.
Pertanyaan itu sederhana.
Namun aku tahu sekarang pernikahan kami tidak diselamatkan oleh operasi, surat rawat inap, atau rasa takut kehilangan.
Pernikahan kami mulai diselamatkan ketika dua orang akhirnya memahami bahwa meminta pendapat bukan berarti kehilangan kemandirian, dan menjadi mandiri bukan berarti harus menjalani semuanya sendirian.
Aku tersenyum.
“Kenapa tanya aku?”
Gilang ikut tersenyum.
“Karena kita berdua yang menjalani hari Minggu itu.”
Lampu berubah hijau.
Mobil kembali bergerak.
Aku memandang lampu-lampu Bandung dari balik jendela, lalu untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, aku menjawab tanpa merasa bahwa keinginanku adalah beban.
“Aku ingin sarapan di luar besok.”
“Oke. Mau makan apa?”
Aku tertawa kecil.
“Belum tahu. Menurutmu?”
Gilang terdiam sesaat, lalu tertawa.
Dan anehnya, satu pertanyaan kecil itu terasa seperti kami akhirnya menemukan jalan pulang.
