Suamiku mengunciku di dalam freezer industri bersuhu −50°F saat aku sedang hamil delapan bulan dengan bayi kembar.

“Olivia?!”

Suara itu terdengar lagi dari balik pintu baja.

Aku ingin menjawab, tetapi rahangku sudah gemetar begitu hebat hingga suaraku nyaris tidak keluar.

“Di… sini…”

Aku memukul pintu dengan telapak tangan yang hampir mati rasa.

“Tolong…”

Terdengar langkah kaki mendekat, lalu seseorang menarik gagang pintu dari luar.

“Terkunci!”

Aku mengenali suara itu.

Ethan Cole.

Aku pernah bertemu dengannya dua kali dalam acara perusahaan Derek. Pria berusia awal empat puluhan itu selalu terlihat tenang, nyaris dingin, tetapi malam ini suaranya terdengar panik.

“Olivia, mundur dari pintu!”

“Aku… tidak bisa…”

Kontraksi ketiga datang.

Rasa sakit menghantam begitu kuat hingga lututku langsung menyentuh lantai. Aku memeluk perut sambil menggigit bibir agar tidak berteriak.

Dari luar terdengar suara logam dihantam berkali-kali.

“Pak, kuncinya elektronik!” seseorang berteriak.

“Putus dayanya!”

“Kalau salah prosedur, sistem justru bisa mengunci permanen.”

“Kalau begitu cari orang yang tahu caranya!”

Aku mencoba tetap sadar.

Lampu di atas kepalaku kembali meredup karena tubuhku berhenti bergerak.

Dengan sisa tenaga, aku mengangkat tangan.

Lampu menyala lagi.

“Olivia!” Ethan berteriak. “Tetap bicara denganku!”

“Dingin…”

“Aku tahu. Bantuan sedang datang.”

“Bayi-bayiku…”

Suasana di luar mendadak hening.

“Kamu hamil?”

“Delapan bulan… kembar.”

Aku mendengar Ethan mengumpat pelan.

Lalu suaranya berubah tegas.

“Dengar aku. Jangan tidur. Apa pun yang terjadi, jangan tutup matamu.”

Aku ingin tertawa. Seolah-olah semudah itu.

Tubuhku terasa semakin berat. Anehnya, rasa dingin yang tadinya menyiksa perlahan berubah menjadi kantuk yang menenangkan.

Aku tahu itu pertanda buruk.

Tiba-tiba terdengar bunyi alarm.

Kemudian pintu bergerak beberapa sentimeter.

Cahaya dari lorong menerobos masuk.

Aku bahkan belum sempat merasa lega ketika tubuhku roboh.

Seseorang menangkapku sebelum kepalaku menghantam lantai.

“Olivia!”

Ethan.

Tangannya membungkus tubuhku dengan mantel tebal. Wajahnya yang biasanya tenang kini pucat.

“Ambulans sudah di bawah.”

“Aku tidak bisa merasakan kakiku.”

“Jangan bergerak.”

Kontraksi berikutnya membuatku menjerit.

Ethan menatap salah satu petugas keamanan.

“Hubungi rumah sakit. Bilang pasien hamil tiga puluh dua minggu dengan paparan suhu ekstrem dan kontraksi aktif.”

Kami baru mencapai lift ketika suara tembakan terdengar dari ujung koridor.

Semua orang membeku.

Petugas keamanan langsung mendorong Ethan dan aku ke balik dinding.

Seseorang berlari.

Aku melihat siluetnya sekilas.

Derek.

Suamiku belum pergi.

Dia masih berada di gedung itu.

Dan sekarang dia tahu aku selamat.

“Dia punya pistol!” seorang petugas berteriak.

Ethan menatapku.

Aku melihat sesuatu berubah di matanya.

Bukan ketakutan.

Kemarahan.

“Bawa Olivia turun lewat tangga darurat.”

“Tidak,” kataku lemah sambil mencengkeram lengannya. “Jangan kejar dia.”

Ethan menunduk.

“Dia mencoba membunuhmu.”

“Kalau kamu mengejarnya, dia akan membunuhmu juga.”

Untuk sesaat, wajah Ethan seperti kehilangan seluruh emosinya.

Kemudian dia mengangguk.

“Kita pergi.”

Dua puluh menit kemudian aku berada di ambulans.

Dokter terus memeriksa detak jantung kedua bayiku.

“Bayi pertama stabil. Bayi kedua mengalami penurunan denyut.”

Kalimat itu membuatku jauh lebih takut daripada freezer.

“Tolong selamatkan mereka.”

“Kami akan melakukan semuanya.”

Di rumah sakit, dokter memutuskan operasi caesar darurat.

Sebelum pintu ruang operasi tertutup, aku melihat Ethan berdiri di lorong.

Mantelnya masih tergeletak di atas tubuhku.

Ada bercak es yang belum mencair pada lengan kemejanya.

“Kenapa kamu ada di sana?” tanyaku.

Dia terdiam.

“Olivia, sekarang bukan waktunya.”

“Kenapa?”

Tatapannya berubah.

“Karena aku sedang mencari Derek.”

Lalu pintu ruang operasi tertutup.

Ketika aku sadar kembali, dunia pertama-tama hanya berupa cahaya putih dan suara mesin.

Tanganku refleks menyentuh perut.

Kosong.

Aku langsung panik.

“Bayi saya?”

Seorang perawat mendekat.

“Keduanya selamat.”

Aku menangis saat itu juga.

Seorang bayi perempuan dan seorang bayi laki-laki lahir prematur, tetapi keduanya bernapas. Mereka harus dirawat di NICU, namun dokter mengatakan peluang mereka sangat baik.

Aku meminta melihat mereka.

Di balik kaca inkubator, dua tubuh mungil itu tidur dengan kabel-kabel kecil menempel pada tubuh mereka.

Aku menempelkan tangan ke kaca.

“Maafkan Mama.”

“Tidak ada yang perlu kamu minta maafkan.”

Aku menoleh.

Ethan berdiri di pintu.

“Derek?”

“Belum ditemukan.”

Dadaku mengencang.

“Dia akan kembali.”

“Polisi sedang mencarinya.”

Aku menatap Ethan lama.

“Sekarang jawab pertanyaanku. Kenapa kamu mencari Derek?”

Ethan menarik kursi.

“Tujuh tahun lalu, Derek adalah direktur keuangan di perusahaan yang kubangun bersama kakakku.”

Aku sudah pernah mendengar sebagian ceritanya. Derek selalu mengatakan Ethan adalah pengusaha kejam yang menuduhnya melakukan kesalahan untuk menyelamatkan reputasi perusahaan.

Ternyata kenyataannya berbeda.

Derek diam-diam memindahkan dana perusahaan ke beberapa rekening, lalu memalsukan dokumen sehingga transaksi itu terlihat seolah dilakukan oleh kakak Ethan.

Ketika penyelidikan dimulai, kakak Ethan menjadi tersangka utama.

Tekanan publik menghancurkan hidupnya.

“Dia meninggal enam bulan kemudian,” kata Ethan.

Aku tercekat.

“Derek bilang kakakmu kabur ke luar negeri.”

“Derek mengatakan banyak hal.”

Ethan mengeluarkan sebuah flash drive dari sakunya.

“Selama tujuh tahun aku mencari bukti asli. Tiga minggu lalu, mantan akuntan Derek menghubungiku. Dia menemukan salinan arsip transaksi.”

“Lalu malam ini?”

“Aku menerima pesan bahwa Derek akan datang ke gudang farmasi untuk menghancurkan dokumen lama yang masih tersimpan di server perusahaan.”

Aku mulai memahami semuanya.

Derek tidak hanya membawaku ke sana untuk membunuhku.

Dia juga sedang menghapus masa lalunya.

“Bagaimana kamu tahu aku di freezer?”

Ethan terdiam beberapa detik.

“Alarm pintu freezer muncul di sistem keamanan gedung. Seharusnya hanya staf tertentu yang punya akses setelah pukul sepuluh malam. Nama Derek muncul di log.”

“Dan kamu langsung datang?”

“Aku melihat rekaman kamera.”

Tatapannya turun ke tanganku.

“Kamu berjalan masuk bersamanya. Beberapa menit kemudian dia keluar sendirian.”

Tubuhku kembali menggigil, bukan karena dingin.

“Jadi semuanya terekam?”

“Sebagian besar.”

Itulah kesalahan fatal Derek.

Dia menghapus rekaman dari sistem utama.

Tetapi dia tidak tahu sistem keamanan gedung memiliki cadangan otomatis di server eksternal.

Polisi kini memiliki bukti bahwa Derek membawaku masuk, mengunci freezer dari luar, dan meninggalkanku di sana.

Namun Derek tetap menghilang.

Tiga hari berlalu.

Aku masih berada di rumah sakit ketika pesan masuk ke ponsel baru yang diberikan polisi.

Nomor tidak dikenal.

Aku tahu siapa pengirimnya bahkan sebelum membukanya.

Aku cuma ingin bicara. Sendirian. Datang ke rumah lama kita pukul sebelas malam. Kalau polisi ikut, seseorang akan mati.

Aku langsung memanggil detektif.

Polisi menyusun rencana.

Malam itu aku tidak benar-benar pergi ke rumah tersebut. Mereka memasang kamera dan mengirim petugas perempuan dengan postur tubuh menyerupaiku menggunakan mantel panjang.

Namun Derek tidak muncul.

Sebaliknya, pukul sebelas lewat tujuh menit, alarm kebakaran rumah sakit berbunyi.

Aku langsung tahu.

“Bayi-bayiku!”

Aku berlari menuju NICU.

Asap mulai memenuhi lorong.

Orang-orang berteriak.

Kemudian dari balik pintu tangga darurat, seseorang menarikku.

Sebuah tangan menutup mulutku.

“Aku sudah bilang datang sendirian.”

Derek.

Wajahnya kusut, matanya merah, dan tangannya memegang pisau kecil.

“Kamu menghancurkan semuanya,” bisiknya.

Aku menatap pria yang pernah tidur di sampingku selama lima tahun.

Aneh sekali.

Aku tidak merasakan cinta.

Bahkan kebencian pun hampir tidak ada.

Yang kurasakan hanya kesedihan karena akhirnya melihat siapa dirinya sebenarnya.

“Kamu yang menghancurkan semuanya, Derek.”

“Diam.”

“Kamu bisa berhenti sejak lama.”

“Aku tidak punya pilihan!”

“Kamu selalu punya pilihan.”

Rahangnya mengeras.

“Kalau Ethan tidak ikut campur, semuanya akan selesai.”

Aku melihat bayangan bergerak di ujung lorong.

Seseorang sedang mendekat.

Aku harus membuat Derek terus bicara.

“Kenapa kamu membenci Ethan?”

“Karena orang seperti dia selalu menang!”

“Tidak. Karena dia mengingat apa yang kamu lakukan.”

Derek mencengkeram lenganku.

“Dia pikir dia punya bukti.”

“Dia memang punya.”

Wajah Derek berubah.

Aku melanjutkan.

“Semua transaksi tujuh tahun lalu sudah ditemukan.”

Dia terdiam.

“Bohong.”

“Termasuk rekening atas nama ibumu.”

Tangannya mengendur.

Aku sebenarnya tidak tahu rekening siapa yang digunakan. Ethan hanya mengatakan ada beberapa rekening perantara.

Aku sedang menggertak.

Namun ekspresi Derek memberikan jawabannya.

Rekening ibunya.

Sekarang aku tahu.

Dan polisi yang mendengarkan melalui mikrofon tersembunyi di pakaianku juga tahu.

Derek menyadari kesalahannya terlambat.

Dia mengangkat pisau.

Sebelum sempat bergerak, seseorang menerjangnya dari samping.

Ethan.

Keduanya jatuh ke lantai.

Pisau meluncur beberapa meter.

Polisi berhamburan masuk.

Dalam hitungan detik, Derek diborgol.

Saat dibawa pergi, dia menatapku.

“Olivia! Aku melakukan semuanya untuk keluarga kita!”

Aku menatapnya tanpa menjawab.

Untuk pertama kalinya, kata-katanya tidak memiliki kekuatan apa pun atas diriku.

Empat bulan kemudian, Derek mengaku bersalah setelah jaksa menunjukkan tumpukan bukti yang hampir mustahil dibantah.

Percobaan pembunuhan.

Penipuan asuransi.

Pembakaran.

Penggelapan.

Pemalsuan dokumen.

Dan manipulasi transaksi yang dilakukan tujuh tahun sebelumnya.

Kasus lama Ethan akhirnya dibuka kembali.

Nama kakaknya dibersihkan.

Sementara aku memulai hidup baru bersama kedua bayiku.

Aku menamai mereka Noah dan Emma.

Ethan beberapa kali datang menjenguk, tetapi hubungan kami tidak pernah berubah menjadi kisah cinta seperti yang mungkin dibayangkan orang.

Dia bukan pria yang datang untuk menggantikan suamiku.

Dia adalah seseorang yang kebetulan berada di tempat yang tepat karena selama tujuh tahun dia menolak berhenti mencari kebenaran.

Suatu sore, hampir setahun setelah malam di freezer itu, Ethan datang membawa sebuah kotak kecil.

“Ada sesuatu yang seharusnya kamu lihat.”

Di dalamnya terdapat ponsel lama milik Derek yang ditemukan polisi.

Ada satu rekaman suara yang dibuat Derek dua minggu sebelum mencoba membunuhku.

Tanganku gemetar ketika menekan tombol putar.

Suara Derek terdengar.

“Kalau Olivia meninggal, polisnya cair. Setelah itu utang selesai. Anak-anak bisa kutitipkan kepada ibuku.”

Aku memejamkan mata.

Lalu terdengar suara lain.

Suara seorang pria.

“Dan kalau dia selamat?”

Derek tertawa.

“Di suhu minus lima puluh? Tidak mungkin.”

Aku membuka mata.

“Siapa pria satunya?”

Ethan menatapku.

“Itulah bagian yang baru ditemukan polisi.”

Ternyata Derek tidak merencanakan semuanya sendirian.

Orang yang membantunya mengatur polis asuransi, memalsukan jadwal kerja, dan memastikan freezer kosong malam itu adalah pengacara keluarga kami sendiri.

Pria yang hadir dalam pernikahanku.

Pria yang membantu Derek menulis surat wasiat kami.

Dan orang yang selama berbulan-bulan meyakinkanku bahwa meningkatkan nilai asuransi jiwa adalah keputusan terbaik sebelum kelahiran bayi kembar.

Namanya ditangkap pagi itu.

Aku menatap Noah dan Emma yang sedang tidur di ruang keluarga.

Selama ini aku mengira malam di freezer adalah malam ketika hidupku hampir berakhir.

Aku salah.

Malam itu justru menjadi malam ketika kebohongan yang mengelilingi hidupku mulai runtuh satu per satu.

Aku kehilangan suami yang ternyata tidak pernah benar-benar kukenal.

Ethan mendapatkan kembali nama baik kakaknya.

Dan dua bayi yang seharusnya tidak pernah melihat dunia tumbuh menjadi dua alasan terbesarku untuk terus hidup.

Kadang-kadang aku masih terbangun tengah malam ketika AC terasa terlalu dingin.

Dalam mimpi, aku kembali berada di ruangan baja itu.

Lampu berkedip.

Tanganku membeku.

Pintu terkunci.

Namun sekarang mimpi itu selalu berakhir dengan cara yang sama.

Aku mendengar suara langkah kaki di luar.

Lalu pintu terbuka.

Dan aku terbangun dengan Noah dan Emma tidur tenang tidak jauh dariku.

Saat itulah aku akhirnya memahami sesuatu.

Orang yang mencoba menghancurkan hidupmu mungkin bisa mengunci sebuah pintu.

Dia bisa mengambil kepercayaanmu, hartamu, bahkan membuatmu merasa tidak memiliki jalan keluar.

Tetapi selama kamu masih memilih untuk bertahan, dia belum memenangkan apa pun.

Karena terkadang satu-satunya hal yang memisahkan akhir hidupmu dari awal kehidupan yang baru hanyalah keberanian untuk tetap bergerak ketika seluruh dunia terasa membeku.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang